
Abio baru saja selesai mandi. Pria itu terlihat bersemangat hari ini. Livy baru saja menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah. Wanita itu ingin mencoba mobil barunya bersama dengan Abio. Mereka akan berkeliling menghabiskan waktu berdua. Sampai detik ini Abio masih tidak percaya kalau dia dan Livy sudah menjadi sepasang kekasih. Secepatnya Abio akan membahas soal pernikahan. Dia juga tidak mau menunggu terlalu lama.
Abio mengambil ponselnya dari atas meja. Sebelum memasukkan ponselnya ke saku, dia memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Alisnya saling bertaut melihat ada lima panggilan tidak terjawab dari mama tercinta. Yang tidak lain adalah ibu kandungnya Alana. Secepat mungkin Abio menghubungi Alana lagi.
"Halo Ma. Apa Mama tadi menghubungiku? Baru saja Abio selesai mandi. Tadi waktu Mama menelepon Abio tidak dengar," tanya Abio sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah.
"Apa hari ini kau sibuk?"
"Aku ada janji sama Livy, Ma. Aku ingin menemaninya mencoba mobil baru pemberian Opa Zen. Dia mendapat hadiah mobil sport."
"Opa Zen memberikan hadiah mobil baru di ulang tahun Livy?" tanya Alana lagi.
"Ya, ma. Opa Zen tidak main-main kalau kasih hadiah ya ma. Uangnya kayak gak ada habisnya. Sebulan yang lalu dia baru saja membelikan Daisy pesawat. Bulan ini sudah membeli mobil sport keluaran terbaru. Apa Mama sudah berhasil menghubungi Opa Zen? Semua orang sibuk mencari keberadaan Opa Zen. Opa Zen tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak. Bahkan Opa Lukas saja sampai panik dibuatnya."
"Mama tidak tahu, Sayang. Sejak dulu memang mama tidak terlalu dekat dengan Opa Zen maupun Oma Emelie. Tapi semoga saja Opa Zen segera ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja. Sejauh ini yang Mama tahu memang Opa Zen suka sekali membuat kejutan. Ada saja tingkah lakunya yang membuat semua orang tidak tenang. Semakin bertambah usianya dia terlihat semakin aneh."
"Apa ketika tua nanti Mama juga akan seperti itu?" tanya Abio diselingi tawa kecil.
"Mama harap ketika nanti mama tua, Mama tidak menyusahkan anak mama. Jika memang sudah waktunya untuk pergi Mama ingin disegerakan untuk pergi agar tidak jadi beban bagimu."
"Ma, kenapa bicaranya jadi semakin jauh. Abio tidak suka mama bicara seperti itu. Mama akan selalu sehat dan tetap hidup. Mama akan menyaksikan aku dan Livy menikah. Menemani Liby melahirkan. Juga bermain dengan cucu-cucu mama yang menggemaskan. Mulai sekarang sebaiknya jaga baik-baik kesehatan mama. Mama harus tetap sehat agar bisa bersamaku dalam waktu yang lama."
"Baiklah. Mama akan selalu menjaga kesehatan. Setidaknya untuk saat ini beban pikiran mama sudah mulai berkurang."
Abio mengeryitkan dahinya. "Kalau Abio boleh tahu, apa beban pikiran Mama selama ini?"
"Kau," jawab Alana cepat.
"Aku? Kenapa harus aku? Bukankah selama ini aku baik-baik saja. Aku menyayangi Mama dengan segenap jiwa ragaku. Aku bahkan selalu berusaha untuk membuat Mama bahagia. Kenapa Mama menjadikanku beban hidup?" Ada nada protes di sana. Abio merasa kalau selama ini dia sudah semaksimal mungkin menyayangi orang tuanya. Menuruti perintahnya dan mendahulukan kedua orang tuanya dibandingkan hal lainnya.
"Kau sering sekali mempermainkan wanita. Mama takut suatu hari nanti kau terjebak dengan permainanmu sendiri. Tapi sekarang mama sudah jauh lebih tenang karena kau sudah bersama dengan Livy. Hilangkan sifat burukmu. Seorang pria hanya boleh bersama dengan satu wanita seumur hidupnya. Jangan pernah coba-coba untuk membuka hatimu untuk wanita lain. Satu hal yang harus kau ingat Abio. Sekali saja wanita disakiti karena diselingkuhi selamanya dia tidak akan percaya lagi dengan apa yang kau ucapkan. Senyumnya tidak lagi setulus pertama kali bertemu. Jadi Sebelum terlambat Mama harap kau bisa menjaga baik-baik cinta Livy."
