
Beberapa saat yang lalu.
Livy, Austin, Zion dan pasukan Gold Dragon berhasil tiba di pulau dengan selamat. Bukan senang justru Austin memandang curiga ke arah Livy. Walau wanita itu adalah sepupu kekasihnya, tetapi siapa saja bisa berkhianat. Austin tidak mudah percaya dengan orang setelah beberapa orang mengkhianatinya.
Tiba-tiba saja Austin melekatkan senjata apinya di pelipis kanan Livy dengan tatapan menikam. "Katakan, apa tujuanmu?" tanya Austin tanpa basa-basi.
Zion yang juga baru saja turun dari speed boat menjadi panik melihat Austin ingin menembak Livy. Pria itu cepat-cepat berlari mendekati Austin dan Livy karena tidak mau sampai terlambat.
Berbeda dengan ekspresi Zion yang panik. Livy justru terlihat sangat santai dan tenang. Bahkan wanita itu masih sempat-sempatnya melipat kedua tangannya di dada.
"Kau mencurigaiku?" tanya Livy tanpa memandang.
"Ya. Kau sangat mencurigakan. Kau datang sendirian. Kami yang berkelompok saja tidak ada yang berhasil melewati pembatas itu dengan mulus. Apa kau pikir aku tidak tahu permainan pengkhianat seperti dirimu?" tuduh Austin lagi.
"Austin, apa yang kau lakukan? Livy tidak seperti itu," bela Zion. Dia bahkan sempat marah terhadap Austin. Karena di saat genting seperti ini, masih sempat-sempatnya Austin cari masalah. Mereka seharusnya fokus menemukan Norah dan membawa wanita itu pulang dengan selamat. Bukan saling mencurigai seperti ini.
"Ya, kau tidak salah. Karena kau sangat mengkhawatirkan Norah, jadi biar aku jelaskan saja." Livy memegang senjata api itu dan menurunkannya dengan santai. "Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya sejak tadi. Tapi, tidak ada satupun yang bertanya. Termasuk kak Zion," sambung Livy lagi.
Zion mengeryitkan dahinya. "Apa yang ingin kau ceritakan Livy? Kau menyimpan suatu rahasia?" Zion menahan kalimatnya. "Lagi?"
"Tidak. Ini bukan rahasia. Tapi sebuah rencana yang sudah aku persiapkan sejak awal. Aku tahu kalau kak Zion dalam masalah. Sejak penyerangan malam itu. Ketika GrandNa harus tewas karena tertembak. Aku dan Abio sudah menyelidiki semuanya. Tetapi, kami masih ragu untuk mengatakannya ke semua orang. Di tambah lagi kabar kepergian GrandNa membuat syok semua orang. Aku dan Abio memilih untuk tetap diam sambil mengumpulkan semua bukti-bukti."
"Kau sudah tahu sejak awal semua ini perbuatan Mr. A?" potong Zion.
"Itu masalahnya kak. Kami tidak tahu siapa dalang dari semua ini selain pria bertopeng yang belum kami ketahui indentitasnya. Kami berhasil menemukan identitasnya setelah Austin pulang ke rumah bersama Norah. Aku pikir sudah tidak ada masalah lagi. Kakak pasti bisa menghadapi Mr. A sendirian. Hilangnya Norah membuat aku dan Abio terpaksa turun tangan lagi. Satu hal yang mengejutkan ketika kami tahu kalau Mr. A pria yang sangat berkuasa. Dia bahkan tahu dimana letak kelemahan Gold Dragon. Mr. A membuat kakak sibuk dengan hubungan Austin dan Norah. Tanpa kakak sadari, bisnis Gold Dragon telah hancur. Aku sudah memberi tahu Opa Lukas dan juga Daddy. Tetapi mereka hanya mengukir senyum saja. Sepertinya mereka sudah tahu lebih dulu."
"Gold Dragon tertangkap polisi?" ucap Zion. Dia memang merasa ada yang aneh. Jumlah pasukan Gold Dragon semakin lama semakin sedikit. Padahal sebelumnya dia tahu kalau Gold Dragon ada dimana-mana.
