Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 30


__ADS_3

Daisy membuka matanya secara perlahan saat merasakan tangannya basah. Wanita itu mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. Ia memandang Leona yang kini duduk di samping tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu. Wanita itu menunduk berusaha untuk tegar. Namun, tidak tahu kenapa air mata kembali menetes di pipinya hingga tanpa sadar membasahi tangan Daisy.


"Mama," lirih Daisy. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Daisy merasa bingung melihat ibu kandungnya sampai menangis. Daisy masih berpikir kalau dia sedang berbaring di tempat tidur asrama. Wanita itu belum sadar kalau sekarang dia ada di rumah sakit.


Leona mengangkat kepalanya. Wanita itu menghapus air matanya sambil tersenyum melihat Daisy sudah membuka mata.


"Sayang, apa yang sekarang kau rasakan? Apa kau sudah merasa jauh lebih baik? Apa ada yang sakit? Katakan sama mama. Mama akan membantumu." Leona memeriksa tangan dan kaki Daisy. Memijatnya dengan wajah khawatir. Dia tidak mau putrinya hilang lagi. Ini sungguh menyakitkan!


"Aku ...."


Pertanyaan Leona membuatnya semakin bingung. Bagaimana bisa ibu kandungnya bertanya seperti itu? Apa dia sakti? Tidak. Daisy tidak merasa sakit. Bahkan saat ini dia bisa merasakan kalau tubuhnya jauh lebih segar seperti orang yang baru saja bangun tidur. Daisy merasa tidurnya terlalu lama hingga membuat kedua matanya terasa bengkak. Wanita itu memegang pipinya sebelum memandang Leona.


"Ma, apa yang terjadi?" Daisy ingin bangkit. Leona membantunya untuk duduk. Meletakkan bantal di belakang tubuh Daisy agar wanita itu nyaman ketika bersandar. Namun, lagi-lagi wanita itu tertegun melihat selang infus menancap di punggung tangannya. "Kenapa Daisy harus di infus Ma? Apa Daisy sakit?"


"Kau harus mendapatkan cairan agar tetap kuat, sayang. Sebentar lagi infus ini akan di cabut karena kau sudah sadar," jawab Leona sambil mengusap rambut Daisy. "Tidak ada yang sakit. Kau anak yang kuat."


Daisy mengukir senyuman. Ia memiringkan kepalanya ke samping. Kedua matanya melebar melihat Zion duduk di atas tempat tidur dengan perban di kepalanya. Pria itu baru selesai bertarung. Ya, bertarung. Tetapi Daisy bingung. Kenapa dia tidak tahu kalau kakaknya baru saja bertarung. Dan bertarung dengan siapa?


"Kakak!" Daisy memaksa dirinya untuk turun. Wanita itu rasanya ingin melompat dari tempat tidur dan memeluk Zion. Dia sangat khawatir melihat tubuh dan wajah kakaknya dipenuhi luka seperti itu.


"Kakak baik-baik saja. Istirahatlah," protes Zion. Pria itu mengambil ponselnya dan mengotak-atik layarnya. Ia sengaja mengalihkan perhatiannya dari Daisy karena sebenarnya dia ingin menangis melihat Daisy sudah sadar. Pria itu terlalu bahagia karena telah berhasil menemukan Daisy dalam keadaan selamat.


"Ma, apa yang terjadi Ma?" tanya Daisy. Ia memegang tangan Leona dan memaksa wanita itu untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Sayang, kau tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Leona gantian.


Daisy diam sejenak. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum tidak sadarkan diri.


"Waktu itu aku sedang menelepon Kak Zion, lalu tiba-tiba ada yang masuk dan menembakku," ucap Daisy dengan pelan. Dia kembali ingat dengan luka tembak yang ia alami. "Tembakan itu." Daisy memeriksa sekujur tubuhnya. Namun, tidak ada bekas tembakan di sana. Tubuhnya baik-baik saja.


