
"Namanya Rula, Bos. Dia tinggal di kompleks perumahan yang tidak jauh dari Universitas Yale. Dia memiliki geng dengan sebuah bisnis gelap. Tetapi, gengnya tidak terlalu aktif dalam bertransaksi. Beberapa data menunjukkan kalau Rula bekerja sama dengan sebuah geng mafia yang dipimpin oleh pria bernama Austin." Pria bertato itu menunjukkan wajah Austin kepada Zion. "Ini dia fotonya."
Zion menerima foto Austin dan memandangnya dengan tatapan tajam. "Pria ini!" ketusnya dengan wajah kaget. "Kenapa dia bisa tahu kalau Daisy adalah adikku?" Zion merasa kalau selama ini dia sudah menutupi identitasnya dengan baik. Rasanya tidak mungkin ada yang tahu siapa kedua orang tuanya dan keluarganya yang lain. Namun, nyatanya masih ada celah untuk musuh mengetahui titik kelemahannya.
"Ada apa? Apa Kakak kenal?" Norah segera merebut foto Austin. Wanita itu juga syok ketika melihat foto Austin. "Bukankah ini pria itu? Pria yang ...." Norah menahan kalimatnya. Dia berusaha mengingat-ingat, kira-kira di mana ia dan Austin pernah bertemu. "Kenapa sepertinya aku pernah bertemu dengannya. wajahnya ini sangat tidak asing tapi di mana kami bertemu?" gumam Norah di dalam hati dengan wajah bingung.
"Malam tahun baru. Bisnis mereka kita gagalkan karena saat itu kita ingin menyelamatkan Livy dari rumah sakit tempatnya bekerja," sahut Zion. "Dia sepertinya ingin membunuh petinggi negara yang dirawat di rumah sakit tempat Livy bekerja. Tetapi ternyata targetnya tidak selemah yang ia pikirkan. Target mereka menghilang tanpa jejak. Karena tidak mau sampai gagal, mereka berniat untuk meratakan rumah sakit. Sepertinya dia ahli dalam bom. Kita harus waspada jika ingin melawannya."
Mendengar namanya ikut disebut, livy juga tertarik untuk melihat wajah Austin. "Seperti apa wajahnya? Aku ingin tahu." Livy merebut foto Austin dari Norah. Wanita itu mengangguk melihat wajah Austin yang terbilang good looking. "Cakep! Kenapa banyak sekali kriminal yang tampan?" pujinya tanpa peduli dengan situasi.
Zion melirik Livy dengan tatapan penuh arti. Livy yang sadar dengan arti tatapan Zion segera melempar foto pria itu ke atas meja. "Tapi sayang, pengecut. Beraninya sama yang lemah!" sambung Livy agar Zion tidak salah paham. Dia tidak mau dituduh ada di pihak musuh.
"Itu berarti sekarang Daisy bersama dengan Austin. Dia pasti ingin balas dendam terhadap kita. Wanita bernama Rula ini hanya dijadikan tangannya saja untuk menangkap Daisy agar identitas dia tidak ketahuan."
Kali ini Norah sudah merasa lega karena pada akhirnya dia tahu siapa yang sudah menculik adiknya dan tujuan penculik itu apa. Begitu juga dengan Zion. Walau dia marah dan geram melihat perbuatan Austin, tetapi dia sudah memegang identitas si penjahat. Mereka sudah memiliki tujuan sekarang. Kemana seharusnya menjemput Daisy.
"Kak, kapan kita menyerang mereka? Pasukan The Filast dan Gold Dragon pasti cukup untuk menyerang tempat tinggal mereka!" ujar Livy penuh semangat.
"Tidak semudah itu, Nona. Rumah itu dilengkapi dengan alat yang canggih. Camera tersembunyi dan beberapa senjata yang sebagian digunakan untuk melumpuhkan musuh. Salah tindakan, kita bisa kehilangan setengah dari pasukan yang kita miliki," saut pria bertato yang berdiri di depan mereka.
"Lalu, Bagaimana caranya agar kita bisa menemukan Daisy? Bukankah untuk membawa Daisy kembali pulang kita harus menjemputnya di rumah itu?" Livy bersandar dan melipat kakinya. "Mungkin Kak Zion punya rencana yang brilian? Membawa Daisy pulang tanpa ketahuan."
"Mereka akan mengadakan pesta yang dibuka untuk umum. Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke rumah itu tanpa halangan," ucap pria bertato itu memberi solusi.
