Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 211


__ADS_3

"Faith, akhirnya kau bangun juga. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Dominic mengambil segelas air yang ada di nakas lalu memberikannya kepada Faith. "Minumlah." Pria itu juga membantu Faith untuk duduk. "Apa kepalamu masih terasa sakit?"


Untuk sejenak Faith sempat melupakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun hanya hitungan 10 detik saja wanita itu kembali ingat apa yang tadi sempat terjadi. Faith memandang wajah Dominic dengan tatapan yang begitu khawatir. "Kak, bagaimana dengan papa? Apa papa baik-baik saja?"


Faith tidak ingat apa-apa lagi ketika Zean dinyatakan kritis. Wanita itu langsung jatuh pingsan karena tidak siap kehilangan ayah kandungnya. Kini dia sangat ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi. Faith tidak mau ada yang ditutupi. Wanita itu sudah siap untuk menerima kabar buruk sekalipun. Meskipun di dalam hatinya dia berharap Dominic memberikan kabar baik untuknya.


"Papa berhasil melewati masa kritisnya. Setelah itu papa langsung dilarikan ke rumah sakit yang ada di Amerika karena rumah sakit di sana adalah rumah sakit terbaik untuk mengobati penyakit papa. Tante Leona dan Paman Jordan yang menemani Papa ke Amerika. Karena keadaannya sangat genting dan kita tidak memiliki waktu lagi, akhirnya aku putuskan untuk menjemput papa setelah kau sadar. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di Dubai. Aku sangat khawatir ketika melihatmu pingsan. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu." Dominic terlihat sedih pria itu menundukkan kepalanya di depan Faith.


"Kakak jangan bicara seperti itu karena itu hanya akan membuatku menjadi sedih." Faith merasa sedikit lebih tenang sekarang. "Aku merasa baik-baik saja setelah aku dengar kalau papa juga baik-baik saja. Semoga saja dokter yang ada di Amerika berhasil mengobati penyakit papa agar papa bisa kembali berkumpul bersama kita."


"Sebagai seorang kakak aku merasa sangat tidak berguna. Sebagai seorang anak laki-laki aku merasa kalau aku ini hanya pembawa sial!" Lagi-lagi Dominic menyalahkan dirinya sendiri.


"Setidaknya papa masih hidup di dunia ini. Kita harus mensyukuri semuanya. Mengambil hikmah dari masalah yang terjadi. Bukan menyalahkan diri sendiri." Faith mengusap tangan Dominic. "Kita bersama-sama akan menjaga papa dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah terjadi. Ke depannya aku tidak mau melihat Kak Dominic menyalakan diri sendiri seperti sekarang."


"Baiklah. Aku janji padamu tidak akan mengatakan kalimat seperti itu lagi." Dominic kembali tersenyum memperlihatkan wajah cerianya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo sekarang kita berangkat ke Amerika menyusul papa. Aku juga ingin segera menemani Papa di sana," ajak Faith tidak sabar. Wanita itu bahkan ingin segera berdiri.


"Pria itu ...." Dominic menahan kalimatnya. "Meskipun aku sangat membencinya, tapi kita tidak mungkin meninggalkannya di Dubai. Kita akan pergi setelah dia kembali."


Faith mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dominic. "Siapa? pria itu siapa?" Faith kembali mengingat Zion. Wanita itu memandang ke arah Dominic lagi. "Apa Kak Zion yang kakak maksud?" tanya Faith untuk memastikan.

__ADS_1


"Dia ke bawah untuk menebus obat. Dokter bilang kau hanya perlu vitamin saja karena terlalu banyak pikiran."


Faith kembali diam. Jika ada di depan Dominic wanita itu tidak bisa membahas Zion terlalu banyak karena dia tahu sampai detik ini kakaknya belum juga merestui hubungan mereka.


Pintu terbuka lebar dan Zion masuk ke dalam sambil membawa obat yang baru saja ia tebus di apotek yang ada di bawah. Pria itu memandang ke arah Faith sejenak sebelum berjalan ke arah nakas. Dia meletakkan obat yang baru saja ia beli di sana.


"Yang berwarna putih harus diminum 30 menit sebelum makan. Lalu yang berwarna merah diminum setelah makan," ucap Zion sambil memandang Faith. Hatinya merasa lega karena Faith sudah terlihat baik-baik saja.


Dominic beranjak dari kursi lalu membantu Faith untuk turun dari tempat tidur. "Sekarang sebaiknya kita tidak perlu buang-buang waktu lagi. Kita harus segera berangkat ke Amerika," ujar Dominic.


"Faith harus segera meminum obatnya," ucap Zion. Pria itu tidak setuju jika mereka harus berangkat ketika Faith belum meminum obatnya.


"Faith bisa meminum obatnya di pesawat. Tidak perlu sekarang!" sahut Dominic tidak setuju. Pria itu segera mengambil obat yang tergeletak di atas nakas lalu memasukkannya ke dalam tas Faith. Ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Zion.


...***...


