
Austin mengepal tangannya dengan begitu erat sampai memutih. Rahangnya mengeras. Tatapan pria itu benar-benar dipenuhi dengan emosi. Ia tidak terima wanita yang ia cintai kini berbaring lemah di dalam ruang operasi. Kesalahan Dominic sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Kali ini tanpa mau pikir panjang Austin Ingin turun tangan langsung untuk membalas perbuatan Dominic. Ia ingin menghabisi pria yang sudah mencelakai kekasihnya dengan tangannya sendiri.
Leona yang juga ada di dekat Austin hanya bisa membujuk pria itu agar tidak gegabah. Sudah berulang kali Austin ingin pergi dari rumah sakit dan berangkat ke Las Vegas namun Leona masih mencegahnya. Mereka semua juga belum dapat kabar terbaru dari Zeroun dan Lukas. Pria tua itu menghilang begitu saja. Entah rencana apa yang sudah mereka siapkan saat ini.
Berbeda dengan Biao yang masih ada di rumah sakit. Pria itu memang ditugaskan oleh Lucas untuk menjaga semua orang yang ada di rumah sakit bersama dengan Oliver, Kwan dan juga Jordan. Mereka semua benar-benar tidak menyangka kalau Norah bisa sampai terkena ledakan bom.
Ketika tadi Daisy muncul, wanita berteriak panik. Leona dan Jordan berlari bersama dengan Daisy. Sedangkan sisanya bertahan karena mereka juga tidak mau meninggalkan Livy dan Abio di ruangannya tanpa pengawasan.
Setibanya di parkiran, mereka justru melihat ledakan yang sangat dahsyat di atas langit. Sirine polisi terdengar jelas setelah ledakan itu terjadi. Daisy mengajak Leona dan Jordan ke atas. Mereka bertiga syok ketika tahu kalau Norah sempat merebut bom itu dari tangan Austin. Bukan hanya itu saja. Austin yang kini menjerit histeris membuat yang lainnya menjadi semakin panik.
"Biarkan saya pergi. Saya tidak bisa duduk diam di sini sambil memandang wanita yang saya cintai celaka. Saya benar-benar bodoh karena sudah sempat berpikir untuk tidak mau bertarung lagi. Sekarang dada saya benar-benar panas. Saya ingin menghajar pria itu dengan tangan saya sendiri," ucap Austin berharap Leona mau mengijinkannya untuk pergi.
"Tidak Austin. Jika kau berangkat ke Las Vegas itu sama saja kau telah menghancurkan rencana yang sudah dibuat oleh Opa Zen dan juga Opa Lukas. Kami berdua sebagai orang tua juga tidak terima jika anak-anak kami disakiti seperti ini. Tetapi percayalah. Meskipun sedikit terlambat tetapi kita pasti akan bisa membuatnya menyesal. Dia tidak tahu bagaimana kekuatan yang kita miliki. Untuk saat ini kita berikan dia kesempatan untuk bersenang-senang. Biarkan dia berpikir kalau kita adalah keluarga yang lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun. Hal ini akan mempermudah Opa Zen menyelesaikan semuanya.
"Baiklah." Austin masih belum bisa tenang. Pria itu bersandar dan memejamkan mata. Sebenarnya jika nanti Norah sadar, pria itu ingin sekali memarahi kekasihnya. Kalau saja wanita itu tidak merebut bom tersebut dari genggamannya. Semua ini tidak akan terjadi.
Dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu di sambut oleh semua orang yang memang menunggunya sejak tadi.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?"
"Secara keseluruhan kondisi Nona Norah bisa dikatakan baik-baik saja. Hanya saja wajahnya terkena ledakan bom. Kami ingin meminta izin kepada pihak keluarga untuk melakukan operasi plastik. Ini harus kami lakukan untuk mengembalikan wajah Nona Norah. Tidak ada resiko besar dalam operasi ini. Semua akan berjalan baik-baik saja," ucap dokter itu apa adanya.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk putri saya. Saya akan membayar berapapun biaya yang harus dikeluarkan. Tolong selamatkan nyawa putri saya," ucap Leona dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Austin hanya bisa diam saja di kursi tempatnya duduk. Pria itu sebenarnya ingin sekali menangis setelah mendengar kabar buruk seperti ini. Namun dia berusaha untuk tetap tegar. "Norah. Kenapa Kau menyiksaku dengan cara seperti ini. Sekarang aku harus bagaimana. Berjanjilah untuk cepat sembuh. Aku tidak mau mimpi buruk ini berlarut-larut. Aku ingin segera melihatmu ceria seperti biasanya," gumam Austin di dalam hati.
"Bagaimana keadaan Norah?" tanya Zion yang baru saja tiba di sana. Pria itu berhasil tiba di rumah sakit dengan cepat. Semua orang memandang ke arah Zion sebelum memandang ke dokter itu lagi.
"Saya permisi dulu, Nyonya," pamit sang dokter sebelum pergi. Leona hanya menjawab dengan anggukan saja. Melihat Zion sudah ada di sana wanita itu langsung berlari ke dalam pelukan putranya.
"Zion, maafkan mama karena tidak bisa menjaga adikmu."
"Ma, jangan buat Zion semakin sedih. Zion tidak sanggup jika melihat cinta pertama Zion menangis seperti ini," bujuk Zion sambil mengusap punggung ibu kandungnya.
