
Dominic baru saja tiba di rumah. Pria itu langsung lari menuju ke kamar. Langkahnya terlihat sangat terburu-buru. Pria itu bahkan tidak membuat suara sedikitpun karena tidak mau bertemu dengan Zean. Di depan perutnya ada sebuah jaket hitam yang ia gunakan untuk menutupi sesuatu. Tingkah laku Dominic saat itu memang sangat mencurigakan. Dominic tidak mau bertemu dengan siapapun. Termasuk pekerja yang ada di rumah itu.
Setibanya di dalam kamar, Dominic langsung mengunci pintu kamarnya. Pria itu berjalan menuju ke kamar mandi. Jaket yang yang sejak tadi terlihat seperti sedang ia peluk segera ia lempar ke arah pakaian kotor. Setelah jaket itu disingkirkan, terlihat jelas kalau kini Dominic terluka parah. Ada sayatan belati di perutnya.
Dominic mengatur napasnya sebelum membuka kemeja putih yang saat itu ia kenakan. Luka sayatan itu terlihat dengan begitu jelas. Tetapi Dominic tidak mau pergi ke rumah sakit. Dia tidak mau membuat Zean khawatir. Pria itu juga merasa yakin kalau lukanya akan segera sembuh. Meskipun dia tidak pergi ke rumah sakit.
Setelah membersihkan luka di perutnya dengan alkohol, Dominic langsung mengobati lukanya itu dengan cairan antiseptik. Tidak lupa Dominic menutup luka itu dengan perban agar lukanya tidak bersentuhan dengan baju yang nantinya ia kenakan.
"Lain kali aku harus lebih berhati-hati lagi menyimpan berlian itu agar tidak sampai dicuri lagi," gumam Dominic di dalam hati.
Bahkan malam ini Dominic tidak mandi. Pria itu hanya membersihkan wajahnya, tangan dan kaki. Setelah memastikan tangan dan kakinya berada sih, Dominic segera keluar dari kamar mandi. Dominic memakai baju lengan pendek sebelum berjalan ke tempat tidur. Pria itu mematikan ponselnya agar bisa istirahat dengan tenang.
"Semoga saja besok pagi luka ini sudah jauh lebih baik," gumam Dominic. Setelah itu dia beristirahat di atas tempat tidur.
Sambil memandang langit-langit kamarnya, Dominic mulai merasa perih pada luka di perutnya. Namun sekuat mungkin pria itu menahannya. Perlahan Dominic memejamkan matanya sebelum akhirnya dia tertidur dengan lelap.
Ternyata Dominic baru saja pulang dari Nevada. Pria itu baru saja selesai bertarung. Seseorang berhasil mengambil berlian yang ia simpan di salah satu Kasino miliknya yang ada di Nevada. Karena merasa tidak terima kalau barang berlian berharganya dicuri, pria itu membawa pasukannya untuk menyerang.
Awalnya Dominic berhasil menang melawan musuhnya tersebut. Tetapi di tengah pertarungan justru ia dikagetkan dengan sebuah ruangan yang berisi orang-orang yang disekap. Dominic bisa saja pergi saat itu karena barang yang ia cari sudah berhasil ia temukan. Namun entah kenapa dia merasa tidak tega hingga akhirnya ia berusaha untuk melepaskan tahanan yang berada di lorong gelap tersebut.
Baru setengah jalan Dominic sudah kepergok. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita itu kembali bertarung. Meskipun ia harus mendapatkan oleh-oleh sebuah luka diperutnya, tetapi Dominic merasa sangat puas karena ia sudah berhasil membebaskan para tahanan itu. Bahkan yang membuat Dominic kaget, salah satu dari tahanan itu ada yang sudah 10 tahun di penjara di tempat tersebut. Sisanya lima atau dua tiga tahun saja.
"Aku berharap orang-orang yang ditahan itu bisa kembali menemukan keluarga mereka. Aku bisa bayangkan betapa bahagianya keluarga mereka jika mengetahui kalau ternyata mereka masih hidup," gumam Dominic di dalam hati. Secara perlahan pria itu memejamkan matanya sebelum tertidur lelap.
