
"Gawat! Sekarang Semua orang yang ada di Universitas Yale sudah tahu identitas asliku. Bagaimana kalau salah satu dari mereka memiliki niat jahat. Kak Norah dan Kak Zion tidak ada di dekatku. Aku juga tidak mau merepotkan mereka lagi."
Siang itu Daisy terlihat gelisah. Dia merasa menyesal karena sudah membongkar identitasnya. Memang perbedaannya terlihat sangat nyata. Mahasiswa yang biasanya meremehkan Daisy kini sudah tidak berani lagi. Bahkan memandang Daisy secara langsung saja mereka tidak mau.
"Jika tahu jadi begini, semalam aku tidak akan terpancing emosi."
Daisy terlalu sibuk memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu hingga dia tidak sadar kalau Foster kini berjalan mendekatinya. Pria itu membawa sebuah bunga dan coklat. Beberapa mahasiswi yang melihat Foster terlihat kagum dan iri terhadap Daisy. Sekarang mereka tidak lagi memandang Daisy sebagai wanita miskin. Mereka justru menjuluki Daisy sebagai wanita yang paling beruntung.
"Nona, apa anda memikirkan masa depan kita?"
Daisy mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang baru saja mengajaknya bicara. Wanita itu langsung tersenyum ketika melihat sang pacar berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Sejak kapan Kak Foster ada di situ? Bukankah Kak Foster sendiri bilang kalau hari ini jadwal Kak Foster sangat padat. Kenapa masih menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Aku tidak mau ada masalah di dalam pekerjaan Kak Foster."
Daisy menerima bunga dan cokelat yang diberikan Foster sebelum menghirup aroma bunga itu sambil memejamkan mata.
"Aku merindukanmu. Aku tidak bisa bekerja jika belum bertemu denganmu," jawab Foster. Pria itu memperhatikan semua orang yang kini memandangnya. Semua terlihat saling berbisik hingga membuat Foster merasa tidak nyaman.
"Mereka semua sudah tahu kalau aku keturunan Kerajaan Cambridge. Kemarin aku terpancing emosi dan tanpa sengaja mengungkapkan identitas asliku. Ini semua terjadi karena ada salah satu teman sekelasku yang terus saja menghinaku dan menyepelekan keluargaku. Hingga akhirnya aku mengungkapkan semuanya agar mereka semua terdiam!" Daisy kembali murung dan menyesali perbuatannya. Berbeda dengan Foster yang justru segera merangkul pinggang wanita itu lalu memeluknya.
"Ya. Aku suka. Sayangnya aku tidak berani menaikinya. Biasanya Kak Norah yang selalu menggoncengku jika kami ingin pergi jalan-jalan naik sepeda motor. Kenapa Kak Foster tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa Kak Foster sendiri bisa mengendarai sepeda motor?" Daisy memandang Foster dengan begitu serius. Ada keraguan di sana. Dia yakin kalau pria kaya seperti Foster tidak akan bisa mengendarai sepeda motor.
"Aku ini seorang pria. Jelas saja aku bisa mengendarainya. Bukan hanya sepeda motor saja Aku juga bisa menerbangkan helikopter dan pesawat. Jadi jangan ragukan kemampuanku sayang. Katakan saja padaku kendaraan apa yang ingin kau tumpangi. Maka aku rela menjadi supirnya."
__ADS_1
Daisy tertawa geli mendengarnya. Setidaknya perkataan Foster bisa membuat dia lupa akan rasa menyesalnya itu.
"Sore nanti kita jalan-jalan naik sepeda motor ya sambil mengelilingi kota. Sepertinya sangat asik. Oh ya, apa nanti sore Kak Foster sibuk?"
"Tidak! Waktuku selalu kosong Jika aku ingin jalan-jalan denganmu." Foster beranjak dari kursi yang ia duduki. "Nanti sore akan aku jemput di depan asrama. Gunakan pakaian yang tidak terlalu pendek Karena tubuhmu bisa dilihat semua orang jika kau naik sepeda motor."
Daisy mengangguk sambil tersenyum. "Oke bos," ucapnya.
"Aku harus pergi lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku agar nanti sore kita bisa jalan-jalan. Jangan sedih lagi dan segera makan coklat pemberianku. Aku yakin setelah kamu makan coklat itu, maka suasana hatimu bisa kembali bahagia."
"Terima kasih Kak Foster," ucap Daisy. Tanpa mau menunggu lagi, wanita itu segera mengupas coklat pemberian Foster sambil memakan coklat itu. Dia memandang Foster yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Setidaknya masih ada Kak Foster yang selalu hadir disisiku ketika Kak Norah dan Kak Zion sibuk dengan urusan mereka masing-masing," gumam Daisy di dalam hati.