"Dia akan segera menikah. Begitu juga dengan Livy. Mereka seharusnya sekarang ada di salon untuk perawatan wajah dan tubuh. Tetapi sekarang mereka berdua justru ada di rumah sakit. Dosa apa yang sudah mereka perbuat sampai-sampai mereka berdua dihukum dengan begitu kejam," lirih Leona lagi.
"Nggak ada, Ma. Mereka tidak melakukan dosa apapun. Jangan nangis lagi ya. Zion pasti bisa membereskan semua masalah ini," ucap Zion pelan. Pria itu memandang Foster yang juga ada di sana. Sebenarnya dia ingin marah namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah hubungan adiknya dan Foster. Satu persatu wajah orang yang ada di sana dipandang oleh Zion dengan saksama. Detik itu dia tahu kalau Opa Zen dan Opa Lukas sudah tidak ada di rumah sakit lagi.
"Mama juga tidak tahu. Mereka meminta mama dan yang lainnya untuk bertahan di rumah sakit."
Zion kembali diam meskipun kini pikirannya terbang entah ke mana. "Tidak. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus cari tahu di mana sekarang Opa Zen berada," gumam Zion di dalam hati.
...***...
"Cepat kita harus bertindak cepat. Kita tidak bisa menunda lagi. Pria itu benar-benar iblis. Belum ada satu jam setelah Livy dan Abio melewati masa kritis mereka, dia sudah melukai Norah. Apa dia belum puas karena berhasil mencelakai Livy. Sebagai Opa kita tidak bisa duduk di sini memandang cucu-cucu kita sengsara. Kita harus melakukan sebuah gubrakan. Kita harus membuat tikus kecil itu menyesal!" ketus Zeroun dengan penuh amarah. Sejak ia menginjak usia tua, ini pertama kalinya dia sangat-sangat marah. Bahkan untuk duduk tenang saja dia sudah tidak bisa lagi. Rasanya ingin sekali dia berangkat ke Las Vegas dan mencabik-cabik pria bernama Dominic tersebut.
Lukas yang sejak tadi duduk di dekat Zeroun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya juga ada gurat kemarahan sekaligus kecemasan di wajah pria tua itu. Berulang kali ia menghela nafas panjang karena tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Dia tidak tahu sekarang harus bagaimana. Bukan karena dia takut kalah menyerang Dominic. Tetapi dia memikirkan kesehatan Zeroun yang sebenarnya sudah tidak boleh turun tangan lagi dalam bertarung. Sejak tadi inilah yang buat lama. Lukas meminta Zeroun untuk kembali ke rumah sakit dan berkumpul dengan yang lainnya. Sedangkan Zeroun yang keras kepala menolak karena pria itu ingin memberi pelajaran langsung kepada orang yang sudah melukai cucunya.
__ADS_1
"Lukas, cepat katakan sesuatu jangan diam saja seperti ini!" Zeroun melirik ke arah Lukas. Pria itu meremas jemarinya sendiri tanpa mau memandang wajah Zeroun secara langsung.
"Apa yang harus saya katakan Bos. Strategi penyerangan sudah saya siapkan. Sekarang Saya hanya sedang menunggu Anda kembali ke rumah sakit. Saya tidak bisa membiarkan anda ikut menyerang ke Las Vegas. Kalaupun harus pergi. Biar saya yang pergi bersama dengan Zion. Saya juga bisa pergi bersama dengan Austin atau Foster. Mereka semua pria-pria yang tangguh. Bersama dengan saya mereka akan menang. Anda yang sudah tua sebaiknya diam saja di rumah sakit menemani cucu-cucu kita yang belum sadarkan diri."
"Lukas apakah kau sendiri lupa. Kalau kau juga sudah tua. Kenapa kau harus turun tangan sedangkan aku tidak diperbolehkan?" protes Zeroun tidak setuju.
"Sejak dulu tugas saya selalu sama yaitu melindungi anda. Begitu juga sebaliknya. Sejak dulu anda selalu diam dan saya yang berada di lapangan. Jika saya mengalami kesulitan baru anda turun tangan langsung. Sejauh ini saya belum mengalami kesulitan dan sebaiknya anda jangan turun tangan langsung Bos." Kali ini Lukas berharap besar kalau Zeroun mau memahami kata-katanya.
"Jadi kau ingin membawa Austin, Foster dan juga Zion ke Las Vegas?"
"Benar, Bos. Ilmu bela diri mereka tidak perlu diragukan lagi. Mereka pria-pria tangguh yang hebat. Untuk masalah yang terjadi di sini saya serahkan kepada anda, Jordan dan juga Oliver."
"Kau yakin bisa menang melawan pria itu?" Zeroun masih ragu.
"Apa penampilan saya yang sekarang sangat meragukan hingga anda tidak yakin kalau saya akan pulang dengan kemenangan?" tanya Lukas balik.
Zeroun menggeleng kepalanya. "Jangan lupa bawa minyak oles."
Lukas mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung. "Untuk apa bos?"
Zeroun beranjak dari sofa yang ia duduki sejak tadi. "Kau bisa menggunakan minyak itu untuk mengobati pinggangmu yang sakit. Di usia kita yang semakin tua ini sakit pinggang adalah masalah yang paling utama."
Lukas tertawa kecil mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Zeroun masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini. "Baiklah, Bos. Saya akan selalu membaca minyak oles."
__ADS_1