Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 177


__ADS_3

Leona menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes ketika dia kembali mengingat apa yang dikatakan Faith. Entah kenapa rasanya terasa begitu sakit. Padahal sebenarnya Zion yang akan patah hati, tetapi Leona yang lebih dulu merasakan lukanya. Wanita itu mengusap kepala Zion dan berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya. Kini Zion sedang berbaring di atas tempat tidur untuk istirahat. Dokter telah memberinya obat agar bisa istirahat. Luka yang diderita Zion juga sudah diperiksa dan dipastikan akan segera sembuh.


"Ma, Norah perhatikan sejak tadi Mama menangis. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah mama memikirkan sesuatu?" tanya Norah penasaran.


Zion diletakkan di dalam kamar perawatan tempat Norah dirawat. Leona sengaja memintanya agar dia bisa melihat kedua anaknya di dalam waktu yang sama.


"Mama hanya ngantuk saja." Sejak tadi Leona sudah berusaha keras untuk tidak memperlihatkan kesedihannya di depan Norah. Namun Norah adalah wanita yang cerdas. Dia selalu tahu kapan ibunya menangis sedih kapan ibunya menangis karena bahagia.


"Ma, jujur sama Norah. Ada apa sebenarnya," bujuk Norah.


"Mama tadi malam bertemu dengan Faith," jawab Leona pasrah.


"Mama kenapa gak cerita sama Norah? Cepat ma ceritakan. Kak Zion juga tidak akan dengar karena dia masih ada di bawah pengaruh obat," ujar Norah sekali lagi. "Faith anak yang jahat ya."


"Jahat? Ma, apa yang mama lakukan di sana? Kenapa Mama harus menemui Kak Faith? Bukankah seharusnya Mama tidak ikut campur dengan urusan Kak Zion dan Kak Faith?"


"Mama hanya tidak mau anak mama disakiti. Zion memang pria yang sangat hebat. Dia bisa melakukan segala cara untuk menghasilkan sebuah kemenangan. Tapi Mama nggak yakin kalau dia akan berhasil dalam cerita cintanya. Faith jelas-jelas tidak mencintai kakakmu tetapi kakakmu masih mempertahankannya. Ini jauh lebih menyakitkan daripada cinta ditolak secara langsung. Faith justru memohon kepada Mama agar Mama membantunya untuk dibebaskan. Dia ingin menjalani kehidupannya seperti dulu lagi. Kita tidak bisa memaksanya karena keluarga kita seperti ini. Kapanpun bahaya akan datang tanpa di sangka-sangka. Harus orang yang benar-benar siap baru bisa masuk ke dalam keluarga kita agar kedepannya tidak ada tuntutan lagi. Sepertinya Faith bukan pasangan yang cocok untuk kakakmu. Bahkan secara diam-diam mama sudah menyuruh orang Untuk mengantarkan Faith pergi meninggalkan kota ini."

__ADS_1


"Mama ... kenapa mama mengambil keputusan seperti itu? Bagaimana kalau Kak Zion tahu? Kak Zion pasti akan marah. Kenapa Mama tidak menyerahkan semuanya sama Kak Zion." Norah diam sejenak sambil berpikir. "Itu berarti sekarang Kak Faith sudah tidak ada di markas Gold Dragon?"


"Mama tidak punya pilihan lain. Jika Zion mendengar perkataan Faith secara langsung dia hanya akan sakit hati. Perjuangannya sungguh sangat berat untuk mendapatkan cinta Faith tetapi wanita itu tidak menghargainya. Tidak memandang usaha Zion sedikitpun. Lebih baik Zion cari wanita lain saja daripada mempertahankan wanita seperti itu. Bukan Mama ingin berkata kasar tetapi wanita seperti itu adalah tipe wanita yang tidak tahu balas budi."