Abio diam sejenak untuk mencermati perkataan ibu kandungnya. Memang kalau dipikir-pikir selama ini Abio adalah pria yang jahat. Seenaknya saja dia menyakiti hati wanita. Bahkan sampai ada beberapa wanita yang frustasi dan memutuskan untuk bunuh diri karena tidak sanggup diputuskan oleh Abio. Tapi Abio sama sekali tidak pernah merasa bersalah. Pria itu justru mengulang kesalahannya yang sama pada wanita yang lain lagi. Merayu dan memuji sampai wanita itu tergila-gila padanya sebelum akhirnya dia melepaskan wanita itu dengan kejam.
__ADS_1
"Abio, Apa kau masih mendengar mama?"
"Ya, Ma. Aku masih di sini mendengar perkataan mama."
"Jika kau memang ingin pergi bersama Livy, cepat sana berangkat. Jangan sampai Livy menunggu terlalu lama. Nanti dia bisa bosan."
"Baik, ma. Aku sayang sekali sama mama. Mama harus tahu kalau mama adalah cinta pertamaku." Abio mengecup ibunya dari jauh. "Abio sayang mama."
"Terima kasih sayang."
Panggilan telepon itu segera berakhir. Abio memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sambil memandang cermin yang ada di depannya, pria itu kembali mengingat pesan-pesan yang disampaikan oleh Alana.
"Aku tidak akan mengecewakan mama dan papa. Aku akan membuat kalian bangga karena sudah melahirkan Putra sepertiku." Abio memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum berangkat pergi. Pria itu ingin terlihat tampan di depan wanita yang ia cintai.
Sesampainya di depan rumah, langkah kakinya terhenti ketika ponselnya lagi-lagi berdering. Alisnya saling bertaut melihat nama sahabat yang sudah lama tidak menghubunginya dan menghilang tanpa kabar. Tanpa menunggu lama pria itu mengangkat panggilan telepon tersebut sambil masuk ke dalam mobil.
"Selamat Abio! Akhirnya kau berhasil mendapatkan cinta wanita yang kau sukai."
"Sekarang hidupku jauh lebih baik daripada terakhir kali kita bertemu. Aku sudah bisa menghabiskan makanku dan tidur dengan nyenyak."
"Apa sesakit itu rasanya berpisah dari orang yang kita cintai. Sampai kau tidak selera makan dan tidak bisa tidur?"
"Jauh lebih sakit dari apa yang kau pikirkan. Bahkan setiap hari pikiranmu dipenuhi dengan rasa bersalah."
"Oke. Semua sudah berlalu. Sekarang bagaimana keadaanmu. Kau menghubungiku karena ada sesuatu yang penting atau hanya sekedar mengucapkan selamat saja. Tapi kalau boleh aku tebak sepertinya ada sesuatu yang penting."
Foster tertawa dibuat Abio. "Tebakanmu selalu benar."
"Sebenarnya kau tidak benar-benar merindukanku. Kau tidak mungkin menghubungiku jika tidak ada sesuatu yang penting," umpat Abio kesal. "Tapi itu jauh lebih baik daripada kau tidak ada kabar sama sekali. Jika tidak sibuk temui aku secepatnya. Aku ingin bicara denganmu. Aku juga ingin minum bareng seperti biasanya."
"Baiklah, dalam waktu dekat aku akan menemuimu.
"Oke, lalu hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku? Cepat katakan karena waktuku tidak banyak. Aku harus segera berangkat menemui Livy." Abio melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Abio, Aku butuh pinjaman."
"Kau butuh uang?" tanya Abio tidak percaya. Selama ini yang dia tahu Foster adalah orang yang. Bahkan hartanya bisa melebihi dari apa yang dimiliki oleh Abio.
"Ya Aku butuh uang. Apa kau bisa membantuku?" Nada bicara Foster mulai serius.
