
Livy menurunkan tangan Austin setelah selesai memeriksa denyut nadi pria tangguh itu. Dia memeriksa selang infus dan selang oksigen di hidung Austin. Dokter wanita itu juga tidak lupa memeriksa kaki Austin untuk memastikan racun di kaki Austin telah hilang. Setelah memastikan semua normal, Livy menjauh dari tempat tidur. Dia merapikan alat medisnya. Kali ini Livy tidak membawa perawat yang biasa menemaninya. Dia merasa sanggup melakukan semuanya sendirian. Setelah ini juga Livy akan ke ruangan Norah untuk memeriksa keadaan adiknya itu.
"Apa yang membuatnya belum juga sadar? Norah terus saja menanyakan tentangnya," tanya Zion dengan wajah khawatir.
"Racun di kakinya memberikan efek tidak sadarkan diri. Setelah racun itu benar-benar hilang maka Austin akan sadar. Yang terpenting dia tidak sampai kritis. Keadaanya masih normal. Mungkin memang dia butuh istirahat atas pertarungan yang ia lakukan. Soal Norah, aku akan membantumu nanti. Aku pikir Norah wanita yang kuat. Tidak ada salahnya kita memberi tahu keadaan Austin yang sebenarnya."
"Tidak. Kondisi Norah masih seperti itu. Dia akan memaksakan dirinya untuk bangun dan menemui Austin. Bukankah kau sendiri yang bilang agar dia tidak banyak gerak?" tolak Zion.
Livy menggeleng pelan. "Baiklah." Dia memegang tangan Zion dan menariknya ke sofa. "Kemarilah. Aku akan memeriksa keadaanmu juga. Kau juga masih pasien di rumah sakit ini."
"Aku sudah sembuh," protes Zion.
"Jangan keras kepala!" Livy memeriksa keadaan Zion walau pria itu tidak setuju. Dengan mudahnya Livy membuat Zion menurut.
"Daisy baru saja putus dengan Foster," ucap Zion tiba-tiba. Ternyata pria itu membutuhkan Livy sebagai tempatnya cerita.
"Putus? Kok bisa?" Livy mengeryitkan dahinya. Kondisi Zion sudah jauh lebih baik. Hal itu membuat Livy sedikit tenang. Namun, mendengar kabar kalau Daisy dan Foster putus membuat Livy bingung. Padahal mereka terlihat seperti pasangan paling bahagia. Bahkan Livy saja sempat iri kepada mereka karena percintaan mereka seperti tidak ada duri penghalangnya.
"Aku juga tidak tahu apa alasannya. Ini yang aku takutkan sejak awal. Aku hanya tidak mau Daisy dan Norah sakit hati. Pria adalah manusia paling brengsek yang pernah ada!"
"Termasuk kau?" ledek Livy. Zion terdiam dibuat Livy. "Aku hanya bercanda. Jangan di anggap serius."
"Ya, termasuk aku," sahut Zion. Hingga akhirnya membuat Livy juga terdiam.
"Tadinya aku pikir tidak pernah mengenal wanita maka akan menjadikanku pria yang tidak pernah menyakiti wanita. Tidak aku sangka kalau tanpa aku sengaja, aku telah-"
__ADS_1
"Stttt." Livy meletakkan satu jarinya di bibir Zion. "Aku baik-baik saja. Aku sudah berdamai dengan hatiku sendiri. Jangan pernah merasa bersalah karena kesalahan yang sama sekali tidak pernah kak Zion lakukan."
Zion mengusap rambut Livy. "Kau adikku. Setelah Norah dan Daisy, kaulah wanita yang paling aku jaga agar tidak sampai merasakan yang namanya sakit hati."
Livy memajukan bibirnya. "Kakak ...."
"Kemarilah. Peluk aku seperti biasa." Zion membuka kedua tangannya. Tanpa pikir panjang, Livy memeluk Zion sambil tersenyum bahagia. Dia senang sekali bisa seperti itu lagi dengan Zion.
Saat Livy dan Zion masih berpelukan, tiba-tiba Abio muncul dengan parsel buah di tangannya. Ternyata pria itu juga datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Austin dan juga Norah. Tidak di sangka justru pemandangan menyakitkan yang kini dia dapatkan.
