
Zion sangat kaget mendengar berita ini. Rasanya dia ingin marah dan menghajar orang-orang yang sudah gagal menjaga Faith di markas Gold Dragon. "Mereka semua memang tidak bisa diandalkan. Seharusnya aku tidak percayakan Faith kepada mereka semua," umpat Zion penuh penyesalan.
"Mama yang sudah membiarkan Kak Faith pergi, kak. Bukan pasukan Gold Dragon."
"Mama? Bagaimana bisa." Zion masih tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu bagaimana cerita lengkapnya. Yang pasti Mama melakukan semua ini demi kebaikan Kak Zion juga. Aku harap Kak Zion tidak salah paham sama mama."
"Sekarang di mana Mama? Aku Ingin menemuinya."
"Mama sudah pulang ke rumah Kak. Mungkin mama sebentar lagi akan kembali ke sini."
"Aku akan temui Mama di rumah," ucap Zion sembari melangkah pergi.
"Tunggu, kak!" cegah Norah setengah berteriak. Wanita itu berlari mengejar Zion. Apa yang mau kakak lakukan kepada Mama? Jangan sakiti hati Mama Kak. Mama sudah cukup sedih melihat keadaan kita."
"Kau tidak perlu mengajariku Norah. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melukai hati Mama. Aku hanya ingin menemui mama dan mendengar penjelasan Mama secara langsung. Bukan untuk menyakiti hatinya. Apa lagi sampai mengecewakannya. Karena aku tahu Mama orang yang sangat bijaksana. Dia sangat menyayangi kita. Apapun keputusan yang diambil pasti itu yang terbaik untuk kita semua. Kau tenang saja." Zion mengusap rambut Norah untuk menyakinkan wanita itu kalau dia tidak akan berbuat ceroboh.
"Baiklah aku juga akan segera pulang ke rumah. Tapi sebelumnya aku ingin mengunjungi Kak Livy dan Kak Abio terlebih dahulu. Aku ingin melihat keadaan mereka setelah itu aku juga akan pulang bersama dengan Austin. Melihat keadaan kita yang sekarang dokter pasti akan mengijinkan kita untuk pulang." Norah tersenyum penuh semangat.
Zion menggangguk. "Baiklah kalau begitu aku pulang duluan." Zion memandang ke arah Austin yang masih berdiri di sana. "Tolong jaga adikku dengan baik. Jangan sampai masalah yang kemarin terulang kembali. Aku tidak mau dia celaka."
"Baiklah, Kak. Serahkan semuanya sama aku. Aku tidak akan mungkin membiarkan calon istriku celaka," jawab Austin dengan sungguh-sungguh.
Zion segera melangkah pergi. Sebelum melangkah jauh pria itu memeriksa saku. Dia baru sadar kalau ponselnya tidak ada di dalam sana. Apalagi senjata. Dia memutar tubuhnya lalu memandang Norah lagi.
__ADS_1
"Di mana barang-barangku?"
"Sepertinya dibawa dan disimpan oleh Mama. Kak Zion bisa minta langsung ke Mama."
Zion tidak berkata-kata lagi. Pria itu segera meninggalkan ruangan tersebut.
Austin segera berjalan menghampiri Norah. Pria itu mengusap punggung Norah dengan lembut. "Tenang saja. Aku yakin Kak Zion pria yang sangat bijaksana. Dia tidak akan mungkin melukai hati mama meskipun dalam keadaan kecewa. Aku tahu ini kabar yang membuatnya cukup terkejut. Bagaimanapun juga perjuangannya akan sia-sia jika Faith tidak ada lagi. Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Sebesar apapun kita berjuang kalau wanita yang kita perjuangkan tidak mencintai kita maka perjuangan itu akan sia-sia."
"Aku merasa kasihan kepada Kak Zion. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Belum ada wanita manapun yang pernah ia dekati apalagi berani mendekatinya tapi justru cinta pertamanya kandas dengan begitu mengecewakan bahkan ketika dia sudah berkorban begitu banyak," ucap Norah dengan wajah sedih.
"Mungkin dia dihindarkan dari satu wanita karena akan dipertemukan dengan wanita yang lebih baik lagi. Aku percaya kalau jodoh nggak kemana. Jika memang kak Faith dan Kak Zion berjodoh mereka pasti akan bertemu lagi. Namun jika mereka tidak berjodoh maka sekeras apapun usaha mereka berdua maka mereka tidak akan pernah bisa bersatu."
Norah mengeryitkan dahinya. "Sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengatakan kalimat yang sama seperti itu. Tapi aku di mana mendengarnya," ucap Norah sembari mengingat-ingat.
