
Austin baru saja tiba di ruangan kerja Tuan Clark. Pria itu memperhatikan keadaan sekitar dengan saksama. Sudah banyak yang berubah. Ruangan itu tidak sama seperti tiga tahun yang lalu. Satu hal yang membuat Austin tersentuh, ada foto dia di tengah ruangan. Foto Austin ketika sedang memakai jas waktu dia lulus kuliah beberapa tahun yang lalu.
Saat itu Austin masih terlihat sangat polos. Pria itu masih bisa di atur walau sesekali masih mau membantah. Dia terlihat seperti anak baik budi. Melihat ekspresi Austin di foto, tidak akan ada yang menyangka kalau sekarang pria itu tumbuh menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
"Kenapa ada fotoku di ruang kerja papa?" tanya Austin penasaran. Ia melangkah lagi agar bisa duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Tuan Clark.
Tuan Clark memandang ke arah foto Austin. Pria itu tersenyum sebelum memandang ke arah Austin lagi. "Kau putra papa. Tidak ada yang salah bukan?"
"Tetapi, awalnya foto Opa yang ada di sana," sahut Austin lagi. "Kenapa foto Opa disingkirkan dan diganti fotoku? Aku tidak sehebat Opa. Aku tidak bisa menggantikan Opa walau itu hanya sekedar di foto," ujar Austin.
"Opa pasti bangga bisa memiliki cucu sepertimu. Sayang, dia tidak sempat bertemu denganmu. Dia lebih dulu pergi sebelum papa menikah dengan mamamu. Padahal sudah lama dia memaksa papa agar mencari calon istri yang sudah memiliki anak waktu itu, tetapi jodoh papa tidak juga ketemu," jawab Tuan Clark.
"Pa, apa yang ingin papa bicarakan? Ini bukan soal foto saja kan?" tebak Austin. Dia berusaha bersikap sebaik mungkin agar papanya tidak tahu bagaimana sifatnya yang asli jika ada di dalam dunia mafia.
"The Bloods. Sudah membunuh hampir seratus orang penting yang ada di dunia ini. Membunuh ratusan orang tidak bersalah. Meledakkan beberapa fasilitas masyarakat. Geng mafia terkuat yang sangat sulit di kalahkan!" Tuan Clark meletakkan koran yang baru saja dia baca. "Kau tahu sesuatu?"
Austin membuang tatapannya ke arah lain. "Aku tahu papa sudah mengetahuinya sejak awal. Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu menutupinya lagi. Memang aku yang melakukan semua itu!"
"Apa kau tahu, Opamu tewas karena apa?"
Austin mengangguk. "Papa bilang karena terkena serangan jantung!"
__ADS_1
"Tidak, Austin! Dia tewas karena dibunuh oleh pembunuhan bayaran sepertimu!" Tuan Clark bersandar dan tersenyum. "Bagaimana perasaanmu jika hal yang sama terjadi sama papa dan mama?"
"Itu tidak mungkin. Aku akan melindungi keluargaku!"
"Opa juga pernah bilang seperti itu. Papa ingat betul ketika Omamu melarang Opa untuk pergi. Namun Opa tetap pergi untuk melakukan sebuah misi. Dia pulang sambil membawa kemenangan. Tetapi, kemenangan itu berujung menjadi petaka. Oma kecelakaan. Lalu tidak lama setelah itu, Opa di tembak oleh sosok misterius yang bahkan sampai detik ini tidak ditemui siapa pelakunya."
"Jangan samakan aku dengan Opa, Pa. Aku bisa melindungi keluargaku!"
"Austin, kenapa kau tidak belajar dari apa yang sudah terjadi? Kau kalah kan? Kau kalah ketika bertarung dengan Gold Dragon. Sekarang kau masih begitu percaya diri untuk melindungi mama dan papa?"
Austin beranjak dari kursi. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Kali ini dia tidak bisa sabar lagi. "Pa, aku tidak kalah. Aku pasti menang. Aku akan buktikan ke papa kalau aku bisa mengalahkan mereka!"
"Dengan membunuh musuhmu, kau katakan kau menang, Austin?" Tuan Clark tertawa kecil. "Tidak, Nak. Kau kalah! Karena kematian bukan akhir dari segalanya. Orang yang kau renggut nyawanya, pasti memiliki keluarga, teman atau rekan kerja. Mereka tidak akan terima jika keluarga atau temannya di bunuh. Maka dengan itu, akan timbul musuh baru. Lalu kau dengan angkuhnya menghadapi mereka dengan membunuh? Begitu terus berlanjut. Austin, mau sampai kapan Nak? Sampai kapan? Kau pasti akan tua. Apa kau tidak memiliki niat untuk berkeluarga. Ya, mungkin tidak sekarang. Tetapi, nanti. Ketika kau bertemu dengan wanita yang kau cintai, kau akan menyesal karena sudah seperti sekarang. Sebelum terlambat, ikuti kata-kata papa, Nak. Jauhi dunia gelap ini. Jauhi membunuh. Jika kau membunuh untuk melindungi dirimu atau keluargamu, papa akan acungkan jempol untukmu. Tapi jika kau membunuh demi kepuasan dirimu sendiri, papa akan pandang anak Papa ini sebagai seorang pengecut!"