"Kau pingsan setelah mendengar suara tembakan?" tebak Leona. Karena di tubuh Daisy tidak ditemukan luka tembak atau luka apapun. Jadi wanita paruh baya itu berkesimpulan kalau putrinya pingsan karena takut.


Daisy mengangguk pelan. "Aku ketakutan, Ma. Siapa yang sudah melakukan semua ini?" Daisy memeluk Leona. "Aku takut, Ma."


"Mama ada di sini. Jangan takut. Maka akan melindungimu sayang ...."

__ADS_1


Zion meletakkan ponselnya. Pria itu memandang ke arah pintu. Jordan, Lukas, Norah dan Lana muncul di dalam kamar itu. Mereka memandang ke arah Zion sebelum ke arah Daisy. Melihat kalau Daisy dan Zion sudah sadarkan diri membuat mereka semua merasa jauh lebih baik sekarang. Mereka semua menuju ke sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Zion.


"Bagaimana keadaanmu, Zion? Kau pria yang kuat. Kau sama seperti Opa," puji Lukas dengan senyuman. Dia memegang tangan Lana sebelum duduk di sofa yang telah disediakan.


"Opa, aku merasa jauh lebih baik sekarang," jawab Zion santai. "Terima kasih karena Opa sudah menyempatkan diri untuk datang menjenguk kami."


"Kau kehilangan banyak darah. Norah sudah memberikan darahnya untukmu," sambung Jordan.


Zion memandang adiknya sebelum tersenyum. "Kemarilah."


Norah tersenyum sebelum mendekati Zion. Tanpa perintah wanita itu duduk di atas tempat tidur dan memeluk Zion. "Aku sangat mengkhawatirkan kakak. Kakak tidak sadar selama beberapa hari. Begitu juga dengan Daisy."


"Bagaimana dengan yang lain?"


Norah diam sejenak. Dia sudah tahu kalau yang di tanya Zion pasti Foster dan Abio.


"Mereka masih belum sadar. Ada cedera serius di bagian kepala mereka." Norah memandang perban di kepala Zion. "Sebelumnya dokter juga memprediksi, kakak tidak akan sadar secepat ini. Tetapi takdir berkata lain. Kakakku ini memang sangat kuat." Norah kembali memeluk Zion.


"Dimana Opa Zen?" tanya Daisy. Wanita itu rindu dengan opa nya. Biasanya ia selalu di manja. Apa lagi dalam keadaan sakit seperti ini. Sudah pasti dia mendapatkan perhatian lebih.


"Lalu, bagaimana dengan GrandNa? Grandna tidak datang melihat cucunya sakit?" tanya Daisy lagi.


Norah menghela napas panjang. "GrandNa ada di ruangan Foster. Sepertinya Foster adalah anak dari orang yang dikenal oleh GrandNa. Masalah menjadi rumit. Keluarga Foster tidak terima."


"Tunggu, Foster? Siapa Foster?" Sebenarnya Daisy tahu siapa Foster. Entah kenapa wanita itu ingin memastikan kalau Foster yang mereka bicarakan sama dengan Foster yang ia pikirkan.


"Foster yang kuliah di Universitas Yale. Kau tidak kenal?" tanya Norah dengan wajah bingung.


"Kak Foster sakit juga?" Daisy melebarkan kedua matanya yang menandakan kalau dia panik.


"Dia-" Norah tidak sempat melanjutkan kalimatnya.


"Daisy, sebaiknya kau tidak memikirkan orang lain. Pikirkan dirimu sendiri. Oke?" potong Zion cepat. Sepertinya pria itu tidak suka jika kedua adiknya membahas masalah Foster di tempat ini.


Jordan memandang ke arah Lukas dan Lana. "Paman, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku merasa khawatir dengan keadaan anak-anakku awalnya. Terima kasih karena membiarkan Livy membantu Zion, Norah dan Daisy," ucap Jordan dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"Kita keluarga. Sepertinya setelah ini, kita harus mengadakan pesta untuk mengumpulkan semua orang. Kita harus absen keluarga kita satu persatu agar anak-anak kita saling mengenal. Sejauh ini kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai tidak mengenalkan keluarga besar yang kita miliki."


