
Faith menggenggam lengan Dominic dengan begitu erat. Wanita itu menjadi takut ketika mereka sudah tiba di hotel yang ditempati oleh Zean. Padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Tetapi semakin dekat dengan Zean wanita itu semakin tidak tenang. Ia takut jika ayah kandungnya nanti tidak bisa menerimanya.
"Apa kau takut?" tanya Dominic sambil mengusap tangan wanita itu dengan lembut. "Tenang saja. Ada aku di sini," sambung Dominic lagi. Ia berusaha untuk meyakinkan adiknya agar tidak khawatir. "Selama aku masih hidup, Kau tidak perlu merasa takut karena aku akan selalu melindungimu."
"Aku takut ketika nanti papa bertemu denganku ia tidak mau menerimaku sebagai putrinya. Aku takut dia berpikir kalau aku ini hanya seorang penipu kecil." Faith masih menunduk dengan wajah tidak percaya diri.
Dominic tertawa mendengar jawaban adiknya. "Kenapa kau tidak berpikir seperti itu ketika ingin bertemu denganku waktu itu. Aku beritahu kepadamu. Aku dan papa memang sama-sama pria yang tidak memiliki hati. Namun papa jauh lebih baik jika dibandingkan denganku. Jika kau berani menghadapiku, maka kau tidak perlu takut ketika menghadapi papa." Dominic mengusap lengan Faith untuk meyakinkan wanita itu kalau semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sana.
"Benarkah?" tanya Faith mulai percaya.
"Tidak ada untungnya aku berbohong denganmu." Ia menahan langkah kakinya sambil memandang pintu ruangan yang ada di hadapannya. Ruangan itu merupakan ruangan tempat Zean istirahat. Setelah mendorong pintu itu dan masuk ke dalam, mereka akan sama-sama bertemu dengan Zean. Sudah 10 tahun tidak bertemu dengan orang tuanya rasanya membuat Dominic jadi canggung.
"Bukankah wanita tadi bilang kamarnya nomor 105? Itu berarti ini adalah kamar papa." Faith memandang ke arah Dominic sejenak sebelum ke depan lagi.
"Ya, kau benar. Papa tinggal di kamar ini." Dominic mengatur napasnya sekali lagi sebelum mengajak Faith untuk masuk ke dalam. "Apa kau siap bertemu dengan papa? Sebenarnya siap atau tidak siap kau akan tetap masuk ke dalam."
Dominic segera menarik tangan Faith untuk masuk ke dalam. Bahkan ketika Faith belum sempat untuk menjawab pertanyaan pria itu.
Seorang wanita menyambut kedatangan Dominic dan Faith. Dominic tidak menyangka kalau ternyata ayah kandungnya ditemani oleh seorang wanita di ruangan itu. Tadinya dia berpikir kalau Zean akan tidur sendirian di kamar tersebut dan selalu merasa kesepian.
"Tuan, anda sudah datang. Kemarilah karena sejak pagi Tuan Zean sudah menunggu Anda," sambut wanita itu sambil tersenyum.
Dominic tidak mau menjawab. Pria itu berjalan mendekati tempat tidur sambil memperhatikan Zean yang saat itu sedang tertidur pulas.
"Tuan Zean baru saja istirahat. Ini merupakan efek dari obat yang ia minum. Padahal beberapa waktu yang lalu ia terlihat sangat antusias untuk bertemu dengan anda. Tapi saya yakin efek obat ini tidak akan lama. Sebentar lagi Tuan Zean pasti akan bangun. Anda bisa menunggu sambil duduk di sini," tunjuk wanita itu ke arah sofa yang tidak jauh dari tempat tidur yang berada.
"Bagaimana kondisinya. Apa yang dikatakan dokter. Apa ada penyakit serius yang ia derita?" Dominic membawa Faith duduk di sofa yang sama dengannya. Dari posisinya duduk pria itu bisa melihat jelas Zean yang kini masih memejamkan mata.
"Dokter bilang kalau semua baik-baik saja. Tapi entah kenapa aku tidak percaya. Seperti ada yang sengaja merasa sembunyikan. Melihat Tuan Zean kesakitan seperti kemarin membuat saya berpikir kalau Tuan Zean mengidap penyakit yang begitu serius. Hanya saja Tuan Zean menutupi penyakitnya karena dia tidak mau ada yang mengetahuinya penyakitnya. Saya harap anda bisa membujuk Tuan Zean untuk menceritakan penyakit yang sebenarnya ia derita." Wanita itu terlihat tulus menyayangi Zean meskipun dia hanya sekretaris yang dibayar oleh Zean.
