Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 152


__ADS_3

Faith masih belum bisa tenang. Selama ada di dalam mobil, wanita itu terus saja memikirkan Dominic. Dia takut jatuh korban lagi. Karena dirinya sekarang Zion harus berada dalam masalah. Faith menyesal sudah menjadi sumber masalah bagi Zion. Dia ingin segera mengakhiri semua ini. Faith ingin masalah ini segera berakhir. Satu-satunya cara agar Dominic berhenti menyerang adalah pulang ke Las Vegas. Ya, Faith kali ini benar-benar sudah mantap. Dia sudah memutuskan untuk pulang ke Las Vegas daripada harus melihat Zion dan keluarganya dalam bahaya.


"Tuan, antarkan saya ke bandara," ucap Faith tiba-tiba. Hal itu membuat Zion menurunkan laju mobilnya. Pria itu menghela napas panjang sebelum kembali fokus ke jalan depan.


"Mau ke mana?"


"Las Vegas," jawab Faith cepat.


"Menemui Dominic?" tebak Zion.


"Ya. Aku akan menemuinya. Dengan begitu dia tidak akan membuat masalah lagi. Anda tidak perlu mengorbankan keluarga anda demi keselamatan saya. Ini cara yang salah."


"Menurutku ini sudah benar. Tidak ada yang salah. Livy dan Abio sampai kecelakaan itu sudah takdir mereka berdua! Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Karena satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas masalah ini adalah Dominic."

__ADS_1


"Tapi kalau sejak awal kita tidak bertemu, Livy dan Abio tidak mungkin sampai kecelakaan!" Faith masih mempertahankan keputusannya. Walaupun dia tahu sekarang Zion sedang marah.


"Apa kau memiliki uang untuk beli tiket pesawat?" Zion mulai berpikir tenang. Setahu dia Faith tidak memiliki uang apapun. Hanya ada yang dan kartu yang dia berikan kemarin.


"Uang?" Faith mengeryitkan dahinya.


"Bukankah beli tiket pesawat pakai uang? Kau pikir bisa beli pakai kata-kata?"


Faith diam sejenak. Jelas saja dia tidak memiliki uang. Kalaupun ada ini uang Zion. Dia tidak mungkin memakainya.


"Tidak!" sahut Zion cepat. Pria itu memandang Faith sekilas. "Jika kau ingin uang, kau harus kerja!"


"Kerja? Kerja apa?"

__ADS_1


"Jadilah pelayan pribadiku. Aku akan membayarmu setiap hari."


"Pelayan? Apa maksud anda, Tuan? Anda sudah memandang rendah saya?" protes Faith tidak terima.


"Aku tidak sedang merendahkanmu! Aku sedang membantumu. Memangnya kau ini bisa kerja apa? Aku butuh seseorang untuk menemaniku. Jika kau setuju, aku akan membayarmu."


Faith seperti sedang mempertimbangkan tawaran Zion. Ini ide yang bagus. Mengingat Zion bukan tipe pria yang mesum, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Baiklah. Kapan saya mulai bisa kerja, Tuan?"


"Hari ini," jawab Zion lagi. "Nanti setelah tiba di markas, kau bisa menyiapkan air mandianku dan juga baju gantiku. Dengan begitu kau sudah di hitung bekerja mulai hari ini."


"Baiklah, Tuan," sahut Faith dengan penuh antusias. Padahal Zion tidak akan pernah membiarkannya kembali ke Las Vegas. Apapun caranya akan dilakukan oleh Zion untuk mempertahankan Faith tetap berada di sisinya.

__ADS_1


"Untuk saat ini, aku hanya bisa memikirkan cara ini. Selanjutnya akan aku pikirkan nanti. Aku tahu dia pasti merasa bersalah karena Livy dan Abio kecelakaan. Tetapi, aku tidak bisa melepaskannya," gumam Zion di dalam hati.


Faith memandang keluar jendela sambil melamun. Hidupnya terasa indah dulu. Tetapi sekarang, dia tidak bisa lagi menjadi dirinya sendiri. "Jika nanti aku sudah kembali ke Las Vegas. Apa Tuan Zion mau memaafkanku? Atau dia marah dan membenciku?"


__ADS_2