Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 116


__ADS_3

Abio berdiri di sana sambil memegang bunga dan kotak cincin di tangannya. Pria itu terlihat gugup. Dia bahkan kesulitan untuk melangkah. Sama seperti Livy. Wanita itu terpaku di tempatnya berdiri. Padahal sebenarnya dia ingin sekali mendekati Abio.


"Astaga, kakiku kenapa!" umpat Abio di dalam hati. Dia tidak bisa berjalan. Seolah di bawah kakinya telah ada lem yang membuat sepatunya menyatu dengan lantai. Bahkan Abio sampai lupa bagaimana caranya bernafas.


"Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia diam saja?" protes Alana mulai kesal karena putranya tidak juga melangkah maju untuk mendekati dan melamar Livy.


"Tenanglah. Mungkin dia lupa dengan kalimat yang sudah ia hafal semalam. Sabar. Semua akan berjalan sesuai rencana," jawab Kwan berusaha menenangkan Alana. Berbeda dengan Biao dan Kenzo yang justru kini ingin sekali menggendong Abio agar segera berdiri di depan Livy. Dua opa itu tidak suka cucunya ditertawai oleh semua orang.


"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku? Cucu kita sangat payah! Mana hanya dia satu-satunya lagi!" protes Kenzo kesal. "Hanya tinggal melamar saja dia tidak mampu melakukannya. Bukankah itu hal yang mudah? Dia hanya tinggal mengungkapkan apa saja yang dia rasakan setelah itu Livy akan menerimanya.


"Lima menit lagi dia hanya diam di sana. Aku akan menyeretnya secara paksa!" sahut Biao. Pria itu melirik istrinya yang kini menatapnya dengan wajah tidak setuju.


"Bisakah kau diam saja di sini? Jangan campuri urusan cucumu. Kau ini sudah tua tolong sadar diri," ketus Sharin tidak suka.


Kenzo yang mendengar omelan Sharin hanya bisa tertawa pelan sambil menutup mulutnya. "Dari gambarannya saja sudah terlihat, sepertinya nanti Abio akan seperti Opa dan papanya. Takut dengan wanita yang ia cintai."


"Kau menyesal karena selalu mengalah?" sahut Shabira.


"Istriku, kenapa jadi aku yang dimarahi? Aku hanya menjelaskan situasi yang sekarang sedang kita alami! Terutama di keluarga kita.


"Berhentilah berbicara karena saat ini aku hanya ingin fokus ke cucuku. Bukan ke pria tua seperti kalian." Shabira memalingkan wajahnya.


Kali ini Abio yang gantian menertawakan Kenzo. Karena tidak mau pasangan mereka ngomel-ngomel tidak jelas lagi, dua pria itu memilih untuk diam saja. Begitu juga dengan Kwan yang memang sejak tadi lebih memilih diam. Padahal sebenarnya ingin sekali dia menceramahi putranya yang kini terlihat sangat tidak gentlemen.


Abio memandang ke arah Alana, untuk saat ini semangat dari ibu kandungnya yang paling dibutuhkan oleh Abio. "Ma, doakan putramu ini agar berhasil melamar wanita yang dicintainya. Restui hubungan kami."


Walau Abio hanya mengucapkannya di dalam hati, tapi entah kenapa Alana mengerti dengan apa yang dipikirkan putranya. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Semangat!" satu tangannya naik ke atas sebagai ucapan kalau dia sangat mendukung putranya saat ini.


Abio mulai bisa menggerakkan kakinya untuk maju ke depan. Sekali lagi pria itu menarik nafas agar debaran jantungnya kembali tenang. Kedua matanya tidak lagi teralihkan ke arah lain. Hanya Livy satu-satunya seseorang yang ia pandang untuk saat ini. Hingga akhirnya pria itu berhasil berdiri di hadapan Livy.


"Abio Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Livy penuh basa-basi. Walau sebenarnya ia sudah tahu Apa tujuan Abio saat itu.

__ADS_1


tanpa menjawab pertanyaan Livy, Abio segera berlutut di hadapan wanita itu. Satu tangannya memegang buket bunga dan satunya lagi membuka kotak cincin yang kini ditunjukkan ke arah Livy.