"Jika ia saja tidak mau jujur denganmu, apa lagi denganku. Bahkan aku juga tidak tahu tujuannya memanggilku ke sini untuk apa." Dominic masih bersikap dingin setiap kali membahas sesuatu yang berhubungan dengan Zean.
Dominic memandang ke depan lagi. Kali ini ia dibuat sedikit gembira ketika melihat Zean mulai menggerak-gerakkan tangannya. Pria itu mengangkat tangannya lalu memijat kepalanya sendiri sebelum secara perlahan membuka kedua matanya. Wanita yang tadi sempat mengobrol dengan Dominic segera mendekati Zean.
"Tuan, Apa anda sudah bangun? Anda masih bisa mengenali saya?" tanya wanita itu untuk memastikan keadaan Zean saat ini.
"Jelas aja Aku masih mengingatmu. Apa Kau pikir aku ini amnesia?" ketus Zean dengan wajah tidak suka. Pria itu memiringkan kepalanya hingga pada akhirnya ia menatap langsung Dominic dan Faith yang duduk di sofa. Wajahnya langsung berseri ketika melihat putra yang sejak kemarin ia tunggu-tunggu kedatangan kini sudah ada di dalam ruangan itu. Pria itu berusaha untuk duduk agar bisa melihat Dominic dengan begitu jelas.
"Hati-hati, Tuan," ucap wanita itu sembari membantu Zean untuk duduk dan bersandar.
__ADS_1
Dominic segera membawa Faith beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Zean. Pria itu terus saja menggenggam tangan adiknya untuk membuat adiknya jauh lebih tenang.
"Dominic, kemarilah. Aku sangat ingin memelukmu." Zean membuka kedua tangannya untuk menyambut Putra yang selama ini sangat ia rindukan. Pria itu terlihat tulus. Tidak lagi memasang wajah arogan seperti dulu. "Maafkan papa nak. Maafkan papa. Papa tahu kalau selama ini perbuatan Papa telah menyinggung perasaanmu. Jika waktu bisa diulang kembali Papa tidak akan bersikap seperti itu. Papa tidak akan keras kepadamu. Papa tahu seorang pria pasti memiliki sebuah prinsip. Kau ini sangat mirip dengan papa waktu masih muda dulu."
Dominic memilih untuk segera melepas tangan Faith yang sejak tadi ia genggam. Pria itu segera berhambur ke dalam pelukan Zean. Tanpa disengaja pria itu menangis ketika tubuh hangat Zean memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya ayah kandungnya duluan lah yang meminta maaf. Padahal sebelum Dominic memutuskan untuk meminta maaf kepada Zean hari ini agar perselisihan yang terjadi di antara mereka segera berakhir.
"Maafkan Dominic juga Pa. Dominic terlalu sakit hati sampai-sampai tidak mau bertemu dengan Papa lagi. Seharusnya Dominic tidak seperti itu. Sebagai seorang anak seharusnya Dominic mengalah dan berusaha untuk melulukan hati papa. Tetapi ini tidak. Justru Dominic menjauh dari papa dan berniat untuk melupakan papa selama-lamanya. Padahal sekeras apapun usaha yang Dominic buat untuk menjauh dari papa, tetap saja tidak bisa merubah takdir kalau sebenarnya Dominic adalah putra papa."
"Papa senang karena pada akhirnya kau mau kembali ke dalam pelukan papa. Tadinya papa sempat berpikir kalau papa akan pergi ketika kita masih bermusuhan."
Dominic mengeryitkan dahinya lalu melepas pelukan Zean. Mereka saling memandang. "Apa maksud Papa? Kenapa Papa mengatakan kalimat seperti itu. Kita baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah. Kenapa Papa ingin pergi lagi. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Zean diam sejenak. Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan Dominic. Ia memandang orang kepercayaannya yang ada di ruangan itu sebelum memandang Dominic lagi. "Papa ini kan sudah tua. Tidak lama lagi juga pasti akan mati. Papa hanya berpikir kalau di usia papa yang tua ini Papa tidak mau bertengkar denganmu lagi." Zean memandang Faith yang masih berdiri di sana sambil menunduk. Pria itu sangat penasaran dengan wanita yang dibawa oleh putranya. "Apa dia Kekasihmu?"
