
Lukas menekan nomor Oliver sambil melajukan mobilnya. Pria tua itu terlihat khawatir. Setelah pertarungan berakhir, dia baru mendapat kabar kalau The Filast dan rumah mereka di serang. Saat ini Lukas bingung harus bagaimana. Dia mengkhawatirkan Serena yang celaka. Namun, mengkhawatirkan istrinya dan juga anak cucunya.
"Lana, kenapa kau tidak juga mengangkat teleponku. Apa kau segera beranjak ke sana setelah mendapat kabar kalau Oliver dan Katterine di serang? Kenapa kau tidak menghubungiku?" umpat Lukas lagi ketika panggilan teleponnya tidak juga di angkat.
Lukas memberhentikan mobilnya di parkiran rumah sakit tempat Serena di rawat. Pria itu mencoba sekali lagi menghubungi Lana. Dia tidak bisa tenang jika belum mendengar langsung suara istrinya.
Kali ini panggilan teleponnya di jawab. Lukas sedikit lega ketika mendengar suara istrinya. "Lana, bagaimana? Apa kalian semua baik-baik saja?"
"Ya. Pinggangku sakit," keluh Lana. "Cepat pulang. Aku membutuhkanmu."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Katterine, Oliver dan juga Livy?"
"Mereka juga baik-baik saja. Abio datang sambil membawa Shabira dan juga Kenzo. Kalau mereka tidak muncul, mungkin kami masih bertarung saat ini," jawab Lana apa adanya.
Lukas terdiam untuk beberapa saat. Dia tahu kalau Shabrina pasti belum tahu kalau Serena tertembak dan sekarang ada di rumah sakit. Shabira tidak akan mungkin berangkat ke sana lebih dulu jika tahu rumah Jordan juga di serang.
"Lukas, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak bisa kembali secepatnya?" Lana tahu bagaimana suaminya. Pria itu tidak suka menunda-nunda. Biasanya kalau sudah mendengar Lana baru saja di serang, dia tidak akan diam saja. Lukas pasti akan segera berangkat untuk menemui mereka dan memastikan keadaan mereka semua baik-baik saja.
"Sayang, aku mencintaimu. Aku akan menghubungimu nanti." Lukas segera memutuskan panggilan telepon itu. Di tidak bisa berbohong. Apa lagi di depan istrinya. Walau mereka tidak bertatap langsung, tetapi dia sudah bisa membayangkan wajah istrinya ketika berdiri di depannya. "Maafkan aku Lana. Aku hanya tidak ingin kau khawatir."
__ADS_1
Lukas segera turun dan mobil. Dia memperhatikan keadaan parkiran dengan waspada. Lukas harus memastikan terlebih dulu kalau tidak ada yang mengikutinya sampai ke sini. Tidak boleh ada yang tahu kalau Serena di rawat di rumah sakit ini. Lukas tidak mau kejadian puluhan tahun yang lalu terulang kembali.
Setelah memastikan keadaan aman, Lukas segera masuk ke dalam. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan setengah berlari.
Zeroun menggenggam tangan Serena sambil memandang wanita itu tanpa berkedip. Serena sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Walau dokter bilang Serena sudah melewati masa kritisnya. Tetapi tetap saja Zeroun dan yang lainnya tidak bisa tenang jika wanita itu belum membuka mata. Tidurnya terlihat sangat tenang hingga membuat Zeroun semakin khawatir. Dia takut Serena pergi menemui Daniel. Dia belum siap untuk di tinggal lagi.
"Ma, bangun ma. Kali sangat menghawatirkan mama. Mama harus kuat. Kami semua sangat menyayangi mama," lirih Leona sambil sesekali menyeka air matanya.
Zeroun memejamkan matanya sejenak sebelum memandang wajah Serena lagi. "Bangun ... kau wanita kuat. Erena ...."
__ADS_1