"Baru sadar kan?" sahut Livy sedikit dengan nada meledek. "Kak, aku tahu kalau Mr. A itu seorang pengkhianat. Untuk menghadapi seorang pengkhianat, kita butuh pengkhianat juga."
"Mr. A tidak tahu kalau kau memasukkan orang dalam?" Austin masih belum percaya.
"Ini perbuatan yang sangat beresiko. Nanti kalian juga tahu siapa orang yang ada di pihak kita. Oh ya, satu informasi penting yang harus aku sampaikan. Kita harus meledakkan sebagian rumah Opa Zen. Tetapi kalian tenang saja. Opa Lukas dan Daddy sudah memindahkan Opa Zen ke tempat yang aman. Soal meledaknya kapal Gold Dragon, aku sangat-sangat minta maaf. Kita harus bertindak sesuai dengan apa yang Mr. A inginkan. Agar dia tidak curiga dengan mata-mata yang sudah aku persiapkan. Tapi tadi aku sempat memberi tahu sebagian pasukan Gold Dragon. Mereka pasti selamat. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju ke pulau ini."
__ADS_1
"Rencana anda sangat menakjubkan nona. Anda wanita yang cerdas. Saya sangat mengagumi anda. Tapi, setahu saya pulau ini di huni oleh ratusan pasukan The Bloods. Bagaimana caranya kita bisa keluar dari pulau ini dengan selamat jika pasukan yang kita miliki jumlahnya masih di bawah seratus?" tanya Austin ingin tahu.
"Itu gunanya pengkhianat. Aku dan pria itu telah berhasil membawa masuk pasukan The Filast. Jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari The Bloods. Semoga saja strategi yang sudah aku susun bisa berjalan dengan mulus. Entah apa jadinya jika dia tahu rencana kita sebelum kita berhasil menemukan keberadaan Norah." Livy memandang ke depan.
"Lalu, dimana Abio? Dia tidak mungkin membiarkanmu pergi sendirian." Zion tahu berapa besarnya cinta Abio terhadap Livy. Pria itu yakin Abio tidak ingin sampai Livy celaka.
"Abio? Dia memiliki banyak urusan akhir-akhir ini. Tanpa dia aku juga bisa menang."
Melihat ekspresi Livy yang terlihat jutek membuat Zion tidak membahas Abio lebih banyak lagi. "Sepertinya mereka sedang berselisih paham. Sebaiknya aku fokus ke pencarian Norah saja," gumam Zion di dalam hati.
"Oke, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat. Kita hancurkan Mr. A. Aku ingin menghabisi pria itu agar tidak ada lagi yang bisa mengusik hidup kita." Austin melangkah maju. Baru beberapa meter dia berhenti dan memandang Livy. "Jika Mr. A tewas, apa bisa aku memiliki pulau ini?"
Livy menggeleng pelan. "Jika kau menginginkan pulau ini, kau harus berhadapan dengan Abio. Pulau ini sudah diincarnya sejak awal," sahut Livy sambil berlalu begitu saja.
"Hei Nona, bagi dua bagaimana?" teriak Austin lagi. Zion hanya mendengus kesal melihat kelakuan Austin. Pria itu ikut berjalan di belakang Norah sambil sesekali memperhatikan keadaan di sana.
***
"Kau ada di pihak mereka?" tanya Mr. A untuk kembali memastikan.
Jhon memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke arah Livy. Pria itu tidak mau menjelaskan apapun kepada Mr. A.
DUARRRR
Terdengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga. Livy melebarkan kedua matanya melihat senjata api yang ada di tangan Mr. A. Tidak lama kemudian, tubuh Jhon tersungkur ke lantai. Pria itu masih membuka kedua matanya dengan darah segar yang mengalir di lantai.
"JHON!" teriak Livy histeris.
Zion dan Austin mengarahkan senjata mereka ke arah Mr. A. Namun mereka terlambat. Ternyata di belakang Mr. A berdiri, ada pintu rahasia yang tertutup rapat setelah Mr. A masuk ke dalamnya.
Livy berlari mendekati Jhon. Wanita itu berharap pasukan The Filast masih bisa diselamatkan.
"Aku akan mengejar Mr. A," ujar Austin. Pria itu keluar dari ruangan tersebut. Zion mendekati Livy untuk memeriksa keadaan Jhon.