"Livy, Aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Cinta ini hadir sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kau pasti tahu bagaimana perjuanganku selama ini untuk mendapatkan hatimu. Ini mungkin terkesan sangat terburu-buru. Tapi aku seorang pria. Aku tidak mau berpisah dari wanita yang aku cintai. Malam ini di ulang tahunmu yang ke-27. Aku bukan hanya sekedar ingin menyatakan perasaan cinta di hadapanmu. Tetapi aku ingin memberikan satu pertanyaan yang harus kau jawab sekarang juga. Livy, apapun jawabanmu nanti. Tidak akan merubah segalanya. Kita tetap teman kita tetap sahabat dan kita tetap saudara. Aku akan tetap melindungimu sampai kapanpun. Abio menunduk sebentar. Ingin mengucapkan kalimat inti justru membuat bibirnya keluh. Kedua kakinya seperti lumpuh. Seluruh kulitnya tidak terasa lagi. Abio sendiri sampai heran, sebenarnya penyakit apa yang sekarang sedang menyerangnya.


"Abio, apakah kau mau menikah denganku?"


Abio benar-benar syok mendengar pertanyaan Livy. kepalanya langsung mendongak ke atas dengan tatapan tidak percaya. Kali ini bukan hanya seluruh tubuhnya saja yang tidak terasa. Tetapi Abio sendiri rasanya ingin pingsan.


"Apa apa apa yang kau katakan barusan?" Abio berubah gagap.


Sikap Abio yang aneh membuat tertawa semua orang. Mereka tidak menyangka kalau Abio si Playboy yang suka mempermainkan wanita kini tidak memiliki keberanian untuk melamar wanita yang dia cintai.


"Apa kau tuli?" Livy mulai kesal.


"Tidak. Maksudku ya aku mau menikah denganmu." Abio geleng-geleng kepala sambil kebingungan. Dia memandang Livy lagi dengan tatapan protes. "Tidak seperti ini konsepnya. Seharusnya aku yang melamarmu dan kau yang menjawab pertanyaanku. Kenapa sekarang jadi terbalik? Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana?"


Bukan hanya Livy saja yang tertawa geli mendengar ocehan abio. Lagi-lagi tamu undangan tertawa hingga memenuhi seisi ruangan tersebut.


"Berdirilah. Kenapa kau suka sekali duduk di lantai." Livy membantu Abio agar berdiri. "Cepat! Jangan buang-buang waktu lagi. Pasangkan cincin berlian itu di jari manisku. Tidak usah bertanya lagi karena jawabannya tetap akan sama." Livy mendekati wajah Abio dan berhenti di samping telinga pria tersebut. "Aku juga mencintaimu dan aku mau menikah denganmu."


"Aku percaya Abio. Aku percaya kalau kau memang kau pria yang tepat untuk mendampingi hidupku sampai tua nanti. Terima kasih karena sudah sabar mencintaiku. Terima kasih karena mau memperjuangkanku tanpa pernah kenal putus asa. Maafkan aku karena pernah menyakiti hatimu.


"Cepat pakai cincin ini agar kau resmi menjadi milikku." Abio segera menyematkan cincin berlian itu di jari manis Livy. Pria itu mengecup punggung tangan Livy sebelum akhirnya memeluk Livy dengan erat.


Oliver menyipitkan kedua matanya melihat perbuatan Abio. Dengan cepat Lukas menepuk pundak Oliver dan tersenyum.


"Cepat atau lambat kita memang harus merelakan Livy pergi bersama dengan pria yang ia cintai. Mulai sekarang biasakan dirimu untuk hidup tanpa Livy. Apa lagi setelah menikah nanti, dia pasti lebih fokus dengan keluarganya daripada orang tuanya."


Oliver memandang ke depan. Walau sebenarnya ia masih berat melepas kepergian Livy, tapi dia berusaha untuk merelakan Livy bahagia dengan pria pilihannya. Apa lagi pria pilihan putrinya berasal dari keturunan yang bisa dipercaya. Oliver tidak merasa khawatir lagi.


"Sekarang aku tahu, kenapa dulu mama Emelie selalu saja menangis ketika aku dan Katterine telah menikah. Ternyata inilah jawabannya. Jika memiliki anak perempuan, kita harus siap untuk melepaskannya."

__ADS_1


Mendengar nama Emelie membuat Lukas kembali ingat dengan Zeroun . Entah di mana sekarang pria itu berada. Dia tiba-tiba saja menghilang dari rumah. Padahal seharusnya dia hadir di tengah-tengah mereka untuk merayakan pesta ulang tahun Livy. Di makam Emelie tidak ada, di makamSerena juga tidak ada. Kali ini lu pasti buat pusing oleh Zeroun. Dia tidak tahu harus mencari Zeroun ke mana lagi.


Setelah lamaran Abio sukses, sekarang mereka semua akan merayakan acara selanjutnya. Yaitu pesta dansa. Para tamu undangan menemui pasangan mereka untuk diajak berdansa di tengah ruangan. Tanpa keberatan lagi, kini Livy merangkul pundak Abio dengan mesra. Livy terlihat sangat manja. Abio merasa senang melihat wanita yang ia cintai bisa selembut itu kepadanya.