"Setiap orang bisa mengatakan kalimat yang sama karena pada kenyataannya memang seperti itu adanya. Bukankah kau bilang kau ingin melihat Livy? Ayo aku temani meskipun ruangannya ada di samping aku tetap harus menjagamu agar terhindar dari bahaya. Apa lagi kau belum bisa bertarung."
...***...
Setibanya di parkiran Zion langsung disambut oleh pasukan Gold Dragon yang memang bertugas di sana. Setelah menunduk hormat pria itu lalu memberikan kunci mobil kepada Zion. Dia terlihat bahagia melihat Zion sudah berjalan seperti biasa dan terlihat jauh lebih segar. Meskipun beberapa bekas luka masih belum sembuh total.
"Bos, Apa tidak sebaiknya saya antar saja? Kondisi Anda masih lemah. Tidak seharusnya anda membawa mobil sendiri seperti sekarang," bujuk pria itu.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak selemah yang kau pikirkan." Zion memandang kunci mobilnya. Pria itu seperti enggan masuk ke dalam mobil hingga membuat pasukan Gold Dragon yang berdiri di hadapannya terlihat bingung.
"Apa ada yang anda tunggu, bos?"
__ADS_1
"Kau tidak berniat untuk menjelaskan sesuatu kepadaku?"
Pasukan Gold Dragon itu terlihat kaget namun dia segera menunduk dengan wajah bersalah. "Maafkan saya bos karena saya tidak memiliki kuasa untuk mengusir Bos Leona pergi dari markas."
Zion tersenyum tipis. "Kau benar. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengusir mama. Tapi bisakah kau ceritakan apa yang mereka bicarakan di sana. Apa Mama sempat memarahi Faith hingga akhirnya Faith sakit hati dan memutuskan untuk pergi atau memang mama sengaja mengusir Faith?x tebak Zion asal saja.
"Tidak ada keributan di ruangan itu, Bos. Mereka berbicara dengan santai. Justru saya melihat Bos Leona banyak menangis daripada Nona Faith. Sepertinya Nona Faithlah yang sudah menyakiti hati bos Leona. Jika anda ingin tahu yang sebenarnya terjadi saya akan katakan sekarang juga. Nona Faith minta saya untuk mengantarnya ke bandara. Padahal tadinya saya pikir dia akan meminta saya untuk mengantarkannya langsung ke rumah. Saya membelikannya tiket menuju ke Las Vegas. Dia meminta saya untuk tidak mengawasinya lagi setelah itu."
"Las Vegas kau bilang?" ujar Zion dengan wajah kaget.
"Bener, Bos. Ini kabar yang buruk bagi anda. Saya tahu itu. Jika boleh saya berkata tapi anda janji tidak akan marah kepada saya.
"Katakan saja," ketus Zion.
"Nona Faith bukan jodoh yang tepat untuk Anda. Dia terlalu egois. Tidak pernah memikirkan apa yang Anda rasakan dan apa yang anda pikirkan. Seberat apapun cobaan yang ia hadapi seharusnya dia tidak bertindak seceroboh ini. Dia harus kembali mengingat perjuangan yang Anda lakukan. Meskipun dia tidak bisa membalas cinta anda setidaknya ia bisa menghargai perjuangan Anda. Tapi ini tidak. Ketika anda sudah mati-matian berjuang, justru dia kembali kepada pria itu. Bukankah secara tidak langsung ini semua hanya permainan? Bisa jadi Dominic dan Nona Faith memang sudah bekerja sama sebelumnya dan membuat kita berantakan."
"Bekerjasama? Maksudmu bagaimana?" Zion semakin serius.
"Kekuatan Gold Dragon dan The Filast sangat kuat jika disatukan. Siapapun akan sulit untuk mengalahkan kita. Tadinya mungkin mereka berniat untuk menghancurkan Gold Dragon dan The Filast secara bersamaan. Namun pada akhirnya ia gagal karena kemampuan yang ia miliki tidak sepadan dengan kita. Setelah mereka kalah Nona Faith memutuskan untuk pergi karena sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk bertahan."
Zion yang tidak suka mendengar penjelasan pasukan Gold Dragon segera mencekik pria itu dengan emosi tertahan. "Faith bukan wanita seperti itu. Dia pergi atas kemauannya bukan karena perintah orang lain."
"Maafkan saya, bos," ucap pasukan Gold Dragon dengan napas tercekat.
Zion segera melepas cekikannya lalu memalingkan wajahnya. "Tidak ada gunanya kita berdebat. Wanita itu sudah tidak ada di sini," ucap Zion sebelum masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya. Pasukan Gold Dragon hanya bisa menggeleng kepala melihat mobil yang dikemudikan Zion melaju dengan begitu cepat.
__ADS_1
"Jangankan, Bos Zion. Aku saja merasa kecewa melihatnya," gumam pria itu di dalam hati.