Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 81


__ADS_3

Seorang pria berlari kencang menuju ke ruangan yang ada di sudut lorong. Beberapa pria berbadan tegap terlihat tidak suka memandangnya. Pria itu tidak peduli dan semakin cepat berlari untuk segera menyampaikan informasi yang baru saja dia dapat. Pria itu merasa yakin, setelah ini dia pasti akan mendapat banyak keuntungan dari informasi yang ia miliki. Wajahnya terlihat sangat senang karena dia sudah tidak sabar menyampaikan informasi ini.


Tanpa menunda-nunda, pria itu mendorong pintu dan segera masuk. Di dalamnya, seperti ada sebuah pesta. Wanita berparas cantik dan sangat seksi memenuhi ruangan temaram tersebut. Di meja-meja telah tertata rapi minuman keras yang berasal dari berbagai negara. Para pria berdasi duduk di sofa-sofa yang telah disediakan.


Pria itu menahan langkah kakinya. Dia memandang ke segala arah untuk mencari seseorang yang ingin dia temui. Pria berjas abu-abu yang duduk di ujung ruangan dekat arena dansa menjadi perhatian utamanya malan itu. Sekali lagi dia melirik sesuatu yang ada di genggaman tangannya. Dia merapikan penampilannya sebelum melangkah mendekati pria berjas abu-abu yang tidak lain adalah Mr. A.


“Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau sudah mendapat izin? Kenapa kau berdiri di ruangan ini. Selain orang yang di undang oleh Mr. A, di larang masuk,” tegas seorang bodyguard yang bertugas untuk menjaga keamanan di arena pesta tersebut.


“Aku ingin bertemu dengan Mr. A. Katakan padanya aku memiliki informasi penting tentang Austin Clark! Aku yakin dia tidak akan menyia-nyiakan informasi yang aku dapat,” sahut pria yang tidak diketahui namanya itu dengan penuh percaya diri. Bodyguard itu memandangnya dengan tatapan ragu.


“Apa kau membawa senjata? Kami harus memastikan kalau kau tidak membawa senjata apapun yang membahayakan Mr. A,” ujarnya sembari menatap menyelidik.


“Kau boleh memeriksaku sekarang. Aku sama sekali tidak keberatan.” Pria itu tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. Bodyguard itu segera melakukan pemeriksaan. Setelah memastikan tidak ada senjata apapun yang di bawa oleh pria asing tersebut, dia segera melangkah menuju ke arah Mr. A untuk meminta izin.


Tidak lama kemudian, Mr. A terlihat mengacungkan jarinya untuk meminta pria itu mendekatinya. Tanpa pikir panjang, pria itu segera melangkah mendekati Mr. A. Wanita-wanita seksi yang tadinya mengerumuni Mr. A telah pergi karena di usir. Bahkan beberapa pria penting yang tadinya menjadi teman mengobrol Mr. A kini juga memutuskan untuk pergi.


Mr. A menatap tajam pria asing yang datang ke lokasinya. Walau tidak terlalu jelas karena tertutup topeng, tetapi tetap saja semua orang bisa tahu dari sorot mata pria itu.


“Kabar baik apa yang ingin kau sampaikan? Jika informasi yang kau bawa adalah informasi sampah, kau harus siap-siap menanggung akibatnya karena telah mengganggu pestaku!” ujar Mr. A tidak suka.


Pria itu harus menelan salivanya sendiri mendengar perkataan Mr. A. Dia bahkan sampai berkeringat dingin ketika berada di dalam ruangan berAc yang sangat dingin ini. “Foto ini.” Pria itu segera meletakkan foto yang ia dapat di atas meja. Dia menghapus keringatnya lagi sebelum berdiri tegak. Mr. A mengambil foto tersebut. Terlihat foto Austin sedang memegang tangan Norah. Posisi seperti itu seharusnya tidak terlalu penting bagi Mr. A karena dia sendiri sudah tahu dari anak buahnya kalau Austin dan Norah sedang menjalin hubungan. Tetapi, yang menjadi poin utamanya, foto itu di ambil di dalam rumah Leona dan Jordan. Gak sembarang orang bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Jika bisa sampai mengambil foto, sudah pasti pria itu termasuk orang kepercayaan yang bekerja di dalamnya.


“Apa pekerjaanmu?”


“Saya tukang kebun di rumah keluarga Jordan. Sebenarnya saya datang ke rumah itu untuk menggantikan sepupu saya beberapa hari. Saya tidak lama di sana,” jawab pria itu apa adanya.

__ADS_1


“Lalu, dari mana kau memiliki pemikiran untuk memberikan informasi ini?” Walau sudah jelas-jelas pria yang ada di depannya ini ada di pihaknya, tetapi tetap saja Mr. A harus menyelidikinya. Dia tidak mau sampai masuk ke dalam jebakan anak buah Gold Dragon.


“Tuan, saya sudah lama menganggumi anda. Gaya bertarung anda sungguh hebat. Saya pernah sekali bertemu dengan anda ketika anda sedang bertarung dengan segerombolan orang. Saya mengikuti anda sampai sekarang. Saya bahkan sangat membenci Gold Dragon ketika mendapat kabar kalau anda dikeluarkan dari sana. Tuan, jika diizinkan. Saya ingin bergabung dengan anda.” Pria itu berlutut. “Tanpa di bayar juga saya rela.”


“Siapa namamu?” Mr. A mulai tertarik.


“Anda bisa memanggil saya Jhon, Tuan.”


