Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 96


__ADS_3

Rasa sakit di sekujur tubuh Norah membuat dirinya terpaksa untuk bangun. Samar-samar dia kembali mengingat penyiksaan yang dia alami sendiri. Suara seorang wanita di sampingnya, membuat semua ingatan itu hilang. Norah memandang ke sisi kanan hingga melihat semua orang yang ia sayang telah berdiri di sana. Wajahnya terlihat lega karena pada akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan keluarganya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa kakimu masih sakit?" tanya Leona sedih.


Norah menggeleng dengan bibir tersenyum. Dia berusaha menggerakkan sedikit tubuhnya. Namun rasa sakit itu justru semakin terasa dan menyiksa. Hingga tanpa sadar norah meringis kesakitan. Hal itu membuat panik semua orang.


"Sayang bagian mana yang sakit?" tanya Leona dengan wajah yang sangat khawatir.


Norah Mengeryitkan dahinya ketika menyadari kalau tangannya telah diinfus. Kedua kakinya dipenuhi dengan perban yang masih baru. Bukan hanya kedua kakinya saja, tetapi beberapa tubuhnya juga ditutupi oleh perban termasuk bagian dahinya. Bisa dibilang sekarang tubuhnya seperti mumi.


"Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku jadi seperti ini?" gumam Norah di dalam hati.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" Lagi-lagi suara Leona membuat Norah tersadar. Dia memandang ke arah lain untuk mencari keluarganya yang lain. Hanya ada Daisy, Jordan, Lukas, Lana dan juga Katterine di sana. Leona tidak menemukan kakak kandungnya dan juga Austin.


"Apa yang terjadi Ma? Kenapa Norah bisa ada di rumah sakit?"


"Sayang, kau tidak mengingat apa yang terjadi?"


"Tidak, Ma." Norah ingin menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Namun Leona menahan pundaknya hingga dia kembali berbaring.


"Dokter melarangmu bergerak. Tetap berbaring sayang. Kau masih dalam masa pengobatan. Mereka melukaimu dengan sangat parah. Untung saja kau tidak sampai patah tulang."


"Mereka?" Lagi-lagi Norah seperti orang linglung.


"Ya, anak buah Mr. A. Livy yang sudah menolongmu Norah," sahut Katterine. Dia sangat bangga karena putrinya yang menjadi malaikat penolong keluarga Leona dan Jordan kali ini.


"Lalu, dimana Kak Zion?"


"Kak Zion ...." Leona sendiri tidak mau sampai Norah kepikiran. Wanita itu pasti akan memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur jika tahu kakaknya dan kekasihnya di rawat di ruang yang berbeda.


"Kak Zion ...."


Tiba-tiba pintu terbuka. Zion muncul dengan setelan yang sudah rapi. Entah sejak kapan pria itu melepas selang infusnya. Yang terpenting sekarang dia terlihat baik-baik saja dan tidak Membuat Norah merasa bersalah.


"Kakak," ujar Norah dengan senyuman.


"Bagaimana keadaanmu?" Dari suaranya saja seharusnya Norah tahu kalau kakaknya sedang sakit. Tetapi, karena memang penampilan Zion memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja, maka tidak ada sedikitpun rasa curiga di dalam pikiran Norah.


"Apa kakak yang membantu Kak Livy menyelamatkanku dari Mr. A?" tanya Norah tidak sabar. "Kak, apa yang terjadi di pulau itu? Aku sama sekali tidak mengingatnya."


"Kau tidak perlu tahu apa yang terjadi yang terpenting sekarang kau baik-baik saja," jawab Zion tanpa mau menjelaskan detail peristiwa yang sudah mereka alami.


"Norah, Tante keluar dulu ya. Nanti Tante balik lagi."

__ADS_1


"Baik, tante. Terima kasih sebelumnya." Katterine mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu.


"Kak, aku tahu Mr. A sangat hebat. Aku ingin tahu bagaimana caranya Kakak bisa menerobos masuk ke pulau itu. Penjagaan di pulau itu sangat ketat bahkan orang-orang yang ada di sana memiliki senjata yang canggih dan kamera CCTV di mana-mana. Belum lagi dengan bom di bawah laut yang sengaja mereka pasang untuk menghalangi musuh bisa tiba di Pulau mereka."


"Dari mana kau mengetahui semua itu?" tanya Zion dengan alis saling bertaut. Tadinya dia pikir Norah tidak tahu apa-apa. Tidak di sangka, adiknya itu justru tahu segala strategi yang di pasang oleh Mr. A dan anak buahnya.


"Aku sempat berhasil kabur dan menguping pembicaraan mereka. Sayangnya aku tertangkap lagi. Luka-luka ini aku dapat karena aku berusaha kabur. Kalau saja aku diam di tempat penangkapan itu mungkin aku tidak akan sampai seperti sekarang."


"Sayang, maafkan mama karena sudah membiarkanmu menderita seperti ini." Leona menjadi sedih mendengar jawaban putrinya. Dia tidak menyangka kalau wanita hebat seperti dia tidak berhasil melindungi putrinya dari bahaya hingga bisa sampai celaka seperti ini.


"Andai kemarin aku bisa membawa pria itu hidup-hidup, mungkin sekarang aku sudah mengkulitinya. Rasanya kematian saja belum setimpal atas perbuatan yang ia lakukan. Dia pria yang sangat kejam dan tidak memiliki perasaan. Tidak tahu terima kasih!" Zion lagi-lagi emosi ketika mengingat perbuatan Mr. A.


"Kak, apa Austin juga membantu kakak menyelamatkanku?" tanya Norah dengan nada takut-takut. Dia tidak mau sampai Zion emosi karena dia mengusik nama Austin.