"Abio?" Livy segera menjauh dari Zion. Berbeda dengan Livy. Justru Zion terlihat santai saja seolah tidak ada masalah di sana.
"Abio, apa yang kau bawa?" tanya Zion.
"Maaf telah mengganggu!" Tanpa mau menjawab pertanyaan Zion, Abio pergi meninggalkan ruangan itu setelah meletakkan parsel buah yang ia bawa di nakas dekat pintu.
"Kenapa dia tidak masuk? Apa dia tidak mau bicara denganku?" gumam Zion di dalam hati.
***
Abio masuk ke dalam mobil. Pria itu melihat Livy mengejarnya. Bukan menemui Livy justru pria itu melajukan mobilnya dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat marah.
Livy berhenti dengan napas terengah-engah. Dia mencari kunci mobilnya di dalam saku. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Kenapa dia pergi tanpa bicara?" Livy segera masuk ke dalam mobil dan mengejar Abio. Wanita itu sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa dia takut melihat Abio marah dan tidak mau Abio pergi. Padahal biasanya dia sangat cuek terhadap Abio.
Di dalam mobil Abio memukul-mukul stir mobilnya. Pria itu sangat cemburu melihat Livy dan Zion berpelukan seperti tadi. Walau mereka saudara, tetapi Livy pernah memiliki perasaan cinta terhadap Zion dan Zion mengetahuinya. Abio tidak mau sampai cintanya bertepuk sebelah tangan. Ini akan sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Livy, apa ini alasanmu menjauhiku? Apa ini alasanmu tidak membalas cintaku? Kau ingin memperjuangkan Zion agar mau menerima cintamu?" umpat Abio.
Mobil Livy yang tiba-tiba muncul dan menghalangi jalan membuat Abio segera menginjak remnya. Suara decitan rem dan aspal menimbulkan asap. Malam itu memang sangat sunyi. Hanya ada mobil Livy dan Abio saja di tengah jalan.
"Apa yang dia inginkan? Apa dia mau mati!" umpat Abio. Dia segera turun dari mobil. Karena terlalu marah, sampai-sampai Abio tidak sadar kalau mobil di depannya adalah miliki Livy.
Livy segera turun setelah Abio berdiri di samping mobilnya. Wanita itu melepas kaca matanya dan menghela napas panjang.
"Kau?" Abio sudah tertangkap basah. Dia tidak mungkin kembali ke mobil karena itu hanya membuatnya terlihat seperti anak-anak.
"Kenapa kau pergi tanpa bicara?" ketus Livy.
"Aku tidak mau menggangu kalian," jawab Abio. Dia memalingkan wajahnya. Pria itu tidak mau memandang wajah Livy secara langsung karena hanya akan membuatnya luluh.
"Mengganggu?" Livy menarik dagu Abio agar mau memandangnya. "Menggangu apa? Aku dan Kak Zion tidak ada hubungan aneh-aneh. Kami kakak adik. Kami berpelukan karena ingin memperbaiki hubungan yang hampir renggang. Tidak lebih."
"Untuk apa kau menjelaskan semua ini? Bukankah di antara kita tidak ada hubungan apapun?"
Livy dibuat bungkam oleh Abio. "Abio benar. Untuk apa aku menjelaskan semua ini," gumamnya di dalam hati.
"Livy, aku mau berpesta. Apa kau mau ikut?"
"Tidak!" tolak Livy.
"Baguslah. Karena aku tidak suka di ganggu ketika sedang bersenang-senang dengan wanita!" Abio memutar tubuhnya dan segera masuk ke dalam mobil. Pria itu meninggalkan Livy sendirian di sana. Tanpa ada rayuan atau bujukan apapun.
__ADS_1
Livy menghela napas kasar. "Apa katanya? Berpesta? Wanita? Aku harus mengikutinya. Aku harus lihat pesta seperti apa yang dia maksud." Livy juga segera masuk ke dalam mobil. Wanita itu tidak mau sampai ketinggalan jejak Abio.