Dominic baru sadar kalau sejak tadi ia mengabaikan Faith. Pria itu segera beranjak dari tempat tidur lalu menarik Faith agar berdiri di dekat Zean.
"Ini Faith. Dia bukan pacar Dominic tetapi adik Dominic, Pa. Dia adalah putri yang selama ini papa cari," ucap Dominic mantap. Pria itu merasa sangat yakin kalau Ayah kandungnya pasti akan gembira ketika mendengar kabar baik ini.
"Apa maksudmu Dominic? Papa masih belum mengerti. Apakah ini adik angkatmu?"
"Aku tahu kalau selama ini papa mencari putri papa yang hilang. Putri yang dilahirkan oleh seorang wanita yang pernah menjalin hubungan dengan papa. Diam-diam Dominic juga menyelidikinya namun gagal mendapatkan informasinya. Tiba-tiba saja Faith muncul di kehidupan Dominic. Dia juga yang bilang ke Dominic kalau sebenarnya dia adalah adik kandung Dominic. Dominic melakukan tes DNA untuk membenarkan perkataannya. Dan benar saja kalau sebenarnya kami memang saudara kandung. Teks DNA itu membuktikan kalau Faith memang wanita yang selama ini papa cari."
"Tapi dari mana Faith mengetahui informasi ini. Setahu Papa tidak ada yang mengetahui masalah ini sebelumnya."
"Zeroun Zein kau bilang?" Zean melebarkan kedua matanya dengan tatapan tidak percaya. Di usianya yang sekarang justru ia kembali dipertemukan dengan orang-orang yang selama ini ingin Ia hindari.
"Kenapa kau bisa kenal dengan Zeroun Zein?"
"Pa, ceritanya sangat panjang. Yang terpenting saat ini aku sudah berhasil untuk membantu papa mencari keberadaan Faith. Apa seperti ini cara Papa menyambut putri yang sudah lama ingin Papa temui?"
Zean baru saja sadar kalau sejak tadi dia belum ada memeluk Faith. Tanpa mau menunda lagi pria itu segera membuka tangannya. "Kemarilah. Peluk papamu meskipun kini papa sudah tua."
Faith tersenyum mendengarnya lalu berhambur ke dalam pelukan Zean. Wanita itu sangat bahagia karena Zean tidak terlalu membesar-besarkan masalah identitasnya. Hanya dengan penjelasan dari Dominic pria itu sudah percaya dan mau mengakuinya sebagai seorang putri.
"Pa, Aku tidak menyangka kalau ternyata aku masih memiliki seorang ayah dan kakak. Tadinya aku pikir aku hidup sendirian di dunia ini setelah sepasang suami istri yang aku pandang sebagai orang tua telah tiada."
"Mereka adalah orang yang dibayar oleh Ibu kandungmu untuk menjagamu ketika kau masih bayi. Ibu kandungmu tewas di tangan musuh yang saat itu mengincarnya. Dia menyelamatkanmu dengan cara menitipkanmu kepada sepasang suami istri yang kebetulan lewat di depannya. Setelah menitipkanmu, mamamu ditangkap lalu mereka membantai ibumu dengan begitu kejam. Papa mendapatkan informasi ini terlambat. Ketika ibumu sudah tiada papa baru mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi. Saat itu Papa sangat menyesal tetapi Papa tidak bisa berbuat banyak. Papa melihat ibumu menitipkanmu kepada sepasang suami istri melalui CCTV. Dari situ Papa tahu kalau sebenarnya papa memiliki seorang putri. Hanya sedikit petunjuk yang papa kantongi. Selama ini papa sangat kesulitan untuk mencari Keberadaanmu. Papa masih tidak habis pikir kenapa seorang Zeroun Zein bisa mengetahui rahasia besar ini."
"Papa kenal dengan Opa Zen?" tanya Faith.
__ADS_1
"Opa Zen?" celetuk Zean bingung.
"Ya, Opa Zen. Dia adalah Opanya Zion. Pria yang sempat menolongku ketika aku dalam bahaya." Faith tidak mau menjelaskan tentang Zion terlalu banyak. Saat ini dia hanya ingin fokus dengan identitas dirinya sendiri.
