Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 47


__ADS_3

Zion berdiri di dekat tempat tidur Abio. Pria itu memandang ke arah Abio sebelum memandang ke arah Livy. Livy terlihat lebih pendiam hari ini. Padahal biasanya wanita itu selalu ceria. Bertemu Zion selalu menyapa. Mengucapkan banyak basa-basi. Kali ini Livy terlihat banyak menghindar dari Zion. Bahkan memandang wajahnya saja tidak berani.


"Dia pingsan karena kebanyakan minum minuman beralkohol. Dia akan sadar dengan sendirinya. Saya sudah menyuntikan obat," ucap Livy tanpa memandang. Wanita itu merapikan alat medisnya sebelum melangkah menuju ke pintu.


"Tunggu!" Zion memegang tangan Livy. Melarang wanita itu untuk pergi. "Ada yang ingin aku bicarakan."


"Maaf, kak. Aku sibuk," dusta Livy. Padahal sebenarnya karena dia tidak sanggup membahas tentang perasaannya terhadap Zion.


"Tidak lama. Aku hanya butuh lima menit saja." Zion memaksa Livy untuk ikut dengannya. Dia membawa Livy sama-sama meninggalkan ruangan tempat Abio di rawat. Zion membawa Livy ke sebuah lorong yang sunyi dan jarang di lewati orang.


"Ada apa, Kak?" tanya Livy masih dengan eskpresi pura-pura tidak tahu.


"Aku tahu kalau Abio lagi mabuk. Biasanya, perkataan orang mabuk tidak bisa percaya. Walau terkadang ada juga yang justru berkata jujur. Livy, sebelum Abio tidak sadar dia sempat mengatakan kalau dia sangat mencintaimu. Tetapi, kau mencintai pria lain. Apakah itu benar?"

__ADS_1


Livy menunduk malu dan takut. Dia mulai panik. Kalau bisa kabur mungkin dia akan kabur saja daripada harus menjawab pertanyaan Zion sekarang.


"Livy, pandang aku dan jawab pertanyaanku!" ujar Zion mulai kesal ketika Livy tidak juga menjawab.


"Ya." Livy mengangkat kepalanya dan memandang Zion. "Aku mencintai pria lain. Aku tidak bisa menerima cintanya. Hatiku sudah menjadi milik pria lain!" Ada genangan air mata di pelupuk mata Livy. Dia sedang menahan dirinya agar tidak sampai menangis.


"Siapa pria itu?" Ekspresi Zion dingin. Livy meras semakin takut.


"Bagaimana jika aku tahu siapa orangnya?"


Livy segera memandang wajah Zion. Wanita itu mulai sulit mengatur napasnya. Bahkan tubuhnya gemetar ketakutan. Dia seperti salah tingkah hingga berubah menjadi bodoh. Padahal biasanya Livy selalu cerdas dan bisa dengan mudah menghindari masalah.


"Kak, apa salah jika aku mencintai Kak Zion?"

__ADS_1


Zion terpaku mendengarnya. Tidak ada yang salah. Perasaan setiap orang memang tidak ada yang tahu dimana dia nyamannya. Namun, Zion tidak mau Livy merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Abio. Cinta yang di tolak. Zion tidak mencintai Livy. Perhatian dan segala sikap lembut yang ia berikan kepada Livy selama ini murni karena Zion menganggap Livy seperti adik kandungnya sendiri. Untuk membalas cinta Livy, itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Zion tidak mencintai Livy bahkan sedikitpun rasa cinta itu tidak ada.


"Lupakan aku dan bukalah hatimu untuk Abio. Dia pria yang bisa berjanji untuk membahagiakanmu, Livy. Bukan aku!"


"Tapi aku maunya Kak Zion." Livy memegang tangan Zion. "Kak ...."


"Maafkan aku. Mungkin karena selama ini aku sudah terlalu perhatian padamu hingga kau sampai salah paham. Aku menggendongmu ketika kau lelah. Memelukmu ketika kau sedih. Bahkan mencium keningmu ketika kau marah semua karena aku peduli padamu sebagai adik. Livy, Kau juga harus tahu kalau perbuatan seperti itu juga aku lakukan terhadap Daisy dan Norah. Jadi, aku minta untuk lupakan aku dan semua perasaanmu terhadapku. Ini yang terbaik untuk kita berdua. Jika kau tetap mempertahankannya, jangan salahkan aku jika aku menganggapmu sebagai saudara jauh. Aku tidak bisa memperlakukanmu sebagai adik lagi!"


Zion memandang jam di tangannya. "Sudah lima menit. Aku harus pergi. Aku tidak bisa meninggalkan Daisy terlalu lama."


Pria itu pergi meninggalkan Livy yang kini sedang menahan air matanya. Ketika Zion sudah jauh, satu persatu air mata membasahi pipinya. Livy tidak menyangka kalau cinta pertamanya menyakitkan seperti ini. Dia memandang ke kanan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat sebelum tersenyum pahit.


"Tidak harus di balas. Diizinkan untuk mencintaimu saja, itu sudah lebih dari cukup."

__ADS_1


__ADS_2