"Ma, kehidupan kita dengan kehidupan Kak Faith itu berbeda jauh. Dia wanita biasa. Nggak pernah melihat darah apa lagi pembunuhan. Wajar saja kalau dia takut masuk ke dalam keluarga kita. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memisahkan Kak Zion dan Kak Faith. Aku yakin sebenarnya mereka saling mencintai hanya butuh waktu saja untuk menyatukan mereka." Norah memandang ke arah lain. "Tapi sekarang Kak Faith sudah tidak ada. Kita juga tidak tahu dia pergi ke mana. Aku yakin setelah Kak Zion tahu masalah ini dia pasti akan sangat marah sama mama."


"Bagi Mama amarah Zion tidak pernah jadi masalah. Yang penting dia tidak sakit hati."


Pintu terbuka lebar lalu Austin muncul di sana. Sambil membawa buket bunga mawar merah pria itu tersenyum memandang Norah yang sudah terlihat jauh lebih segar. Sejenak ia menunduk kepada calon mertuanya sebelum berjalan mendekati orang lain.


"Terima kasih," ucap Norah tidak bersemangat. Wanita itu tetap menerima bunga yang diberikan Austin namun segera meletakkannya di nakas. Suasana hatinya juga sedang kacau ketika mendengar keputusan yang diambil oleh ibu kandungnya secara sepihak.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Austin penasaran.


"Tante mau pulang sebentar. Tadi saat Daisy dan Paman Jordan pulang tante lupa mengirimkan sesuatu. Sekarang Tante harus mengantarkannya secara langsung ke rumah. Austin, bisakah kau menjaga Norah dan Zion. Tante yakin hari ini mereka juga akan diperbolehkan pulang karena kondisi mereka sama-sama sudah jauh lebih baik."


"Baik tante. Serahkan semua sama Austin."

__ADS_1


"Terima kasih Austin." Leona mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu. Sambil berjalan terlihat sesekali wanita itu masih menyeka air matanya yang keluar tanpa perintah.


menghela Norah napas dengan kasar sebelum menunduk. Wanita itu tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang. Dia tidak mau menyalahkan ibu kandungnya apalagi sampai menyakitinya. Namun jelas-jelas memang Leona yang salah. Jarang-jarang Leona mau ikut campur dalam urusan percintaan anak-anaknya.


"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu murung seperti ini?" tanya Austin sambil menggenggam tangan Norah lalu mengusapnya dengan lembut. Ia tahu kalau terjadi sesuatu karena terlihat jelas dari ekspresi Norah saat ini.


"Sepertinya Kak Zion akan lama menikah. Karena aku yakin setelah patah hati ini, dia tidak akan mau membuka hatinya untuk wanita lain lagi."


"Patah hati? Bukankah semalam kami menang, lalu kenapa Kak Zion bisa patah hati? Sudah tidak ada lagi yang menjadi penghalang hubungan mereka."


"Mama menemui Kak Faith lalu meminta Kak Faith untuk pergi meninggalkan kota ini hanya karena Kak Faith bilang kalau dia tidak mencintai Kak Zion. Kali ini aku sangat-sangat kecewa sama mama. Aku hanya tidak mau hubungan mama dan Kak Zion menjadi renggang. Aku tahu kalau tujuan mama baik tapi tidak ada salahnya Mama tidak dicampur bukan?"


"Sayang ... sebagai orang tua sulit untuk tidak ikut campur dalam urusan yang dihadapi anaknya. Dia yang mengandung dan melahirkan kalian. Tidak ada satu ibupun di dunia ini yang rela anaknya disakiti meskipun anaknya kuat. Mamamu melakukan semua ini pasti ada alasannya. Dia hanya ingin yang terbaik untuk putranya."


Norah memandang ke arah Zion. "Tapi aku tidak yakin kalau Kak Zion bisa memaafkan mama. Ketika sadar nanti dan dia tahu kalau Kak Faith sudah tidak ada markas Gold Dragon pasti dia langsung marah besar."


"Kita doakan saja semoga Kak Zion bisa menerima keputusan yang di ambil mama ya." Austin tersenyum lalu mengecup punggung tangan Norah. Hal itu membuat Norah jauh lebih tenang lalu tersenyum juga.

__ADS_1


__ADS_2