"Pesta? Apa kita masih bisa menggunakan topeng? Sebuah pesta dikerumuni orang ramai. Identitas kita akan ketahuan," sahut Norah kurang setuju. "Apa lagi identitas Kak Zion, selama ini sudah banyak yang ingin mengetahuinya. Jika sampai ketahuan, Kak Zion tidak akan bisa hidup dengan tenang lagi. Bukan hanya Kak Zion, mungkin aku juga merasakan hal yang sama."
"Biar aku yang bertugas untuk mengalihkan perhatian pria bernama Austin ini. Kau dan Kak Zion yang bertugas mencari Daisy. Bagaimana?" Livy merasa sangat percaya diri kalau Zion akan setuju dengan ide yang sudah ia katakan. sayangnya ekspresi Zion tidak demikian. Pria itu seperti kurang setuju dengan ide Livy.
"Kak, kenapa kakak diam saja?" tanya Norah sambil memegang tangan kakaknya.
"Bagaimana kalau ini jebakan yang ia buat? Dia sengaja mengadakan pesta agar kita datang dan dia bisa dengan mudah mengetahui identitas kita? Dia tidak akan mungkin mengadakan pesta sementara ada tawanan di rumahnya. Resikonya terlalu besar. Kecuali dia sudah mempersiapkan jebakan di sana," jawab Zion. Ia bersandar sambil melipat kedua tangannya. "Harus ada yang menyamar sebagai aku dan Norah! Hanya ini satu-satunya cara untuk mengelabuhinya. Ketika dia berpikir kalau dia sudah berhasil melihat wajah asli seorang Zion Zein di saat itulah aku dan Norah muncul untuk membawa Daisy pergi!"
__ADS_1
"Ide kakak cukup brilian. Oke, aku bisa menjadi Norah. Identitasku terbongkar rasanya tidak jadi masalah. Yang terpenting identitas kakak dan Norah aman. Tetapi yang jadi masalah, siapa yang mau berperan jadi Kak Zion? Tentu saja dia menandai diatur tubuh Kak Zion. Kita butuh seorang pria yang memiliki kemampuan bertarung dan juga fostur tubuh seperti Kak Zion."
"Bagaimana kalau Foster?" sahut Norah. "Bukankah kalau diperhatikan dia memenuhi kriteria yang Kak Livy sebutkan? Postur tinggi dan memiliki bakat bertarung yang hebat. Bahkan trik bertarungnya hampir sama seperti Kak Zion."
Zion memandang Norah. "Aku tidak setuju."
"Kak, dia tidak bersalah bukan? Itu tandanya dia pria baik. kenapa kita tidak memanfaatkannya saja? Bukankah kakak sendiri yang bilang kalau dia sempat mengajak kakak untuk bekerja sama menangkap Daisy? Lalu, apa lagi yang harus kakak pertimbangkan? Buang sifat egois kakak demi Daisy. Ada saatnya kita harus menghilangkan sifat buruk seperti itu demi kebaikan semua orang!"
Livy hanya bisa diam mendengar pernyataan Norah. Sebenarnya Livy sendiri setuju dengan ide yang diucapkan oleh Norah namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dia takut sama Zion.
Zion diam sejenak sambil mempertimbangkan ide Norah. Rasanya dia malu untuk mengajak Foster kerja sama. Jelas-jelas tadi dia menolak tawaran pria itu. Mau diletak dimana mukanya jika sekarang dia datang untuk mengajak pria itu bekerja sama. Belum lagi dia tahu kalau adiknya dan Foster saling mencintai. Zion juga tidak mau utang budi ini menjadi alasan Foster untuk semakin dekat dengan Daisy. Tetapi, keselamatan Daisy segalanya. Ya, Zion kembali ingat dengan nasihat-nasihat yang diberikan Zeroun. Ada kalanya kita mengalah karena mengalah tidak selamanya akan kalah.
"Baiklah. Sekarang dimana dia?" sahut Zion dengan wajah malas. "Aku tidak mau mencarinya."
"Biar aku yang mencarinya. Kakak tenang saja," sahut Livy. Zion mengangguk sebelum memandang ke layar laptop lagi. Di sana dia melihat foto Daisy yang sedang duduk sambil memegang bunga mawar. "Daisy ...."
...***...
"Daisy ... kau ada dimana?"