"Ya. Dia berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawamu. Sepertinya aku telah salah menilainya selama ini. Dia sangat cocok untuk menjadi pendampingmu Norah."


Norah tersenyum bahagia. "Kakak tidak sedang menghiburku kan?" tanya Norah untuk memastikan lagi kalau kakaknya itu tidak sedang bercanda.


"Kau bisa tanya mama dan papa. Aku tidak pernah membohongimu, Norah."


"Terima kasih, kak." Norah terlihat sangat bahagia. "Apakah aku bisa bertemu dengan Austin sekarang?"


Zion terdiam. Austin masih belum sadar. Tetapi, memberi tahu keadaan Austin yang sebenarnya hanya akan membuat Norah menjadi kepikiran.


"Sayang, Austin pasti akan datang. Dia harus menyelesaikan beberapa urusan. Secepatnya dia akan datang menemuimu. Kau tidak boleh sedih ya." Leona mengusap rambut Norah.


Daisy mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering. Wanita itu mengeryitkan dahinya melihat pesan singkat yang ada di layar ponselnya.


"Apa kita bisa bertemu?"


Pesan itu berasal dari Foster. Daisy sangat bahagia karena pria yang selama beberapa hari ini dia rindukan kini akhirnya memberi kabar.


"Bisa, dimana?" tanya Daisy balik.


"Di depan. Aku ada di rumah sakit."


Daisy menurunkan ponselnya. Dia memandang Jordan yang duduk di sampingnya. "Pa, Daisy keluar sebentar ya," pamitnya.


"Mau ke mana?"


"Cari makanan ringan. Di sini sangat membosankan," dusta Daisy.


Jordan hanya mengangguk saja. Pria itu lanjut mengobrol dengan Lukas.

__ADS_1


Daisy segera pergi meninggalkan ruangan itu. Leona melirik ke arah pintu sejenak sebelum memandang Norah lagi. Wanita itu juga ingin fokus dengan kesehatan Norah. Karena saat ini memang kondisi Norah membutuhkan perhatian khusus.


Ketika Daisy tiba di depan pintu ruangan tempat Norah dirawat. Foster sudah berdiri di sana. Tanpa banyak kata, Foster segera memegang tangan Daisy dan mengajak wanita itu untuk menjauh. Daisy terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan kekasihnya. Sepanjang jalan wanita itu terus saja mengukir senyuman manis.


"Kak, Kakak ke mana saja? Daisy kangen sama kakak," ucap Daisy dengan nada yang manja.


"Daisy, ada hal penting yang harus aku katakan sekarang juga."


Melihat ekspresi Foster yang serius membuat debaran jantung Daisy menjadi tidak karuan. Harusnya pria itu memeluknya karena rindu. Tetapi ini tidak, pria itu justru menatapnya dengan wajah yang begitu tegang.


"Kak sebenarnya apa yang ingin Kakak katakan? Cepat katakan?" tanya Daisy dengan rasa penasaran.


"Daisy ... Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai di sini."


Daisy mematung mendengar perkataan Foster. Rasanya semua ini hanya mimpi buruk.


"Putus, maksudnya?" tanya Daisy lagi.


"Ya," jawab Foster singkat.


"Tapi kenapa Kak! Bukankah kita baik-baik saja? Apa yang membuat kakak memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini."


"Tidak ada alasannya Daisy. Aku hanya merasa kalau diantara kita tidak ada kecocokan lagi.


"Kak, jangan seperti ini. Aku gak mau putus dari kakak." Daisy memegang tangan Foster dengan wajah memelas. Wanita itu berharap kekasihnya itu masih mau merubah keputusannya dan memperbaiki hubungan mereka agar baik-baik saja.


Belum sempat Foster mengeluarkan kata, tiba-tiba pria itu sudah didorong oleh Zion hingga terbentur dinding rumah sakit. Tidak hanya mendorong Foster saja, tetapi Zion juga menghajar pria itu dengan penuh emosi.


"Kak, hentikan! Apa yang sudah Kakak lakukan!" ucap Daisy sambil menangis.


"Jangan membela pria b******* seperti dia. Aku hanya memberi pelajaran kepadanya karena sudah berani menyakiti hati adikku dan membuat Adikku menangis," sahut Zion dengan geram. Rasanya pukulan saja belum cukup untuk membayar air mata Daisy yang jatuh.


"Kak. Ini hanya salah paham saja. Kak Foster hanya bercanda. Kami sering seperti ini," teriak Daisy sambil menarik tangan Zion agar tidak memukul poster lagi.


"Tidak Daisy. Aku tidak sedang bercanda, keputusanku sudah bulat," jawab Foster tanpa mau membela dirinya.


Hati Daisy semakin hancur mendengarnya. Dia memegang tangan Zion sambil menunduk sedih. "Sebaiknya sekarang juga Kak Foster pergi dari sini atau kak Zion akan membunuh kakak," usir Daisy.


Foster merapikan penampilannya sebelum pergi meninggalkan Daisy dan Zion. Pria itu tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin menjelaskan alasan Dia memutuskan hubungannya dengan Daisy . Zion yang masih emosi hanya memandang kepergian Foster dengan rahang yang mengeras.


"Biarkan dia pergi kak!" ucap Daisy kepada Zion. "Walaupun kakak tetap menghajar dia, ini semua tidak akan membuatnya Kembali Padaku." Daisy Memeluk Zion dengan erat sambil menangis sejadi-jadinya. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta dan pertama kalinya juga dia patah hati. Masih sangat tidak menyangka kalau kisah cinta yang tadinya ia pikirkan akan berjalan dengan manis kini kandas dengan begitu menyakitkan.


"Tidak, Daisy! Aku tidak akan diam saja. Aku akan memberi pelajaran kepada orang-orang yang sudah berani menyakiti adikku," gumam Zion di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2