
Austin menahan laju mobilnya ketika melihat begitu banyak mobil dan sepeda motor menghalangi jalan. Padahal dia belum tiba di lokasi Zion berada. Tetapi kini pria itu tidak menemukan jalan untuk menuju ke sana. Kali ini Zion benar-benar di serang secara habis-habisan.
Detik itu Austin sendiri belum sadar dengan apa yang terjadi. Dia hanya berpikir kalau mobil dan sepeda motor itu adalah warga yang kebetulan memenuhi jalanan. Berbeda dengan Lukas yang sudah mulai curiga. Pria itu memperhatikan satu persatu orang yang naik sepeda motor. Dari penampilannya saja Lukas sudah bisa menebak kalau kini Zion dalam bahaya.
"Berapa pasukan Gold Dragon yang berhasil tiba di Las Vegas?" tanya Lukas kepada Austin.
"Sekitar 50an, Opa." Austin memandang Lukas. "Ada apa, Opa? Apa ada yang salah? Segitu juga cukup karena target kita adalah Dominic," jawab Austin dengan santai.
"Kita akan kalah jika menggunakan strategi awal. Sekarang mereka akan mengepung Zion." Lukas segera mengambil ponselnya berharap ada yang bisa di hubungi. Namun, tidak ada yang bisa di hubungi. Termasuk Foster.
"Austin, kita harus mengalahkan orang-orang ini jika ingin bertemu dengan Zion." Lukas menurunkan ponselnya.
"Itu ide yang buruk. Kau lagi sakit!" tolak Lana. "Biar aku saja. Kau tetap di dalam mobil."
Lukas memegang tangan Lana. "Tidak! Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Ya, sekarang kau merasa jauh lebih baik. Tapi, bagaimana setelahnya?" Lana memijat kepalanya. Mengatur emosinya agar tidak sampai berkelahi dengan suaminya. "Mereka jumlahnya sangat banyak. Kita juga tidak akan menang melawan mereka."
"Kita masih memiliki beberapa bom. Kita bisa menggunakannya," sahut Lukas.
Lana tidak memiliki pilihan lagi sekarang. Dia harus mengizinkan suaminya turun tangan agar masalah ini cepet selesai.
"Baiklah." Lana mengambil senjata apinya. "Kita harus ada di antara mereka. Maksudku, sebelum kita bertindak, mereka tidak boleh sampai tahu kalau kita adalah musuh."
"Ya, Oma Lana cerdas. Aku setuju. Dengan begitu kita bisa dengan mudah mengalahkan mereka," ujar Austin penuh semangat.
"Tapi, Lana. Aku tidak mau kau kelelahan." Lukas lagi-lagi terlihat tidak tenang. "Kau diam saja di mobil ya?" bujuknya lagi.
__ADS_1
"Tidak akan!" ketus Lana sebelum turun. Meskipun usianya tidak muda lagi dan tulangnya tidak sekuat dulu, tetapi semangat bertarung wanita itu masih sama. Tekadnya untuk menang selalu ada.
Lukas memijat pinggangnya sejenak sebelum turun dari mobil. Bersamaan dengan itu, Austin mengambil bom lalu memasukkannya ke dalam jaket. Pria itu turun dengan sikap yang sewajarnya agar tidak ada yang curiga.
Lana dan Lukas sudah ada di dalam gerombolan orang-orang yang kini ada di pihak Dominic. Begitu juga dengan Austin. Mereka harus berpencar agar bisa saling memberikan informasi.
"Sekarang Austin. Mobil silver," ucap Lukas kepada Austin melalui telepon.
Austin segera melangkah menuju ke mobil silver. Bersamaan dengan itu, Lana dan Lukas menjauh agar mereka tidak terkena ledakan.
"Ada yang aneh," ujar Lana. Wanita itu berhenti setelah dia dan Lukas sudah cukup jauh dari posisi mobil yang akan meledak. "Mereka semua terlihat seperti orang bodoh. Maksudku, mereka tidak memiliki kemampuan apapun. Ya, aku yakin itu. Terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka. Mereka muncul hanya agar terlihat banyak. Apa kau paham maksudku Lukas?"
Lukas diam memandang wajah Lana. Ternyata pria itu tidak peduli dengan nasip pertarungan mereka. Lukas justru kagum melihat istrinya yang semakin tua semakin cantik.
"Lukas!" ketus Lana kesal. "Kau melamun lagi?"
