
Zion melajukan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu tidak mau terus menerus memikirkan perasaan Livy. Zion sudah memutuskan untuk tidak akan pernah mau membalas cinta Livy. Mereka saudara. Status itu yang menjadi patokan bagi Zion untuk menolak perasaan Livy. Di tambah lagi, memang Zion tidak mau dekat atau akrab dengan wanita manapun dalam waktu dekat ini. Cukup Norah dan Daisy saja wanita yang selalu dekat dengannya. Zion tidak pernah mau membuka hatinya untuk wanita manapun.
“Kenapa harus aku? Apa ini akan menjadi akhir dari persaudaraan kami? Apa setelah ini hubunganku dan Livy akan seperti musuh?” gumam Zion. Dia melirik ponselnya di dashboar mobil. Melihat panggilan telepon itu dari Norah, ia segera mengangkatnya. Pria itu juga sudah sangat merindukan Norah. Beberapa hari ini wanita itu tidak ada kabar. Sambil mengangkat panggilan telepon Norah, Zion menurunkan laju mobilnya.
“Halo, Kak. Aku pulang!” teriak Norah.
Zion mengeryitkan dahinya. “Pulang? Kapan?”
“Hari ini? Ada beberapa barang yang harus aku antar ke rumah Opa Zen. Jadi, aku harus pulang.”
“Barang apa?”
“Aku juga tidak tahu. Opa Kenzo yang memberikannya. Dia tidak mengizinkanku untuk membukanya,” jawab Norah apa adanya.
“Baiklah. Apa kau mau aku temani?”
“Tidak. Kakak jaga Daisy saja. Nanti biar aku yang temui kakak dan Daisy di Universitas Yale setelah pesanan Opa Kenzo berhasil aku kirim ke Opa Zen.”
“Norah, bagaimana kabarmu? Apa kau tidak pernah telat makan?”
“Tidak. GrandNa menjagaku dengan sangat baik. Kak, aku senang tinggal di tempat ini.”
Zion tersenyum bahagia mendengarnya. Memang seperti ini yang dia harapkan. Dimanapun adiknya berada, wanita itu harus selalu bahagia. Tidak sedih dan banyak pikiran seperti yang sekarang dia alami.
“Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah Opa Zen. Aku akan mengajak Daisy ke sana.”
“Kak, apa Abio masih ada di sana?”
Mendengar nama Abio membuat rasa bersalah di dalam diri Zion. Tetapi, dia belum mau menceritakan cinta segitiga ini. Zion tahu bagaimana Norah. Jika wanita itu sampai tahu, dia pasti akan menghubungi Livy dan memarahi wanita itu habis-habisan. Ujung-ujungnya, bukan Zion dan Livy saja yang bertengkar. Tetapi semua orang jadi bertengkar dan hubungan persaudaraan mereka yang selama ini baik-baik saja menjadi berantakan.
“Ya.”
“Apa dia masih mengejar-ngejar Kak Livy?”
“Ya, sepertinya. Kakak juga tidak tahu,” dusta Zion.
“Sepertinya dia cinta mati sama Kak Livy. Padahal kalau di lihat-lihat lagi Abio itu ganteng. Tetapi, kenapa dia memilih Kak Livy?”
__ADS_1
“Oh ya? Apa dia lebih ganteng dari kakak?”
Norah tertawa mendengarnya. Jarang-jarang kakaknya itu narsis seperti ini. “Tentu saja lebih ganteng Kak Zion,” jawab Norah dengan tawa kecil.
“Kakak masih di jalan. Nanti kita lanjutkan lagi.”
“Aku juga ingin siap-siap, Kak. Sebelum berangkat aku akan kabari kakak lagi.”
Panggilan telepon itu berakhir. Zion kembali fokus dengan laju mobilnya. Hujan mulai turun bersama angin kencang yang begitu dingin. Zion menghela napas karena lagi-lagi dia memikirkan Livy. Betapa sakitnya wanita itu. Pasti saat ini dia sedang menangis di suatu tempat.
“Maafkan aku, Livy. Ini yang terbaik untuk kita semua.”
