
Norah duduk di salah satu kursi yang ada di ruang keluarga bersama dengan Austin. Pelayan yang ada di rumah utama segera keluar dari dapur dan menyiapkan makanan dan minuman untuk menyambut kedatangan Norah dan Austin. Kemunculan mereka memang sangat mendadak karena sebelumnya Norah sempat mengabarkan kalau dia akan berkunjung ke rumah itu beberapa hari lagi. Tetapi kini tiba-tiba saja wanita itu muncul dan dengan santainya dia duduk di rumah tersebut.
Setelah Serena meninggal, semua orang yang bekerja di rumah itu masih tetap sama. Tidak ada yang mau keluar dari rumah itu karena mereka menghargai jasa Serena dan Daniel selama ini. Bahkan mereka semua rela bekerja untuk membersihkan rumah utama tanpa dibayar. Yang penting mereka disediakan tempat tinggal.
Walaupun begitu, setiap bulannya Leona selalu mengirimkan sejumlah uang yang bisa digunakan para pekerja yang ada di rumah itu untuk membeli bahan makanan dan menggaji mereka. Hal itu yang membuat para pekerja yang ada di rumah itu selalu menyambut kedatangan anak-anak Leona dengan begitu hangat.
Aleo tidak mau tinggal di rumah itu karena ia sudah membangun rumah mewah di tempat lain. Pria itu juga udah hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya.
"Nona, anda datang terlalu mendadak. Maafkan kami karena tidak bisa menyambut anda dengan layak," ucap salah satu pelayan wanita yang saat itu sudah tiba di dekat Norah.
"Kumpulkan semua pasukan Gold Dragon yang ada di rumah ini!" perintah Norah. Wanita itu memeriksa keadaan rumah sebelum memandang ke depan lagi.
Pelayan wanita itu kembali menunduk hormat. "Baik, Nona," ucapnya sebelum pergi untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Norah.
Austin hanya memijat pangkal hidungnya dengan lembut. Pria itu tahu kalau bulan madunya tidak akan berjalan lancar karena kini justru istrinya akan membongkar masalah yang ada pada Gold Dragon.
Tidak butuh waktu lama, pelayan itu kembali muncul dengan seluruh pasukan Gold Dragon yang bertugas di rumah tersebut.
Mereka semua menunduk hormat untuk memberi salam atas kedatangan Norah dan Austin. Norah segera beranjak dari sofa. Sedangkan Austin masih duduk di sana sebagai penonton saja. Wanita itu berdiri di depan pasukan Gold Dragon sambil melipat kedua tangannya. Ia menatap satu persatu wajah pria yang ada di hadapannya dengan begitu serius.
Namun mereka semua tidak ada yang berani menatap Norah secara langsung. Mereka semua lebih memilih menunduk untuk menyembunyikan kesalahan mereka sendiri.
__ADS_1
"Kalian pasti tahu masalah ini bisa dengan mudah aku selidiki. Mengingat jasa kalian yang begitu besar terhadap GrandNa dan Opa Daniel, Aku tidak mau sembarangan menghukum kalian. Tapi perbuatan kalian itu tidak benar. Opa Zen tidak pernah menyetujui geng mafia miliknya menculik anak kecil. Lalu dapat izin dari mana kalian sampai bisa melakukan semua itu?"
Tanpa diduga-duga seluruh pasukan Gold Dragon tiba-tiba saja berlutut di depan Norah. Norah menghela napas melihatnya karena dia tahu hal itu membuktikan kalau memang pasukan Gold Dragon sedang melakukan sebuah kesalahan.
"Maafkan kami, Bos. Kami tidak menculik anak itu. Kami justru ingin menyelamatkannya," jawab salah satu pria yang paling dekat dengan Norah.
"Menyelamatkan kalian bilang?" tanya Norah bingung. "Aku ingin kau berdiri dan jelaskan semuanya secara rinci!"
Pria itu berdiri di hadapan Norah. Meskipun ia tidak berani memandang Norah secara langsung, tetapi ia berusaha untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Semua demi keselamatan dirinya sendiri dan rekannya yang lain.
"Anak kecil bernama Harumi itu adalah pewaris tunggal dari harta kedua orang tuanya. Saat ini dia tinggal bersama dengan paman dan kedua orang tua angkatnya. Sebenarnya mereka tidak bisa dibilang orang tua angkat karena sepasang suami istri itu adalah adik kandung dari ibu kandung Harumi. Mereka memiliki niat jahat terhadap Harumi. Mereka ingin menguasai seluruh harta Harumi dengan cara membunuh Harumi.