...***...
Letty memeluk Miller dengan penuh kerinduan. Mata wanita itu sampai bengkak karena terlalu banyak menangis. Padahal sudah berulang kali Miller membujuk letty agar tidak menangis lagi. Tetapi tetap saja Letty lagi-lagi harus meneteskan air mata karena dia merasa sangat syok.
Miller dikabarkan hilang di saat Letty dan musuhnya sedang bertarung habis-habisan waktu itu. Letty melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Miller terjebak di sebuah gedung yang akan meledak. Saat gedung itu meledak Letty sudah tidak memiliki harapan lagi. Dia hanya bisa menangis dan merelakan kepergian suaminya. Wanita itu bertekad untuk mengurus Elyna sendirian dan merahasiakan masalah ini dari semua keluarga yang ia miliki. Setiap kali ditanya ke mana keberadaan Miller, Letty hanya menjawab kalau Miller telah tewas di dalam sebuah peperangan kepolisian.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau hilang bertahun-tahun dan sekarang tiba-tiba saja muncul? Apa selama ini kau tidak merindukanku dan juga Elyna. Bahkan kami sudah terbiasa hidup tanpamu karena kau menghilang terlalu lama." Letty sebenarnya ingin sekali memarahi suaminya itu sampai besok pagi. Tetapi dia tidak tega.
"Aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepadamu. Seseorang menyuntikkan cairan aneh di leherku hingga membuatku lumpuh dan tidak bisa lompat dari gedung itu. Tadinya aku pikir dia sengaja menjebakku agar aku meledak bersama dengan gedung itu. Tetapi tidak, dia justru membawaku ke tempat yang sangat sunyi. Aku bahkan tidak tahu di negara mana itu. Di sebuah lorong aku disekap. Kaki dan tubuhku dirantai. Mereka bahkan tidak memberiku makan sama sekali. Hanya ada sebuah cairan yang mereka minumkan ke dalam mulutku setiap tiga hari sekali. Awalnya aku sempat berpikir kalau secepatnya aku pasti akan mati. Tetapi nyatanya tidak. Justru aku bisa hidup sampai detik ini. Mereka menangkapku dan beberapa orang lainnya untuk dijadikan bahan percobaan." Miller merasa mual ketika membayangkan nasipnya beberapa tahun terakhir ini.
"Lalu bagaimana caranya agar kau bisa lolos dan pulang ke rumah? Jika hari ini kau bisa kabur, Kenapa tidak mencobanya dari dulu? 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Aku sudah mencarimu kemana-mana tetapi tidak juga menemukan jejakmu dan itu membuatku sangat kecewa." Lagi-lagi Letty bicara lebih banyak dari Miller.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa lolos dan bisa pulang ke rumah. Tiba-tiba saja tadi malam ada seorang anak muda yang sangat jago bela diri. Dia datang untuk membebaskan kami semua. Dia sangat berani menentang para musuh. Atas keberaniannya itu, dia berhasil menolong kami semua. Tetapi sayangnya dia harus terluka. Ada yang berniat untuk menusukkan pisau ke perutnya. Dia berhasil menghindar hingga akhirnya pisau itu hanya menyayat sebagain kecil kulit perutnya. Aku awalnya ingin menolong pria itu. Tetapi kondisiku juga sangat lemah. Jadi aku putuskan untuk kabur dan meninggalkannya sendirian di sana. Aku harap anak muda itu bisa kabur agar dia tidak menggantikan posisiku yang disekap sebelumnya." Terlihat jelas kalau Miller telah menyesal karena tidak menolong orang yang sudah menolongnya. Tetapi memang mau bagaimana lagi? Keadaan saat itu sangat tidak menguntungkan baginya.
__ADS_1
"Beritahu aku di mana lokasinya. Aku akan meminta Elyna untuk melakukan penyerangan. Kita harus balas dendam. Aku tidak terima jika suamiku diperlakukan seperti ini!" ujar Letty penuh semangat.