Seperti apa yang dipikirkan Zion. Kini Livy berjalan pelan di pinggiran jalan yang banyak genangan air karena hujan turun dengan derasnya. Menangis di bawah hujan membuat semua orang tidak tahu kalau dia sedang menangis. Pasukan The Filast tidak membiarkan Livy sendirian. Mereka sudah sejak tadi membujuk Livy bahkan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Tetapi wanita itu tetap keras kepala. Dia bertahan di bawah derasnya hujan dan mengusir siapa saja yang memberi payung kepadanya. Dia kecewa. Dia ingin marah. Apa salahnya dia mencintai Zion? Kenapa Zion harus marah? Kenapa pria itu harus merubah sikapnya? Kenapa tidak lupakan saja apa yang terjadi.
“Apa kurangnya aku? Apa aku seburuk itu sampai Kak Zion membenciku?” Livy berlutut sambil menunduk. Dadanya terasa begitu sesak. Livy bahkan kini tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan Zion dan yang lainnya. Dia yakin, kabar ini pasti akan cepat menyebar dan sampai ke telinga orang lain. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Justru Zion menyimpan rapat masalah ini agar tidak ada yang mengetahuinya.
Tiba-tiba seseorang memayungi Livy. Wanita itu berpikir kalau pasukan The Filast yang melakukannya. “Aku bilang pergi!” teriak Livy. Dia butuh waktu untuk sendiri. “Pergi!”
Tetapi payung itu tetap di sana. Orang yang memegang payung seperti tidak takut dengan teriakan Livy. Hal itu membuat Livy semakin emosi. Dia berdiri dan segera memutar tubuhnya. Dia akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah tidak petuh dengan perintahnya.
“Apa kau tuli!” Livy tidak jadi melajutkan kalimatnya melihat orang yang berdiri di depannya bukankah pasukan The Filast. Wanita itu mengepal tangannya dan menghapus air matanya. Sebenarnya tanpa dia menghapus air matanya, pria di depan juga sudah tahu kalau Livy sedang menangis.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kau masih sakit. Tidak seharusnya kau hujan-hujanan seperti ini,” protes Livy. Dia memalingkan wajahnya karena tidak mau memandang wajah Abio terlalu lama.
“Kau sendiri apa yang kau lakukan? Kau sakit hati karena cintamu di tolak oleh Zion lalu kau menyiksa dirimu sendiri?”
Livy memandang wajah Abio dengan tatapan tidak suka. Walau tebakan Abio benar, tetap saja dia tidak mau mengakuinya. “Kau salah! Aku suka hujan. Mandi hujan seperti ini menjadi sesuai yang menyenangkan bagiku.”
“Sambil menangis?” sambung Abio lagi. “Aku baru tahu kalau ada yang memiliki hobi unik seperti dirimu.” Abio melempar payung yang dia bawa hingga akhirnya dia juga basah kuyup kena hujan. “Aku juga ingin menikmati hobi yang kau gemari ini, Livy.”
“Abio, apa-apaan ini?” Livy yang tidak mau Abio jatuh sakit lagi, memutuskan untuk mengambil payung yang tergeletak di jalan. Namun, dengan cepat Abio memegang pergelangan tangannya dan menariknya ke dalam pelukan. Pria itu mengusap rambut belakang Livy sambil memejamkan mata.
“Izinkan aku membahagiakanmu. Aku berjanji tidak akan pernah membuat luka di hatimu. Aku janji akan membuatmu selalu bahagia,” ucap Abio dengan penuh ketulusan. Livy hanya diam saja. Dia tidak menolak tidak juga memeluk Abio. Wanita itu berdiri seperti patung dengan posisi di peluk oleh Abio.
“Aku memang membutuhkan bahu untuk bersandar. Aku merasa lelah. Aku butuh seseorang yang mengerti perasaanku,” gumam Livy di dalam hati.
***
__ADS_1
Norah memerika ulang barang-barang bawaannya. Sebenarnya barang yang akan ia bawa tidak terlalu banyak. Namun, ketika semua barang dikumpulkan dalam satu koper, kelihatannya sangat banyak bahkan tidak muat. Barang yang di bawa Norah rata-rata asesoris untuk dia menyamar. Seperti rambut palsu, topeng, masker, topi bahkan beberapa kaca mata. Norah tidak bisa meninggal barang-barang seperti itu karena tidak mudah untuk di dapatkan.
