
"Kak, aku capek!" Daisy berhenti dan menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan yang hijau. Wanita itu sudah tidak sanggup berlari lagi. Pagi ini sudah cukup baginya untuk latihan. Daisy sekarang ingin kembali ke kamar tidurnya dan segera berbaring.
Norah menghentikan larinya mendengar teriakan sang adik. Wanita itu memutar tubuhnya dan menghela napas panjang melihat Daisy sudah tergeletak di atas permukaan rumput.
"Daisy, ini belum ada setengahnya dan kau bilang tidak sanggup?"
"Kak, kenapa harus latihan lari? Kenapa tidak latihan memukul atau menembak saja. Toh kalau ada musuh bukankah dia trik itu yang dibutuhkan untuk melindungi diri?" tanya Daisy dengan kapas tersengal-sengal. Dia meneguk air minum yang ia bawa sambil menunggu Norah.
"Bertarung dan menembak adalah latihan lanjutan. Sekarang kau perlu latihan dasar dulu. Daisy, kau harus kuat. Kau tidak boleh jadi gadis manja lagi. Kehidupan ini sangat keras. Kau tidak bisa terus-terusan bergantung sama kakak dan juga kak Zion!"
"Aku punya Kak Foster. Dia pasti akan selalu melindungiku kak," jawab Daisy dengan penuh percaya diri.
Norah tersenyum kecil. Dia berjalan mendekati Daisy. Wanita itu duduk di samping adiknya yang masih berbaring. "Kita tidak bisa berharap dengan orang lain. Kita harus bisa melindungi semua orang. Jangan bersembunyi di balik kata wanita. Kita harus jadi wanita yang hebat, Daisy. Wanita yang bisa melindungi semua orang yang kita sayangi."
__ADS_1
"Kak, tapi aku tidak bisa. Kakak tahu sendiri kalau dari kecil aku mudah sakti. Capek sedikit sakit." Daisy memasang wajah cemberut sambil membayangkan dirinya waktu kecil dulu.
"Itu tidak bisa dijadikan alasan. Daisy, kenapa kau mudah sekali menyerah? Berjuang dulu baru menyerah!" ketus Norah.
"Kakak!" teriak Daisy. Wanita itu segera beranjak dan berlari mengejar Zion. Tanpa pikir panjang dia memeluk Zion dengan begitu erat. "Akhirnya kakak datang. Aku yakin, kakak pasti akan datang untuk menolongku." Daisy memandang wajah Zion. "Kak Norah menyiksaku kak. Dia memintaku untuk berlari mengelilingi lapangan ini. Bukankah seharusnya aku tiduran saja di kamar?"
"Lalu, kenapa kau berhenti di sini? Bukankah kau seharusnya berlari bersama Norah?"
"Kak!" protes Daisy.
Zion mengeluarkan pistol kecil dari saku dan memberikannya kepada Daisy. "Kau bisa menggunakannya?"
Daisy memegang dan memperhatikan pistol berikut kecil tersebut. Wanita itu menggeleng setelahnya. "Tidak kak. Tapi seperti sangat mudah."
__ADS_1
"Sangat mudah?" Zion mengeryitkan dahinya dengan eskpresi tidak percaya.
"Ya. Bukankah tinggal tarik dan tembak?"
"Tidak semudah itu Daisy. Kau butuh sebuah trik untuk menggunakannya. Karena jika sampai salah, kau sendiri yang akan celaka!" sahut Norah. Wanita itu memandang Zion dengan tatapan kesal. Dia masih marah sama kakaknya karena sudah mengusir Austin kemarin. "Karena Kak Zion sudah di sini, sepertinya aku tidak di butuhkan lagi. Kak Zion lebih tahu latihan seperti apa yang cocok untukmu." Norah menepuk pelan pundak Daisy. "Berjuanglah. Kau pasti bisa!"
Daisy memajukan bibirnya. Tiba-tiba ponsel yang ia bawa berdering. Daisy segera mengangkat panggilan masuk itu ketika melihat nama Esme di layar ponselnya.
"Hallo Esme. Ada apa?"
"Daisy, bisakah kau membantuku? Biasakan sekarang kau temui aku?"
Daisy mengangguk setuju. "Tentu saja. Aku akan ke sana. Kirimkan alamatnya," jawab Daisy penuh semangat.
__ADS_1