Miller mengusap rambut Letty sebelum mengecup pucuk kepala wanita itu. "Ya. Tapi tidak sekarang. Setidaknya beri aku kesempatan untuk memulihkan kondisiku. Aku juga tidak mau membiarkan putriku menyerang mereka sendirian. Aku harus ikut bersama dengannya. Begitupun denganmu. Kita bertiga akan menyerang mereka untuk balas dendam. Aku juga ingin membebaskan beberapa tawanan yang belum berhasil bebas tadi."
Letty kembali diam. Wanita itu segera menjauh dari Miller ketika melihat Elyna muncul. Putrinya itu duduk di sofa lalu memandang Letty dan Miller secara bergantian.
"Aku sudah tahu siapa yang membebaskan Daddy," jawab Elyna dengan wajah tidak suka. ternyata tanpa disuruh Wanita itu sudah melakukan penyelidikan lebih dulu.
Letty terlihat sangat antusias mendengarnya. "Siapa sayang? Cepat katakan kepada Mommy. Mommy ingin tahu sebenarnya siapa anak muda yang sudah berani menyelamatkan Daddymu? Kita sangat berhutang budi padanya. Jika kau juga tahu alamat anak muda itu, sebaiknya kau segera menghubunginya dan katakan terimakasih. Kita harus menjalin hubungan baik dengannya."
Elyna menghela napas kasar sebelum menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa. "Dia adalah Dominic. Dari semua pria yang ada di dunia ini kenapa harus dia lagi?" ketus Elyna kesal. Kali ini wanita itu tahu, kalau tidak ada yang direncanakan. Dan semua ini memang sudah takdir dari sang pencipta langsung.
"Dominic?" celetuk Miller. Pria itu juga membenarkan posisi duduknya. "Apa kau memiliki fotonya? Coba perlihatkan kepada Daddy. Daddy harus memastikan sendiri kalau memang benar pria itu pria yang sudah menolong Daddy itu bernama Dominic."
Elyna mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto Dominic. "Elyna yakin mata-mata yang Elyna kirim tidak akan mungkin salah," ucap Elyna lagi.
Miller segera mengambil ponsel Elyna lalu memandang foto Dominic. Pria itu tersenyum sambil mengangguk. "Ya. Dialah yang sudah menolong Daddy. Tanpa dia Daddy tidak akan duduk di sini bersama dengan kalian. Apa kau mengenalnya Elyna? Jika memang kau mengenalnya dan pernah menjalin hubungan dekat dengannya, cepat hubungi dia sekarang juga. Daddy Ingin bertemu dengannya."
"Maaf, Dad. Tetapi aku tidak bisa mengabulkan permintaan Daddy. Sayangnya Kami adalah musuh!"
Miller memandang ke arah Letty untuk menagih sebuah penjelasan. Tentu saja pria itu lebih percaya dengan apa yang dikatakan istrinya daripada yang dikatakan oleh putrinya sendiri.
"Lalu bagaimana cerita selanjutnya? Cepat katakan padaku." Miller semakin tidak sabar.
"Ceritanya sangat panjang. Sebaiknya kau istirahat saja dulu di kamar. Aku akan membuatkan teh hangat dan membawakanmu obat." Letty memandang ke arah Elyna yang kini memejamkan mata sambil bersandar di sofa. "Elyna, mulai besok kau harus masuk ke dalam les memasak. Mommy tidak mau lagi kau menolaknya. Mommy ingin kau berubah menjadi wanita yang feminim!"
"Hemm," sahut Elyna tidak bersemangat.
Miller segera beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke kamar. Sedangkan Letty pergi ke dapur. Wanita itu ingin membuatkan teh hangat dan membawa obat yang harus diminum oleh Miller malam ini.
Setibanya di dapur, Letty kembali melamun. Sebenarnya ada rasa bangga di dalam hatinya ketika dia mendengar kabar kalau Dominic lah yang sudah berhasil membebaskan Miller. Tetapi Letty tahu kalau Elyna pasti akan marah besar jika dia lagi-lagi menjodohkan Elyna dengan Dominic.
