Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 146


__ADS_3

Livy terbangun dengan wajah yang sangat panik. Wanita itu segera membangunkan Abio yang kini masih ada di pangkuannya. Dengan lembut dia tepuk-tepuk pipi Abio sampai pria itu membuka mata. "Abio ...," bisiknya pelan.


Abio mengerjapkan matanya berulang kali sebelum duduk. Pria itu memandang ke depan sebelum memandang wajah Livy. Wajah pria itu terlihat sangat panik. "Apa sudah malam?" Karena di ruangan itu tidak ada jendela, mereka tidak tahu kalau langit di luar sudah gelap.


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya sudah malam. Dimana Kak Faith?" Livy segera beranjak dari sofa. Wanita itu ingin memeriksa dapur.


Langkahnya terhenti melihat Zion dan Faith yang saat itu sedang makan malam. Mereka berdua terlihat sangat akrab hingga membuat Livy tersenyum melihatnya. Bahkan wanita itu tidak mau sampai mengganggu.


"Kenapa mereka tidak mengajak kita untuk makan malam?" protes Abio yang kini berdiri di samping Livy.


"Mungkin Kak Zion gak sampai hati membangunkan kita tadi. Keadaan sudah aman. Sepertinya sekarang waktunya kita pulang," ajak Livy. Dia merangkul lengan kekasihnya.


"Kita gak pamit dulu?" Abio ingin melangkah masuk untuk menemui Zion dan berpamitan. Tetapi dengan cepat Livy mencegahnya.

__ADS_1


"Jangan." Livy segera menarik Abio untuk menjauh agar Zion tidak mendengar suara mereka. "Kemunculan kita bisa mengganggu makan malam mereka. Sekarang kita pulang saja tanpa pamit. Ayo."


Abio memandang ke belakang sekali lagi sebelum melangkah pergi bersama dengan Livy. Pria itu juga tidak mau banyak protes. Walau sebenarnya dia ingin bertanya mengenai keadaan Norah saat ini. Dia juga khawatir ketika mendengar kabar kalau Norah dan Austin di serang tadi.


Setibanya di dalam mobil, Abio tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya. Pria itu hanya diam seperti sedang menunggu sesuatu. Livy yang sudah memakai sabuk pengaman memandang Abio dengan wajah protes. Wanita itu ingin segera tiba di rumah. Dia ingin mandi, makan dan tidur. Rasanya tubuhnya lelah sekali hari ini.


"Abio, ada apa?"


"Tidak ada," jawab Abio. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang. Livy yang masih curiga tidak mau diam saja. Wanita itu ingin tahu sebenarnya apa yang dipikirkan kekasihnya. Sebelum tidur pria itu terlihat baik-baik saja. Kenapa sekarang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu?


Abio memandang wajah Livy lalu tersenyum. "Tidak ada." Pria itu mengusap pipi Livy sejenak.


"Kau bohong! Aku tahu kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku," jawab Livy tidak terima. "Cepat katakan padaku! Aku tidak mau bicara denganmu jika kau tidak mau cerita."

__ADS_1


Abio memandang Livy sejenak sebelum memandang ke jalan depan lagi. "Aku memikirkan Norah."


"Norah? Kenapa dengan Norah? Kak Zion tidak membangunkan kita itu berarti Norah baik-baik saja. Kak Zion juga sudah kembali ke markas. Dia terlihat tenang ketika makan malam."


"Livy, tadi aku mimpi buruk."


"Mimpi buruk?" tanya Livy cepat.


"Aku melihat banyak darah. Aku tahu ada yang tertembak. Tetapi aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang tertembak," jelas Abio. Berharap Livy mau memahami apa yang sekarang dia rasakan.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Kau kelelahan jadi sampai mimpi yang aneh-aneh. Lebih baik sekarang kita pulang. Kita mandi lalu makan malam. Setelah itu kita istirahat. Aku yakin besok pagi akan terasa jauh lebih baik." Livy mengusap lengan Abio. "Percaya padaku."


Abio mengangguk. Pria itu memandang ke depan lagi. Tiba-tiba saja cahaya yang begitu terang membuat pandangannya tidak jelas. Sebuah mobil melaju kencang menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"Abio!" teriak Livy.


Abio membanting stirnya ke kiri. Mobil itu berputar-putar di tengah jalan sebelum akhirnya tertabrak truk yang sejak awal mengincar mobil mereka. Abio menarik Livy untuk membawa wanita itu pergi di detik-detik terakhir. Namun, pria itu tidak bisa bergerak ketiak kakinya terjepit. Abio memandang wajah Livy yang kini terluka dan tidak sadarkan diri. "Livy ... bertahanlah," lirih Abio sebelum memejamkan mata dan tidak sadarkan diri.


__ADS_2