__ADS_1
"Jhon, maafkan aku," lirih Livy dengan wajah merasa bersalah. Memang Jhon bukan pria hebat. Namun, dia cukup banyak membantu Livy dan juga yang lainnya.
Zion memeriksa tubuh Jhon. Sayangnya pria itu memang sudah tidak bernyawa lagi. Sekuat apapun memanggilnya, pasti sudah tidak di dengarkan.
"Dia sudah tiada," ucap Zion berharap Livy mau mengerti.
"Tapi bagaimana dengan keberadaan Norah? Hanya Jhon yang mengetahuinya!" sahut Norah bingung.
"Livy, kenapa kau membongkar identitas Jhon secepat ini jika kau sendiri tidak tahu dimana Norah berada," umpat Zion kesal.
"Kau menyalahkanku?" Livy yang memang lagi histeris semakin emosi mendengar perkataan Zion.
Zion menarik napasnya. Dia harus mengalah. "Livy, maafkan aku. Tapi, kita harus mencari Norah sekarang juga. Jangan sampai Mr. A membawa Norah kabur lagi."
"Aku dan Jhon tidak bisa saling komunikasi agar Mr. A tidak curiga. Tapi, Jhon sempat memberi petunjuk. Dia bilang ...." Livy menahan kalimatnya. Dia mencari senjata api milik Jhon. Wanita itu menemukannya. Dia cepat-cepat membukanya dan menemukan sebuah surat di dalamnya.
"Bos, Nona Norah disembuhkan di sebuah ruangan rahasia. Untuk masuk ke dalam ruangan itu, anda membutuhkan sidik jari Mr. A dan saya. Jika anda membaca pesan ini setelah saya tiada, anda bisa memotong tangan saya untuk membuka pintunya. Petanya ada di belakang surat ini. Termasuk ruangan harta Karun Mr. A. Sudah saya pasang bom di sana. Atas perintah anda, bom akan mulai menghitung mundur pada pukul 10.00 pagi."
Tangis Livy pecah membaca pesan itu. Bagaimana mungkin dia tega memotong tangan Jhon sedangkan pria itu sudah membantunya cukup banyak. Bahkan sampai mengorbankan nyawanya.
"Aku akan menggendongnya. Kita sama-sama mencari Norah," tawar Zion. Dia tahu apa yang kini dirasakan oleh Livy.
"Kak Zion mau menggendong Jhon?"
Zion mengangguk. Dia memandang Jhon dengan wajah sedih. "Dia seorang pahlawan. Sudah sepantasnya diperlakukan layaknya seorang pahlawan. Sekarang ayo kita pergi mencari Norah. Kita harus segera membawa Norah pergi." Zion segera menggendong tubuh Jhon. Walau terlihat keberatan, tetapi Zion Beru kuat menggendong Jhon sambil berjalan. Livy memberi kode kepada The Filast untuk mulai melakukan rencana B. Mereka harus menang. Pengorbanan Jhon tidak boleh sampai sia-sia.
Di sisi lain, Austin berhasil menemukan Mr. A. Pria itu berlari menuju ke lapangan helikopter. Austin menembak ke arah helikopter agar pintu tidak sempat di buka. Mr. A membalas tembakan Austin. Karena pada akhirnya pria itu tidak berhasil membuka pintu pesawat, dia memilih untuk menghadapi Austin. Satu lawan satu. Ya, memang di sana hanya ada mereka berdua. pasukan The Bloods sedang sibuk menghadapi pasukan The Filast yang keluar tanpa henti dari tempat persembunyian mereka.
"Hei, pria tua. Mau kabur lagi? Apa anda tidak takut pulau anda yang mewah ini di curi orang lain?" ledek Austin.
Mr. A memegang remot di tangannya. "Seharusnya pertanyaan itu saya berikan kepada anda anak muda. Apa anda siap kehilangan orang-orang yang anda sayangi? Rumah anda sudah dipenuhi dengan bom. Atas perintah saya, rumah keluarga Clark akan rata dengan tanah!"
Austin mengepal kuat tangannya. Pria itu kembali ingat dengan seseorang. "Paman Tano?"
__ADS_1