Zean memandang ke arah Dominic. "Bisa kau Jelaskan siapa Zion yang dimaksud oleh adikmu ini?"
"Zion Zein adalah pemimpin geng mafia Gold Dragon, Pa. Pria yang sempat menjadi musuh Dominic. Tetapi sekarang kami sudah berdamai. Tidak ada lagi dendam di antara kami."
"Gold Dragon? Bukankah itu berarti orang yang dimaksud oleh Dominic dan Faith adalah putra dari Jordan dan juga Leona," gumam Zean di dalam hati. Pria itu terlihat melamun hingga membuat Faith dan Dominic saling memandang.
"Sebenarnya apa yang dipikirkan sama Papa saat ini. Kenapa Papa berubah menjadi linglung?" bisik Faith.
"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Sekarang papa jauh berbeda dengan papa yang dulu. Aku lebih suka Papa yang sekarang. Dia jauh lebih hangat dan jauh lebih baik. Dia sudah mengerti bagaimana caranya memperlakukan putranya agar selalu merasa bahagia dan nyaman."
Zean memandang wanita yang menjadi tangan kanannya. "Aku perintahkan kepadamu untuk menyelidiki semua ini. Aku butuh informasi lengkapnya secepatnya. Aku ingin tahu siapa itu Zion Zein."
"Baik Tuan," jawab wanita itu sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Zean memandang ke arah Dominic dan Faith lagi setelah selesai memberi perintah.
"Kemarilah. Kenapa kalian berdua senang sekali jauh-jauh dari papa. Papa ini masih sangat merindukan kalian berdua."
Dominic dan Faith kembali duduk di atas tempat tidur. Mereka berdua sama-sama memandang Zean yang kini masih terlihat pucat.
"Pa, kita ke rumah sakit ya. Papa harus dirawat secara intensif di rumah sakit agar segera sembuh. Papa tidak akan mendapatkan perawatan maksimal jika istirahat di kamar hotel seperti ini," bujuk Dominic dengan wajah khawatir.
Zean menggeleng kepalanya. Lagi-lagi pria itu menolak untuk diajak ke rumah sakit. "Papa sangat membenci rumah sakit. Papa tidak bisa tidur dengan nyenyak jika berada di rumah sakit. Papa tidak butuh dokter. Papa hanya butuh kalian berdua. Melihat kalian berdua seperti ini sudah membuat semangat di dalam diri papa."
"Tapi tetap saja kami berdua ini bukan Dokter. Kami tidak akan bisa mengobati penyakit papa," ucap Faith. Wanita itu juga ingin membantu kakaknya untuk membujuk Zean agar mau dibawa ke rumah sakit.
"Uhuk uhuk." Zean terbatuk-batuk hingga membuat Dominic dan Faith menjadi semakin khawatir.
"Pa, Ayo kita ke dokter saja," paksa Dominic tidak sabar.
"Dominic, ada satu hal penting yang ingin papar sampaikan kepadamu. Papa harap papa bisa menyampaikan kalimat ini sebelum pergi."
"Kenapa papa bicara seperti itu? Bukankah kita baru saja bertemu. Kenapa Papa ingin pergi lagi." Dominic merasa sedih mendengarnya.
"Papa sudah meminta bawahan bapak untuk memberikan semua harta yang Papa miliki atas namamu. Papa ingin kau mengelola bisnis papa. Karena sekarang kau sudah memiliki adik papa juga ingin kau membagi sebagian harta yang papa mewariskan kepadamu kepada adikmu. Papa ingin kalian berdua hidup akur." Zean lagi-lagi memegang dadanya ketika penyakit itu kembali kambuh.
"Pa, kita ke rumah sakit," ucap Dominic. Kali ini pria itu tidak mau menuruti perkataan Ayah kandungnya lagi. Dia tetap akan membawa ayah kandungnya ke rumah sakit meskipun pria itu menolak.
__ADS_1
"Tidak," tolak Zean sembari mengatur nafasnya yang terasa berat. Dominic tidak peduli. Pria itu segera memanggil bantuan lalu segera membawa Zean ke rumah sakit. Faith yang menyaksikan hal itu hanya bisa menangis sedih. Ia tidak mau sampai kehilangan orang tua yang baru saja ia temui.
"Bagaimana ini. Kenapa Papa kesakitan seperti itu. Sebenarnya penyakit apa yang sudah dia derita?" gumam Faith di dalam hati.