Foster memberhentikan mobilnya ketika ada sebuah mobil menghalangi laju mobilnya. Biasanya Foster akan langsung turun dan meladeni orang yang sudah mencari masalah dengannya. Tetapi kali ini pria itu justru memilih untuk menghindar. Foster memundurkan mobilnya sebelum melajukannya lagi melewati sisi jalan yang lebih lapang.
Livy yang ada di dalam mobil mengeryitkan dahinya ketika ingin turun dari mobil. Mobil Foster sudah melaju kencang untuk menghindari Livy. Dengan sigap wanita itu melajukan mobilnya lagi dan mengejar mobil Foster.
"Sepertinya aku salah langkah. Tadinya aku pikir akan sangat mudah untuk bertemu dengannya," umpat Livy di dalam hati. Dia segera menambah laju mobilnya agar tidak kehilangan jejak Foster.
Foster menjadi kesal ketika melihat satu mobil mengikutinya. Pria itu hanya ingin fokus mencari Daisy tanpa diganggu siapapun.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan? Baiklah. Aku akan memberimu pelajaran. Kau akan menyesal karena sudah memutuskan untuk menghalangi jalanku malam ini."
Foster melajukan mobilnya menuju ke jalanan berbukit. Bukit itu adalah lokasi yang biasa digunakan Foster untuk ngedrive bersama teman-temannya. Dimana letak jalan berbelok, berapa meter sampai ada jalanan yang curam pun dia sudah tahu. Tidak sembarang orang bisa melajukan mobilnya dijalanan itu dengan kecepatan tinggi. Foster berniat untuk membuat orang yang sudah mengikutinya celaka.
__ADS_1
"Rasakan ini!" umpat Foster. Ia memutar mobilnya hingga membuat asap putih yang tebal. Livy yang tiba di jalanan itu dengan kecepatan yang sangat tinggi terlihat Kebingungan. Dia berusaha menginjak rem agar bisa terhindar dari bahaya. Namun sayangnya, di depan sana sudah jurang. Livy tidak memiliki waktu lagi untuk menginjak rem.
"Sial! Dia menjebakku!"
Di detik sebelum mobil yang dikemudikan Livy terjun ke jurang, Livy masih sempat untuk melepas sabuk pengamannya dan lompat keluar. Tetapi jarak dengan jurang memang sangat dekat. Wanita tangguh itu berguling ke arah jurang. Ia berusaha menahan tubuhnya sendiri namun karena jalanan menurun, dia kesulitan.
"Daddy!" teriak Livy.
Di saat dia hampir terjun ke jurang, tiba-tiba ada tangan yang memegang tangannya. Livy sudah hampir terjun, namun nasip baik masih ada di tangannya.
"Hampir saja," ujar Livy dengan napas tersengal. Dia memandang ke atas untuk melihat pria yang sudah datang menolongnya. "Kau?"
Foster hanya diam saja di dalam mobil. Dia memandang temannya yang baru saja turun tangan untuk menolong Livy. "Ternyata seorang wanita. Ada urusan apa dia mengejar ku?"
Karena penasaran, Foster turun dari mobil. Dia juga ingin memarahi temannya karena sudah mengagalkan rencananya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" protes Livy.
"Setidaknya ucapkan terima kasih!" ucap pria itu dengan tangan terlipat di dada.
"Aku yang sudah menyelamatkan nyawamu. Jadi, kau yang seharusnya berterima kasih padaku!" ketus Livy tanpa mau memandang.
"Bagaimana dengan malam ini? Apa yang sudah aku lakukan ini tidak termasuk perbuatan baik? Kau juga sudah berhutang nyawa padaku!"
"Abio, siapa dia?" Foster yang baru saja tiba berdiri di sana dengan tatapan tidak suka. "Kau kenal dengannya?"
Pria bernama Abio itu tersenyum melihat wajah cantik Livy. "Dia wanita yang aku ceritakan kemarin," jawab Abio sambil memuji kecantikan Livy di dalam hati.
"Abio! Aku akan melaporkan perbuatanmu sama Opa Lukas. Opa akan menyampaikannya ke Opa Biao atau ke Opa Kenzo. Mereka akan sangat sedih melihat cucunya besar dan menjadi seperti ini. Mereka harus tahu kalau cucunya yang playboy ini sedang merayu wanita baik sepertiku!" ketus Livy kesal.
Abio tertawa mendengar ocehan Livy. Foster menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalian saling kenal?"
__ADS_1