"Aku masih tidak percaya. Aku pikir semua ini hanya mimpi." Lagi-lagi Abio mengecup pucuk kepala Livy dengan mesra. Jika saja tidak di tengah keramaian, mungkin pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir Livy.


Zion memandang kemesraan Livy dan Abio dengan tatapan tidak terbaca. Hal itu membuat Zion terlihat sangat aneh. Secara diam-diam Norah memperhatikan gerak-gerik kakak kandungnya tersebut. Sejenak dia berpikir kakaknya cemburu melihat kemesraan antara Livy dan juga Abio.


"Kak apa semua baik-baik saja?"


"Semua orang terlihat bahagia. Tetapi entah kenapa hatiku merasa sedih."


"Apa yang membuat Kakak merasa sedih?"


"Keluarga kita sudah tidak lengkap lagi. Aku ingin Oma Emelie dan juga GrandNa ada di sini bersama kita merayakan ulang tahun Livy dan juga pertunanganmu nanti. Terutama Opa Daniel. Semakin ke sini aku semakin merindukannya."


"Mereka sudah bahagia di surga. Kita tidak boleh seperti ini. Jika kita terus menyesali kepergian mereka. Mereka juga tidak akan tenang di alamnya sana. Jika ditanya dan harus jawab jujur, sebenarnya aku juga belum siap kehilangan mereka. Tiap malam aku selalu melihat Mama dan Papa yang sedang tidur di kamar. Mereka semakin tua. Cepat atau lambat kita bertiga juga akan pergi meninggalkan mereka untuk hidup bersama pasangan kita. Hingga berjalannya waktu kita tidak sadar kalau orang tua kita sudah sangat tua dan sedikit lagi mendekati kematian."


"Kau ini bukan menghiburku malah membuatku semakin sedih. Pergi sana temani Daisy. Sepertinya dia juga sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu walaupun bibirnya tersenyum tapi hatinya Masih memikirkan pria itu. Iya memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi pesta. Sedangkan Nora kembali kepada Daisy. Dia juga tidak mau adik kandungnya ingat dengan poster dan kembali meneteskan air mata.


Zion Masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat. Sesekali pria itu memandang ke spion untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Ketika keadaan benar-benar aman, pria itu menambah lagi gas mobilnya. Entah kemana dia ingin pergi. Melihat semua orang sudah memiliki pasangan hatinya mulai terasa sepi. Padahal sebelum-sebelumnya dia sama sekali tidak pernah kepikiran untuk dekat-dekat dengan seorang wanita, apalagi sampai menikah.


Munculnya seorang wanita di tengah-tengah jalan membuat Zion mengerem mobilnya secara mendadak. Karena mobil itu sangat cepat, Zion terpaksa membanting setirnya ke samping. Suara decitan rem terdengar dengan begitu jelas. Mobil itu berputar-putar di tengah jalan hingga menyisakan jejak di permukaan aspal. Setelah beberapa saat bertarung dengan maut, pria itu berhasil mengendalikan mobilnya agar berhenti dengan sempurna. Dia memandang ke belakang untuk melihat wanita yang sempat menghalangi jalannya.


"Apa dia mau mati?" Zion Segera turun dan mendekati wanita itu. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau tiba-tiba muncul di tengah jalan? Kau pikir itu tidak bahaya."


Zion berjalan semakin dekat. Wanita itu tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya memandang Zion sambil menangis sedih.


"Hei, apa kau tuli?" Zion semakin kesal karena wanita itu hanya diam saja.


Tiba-tiba saja wanita itu jatuh ke depan dan memeluk Zion. "Apa yang kau lakukan" protes Zion lagi. Pria itu kembali membisu ketika melihat ada belati tertancap di punggung wanita tersebut. Darah segar mengalir dengan begitu deras. "Siapa yang sudah melakukan semua ini?"

__ADS_1


"Tolong aku ... jangan biarkan mereka menangkapku lagi," lirih wanita itu di tengah kesadarannya yang hampir hilang.


"Siapa yang ingin menangkapmu?" Zion memandang ke segala arah. Namun dia tidak menemukan siapapun di sana. Ketika ingin bertanya lagi, Wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Zion tidak tega untuk membiarkan wanita itu tergeletak di jalanan. Dia bisa mati jika tidak segera dibawa ke rumah sakit. Mau tidak mau Zion menggendong wanita itu dan membawanya ke mobil. Urusan identitas wanita itu akan ia pikirkan nanti saja. Yang penting sekarang nyawa wanita itu tertolong.


__ADS_2