Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 104


__ADS_3

"Menikah?"


"Ya. Apa kau tidak mau menikah denganku?" Austin menjadi ragu melihat ekspresi wajah Norah yang di luar ekspektasi.


"Austin, ini bukan persoalan aku mau atau tidak menikah denganmu. Tetapi ini terlalu mendadak."


"Norah aku pikir kau akan setuju dengan rencana yang sudah aku persiapkan. Apa lagi yang kau tunggu? Kita saling mencintai dan keluarga kita sudah setuju dengan hubungan kita. Aku tidak mau sampai Kak Zion berubah pikiran hingga membuat hubungan kita bermasalah lagi. Kak Zion itu tidak bisa di tebak jalan pikirannya."


"Tiba-tiba saja aku memikirkan nasip Kak Zion," jawab Norah dengan ekspresi tidak bersemangat.


"Tunggu. Apa aku tidak salah dengar? Kau memikirkan Kak Zion? Apa yang salah dengan Kak Zion? Sepertinya dia baik-baik saja."

__ADS_1


Norah memandang Austin lagi. "Aku tidak mau dia sendirian sampai tua. Jika nanti kita sudah menikah, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan Kak Zion. Aku akan hamil dan memiliki anak. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Maksudku, aku tidak mau Kak Zion hidup sendiri sampai tua."


"Lalu, apa yang kau inginkan Norah? Aku harus bagaimana agar bisa memilikimu seutuhnya?" Austin benar-benar frustasi di buat Norah. Bahkan pria itu seperti tidak memiliki semangat lagi. Padahal tadinya dia berpikir kalau Norah akan memeluknya dan mereka sekarang sedang membahas tentang pernikahan mereka. Tidak di sangka justru sekarang mereka sedang membahas masa depan Zion Zein.


"Bagaimana kalau kita menikah setelah Kak Zion bertemu dengan seorang wanita? Aku akan tenang jika seperti itu."


"Sampai kapan?" Melihat sifat Zion yang dingin seperti kutub Utara membuat Austin ragu kalau pria itu akan bertemu dengan jodohnya dalam waktu dekat.


Mau tidak mau Austin harus setuju. Hanya itu syarat yang bisa membuatnya segera menikah dengan Norah. "Baiklah. Setelah kita sama-sama sembuh, kita akan cari wanita yang tepat untuk Zion. Ini seperti misi pencarian jarum di dalam jeramih!"


Norah tertawa geli mendengarnya. "Terima kasih Austin sayang. Kau memang yang terbaik."

__ADS_1


"Cepat sembuh ya?" Austin mengecup pucuk kepala Norah. "Aku tidak mau kau sakit."


"Aku sudah merasa jauh lebih baik. Tapi, apakah bisa kau memelukku? Aku sangat merindukanmu."


"Tentu saja. Aku juga sangat merindukanmu kekasihku." Austin memeluk erat tubuh Norah sebelum mengecupnya berulang kali. "I love you sampai mati."


"I love you to sampai mati."


"I love you too sampai mati sayang." Norah mengukir senyuman bahagia.


Di depan kamar, Zion ternyata menguping pembicaraan Norah dan Austin. Bukan marah justru pria itu tertawa geli di dalam hati. "Mereka ingin mencarikanku jodoh? Sepertinya mereka memang pasangan serasi. Bisa-bisanya mereka memiliki pemikiran yang sama. Oke, kita lihat saja nanti. Wanita seperti apa yang akan dicarikan adik dan adik iparku. Bahkan sampai detik ini saja aku sendiri tidak tahu wanita seperti apa yang akan menjadi istriku nanti."

__ADS_1


__ADS_2