"Sebagian uang yang kumiliki sudah aku gunakan untuk memperbaiki pulau. Tapi aku masih memiliki simpanan. Berapa banyak yang kau butuhkan?"
"100 juta dolar!"
Abio kaget mendengarnya. Itu jumlah yang tidak sedikit. Kalau ditotalkan dari kekayaan yang ia miliki sekarang, sepertinya Abio tidak memiliki uang sampai 100 juta dollar.
"Sebanyak itu untuk apa? Kemana uangmu selama ini. Bukankah kau pergi untuk merintis karir. Apa kau gagal dalam berbisnis? Apa kau ditipu orang?"
"Mama dan papa terus saja menghalangiku. Mereka tidak mau aku bangkit di atas kakiku sendiri. Semalam aku mendapat tawaran bisnis yang jumlahnya begitu fantastis. Semua uang yang aku miliki aku investasikan ke sana. Tapi sialnya rencanaku gagal. tempat itu terbakar. Sekarang aku harus ganti rugi. Aku memang tidak bisa berjanji kapan akan mengembalikan uang itu. Tapi aku pastikan Aku akan segera mengembalikannya. Setidaknya hidupku tidak dipenuhi rasa bersalah. Aku akan tenang jika aku bisa membayar uang ganti rugi itu kepada mereka."
"Foster, Kalau boleh jujur aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Bisnisku juga tidak besar. Hanya bisnis kecil yang penghasilannya cukup buat senang-senang. Jumlahnya tidak seberapa dan Kau pasti tahu itu. Tapi aku akan usahakan untuk mencari uang sebanyak itu. Secepatnya aku akan kirimkan uang itu kepadamu. Tenang saja aku pasti akan membantumu. Tetap Jaga kesehatanmu."
"Terima kasih Abio Bahkan sampai detik ini aku belum bisa memberitahumu di mana aku tinggal. Aku belum siap bertemu denganmu."
"Foster, kita adalah sahabat. Jika urusanku dengan Livy telah selesai aku akan mencari keberadaanmu dan menemuimu. Pikiranku juga tidak tenang ketika aku tahu sahabatku dalam kesusahan. Ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan kepadamu dan itu harus kau jawab secara langsung di depan mataku. Dengan begitu aku akan tahu mana jawabanmu yang benar-benar jujur dan mana jawabanmu yang berbohong."
"Baiklah, terserah kau saja. Setelah uangnya ada Kau pasti tahu harus kirim ke mana. Selamat bersenang-senang. Beri aku kabar jika kau sudah menentukan tanggal pernikahannya.
Panggilan telepon itu segera berakhir. Abio yang masih memasang wajah bingung terlihat tidak tenang sekarang. Padahal seharusnya dia bersemangat karena ingin bertemu dengan wanita yang ia cintai. Bagaimanapun juga Foster sudah seperti saudara baginya. Pria itu tidak pernah perhitungan. Apapun kesulitan yang dihadapi oleh Abio pasti Foster selalu ada untuk membantunya. Di saat sahabatnya butuh bantuan justru dia tidak bisa membantunya. Abio merasa seperti sahabat yang tidak berguna.
"Kalau saja semalam aku tidak mengeluarkan semua tabunganku untuk merenovasi pulau itu pasti sekarang aku masih memiliki uang. Sekarang aku harus pinjam dengan siapa? Siapa yang rela meminjamkan uangnya sebanyak itu tanpa ada jaminan kapan akan dibayar."
Dalam sejenak saja ekspresi wajah Abio berubah. Bukan Abio namanya jika masalah soal keuangan saja membuatnya tidak tenang. Sebuah ide cemerlang sudah tersemat indah di dalam pikirannya.
"50% Opa Biao dan 50% lagi Opa Kenzo. Oke solusi masalah uang sudah selesai sekarang aku harus menemui Kekasihku," ucap Abio sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia merasa yakin kalau dua Opanya itu pasti akan membantunya. Abio hanya perlu bilang kalau dia membutuhkan uang itu untuk bersenang-senang dengan Livy. Tanpa banyak pikir-pikir, pasti Biao dan juga Kenzo mengirimkan uang tersebut ke dalam rekeningnya.
"Livy sayang, kekasihmu datang," teriak Abio di dalam mobil.
__ADS_1