
Norah mulai merasa bosan. Wanita itu mengotak-ngatik ponselnya untuk bermain game. Alisnya saling bertaut melihat ada panggilan masuk. Melihat nomor itu berasal dari pasukan Gold Dragon, membuat Norah memilih untuk mengangkat teleponnya sedikit menjauh dari keramaian.
“Apa?” Norah segera memandang sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang mendengar teriakannya barusan. Wanita itu memandang layar ponselnya lagi sebelum melekatkannya di telinga. “Aku akan segera ke sana,” jawab Norah pelan sebelum memutuskan panggilan telepon tersebut.
Norah mencari keberadaan Zion. Tetapi pria itu masih bersama dengan Daisy. Suasana akan menjadi kacau jika dia dan juga Zion menghilang dari pesta ini secara tiba-tiba. “Sepertinya aku pergi sendirian saja. Aku tidak mau membuat pesta mama dan papa berantakan,” gumam Norah di dalam hati. Wanita itu melangkah menuju ke arah tangga.
Norah harus mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum berangkat pergi. Itu juga jika nanti ingin pergi meninggalkan rumah, Norah tidak bisa lewat pintu utama ataupun pintu dapur. Dia harus lewat jendela kamarnya sendiri yang memang tidak terlalu jauh dari pagar rumah. Memang trik seperti ini sudah biasa ia lakukan bersama Zion. Biasanya dia kabur dengan cara seperti ini jika Leona tidak memberinya izin untuk keluar.
Baru beberapa meter dari pintu kamar, Norah sudah melepas sepatu high heels yang ia kenakan. Wanita itu juga melepas perhiasan yang ia kenakan sembari berlari kecil menuju ke kamar pribadinya. Beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengan Norah hanya bisa menunduk hormat. Mereka juga bingung kenapa Norah sudah masuk ke kamar sedangkan pesta di bawah belum selesai.
Norah masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dia juga harus pastikan tidak ada orang yang masuk ke kamarnya dan menyadari kalau dirinya tidak ada di dalam. Tanpa pikir panjang Norah segera melepas gaun yang kini ia kenakan. Wanita itu menggunakan celana pendek dan tangtop saja. Karena di luar cuaca dingin, wanita itu menggunakan jaket hitam. Norah mamakai sepatu bot dan tidak lupa topengnya. Kali ini dia hanya memakai topeng yang menutupi kedua matanya saja. Itu sudah cukup baginya. Tidak akan ada lagi yang bisa melepaskan topeng itu. Norah berjanji tidak akan membiarkan siapapun melepas topengnya seperti apa yang dilakukan Rula kemarin.
Norah memasukkan belatih dan senjata api. Dia keluar dari jendela dan merayap pelan-pelan di dinding rumah. Setelah sudah hampir dekat dengan pagar, wanita itu bersiap melompat. Dia juga harus bertindak cepat karena biasanya ada pengawal yang bertugas untuk memeriksa tempat tersebut.
“Akhirnya aku berhasil lagi,” puji Norah pada dirinya sendiri. Karena tidak mungkin membawa sepeda motornya yang terparkir di halaman rumah, mau tidak mau Norah mengemudikan mobil milik Zion yang sengaja diparkirkan dekat tembok tersebut. Zion juga suka kabur. Untuk mempermudah dirinya sendiri, pria itu membeli dua mobil. Yang satu khusus untuk kabur yang satunya lagi khusus terparkir di halaman rumah.
Norah mengambil kunci mobil yang dia tahu kalau Zion menyimpannya di dalam tanah yang di timbun dekat pagar rumah. Wanita itu tersenyum ketika berhasil menemukan kuncinya. Tanpa pikir panjang, Norah masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya. Ia mengirim pesan singkat dulu kepada Zion agar tidak kena marah.
“Kak, aku pinjam mobil. Ingin cari udara segar. Di dalam sangat membosankan.”
Dia terpaksa mengirim pesan seperti itu agar Zion tidak curiga dan mau melindunginya jika kedua orang tuanya curiga dan mencarinya. Setelah itu Norah segera melajukan mobilnya menuju ke markas Gold Dragon berada.
Norah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali memandang ke belakang. Wanita itu harus memeriksa ke belakang untuk mengetahui kalau tidak ada yang mengikutinya malam ini. Karena terlalu sering melihat ke belakang, akhirnya Norah hampir saja menabrak mobil seseorang.
Wanita itu kaget dan langsung membanting stir mobilnya ke arah yang berlawanan. Norah cepat menginjak rem sebelum mobil sport milik Zion terbentur dengan pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Wanita itu mengatur napasnya karena akhirnya dia selamat.