Kami mengetahui masalah ini karena beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja orang tua angkat Harumi menemui kami dan menanyakan apakah kami pembunuh bayaran. Sebenarnya kami tidak mau menolong Harumi karena kami tidak mau ikut campur dengan masalah yang sama sekali tidak melibatkan Gold Dragon. Tetapi kami pernah sekali melihat Bos Serena bertemu dengan Harumi dan bermain dengannya di taman. Waktu itu kami yakin kalau Bos Serena juga akan marah kepada kami jika kami membiarkan Harumi tewas di tangan pembunuh bayaran.
"Kau yakin tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Norah lagi dengan wajah kurang percaya.
"Saya rela mati untuk mempertanggungjawabkan perkataan saya, Bos," ucap pria itu mantap.
Norah berputar lalu memandang Austin. "Kita ke rumah Harumi sekarang dan selamatkan dia. Aku tidak mau dia dicelakai. Dia masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Jika disuruh memilih antara harta dan bermain dia juga pasti akan memilih bermain. Kenapa para orang dewasa memiliki pemikiran yang sempit hingga merencanakan pembunuhan Harumi. Masa depan dia masih sangat panjang," omel Norah kesal.
Austin beranjak dari sofa. "Itu tandanya kau akan terlibat dengan masalah keluarga Harumi."
__ADS_1
"Aku tidak peduli yang penting Harumi selamat!" jawab Norah lagi.
"Sayang, kau tidak perlu turun tangan langsung. Bukankah di mata kedua orang tua angkat Harumi pasukan Gold Dragon kita adalah pembunuh bayaran. Suruh saja mereka menghubungi orang tua Harumi. Dari situ kita akan tahu rencana apa lagi yang akan direncanakan oleh kedua orang tua angkat Harumi.
Kita bisa dengan mudah mengambil Harumi tanpa perlu repot-repot datang ke rumahnya. Jika memang tujuan utamamu untuk membawa Arumi pergi dari rumah itu rasanya sangat mudah untuk di atasi. Tetapi jika kau bertujuan untuk menghabisi semua orang yang berniat untuk mencelakai Harumi, Ayo kita maju. Membunuh mereka pasti tidak butuh waktu sampai 24 jam." Austin melipat kedua tangannya.
"Tidak. Aku tidak mau membunuh di bulan maduku." Norah berputar lalu memandang pasukan Gold Dragonnya lagi. "Apa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan saat ini?"
"Baik Bos saya paham." Pria itu segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menekan nomor orang tua angkat Harumi. Tidak butuh waktu lama panggilan telepon itu segera tersambung.
"Kenapa kau gagal membunuhnya padahal aku sudah membayar 50%. Jika seperti ini Aku merasa sangat rugi. Cepat ambil anak itu dan bunuh dia secepatnya. Aku tidak ingin melihat dia ada di dunia ini lagi!" kata seorang wanita di dalam ponsel.
Mendengar suara wanita itu membuat Norah sangat geram. Tapi ia harus menahan emosinya agar tidak sampai ketahuan.
"Biarkan anak kecil itu bermain di taman dan kami akan menculiknya lagi," ucap pasukan Gold Dragon.
"Besok pagi aku akan memintanya untuk bermain di taman. Awas kalau kau gagal lagi. Jika kau gagal, Aku tidak akan mengirim sisa bayarannya." Wanita itu segera memutuskan panggilan teleponnya hingga membuat Norah percaya kalau semua yang dijelaskan oleh pasukan Gold Dragon memang benar adanya.
"Sekarang Apa kau sudah bisa tenang?" tanya Austin. "Ayo kita istirahat di kamar. Kau pasti sangat lelah." Austin memandang ke arah pasukan Gold Dragon sejenak sebelum merangkul pinggang Norah dan membawanya menuju ke arah tangga. Mereka memutuskan untuk istirahat sebelum bermain-main lagi mengelilingi Jepang.
Pasukan Gold Dragon saling memandang satu sama lain. Mereka segera bubar untuk melakukan tugas selanjutnya. Namun pria yang baru saja bicara dengan Norah masih berdiri di sana sambil memandang punggung Norah dan Austin dengan serius.
__ADS_1
"Mereka berdua mengingatkanku dengan Bos Serena dan Tuan Daniel," gumamnya sambil tersenyum.