Lana tersenyum mendengarnya. "Baiklah." Wanita itu memeluk Lukas. Bersamaan dengan itu, bom meledak hingga menewaskan begitu banyak orang. Bukan hanya satu mobil saja. Beberapa mobil yang ada di dekat ledakan ikut meledak. Austin yang sudah berhasil berlindung terlihat puas dengan hasil kerjanya sendiri. Ia mengernyitkan dahi melihat Lana dan Lukas yang berpelukan. "Opa Oma yang romantis," gumamnya di dalam hati.
...***...
Zion dan semua orang yang ada di sana juga kaget melihat ledakan mobil tersebut. Ledakannya memang lumayan Dahsyat Karena merambat ke mobil-mobil yang lain. Kepulan asap dan kobaran api terlihat begitu terang. Zion sendiri tahu kalau itu pasti ulah dari Austin dan juga Lukas. Berbeda dengan Dominic yang kini justru sedang membuat strategi baru untuk memenangkan pertarungan.
"Sekarang saatnya," ujar Dominic kepada seorang pria yang berdiri di dekatnya. Entah perintah apa lagi yang sudah diberikan pria itu. Kini dia lebih memilih pergi daripada lanjut bertarung dengan Zion.
Zion yang tidak terima melihat Dominic kabur, segera berlari mengejar Dominic. Namun langkahnya harus terhenti ketika melihat pria berbadan besar dan kekar menghalangi jalannya.
Foster yang saat itu sudah mendapatkan lawan terlihat kelelahan. Dia ingin membantu Zion namun dia sendiri juga belum berada dalam posisi yang aman.
__ADS_1
"Dasar pengecut! Dia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa uang yang ia miliki," umpat Zion di dalam hati.
Dominic masuk ke dalam mobil sport berwarna merah. Pria itu tersenyum simpul melihat keramaian yang ada di depan sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Zion mengepal kuat tangannya memandang pria-pria berbadan kekar yang kini berdiri di hadapannya. Ketika ingin memukul, tiba-tiba saja Zion mendengar teriakkan seseorang.
"Kakak ipar! Biar mereka menjadi urusanku!"
Zion memandang ke samping dan melihat Austin berdiri di sana. Pria itu melempar kunci mobil kepada Zion lalu Zion segera menangkapnya. "Kejar dia! Jangan biarkan dia pergi dari Las Vegas. Habisi dia!" teriak Austin.
Zion tersenyum bahagia mendengarnya. Pria itu segera berlari menuju mobil yang dimaksud oleh Austin. Ketika pria berbadan kekar itu ingin menangkap Zion, Austin segera bertindak. Dia menembak pria itu hingga mereka memilih untuk menghadapi Austin.
Di dalam mobil, Zion menggenggam stir mobilnya. Dia tadinya ingin langsung melaju cepat. Tetapi melihat Lukas dan Lana ada di dalam pertarungan itu membuatnya kaget bukan main. Seharusnya mereka tidak melibatkan wanita. Termasuk Oma Lana.
"Oma? Kenapa Oma Lana bisa di sini?" Zion memandang ke depan lagi. Jejak Dominic sudah semakin hilang jika dia tidak bertindak cepat. "Semoga saja Oma Lana baik-baik saja." Zion segera menginjak gas mobilnya dan mengejar mobil Dominic di depan sana. Bahkan ketika ada yang berusaha menghalang-halangi jalannya di depan, Zion menabraknya begitu saja tanpa peduli.
Dominic menyadari kalau ada mobil yang kini mengejarnya di belakang. Pria itu menambah laju mobilnya agar tidak sampai tertangkap. Jika masih di wilayah Las Vegas, pria itu sangat tahu dimana jalanan yang bisa ia lalui agar bisa lolos dari kejaran musuh.
"Ini rumahku. Aku tidak akan tertangkap di rumahku sendiri!" ujar Dominic dengan senyuman kecil di bibirnya.
Ponsel pria itu berdering hingga membuatnya segera mengangkat. Memang Dominic tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengangkat telepon. Tetapi dia sangat penasaran. Apa lagi ketika dia tahu kalau panggilan telepon itu berasal dari mansion.
"Ada apa?" ketus Dominic. Dia memandang ke spion sebelum memandang ke depan lagi.
"Mansion kita telah hancur, Bos," ucap seorang wanita di dalam telepon. "Mereka telah meledakkan mansion kita. Mereka muncul dalam jumlah yang banyak dan membawa senjata. Sepertinya penyerangan ini memang sudah di rencanakan. Mereka tahu kalau anda tidak ada di rumah bos!"
Dominic semakin geram mendengarnya. Pria itu tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Tanpa mau menjawab lagi, pria itu melempar ponselnya. "Zion Zein! Kau harus membayar semuanya!"
__ADS_1