“Oke, semua sudah rapi. Saatnya berangkat.” Norah melirik kotak cokelat titipan Kenzo yang akan dia berikan kepada Zeroun. Norah sebenarnya sangat penasaran untuk melihat isi di dalamnya. Namun, dia tidak bisa membukanya tanpa persetujuan dari pemiliknya.
“Baiklah. Setelah aku bertemu dengan Opa Zen. Aku akan meminta Opa Zen untuk membukanya di hadapanku,” gumam Norah di dalam hati. Dia segera keluar meninggalkan kamar untuk memberi perintah kepada pelayan agar segera membawakan barang-barangnya ke mobil.
Tanpa di perintah, beberapa pria masuk ke dalam kamar Norah setelah Norah keluar. Norah segera turun ke lantai bawah. Dia ingin berpamitan dengan GrandNa sebelum berangkat. Pesawat akan berangkat setengah jam lagi. Norah masih memiliki waktu untuk mengobrol dengan Serena.
“GrandNa!” teriak Norah. Serena yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga hanya bisa tersenyum melihat cucunya. Melihat Norah dia seperti melihat Leona ketika masih muda dulu.
“Sayang, kau sudah mau berangkat?”
“Ya, GrandNa.” Norah memeluk Serena dari belakang sebelum mengecupnya. “Aku akan segera kembali.”
“Ya, GrandNa tahu. Kabari GrandNa jika kau sudah sampai.”
Norah mengitari sofa dan duduk di samping Serena. Wanita itu tersenyum manis sambil menatap Serena dalam-dalam. “Apa GrandNa menyayangiku?”
“Tentu GrandNa menyayangimu, Norah. Kau cucuku.”
“Aku juga sangat menyayangi GrandNa.” Lagi-lagi Norah memeluk Serena dengan begitu erat. Wanita itu seperti tidak rela meninggalkan Serena sendirian di rumah itu.
“GrandNa, pasti sangat merindukanmu Norah.”
“Aku hanya pergi sebentar. Kenapa GrandNa sedih sekali?” gumam Norah di dalam hati.
Serena melepas pelukannya. Dia mengambil sebuah kalung dan memberikannya kepada Norah. Norah menerimanya namun mengeryitkan dahi. Kalung itu sangat indah. Namun Norah tidak suka pakai kalung. Tetapi, demi menyenangkan hati Serena. Dengan terpaksa dia akan menerima dan memakai kalung itu.
“Ini kalung untukmu, Norah. Untuk Daisy sudah nenek kirim ke tempat Daisy sekolah semalam. Nenek membeli kalung yang sama untukmu dan Daisy. Tetapi, dengan liontin yang berbeda. Kau berwarna biru dan Daisy berwarna putih.”
“Apa artinya dari warna liontin ini, GrandNa?” Norah memperhatikan liontin berbentuk lingkaran itu.
“Merah berarti kekuatan dan kebijaksanaan. Itu untuk Zion. Tetapi, karena dia pria. GrandNa menggantinya dengan sebuah gelang. Putih artinya kesederhanaan dan kemurnian. Seperti Daisy. GrandNa harap Daisy tetap seperti sekarang. Tidak terjun ke dunia gelap. Sedangkan biru merupakan simbol dari empat hal. Kepercayaan, loyalitas, tanggung jawab dan keamanan. GrandNa rasa, kau orang yang cocok dengan warna itu. Karena keempat hal itu ada pada dirimu, Norah.”
Norah tertegun mendengarnya. “GrandNa, Norah tidak akan mengecewakan GrandNa.”
“Terima kasih, sayang.” Serena memeluk Norah sekali lagi. Wanita itu sampai meneteskan air mata. Padahal mereka akan berjumpa lagi nanti karena Norah hanya pergi untuk sebentar. Tetapi, entah kenapa Serena berat melepas Norah pergi.
__ADS_1
“Ada apa dengan GrandNa? Kenapa GrandNa terus saja menangis? Apa GrandNa tidak rela aku tinggal? Bukankah kemarin GrandNa sendiri yang memintaku untuk mengantarkan barang titipan Opa Kenzo?” gumam Norah di dalam hati.