“Hampir saja. Sepertinya aku harus lebih sering-sering mengemudikan mobil agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” umpatnya di dalam hati. Norah melepas topengnya karena wajahnya berkeringat. Wanita memandang mobil yang tadi ia tabrak masih berhenrti di tengah jalan. Ia segera keluar untuk memeriksanya. Walau sebenarnya ia yakin tidak mungkin pengemudi di dalam mobil itu celaka karena mobil mereka tidak sampai berbenturan, tetapi tidak ada salahnya untuk memeriksanya secara langsung.
Norah memperhatikan keadaan sekitar. Di sana sunyi. Padahal jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya lokasi di sekitar masih terlihat ramai kendaraan lewat. Norah tetap berjalan mendekati mobil tersebut. Wanita itu melihat seorang pria dan wanita tergeletak di dalam mobil dalam keadaan terluka. Ada pisau yang tertancap di dada mereka masing-masing. Mirisnya, mereka duduk di depan masih menggunakan sabuk pengaman.
Norah segera membuka pintu mobil untuk memeriksa keadaan dua orang tua tersebut. Wanita itu melihat ada batu di pedal gas mobil. Ia yakin, ini pasti ulah seorang pembunuh. Pembunuh itu ingin menghilangkan jejak dengan kasus ini seolah kecelakaan. Tetapi naasnya, kenapa harus Norah yang menemukan kasus ini.
Awalnya Norah mau pergi saja. Dia juga tidak mau ikut campur. Namun, tiba-tiba pria paruh baya itu sadar dan memegang tangan Norah. Dia memandang Norah dengan wajah memohon.
__ADS_1
“Tolong hubungi putra saya,” pinta pria itu. “Katakan padanya, kami sangat menyayanginya.” Pria itu melepas tangan Norah setelah dia tidak sadarkan diri lagi. Norah semakin panik. Dia mencari dompet untuk melihat identitas pria paruh baya itu. Alisnya saling bertaut ketika dia membawa nama di kartu nama pria paruh baya itu.
“Clark? Apakah ini Clark yang banyak dibicarakan orang-orang? Clark seorang konglomerat?”
***
Semua orang berdansa. Pemandangan yang indah untuk dilihat. Musik dimainkan dan semua orang yang ada di ruangan luas itu mulai menikmati suasana. Tidak dengan Livy. Wanita itu sudah bersama dengan Abio. Seperti apa yang dipikirkan Abio sebelumnya. Dia menggunakan Lana agar bisa menyingkirkan Lukas dari Livy.
Sekarang mereka saling merangkul pundak dengan jarak yang dekat dan saling memandang. Romantis memang jika mereka saling mencintai. Sayangnya Livy tidak merasakan apa yang sekarang dirasakan oleh Abio.
“Kepalaku sering terasa pusing. Apa itu pengaruh kecelakaan waktu itu?” tanya Abio. Livy memandang Abio dengan tatapan malas. Dia tahu kalau ini awal mula sebelum pria di depannya mengeluarkan kalimat-kalimat rayuan.
“Aku sudah memberikan obat. Tetapi kau tidak pernah mau meminumnya. Sekali minum tidak sesuai dengan jadwalnya. Bagaimana sakitnya bisa sembuh?”
“Kau tidak mau mengingatkanku. Coba saja kau mengingatkanku setiap kali jadwal minum obat tiba. Pasti aku akan meminum obatku dengan teratur,” jawab Abio tidak mau kalah.
“Baiklah. Karena kau masih pasienku, mulai besok aku akan mengingatkanmu jadwal minum obat,” jawab Livy malas.
“Terima kasih, Dokter cantik. Aku akan menyimpan nomor teleponmu nanti.” Abio mengukir senyuman bahagia. Sebenarnya ini tidak sekedar gombal karena dia tergila-gila dengan Livy. Tetapi, memang kepalanya masih terasa pusing. Pasca kecelakaan dia harus mendapat pukulan dari benda keras di bagian kepalanya. Jelas saja hal itu membuat cedera di otak Abio semakin parah.
“Sayang, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menangis?” tanya Kenzo khawatir.
“Aku memikirkan Kak Erena dan Kak Zeroun. Bukankah mereka pasangan yang serasi? Walau sudah tua, kenapa mereka tidak putuskan untuk hidup bersama saja?”
Kenzo menggeleng. “Tidak semudah itu. Perasaan yang dulunya cinta, sudah menjadi milik orang lain. Walau pasangan mereka sudah tidak ada, tapi rasa cinta untuk kekasih masa lalu mereka pasti sudah tidak ada. Apa lagi sekarang Zeroun dan Serena sudah bersatu sebagai keluarga besar karena anak-anak mereka. Shabira, hidup mereka tidak mudah. Sekarang mereka berdansa seperti ini bukan karena mereka ingin mengulang cerita mereka di masa muda dulu. Tetapi mereka ingin membuat hati mereka bahagia agar mereka tidak terpuruk pada kesedihan.”