"Ya, apa yang dikatakan pamanmu benar, Jordan. Adakan pesta syukuran untuk mempertemukan seluruh keluarga besar kita. Kita akan berkumpul di tempat yang sama dan saling menceritakan pengalaman kita kepada generasi selanjutnya. Ini hal yang penting. Sudah lama Tante menyarankan ide ini kepada Oliver dan Katterine. Tetapi mereka mengabaikannya. Bagaimana kalau kau saja yang menjadi tuan rumah pesta kali ini?" pinta Lana.


"Baiklah, Tante. Aku akan pikirkan setelah Zion dan Daisy keluar dari rumah sakit," jawab Jordan. Dari ekspresi wajahnya pria itu sangat setuju. Karena sebenarnya tanpa ada permintaan seperti ini dari Lukas dan Lana, dia sudah memikirkan sebuah pesta yang nantinya akan dia adakan di Cambridge. Di rumah mewah miliknya dan Leona.


"Semoga semua berjalan lancar. Tidak ada masalah lagi hingga bisa membuat semua keluarga besar berkumpul," gumam Jordan di dalam hati.


Zion memandang ke arah Norah. Pria itu ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi ketika dia tidak sadarkan diri.


"Bagaimana dengan Austin?" tanyanya tanpa memandang dan dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengar.


"Polisi datang. Kami segera membawa kakak pergi. Tidak tahu bagaimana nasipnya," jawab Norah tanpa memandang juga.


"Aku pikir aku sudah mati. Lantai rumah itu sangat tinggi," jawab Zion. "Maafkan aku sudah merepotkanmu."


"Beruntungnya aku kembali ke rumah pria itu setelah mengantar Daisy dan Foster ke rumah sakit. Bagaimana kalau aku tidak kembali? Kakak akan tertanam polisi dan ini akan menjadi masalah yang rumit, Kak," protes Daisy. "Lain kali kalau mau bertarung, pikirkan juga resikonya. Kenapa tidak tembak saja dia. Dia akan kan mati dan tidak pernah kita temui lagi di dunia ini!" sambung Norah kesal.


"Setiap dia belum berhasil mengetahui wajah kita. Dengan begitu, secara tidak langsung dia kalah dan kita pemenang pertarungan kali ini," jawab Zion dengan wajah yang begitu bangga.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan pada wanita itu? Dia aku sekap di markas. Pasukan Gold Dragon aku minta untuk menyiksanya agar dia tahu, kalau mengusik ketenangan Gold Dragon, akan fatal akibatnya."


Norah kembali membayangkan wajah Rula. Sampai detik ini Norah belum memikirkan cara untuk menghukum Rula. Dia terlalu fokus sama kesehatan Daisy dan Zion. Detik ini ketika melihat Zion dan Daisy sudah sadar, dia mulai memikirkan Rula. Ingin segera menghajar wanita itu dengan tangannya sendiri.


"Itu urusanmu. Kakak minta, apapun yang kau lakukan, jangan pernah sampai identitasmu ketahuan," ucap Zion memperingati.


"Baik, Kak."


"Bagaimana dengan Livy? Apa dia baik-baik saja?"


"Kak Livy baik-baik saja. Dia menjadi dokter pribadi Abio." Norah bersandar di pundak Zion. "Semoga saja Abio dan Foster segera bangun agar masalah ini cepat selesai. Melihat mereka masih memejamkan mata seperti itu, membuatku tidak tega. Orang tua mereka juga menangis seperti yang sekarang dilakukan oleh mama."


Zion memandang ke arah Lukas. Pria itu mengalihkan perhatian ke arah lain setelah Lukas menatapnya dengan tatapan penuh arti seperti itu.


"Apa yang dipikirkan oleh Opa Lukas? Sepertinya Opa Lukas ingin mengatakan sesuatu," gumam Zion di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2