Di dalam pesawat, Leona tidak mau jauh-jauh dari Zean. Kini kondisi pria itu sangat mengkhawatirkan. Leona tidak mau melewatkannya sedetik pun. Jordan juga tidak mau jauh-jauh dari istrinya. Mereka sama-sama menemani Zena dalam perjalanan menuju ke Amerika.


"Dia pasti akan segera sembuh. Bukankah dia pria yang sangat kuat? Penyakit seperti ini saja pasti bisa ia hadapi. Asalkan Zean semangat untuk sembuh, maka dia akan cepat sembuh," ucap Jordan sambil memandang wajah Zean.


"Awalnya aku marah sama Papa Zeroun karena sudah merencanakan semua ini. Bukankah pertemuan kita dengan Zean juga rencana dari papa. Tapi sekarang aku mengerti kalau Papa menginginkan yang terbaik untuk semuanya. Dia ingin Zion dan Faith bersatu. Dia ingin kita berdua kembali menjalin hubungan baik dengan Zean. Meskipun seingat kita, kita tidak pernah memiliki masalah dengan Zean. Tidak ada juga alasan untuk kita bertengkar. Tapi selama ini terlihat jelas kalau Zean seperti menghindari kita. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa Zean selalu menghindari kita. Bukankah dulu kita sempat memutuskan untuk menjalin hubungan baik?" Leona mengeryitkan dahinya.

__ADS_1


"Zean yang memutuskan semua itu. Bukan kita."


"Ya, kau benar. Tetapi jika keadaannya seperti sekarang pria itu tidak bisa keras kepala lagi. Aku juga tidak rela jika Zean harus pergi secepat ini. Apapun caranya akan aku lakukan asal dia bisa kembali sembuh." Leona memandang ke arah Jordan. Wanita itu ingin memastikan kalau suaminya tidak cemburu karena Leona terkesan sangat perhatian terhadap Zean.


"Apa yang kau lihat?" tanya Jordan sambil mengernyitkan dahinya. "Aku tahu aku ini masih tampan meskipun sudah tua. Tapi kau tidak perlu memandangku seperti itu," ucap Jordan lagi hingga membuat Leona tertawa geli. Wanita itu segera merangkul lengan suaminya sebelum mengecup pipinya dengan mesra.


"Terima kasih karena kau selalu mengerti apa yang aku pikirkan. Tetapi bolehkah aku bertanya satu hal. Kau harus menjawabnya dengan jujur."


"Baiklah. Cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan padaku."


"Sejak kita tiba di Dubai dan kita bertemu dengan Zean sampai detik ini. Apa pernah kau merasakan cemburu ketika aku terlalu akrab dengan Zean. Jawabanmu tidak akan mempengaruhi segalanya. Kita akan tetap seperti ini," ucap Leona lagi agar suaminya mau berkata jujur.


"Aku ini suamimu. Aku sangat mencintaimu. Jangankan dengan Zean. Bahkan dengan Zion saja terkadang aku cemburu. Tapi aku tahu kalau cinta tentunya harus saling percaya. Tidak perlu lagi ada kecurigaan di dalam hati karena itu akan membuat renggang hubungan itu sendiri. Kedekatanmu dengan Zean masih di ambang batas, untuk apa aku cemburu?" jawab Jordan dengan ekspresi yang serius.


"Benarkah?" tanya Leona kurang suka.


"Jangan kaitkan ketidakcemburuanku dengan rasa cinta yang ada di dalam hatiku. Karena asal kau tahu saja kalau rasa cintaku ini tidak ada tandingannya. Aku akan tetap mencintaimu sampai akhir hayatku."


"Seharusnya Zion yang mengatakan kalimat semanis itu kepada Faith. Kenapa kau yang sudah tua ini masih memikirkan kata-kata yang begitu romantis. Kau ingin aku melayang." Leona mencubit suaminya.


Jordan tersenyum lalu memeluk istrinya dengan begitu erat. "Jangan ditanya lagi karena setelah bertemu dengan Zean dan melihatnya dalam keadaan sakit aku ingat satu hal. Dokter juga sempat bilang kalau kondisimu bisa saja memburuk. Kau harus menjaga kesehatanmu. Aku juga tidak siap untuk kehilanganmu Leona. Aku sangat mencintaimu. Bisakah kau berjanji untuk tidak meninggalkanku. Aku tidak bisa membayangkan hidup sendirian seperti Zean sekarang. Zean termasuk hebat karena ia bisa bertahan hingga bertahun-tahun tanpa pasangan hidupnya. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika hal itu terjadi pada diriku sendiri. Aku tidak akan siap dan tidak akan pernah siap. Mungkin saja nanti aku bisa jadi gila."

__ADS_1


Dengan mata berkaca-kaca Leona segera memeluk Jordan lagi. Sebenarnya wanita itu juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh suaminya namun ia menutupinya.


"Aku mencintaimu Jordan," ucap Leona sebelum memeluk suaminya lebih erat lagi.


__ADS_2