Kenzo tahu apa yang dipikirkan Zeroun dan Serena. Walau sudah tua, tapi mereka masih sering berkomunikasi. Memang tidak sering. Tetapi, itu bisa membuat Kenzo tahu bagaimana perasaan Serena dan bagaimana perasaan Zeroun.
“Ya, mungkin aku yang terlalu berharap lebih. Aku terlalu sok tahu,” jawab Shabira dengan senyuman.
“Kau sangat menyayangi mereka. Bahkan jika dibandingkan Zeroun, kau lebih menyayangi Serena sebagai kakakmu. Jadi, aku tahu bagaimana perasaanmu sayang. Kau tidak salah. Kau hanya ingin yang terbaik untuk mereka bukan?”
Shabira mengangguk. “Ayo kita duduk. Aku sudah tidak kuat berdiri terlalu lama,” ajak Shabira.
__ADS_1
“Apa pinggangmu sakit? Mau aku gendong?” tawar Kenzo.
“Jangan. Nanti jadi pinggangmu yang sakit. Bukankah tulang kita sudah sama-sama tua?” sahut Shabira.
“Kalau untuk menggendong istriku, tidak ada kata tidak sanggup. Aku selalu kuat!” Kenzo mengangkat Shabiran dan membawanya ke kursi. Sepasang suami istri itu terlihat sangat bahagia.
Di antara Opa dan Oma yang sudah tua. Sharin satu-satunya Oma yang masih muda. Sebenarnya tidak masih muda juga. Tetapi usianya yang belum mencapai 80an seperti yang lain. Saat menikah dengan Biao, dia berusia 21 tahun. Sedangkan yang lain menikah di usia mendekati 30 tahun. Sharin juga sangat suka merawat diri. Dia terlihat sangat cantik dan awet muda. Walau sudah ada keriput, tetapi dia masih kuat seperti masih usia 50an. Sharin sering berolahraga bersama Biao.
“Apa yang kau lihat?” tanya Sharin malu-malu. “Aku tahu aku cantik,” sambung Sharin dengan penuh percaya diri.
“Ya, kau cantik. Sangat cantik, Sharin. Aku sangat mencintaimu,” jawab Biao sebelum mengecup pucuk kepala Sharin.
“Paman Tampan, kenapa kau semakain tua semakin romantis? Aku jadi takut kehilanganmu,” jawab Sharin dengan sedih.
“Aku akan selalu bersamamu,” jawab Biao cepat. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Nanti kita akan pergi bersama-sama. Anak kita sudah bahagia dengan pasangannya. Tidak ada lagi yang harus kita pikirkan. Mari kita nikmati masa tua kita dengan kebahagian. Jangan pernah pikirkan tentang kematian. Aku tidak sanggup kehilanganmu, Sharin. Tidak sanggup.” Biao mempererat pelukannya. Dia terasa sesak. Dia tidak tidak mau melihat Sharin meninggal lebih dulu. Biao berharap, mereka berdua bisa pergi bersama-sama. Atau tidak, biarlah dia dulu saja yang pergi daripada dia harus merasakan sakitnya kehilangan pasangan hidup.
“Suamiku, aku sangat mencintaimu ….” Sharin memejamkan mata. Dia juga tidak mau kehilangan Biao.
Zeroun terus saja menatap wajah Serena. Serena sendiri hanya tersenyum memamerkan pipinya yang keriput. “Jangan memujiku karena aku tahu kau sedang berbohong agar aku senang, Zeroun!” ucap Serena memperingati.
“Kau terlalu percaya diri, Serena. Aku sedang memikirkan sesuatu,” jawab Zeroun.
“Kau memikirkan Emelie?”
“Tiba-tiba aku berpikir, di antara kita berdua. Siapa yang akan lebih dulu menyusul pasangan kita.”
Serena menggeleng pelan. “Aku berharap aku yang lebih dulu.”
“Bagaimana kalau aku tembak saja biar cepat?” tawar Zeroun. Pria itu kesal. Entah kenapa, walau dia duluan yang suka meledek. Tapi pada akhirnya jika Serena gantian meledek dia jadi marah dan tidak suka. Zeroun tidak mau Serena mati duluan!
“Itu ide yang bagus. Tapi, aku tidak yakin kau tidak bunuh diri setelahnya,” jawab Serena dengan tawa kecil.
“Serena, ini tidak lucu! Kenapa kau semakin tua semakin menjengkelkan seperti ini?” protes Zeroun. "Apa memang seperti ini watakmy setelah kau tua?"
__ADS_1
“Karena aku tidak mau. Semakin tua kau semakin menyayangiku, Zeroun Zein! Semakin peduli denganku!"