
Di saat Norah dan Austin sedang asyik bercanda, kemungkinan Zion membuat mereka kaget. Mereka yang sedang duduk di atas tempat tidur dan saling berhadapan kini lebih memilih untuk berjauhan karena segan dengan Zion.
Zion seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Norah dan Austin ketika dia tidak ada di sana. Pria itu melangkah ke kursi dan menarik kursi itu ke dekat tempat tidur. Tanpa bicara, Zion meletakkan kursi itu di tengah-tengah tempat tidur Norah dan Austin.
Sepasang kekasih itu saling memandang dengan wajah bingung. Mereka sama-sama tidak tahu harus bicara apa sekarang. Ekspresi Zion membuat mereka takut.
"Dia pasti akan menderita setelah menikah dengan pria itu! Jika dari awalnya saja dia sudah tidak diterima oleh keluarga suaminya, bagaimana mungkin dia bisa diterima ketika sudah menikah nanti? Aku hanya tidak mau dia menderita. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Apa salah jika aku melarangnya untuk kembali bersama pria itu?"
"Kakak membicarakan siapa? Apa ini soal Daisy?" tebak Norah asal saja.
Zion memandang Norah sejenak sebelum memijat dahinya. "Aku bukan kakak yang jahat. Aku hanya menyayangi kalian berdua. Memisahkan bukan berarti aku tidak sayang. Keluarga Foster sangat jahat. Aku tidak mau Daisy masuk ke dalam Lin yang jahat seperti mereka. Sampai kapanpun, mereka tidak akan benar-benar tulus menerima Daisy. Mereka hanya ingin status sosial Daisy saja. Mereka tidak tulus menyayangi Daisy."
"Kak, awalnya aku juga ragu untuk membantu Abio. Tetapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan berjalan saja aku tidak bisa. Apa lagi menemui Daisy. Aku sudah meminta Daisy kemari. Aku akan membicarakan masalah ini dengan Daisy nanti. Kakak jangan khawatir. Aku tahu apa yang Kakak pikirkan. Aku juga tidak akan memaksa kakak untuk menerima Foster."
Austin hanya bisa diam saja. Di dalam hati, pria itu bersujud syukur karena sudah berhasil mendapatkan restu dari Zion. Entah bagaimana susahnya perjuangannya untuk meluluhkan hati seorang Zion Zein jika detik ini dia belum mengantongi restu.
"Ini berlaku untukmu juga Austin. Jika sekali saja kau menyakiti hati Norah, maka aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Zion.
"Tidak akan kakak ipar. Aku sangat menyayangi Norah. Bahkan aku sudah mengajaknya menikah. Tetapi, Norah tidak mau menikah cepat."
"Apa benar seperti itu Norah?"
Norah mengangguk. "Aku maunya menikah setelah kakak mendapatkan pacar. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir membiarkan kakak menjalani kehidupan ini."
"Apa yang kau khawatirkan? Semua akan berjalan seperti sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kak, walau sekali saja. Apa pernah kakak merasa tertarik dengan seorang wanita? Usia kakak juga tidak remaja lagi, seharusnya di usia kakak yang sekarang kakak pasti pernah bertemu dengan wanita cantik yang menarik. Apa ada kak?"
__ADS_1
Zion seperti sedang mengingat sesuatu. Pria itu mengeryitkan dahinya lalu tersenyum lebar. "Tidak ada."
"Kakak. Kenapa jawabannya selalu mengecewakan?" protes Norah kesal.
Zion menahan kalimatnya. "Ada. Tapi sekarang aku tidak tahu dia dimana."
Norah dan Austin saling memandang sebelum memandang Zion lagi. "Siapa Kak? Dimana kakak bertemu dengannya? Kenapa kakak tidak pernah cerita?"
Zion memandang Norah dengan tatapan tidak terbaca. "Aku tidak tahu tentangnya. Yang aku tahu, dia menyelamatkan nyawaku saat aku dalam bahaya. Dia wanita yang baik dan sopan."