"Austin, jika nanti papa sudah tidak ada. Ingatlah perkataan papa hari ini!" teriak Tuan Clark dari dalam. Austin tetap tidak peduli, pria itu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan cara membanting pintu.
...***...
Norah berjalan menelusuri lorong yang sunyi dan sempit. Wanita itu didampingi oleh pasukan Gold Dragon. Dia ingin menemui tawanan yang sejak kemarin di kurung di sebuah ruang bawah tanah. Kali ini Norah terpaksa memakai gaun karena setelah ini dia harus menemui keluarga besarnya di rumah.
Pintu besi yang sedikit karat dan berdebu di buka ketika Norah telah tiba. Norah memandang penjaga di sana sebelum melangkah masuk. Karena ruangan sangat sepi, sampai-sampai suara sepatu high heels yang dikenakan Norah terdengar dengan begitu jelas.
__ADS_1
Setelah tiba di dalam ruang bawah tanah itu, Norah memandang wanita yang kini tangannya diikat dengan rantai. Ada senyum kecil di sudut bibir Norah.
"Bagaimana rasanya? Apa enak di kurung di ruang sempit dan gelap seperti tempat ini? Kelaparan, kehausan bahkan kedinginan!" ujar Norah.
Wanita itu mengangkat kepalanya memandang Norah. Dia adalah Rula. Norah berhasil menangkapnya saat itu. Karena tidak mau Rula membuat masalah lagi, dia terpaksa meminta Gold Dragon untuk mengurung Rula di tempat gelap ini. Tadinya Norah ingin menjadikan Rula sebagai senjata untuk mengalahkan Austin. Namun, setelah melakukan penyelidikan, hasilnya sangat mengecewakan. Bahkan Austin tidak akan peduli jika Rula mati sekalipun. Pria itu tidak pernah cinta sama Rula seperti kabar yang pernah sampai ke telinga Norah.
"Kau pengecut wanita ******! Aku sudah mengetahui wajahmu, kalau aku berhasil bebas, aku akan memberi tahu wajahmu kepada Austin. Dengan begitu, kau akan terus menjadi buronannya!" sahut Rula. Wanita itu masih memiliki keberanian untuk melawan Norah walau sudah jelas-jelas dia dalam keadaan terancam. "Kau akan mari di tangan Austin!" ancam Rula lagi.
"Aku sangat takut," ledek Norah. "Takut sekali. Tetapi, aku lebih takut kau mati lebih dulu sebelum menyampaikan berita ini kepada Austin? Tidak, tidak. Aku takut kau bebas tetapi tidak bisa bertemu dengan Austin karena pria itu telah tewas."
Norah tertawa meledek. Dia sangat puas karena bisa meledek Rula hingga separah ini. "Pria bernama Austin itu telah sekarat karena dia jatuh dari lantai dua. Sepertinya dia tewas mengingat darah yang keluar sangat banyak!"
Rula terlihat menahan tangis. Dia tidak mau sampai terjadi hal buruk sama Austin. Dia sangat mencintai pria itu. "Kau berbohong! Kau berbohong, ******!"
"Ckckck. Sayang sekali semalam aku tidak sempat mengambil fotonya. Polisi sudah datang, jadi kami pergi saja meninggalkan mayatnya tergeletak di sana," sahut Norah.
"Aku tidak akan pernah percaya sama perkataanmu. Austin pria yang kuat. Dia tidak akan kalah dengan begitu mudah!"
"Kita lihat saja nanti. Dia datang atau tidak untuk menyelamatkanmu. Jika dia tidak datang, itu berarti namanya hanya tinggal kenangan!"
__ADS_1
Norah memutar tubuhnya. Sudah cukup pemeriksaannya kali ini. Melihat Rula masih dalam posisi terikat seperti itu membuat Norah jauh lebih tenang. Dia tidak akan membebaskan Rula. Wanita itu sudah terlanjur melihat wajah Norah tanpa topeng. Saat berkelahi, tanpa sengaja Norah kehidupan topengnya. Rula telah berhasil menarik topengnya. Di detik itu yang membuat Norah kepikiran untuk membawa Rula dan mengurungnya di tempat ini.
"Kau pasti akan mati membusuk di tempat ini!" ujar Norah sebelum pergi.