“Jhon. Nama yang bagus. Baiklah, kau di terima. Mulai sekarang kau bagian dari The Bloods.” Mr. A menuangkan minuman anggur ke dalam gelas dan memberikannya kepada Jhon. “Jhon, kau bisa meminumnya sebagai sambutan dariku.”


“Terima kasih, Tuan.” Jhon segera menerima gelas kristal itu dan meneguk isi di dalamnya. “Tuan, ada informasi yang lebih penting lagi yang harus saya sampaikan. Nyonya Leona tidak setuju dengan hubungan Austin dan juga Norah. Dia justru menuduh Austin bekerja sama dengan anda untuk menghancurkan keluarganya. Tuan, bukankah ini kabar baik? Anda bisa memanfaatkan situasi ini untuk membuat nama Austin jelek di mata keluarga Norah.”


“Idemu sangat bagus, Jhon. Sepertinya aku tidak sia-sia menerimamu sebagai anggota baru di the Bloods.”


Mr. A tersenyum penuh arti. Dia meneguk lagi minuman beralkohol itu. “Tanpa perlu mencari mata-mata, kini dia datang sendiri. Sepertinya keberuntungan memang masih ada di tanganku,” gumam Mr. A di dalam hati.


***


“Kau menyebalkan Austin. Sangat menyebalkan. Kenapa kau diam saja? Setidaknya katakan saja satu pembelaan agar mama tidak memandangmu sebagai pria yang jahat. Austin, membujuk Kak Zion agar bisa menerimamu saja bagiku terasa sulit. Sekarang aku harus membuat mama percaya kalau kau tidak bekerja sama dengan Mr. A. Austin, kau bilang akan melamarku, tetapi apa sekarang?”


Norah sangat-sangat kesal melihat Austin. Kini mau tidak mau dia harus mengantar kepergian Austin. Padahal awalnya Norah berpikir kalau pertemuan hari ini bisa membuahkan hasil hingga membuat dia dan Austin mendapat restu dari keluarga. Ternyata bukan restu yang di dapat, justru tuduhan-tuduhan tidak jelas yang membuat Norah semakin pusing.


“Norah, aku akan segera melamarmu. Tetapi, setelah aku berhasil membunuh Mr. A. Kau percaya padaku kan? Aku akan buktikan kepada Zion kalau aku tidak bekerja sama dengan Mr. A. Bahkan aku bisa membuat pria itu tewas di tanganku.”


“Kau sendirian?”

__ADS_1


Austin diam sejenak. Namun, beberapa saat kemudian dia menyentuh pipi Norah dan mengusapnya. “Tadinya aku ingin membawamu bersamaku. Tetapi, setelah aku tahu kalau pekerjaan ini beresiko. Aku mengurungkan niatku. Lagian, keluargamu tidak akan mengizinkanmu pergi bersamaku. Norah sayang, percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja. Aku pasti akan kembali untuk melamarmu. Untuk sekarang, kita pisah dulu ya?” Austin sangat tulus membujuk Norah. Cintanya memang tidak main-main. Hanya saja memang sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga besar Norah. Mengingat, Mr. A memang sangat dekat kaitannya dengan Austin.


“Baiklah. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Aku akan segera datang untuk menolongmu,” sahut Norah tanpa memandang. Sepertinya dia masih kesal.


“Kau marah?”


“Tidak,” sahut Norah masih kesal.


“Sayang ….”


Norah mulai luluh. Terlihat jelas dari sikapnya yang mulai salah tingkah. “Aku hanya tidak mau kau celaka.”


Austin menarik Norah dan memeluknya. Masih bisa di ijinkan untuk bicara bahkan memeluk Norah seperti ini saja sudah keberuntungan besar bagi Austin. Pria itu tidak mau menuntut lebih. Ini memang konsekuensi yang harus ia hadapi karena dia pernah menculik adik kandung Norah.


“Norah, aku tahu kau pasti akan mendengar banyak hal buruk tentangku. Aku minta, setiap kali kau mendengar hal buruk tentangku. Ingat satu prinsip yang sudah aku tanamkan sejak aku bertemu denganmu. Aku akan menjadikanmu istriku, keluargamu menjadi keluargaku. Musuhmu menjadi musuhku. Aku sudah sendiri di dunia ini. Hanya kau satu-satunya kekuatan yang aku miliki untuk saat ini. Tanpamu, aku tidak memiliki arti untuk hidup di dunia ini.”


Norah mengangkat kepalanya dan mengangguk. Wanita itu mencium bibir Austin tanpa peduli kalau ada banyak penjaga yang melihatnya. Mungkin salah satu penjaga itu mungkin akan menyampaikan apa yang terjadi di depan sini kepada Zion. Namun, Norah tidak peduli. Dia juga sudah terlanjur cinta mati sama Austin.


“Aku mencintaimu.”


“Aku sangat mencintaimu.” Austin memeluk Norah dengan erat. Kedua matanya terpejam untuk sesaat. “Aku pasti akan kembali dengan membawa nama baikku.”


Jordan yang menyaksikan pemandangan itu hanya diam tanpa memberikan komentar apapun. Dia tahu bagaimana caranya memperjuangkan seorang wanita. Dia pernah mengalaminya. Bedanya dulu dia mendapat dukungan penuh dari keluarga Leona.


“Aku percaya kalau Austin pria yang baik. Paman Biao tidak akan pernah bohong. Bahkan Paman Biao sendiri yang menjamin kalau Austin Clark pria yang baik dan setia,” gumam Jordan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2