Norah mengukir senyuman manis. "Kenapa kakak gak cerita. Kalau saja kakak cerita, aku pasti akan bantu kakak untuk mencari wanita itu. Tapi, bukankah pasukan Gold Dragon selalu jago dalam hal menyelidiki identitas seseorang? Kenapa kakak tidak berhasil menemukan identitas wanita itu. Kalau boleh tahu, kejadian kapan kak?"
Zion mengangguk pelan. "10 tahun yang lalu."
"What?" celetuk Austin dan Norah bersamaan.
...***...
"Di mana dia?" tanya Abio tanpa basa basi.
"Arah jarum jam, Tuan. Tidak jauh dari posisi anda berdiri. Nona Livy menggunakan kaos hitam dan celana pendek."
Abio memandang ke arah samping. Alisnya saling bertaut melihat sosok wanita yang kini berdiri membelakanginya. Dilihat dari postur tubuhnya, wanita itu sepertinya memang Livy. Namun Abio sendiri juga ragu ketika melihat penampilan Livy yang terkesan aneh. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mendekati wanita berkaos hitam tersebut.
"Livy?" Abio memegang pundak kiri Livy. Dengan cepat Livy memutar tubuhnya dan memandang Abio. Wanita itu mengeryitkan dahinya melihat Abio ada di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Abio memandang ke depan. Namun dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sana.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan di sini. Kenapa penampilanmu seperti ini?" tanya Abio balik tanpa mau menjawab pertanyaan Livy.
"Apa ada yang aneh dengan penampilanku? Pakaianku cukup sopan dan saat ini aku tidak membuat keributan di sini." Livy berusaha membela diri agar Abio tidak menuduhnya yang aneh-aneh.
"Bukan seperti itu maksudku." Abio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Penampilanmu sangat aneh!"
"Maksudmu aku terlihat aneh karena memakai baju murahan seperti ini?" Nada bicara Livy mulai meninggi pertanda kalau dia marah. Dia tidak suka dicurigai seperti ini.
"Livy, kau ini seorang dokter. Seharusnya kau ada di rumah sakit. Kenapa sekarang kau berdiri di tengah keramaian seperti ini. Memakai pakaian seperti ini. Apa kau sedang menyamar? Ada misi yang sedang kau rencanakan?" Abio mendekati Livy. Dia ingin tahu tujuan utama Livy ada di sana apa.
"Kau mau tahu?"
Abio mengangguk ragu. "Apa aku boleh ikut?"
"Boleh, tapi kau harus mengganti pakaianmu dan meninggalkan senjata yang kau miliki."
"Apa tidak berbahaya?" Abio mulai ragu.
"Percayakan padaku." Livy menarik tangan Abio dan membawanya menuju ke sebuah rumah yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri. Abio tidak banyak protes lagi. Dia memiliki diam sambil mengikuti kemana saja Livy membawanya pergi.
"Pakai ini."
Livy menyerahkan kaos abu-abu dan celana jeans koyak-koyak warna biru. Pertama kali menerima pakaian itu, hal yang pertama kali dilakukan Abio adalah mencium aroma baju itu. Dia juga harus memastikan kalau baju itu baju baru. Bukan baju bekas seperti bentuk yang dia lihat.
"Apa yang kau pikirkan ketika pertama kali melihat baju ini?"
"Dari mana kau mendapatkan pakaian seperti ini? Manusia seperti apa yang mau memakai pakaian seperti ini?" Abio meletakkan pakaian itu di atas meja dekatnya berdiri.
__ADS_1
"Ini pakaian yang biasa di pakai masyarakat yang tinggal di wilayah ini. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan di sini. Kita akan bersenang-senang sampai besok pagi. Pesta yang sesungguhnya ada di sini. Sekarang cepat pakai pakaian ini dan ayo ikut denganku. Kita akan ketinggalan." Livy keluar lagi meninggalkan rumah itu. Abio masih terpaku melihat baju murah yang ada di hadapannya.
"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?" umpat Abio di dalam hati.