Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 145


__ADS_3

Norah dan Austin Keluar dari kantor polisi dengan wajah yang lelah. Dilihat dari ekspresi Austin, pria itu sepertinya baru saja mendapat banyak omelan dari kekasihnya. Pria itu menunduk tanpa banyak bicara. Walau sering diomelin, tetapi dia tetap memegang tangan Norah agar wanita itu tidak sampai terjatuh. Ia tahu wanita yang ia cintai sudah kehabisan banyak tenaga. Sejak pagi wanita itu belum ada istirahat. Bahkan jadwal makan saja menjadi tidak teratur.


"Kita pulang ya?" bujuk Austin.


Norah menggeleng pelan. "Bagaimana dengan Kak Zion?"


"Aku di sini!"


Norah dan Austin sama-sama memandang ke samping. Mereka berdua bahagia melihat Zion berdiri di depan mobil mereka. Tanpa menunggu lagi Norah berlari untuk memeluk Zion. Rasanya ia sangat merindukan kakak kandungnya meskipun baru beberapa jam saja berpisah.


"Kenapa Kakak bisa ada di sini? Apa semua baik-baik saja?" tanya Norah masih dalam posisi memeluk Zion.

__ADS_1


"Semua baik-baik saja. Justru sekarang aku sangat mengkhawatirkanmu," jawab Zion sambil mengusap punggung Norah.


"Apa Kak Livy dan Kak Abio sudah tiba di markas Gold Dragon? Apa benar pria itu seorang penyusup?"


"Di mana kau melihat penyusup? Markas Gold Dragon aman-aman saja. Aku sudah memeriksanya sendiri. Orang yang ada di markas benar-benar pasukan Gold Dragon. Tidak mungkin aku membiarkan orang lain membahayakan keselamatan Faith."


"Tadi pas aku ingin pulang aku melihat seorang pria tanpa memakai tato. Apa dia bagian dari Gold Dragon juga?"


"Dia bukan pasukan Gold Dragon. Tapi dia akan menjadi bagian dari Gold Dragon. Dia bertugas menjaga Faith selama ada di rumah. Kualitas kerjanya sangat memuaskan. Aku membawanya ke markas karena ingin menjadikan dia bagian dari kita."


"Ya, tolong bawa Norah pulang ke rumah dengan selamat. Orang-orang yang menyerang kalian tadi hanya preman jalanan saja. Sebenarnya mereka ingin merampok mobil yang kalian gunakan. Tapi jika dibiarkan mereka akan semakin merajalela. Aku sudah mengirim pasukan Gold Dragon untuk menghancurkan wilayah mereka. Siapapun pemimpin mereka, dia pasti akan menyesal karena sudah berani mengusik ketenangan adikku."

__ADS_1


"Tidak akan ada perang lagi kan? Maksudku selain Dominic kita tidak akan memiliki musuh baru lagi kan?" tanya Norah dengan penuh penekanan. Sepertinya wanita itu muak untuk bertarung.


"Tidak akan. Untuk saat ini musuh kita baru satu. Tapi aku tidak janji untuk kedepannya."


Zion menepuk pundak Austin dengan pelan. "Bawa Norah pulang sekarang juga. Aku juga harus kembali ke markas. Livy dan Abio juga pasti butuh istirahat. Sekarang mereka masih ada di sana untuk menjaga Faith."


"Baiklah kakak ipar. Aku akan membawa adikmu ini pulang dengan selamat. Kakak ipar juga hati-hati di jalan ya. Jika ada apa-apa segera kabari kami. Tadi ponsel kami sama-sama mati karena kehabisan baterai."


Zion menggangguk pelan sebelum melangkah menuju ke mobilnya sendiri. Pria itu menghidupkan klaksonnya dua kali sebelum melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Norah berputar dan memandang wajah Austin. Wanita itu tiba-tiba saja memeluk kekasihnya dengan begitu manja.


"Austin Sayang ... tolong gendong aku. Aku tidak bisa melangkah lagi. Masuk ke mobil saja aku sudah tidak sanggup," lirihnya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan putri. Aku akan menggendongmu. Tidurlah jika kau ngantuk. Aku juga akan menggendongmu sampai ke kamar nanti," jawab Austin dengan nada yang mesra. Pria itu segera menggendong Norah dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah Norah duduk dengan posisi yang nyaman, Austin memandang keadaan sekitar. Dia ingin memastikan kalau tidak ada yang memata-matainya lagi. Meskipun kini Mereka ada di kantor polisi tidak menjamin kalau mereka akan selalu aman. Setelah memastikan lokasi di sana aman, Austin segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat. Pria itu ingin tiba di rumah sebelum jam makan malam tiba.


***


__ADS_2