
"Kau baik-baik saja, Zion? Lukanya menjadi parah karena kau memaksa kakimu untuk tetap bergerak setelah tertembak," ujar Lana sambil membersihkan luka tembak yang di terima oleh Zion.
"Aku baik-baik saja, Oma." Zion tersenyum. "Terima kasih, Oma. Jika Oma tidak datang, Aku tidak tahu bagaimana nasip Opa Lukas. Dia tidak memberitahu kami kalau dia sedang sakit." Zion memandang Lukas yang sedang tertidur dengan lelap. Pengaruh obat yang ia minum membuatnya tertidur dengan nyenyak. Sampai-sampai tidak lagi mendengar apa yang dibicarakan oleh Zion dan Lana.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba pria itu mengaku kalah. Bahkan orang-orang yang sedang kami hadapi juga memutuskan untuk mundur. Tadinya Oma meminta Austin untuk segera pergi menolongmu. Posisinya kami memang benar-benar dikepung. Kita kekurangan anggota tadi. Oma sempat berpikir kalau kita akan lama berada di Las Vegas." Lana mengikat kaki Zion dengan perban setelah berhasil mengeluarkan peluru yang ada di dalamnya. Wanita itu terlihat jauh lebih lega sekarang. Ia memandang Zion untuk menunggu pria itu menjawab pertanyaannya.
"Aku sendiri juga tidak menyangka kalau aku memiliki kemampuan sehebat itu Oma." Zion menghela napas sembari mengusap wajahnya dengan kasar. "Rencana yang siapkan Dominic tidak ada habisnya. Pria itu tidak pernah kehilangan cara untuk mengalahkan kita. Intinya keberuntungan masih ada di pihak kita. Hingga akhirnya kita bisa pulang malam ini."
__ADS_1
Lana mengangguk. "Dari informasi yang Oma dengar, kau melakukan semua ini demi mempertahankan seorang wanita. Apa itu benar Zion?"
"Aku melakukan semua ini karena Dominic telah membuat Abio, Livy dan juga Norah masuk ke rumah sakit, Oma," sangkal Zion. Dia tidak mau mengaku.
"Jika memang kau melakukan semua ini demi mempertahankan seorang wanita ... katakan saja dengan jujur kepada Oma. Oma bisa ngerti kok. Yang jadi pertanyaan Oma, apa semua itu benar?"
"Zion, seorang wanita memang butuh diperjuangkan. Wanita ingin melihat seberapa besar cinta pria itu terhadapnya. Melalui perjuangan itu, si wanita akan menilai. Pria itu layak mendampinginya atau tidak. Oma yakin perjuanganmu tidak akan sia-sia."
__ADS_1
Zion menggeleng kepalanya. Semakin ke sini dia merasa tidak yakin. "Tapi perjuanganku cukup sampai di sini saja Oma. Jika dia benar-benar tidak mencintaiku maka aku tidak akan memaksanya lagi untuk tetap berada di sisiku. Sudah cukup penderitaan yang dihadapi oleh keluargaku. Cinta benar-benar buta ya Oma." Zion tersenyum memandang Lana. "Apa dulu kisah cinta Oma dan Opa juga serumit ini. Setidaknya aku tahu kalau aku tidak sendirian."
Lana tertawa kecil mendengar pertanyaan Zion. "Istirahatlah Zion. Kau kehilangan banyak darah dan membutuhkan banyak istirahat. Jika kita sudah tiba di rumah sakit, Oma akan minta dokter untuk memeriksa keadaanmu. Masalah ini akan kita bahas lain waktu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah seperti itu karena Oma juga harus menemani Opamu." Lana menutup tubuh Zion dengan selimut. Wanita itu sudah menganggap Zion seperti putra kandungnya sendiri. Dia sangat-sangat menyayangi Zion seperti dia menyayangi Livy.
"Dari tatapan Oma aku bisa menebak kalau kisah cinta Oma dulu juga rumit," tebak Zion asal saja.
"Anggap saja seperti itu." Lana langsung pergi menuju ke tempat Lukas berada.
__ADS_1
Zion memandang ke arah Lana sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Untuk beberapa saat pria itu mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Namun ia segera memejamkan matanya untuk istirahat.