"Sepertinya aku harus mengundang Dominic ke rumah ini. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Tapi bagaimana jika Elyna menolak?" Letty diam sejenak sembari menghidupkan kompor dan memasak air panas. "Masalah itu akan aku pikirkan lagi nanti yang penting Dominic datang ke rumah ini. Jika Dominic tidak mau, biar kami yang datang ke Las Vegas!"
...***...
Elyna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu terus memikirkan apa yang dikatakan oleh mata-mata yang ia kirimkannya tadi. Awalnya Elyna sendiri juga syok ketika ia mendengar kalau orang yang sudah berhasil menolong Ayah kandungnya adalah Dominic. Padahal jelas-jelas sejak awal di dalam hati Elyna sudah berucap kalau siapapun yang akan menolong ayahnya dia akan menemuinya untuk mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Sial! sial sial. Waktu itu aku berencana untuk menguasai Las Vegas tetapi ternyata Dominic yang menjadi pemimpinnya. Lalu tiba-tiba saja aku balapan dengan mobil misterius ketika keluar ternyata mobil itu dikendarai oleh Dominic. Dan sekarang saat aku menyelidiki orang yang sudah berhasil membebaskan Ayah kandungku ternyata orang yang membebaskan itu juga Dominic. Kenapa terus-terusan dia? Apa tidak ada orang lain di dunia ini selain dia. Kalau sudah seperti ini, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin menemuinya dan mengucapkan terima kasih. Dia pasti akan besar kepala nanti."
Elyna membenarkan posisi tidurnya. Wanita itu miring ke kanan lalu memandang ke arah jendela.
"Tapi tanpa Dominic sampai detik ini aku tidak akan pernah tahu kalau ternyata Daddy masih hidup. Kesehatan Daddy jauh lebih berarti dari segalanya. Kali ini aku tidak bisa memungkirinya lagi. Dominic benar-benar berjasa bagi keluarga kami dan aku harus menemuinya untuk mengucapkan terima kasih. Dalam waktu dekat aku akan menemui Dominic dan mengajaknya ke rumah ini agar bisa bertemu dengan Daddy. Setelah itu akan aku pikirkan lagi rencana baru untuk menyerang orang-orang yang sudah menyekap Daddy selama ini." Elyna mulai memejamkan mata. Wanita itu merasa sangat kelelahan.
...***...
Las Vegas
Zean merasa bingung ketika Dominic tidak keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi. Pria itu segera beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke arah kamar Dominic. Zean tidak mau sarapan sendirian di situ. Dia juga selalu mengkhawatirkan keadaan Dominic ketika Dominic terlambat untuk sarapan pagi.
Setelah tiba di depan kamar Dominic, Zean segera mengetuk kamar pria itu hingga berulang kali. Namun tidak juga ada jawaban dari dalam kamar. Hal itu membuat Zean semakin khawatir. Ditambah lagi ia melihat ada darah di handle pintu kamar Dominic.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Zean khawatir. Pria itu segera berlari menuju ke laci yang menyimpan kunci cadangan kamar Dominic. Dengan cepat Zean mengambil kunci itu dan segera membuka kamar putranya.
"Dominic, Apa kau baik-baik saja?" tanya Zean khawatir. Pria itu segera menghampiri putranya yang tergeletak di atas tempat tidur.
Karena Dominic tidak juga memberikan respon, Zean segera memegang dahi pria itu. Betapa kagetnya Zean ketika mengetahui kalau suhu tubuh Dominic sangat tinggi. Pria itu demam.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kau diam saja ketika sakit?" Zean segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter. Pria itu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Dominic. Ketika melihat pakaian yang dikenakan Dominic basah Zean terlihat curiga. Pria itu memperhatikan pakaian Dominic dengan seksama. Betapa kagetnya Zean ketika tahu kalau yang membuat pakaian Dominic basah adalah darah. Pria itu segera membuka baju yang dikenakan oleh Dominic dan kini pria itu bisa melihat jelas kalau ada luka yang begitu parah di perut Dominic.
"Dominic, bangunlah! Apakah kau bisa mendengar suara papa?" Zean berusaha untuk terus saja membuat Dominic bangun. Namun pria itu tetap saja tidak memberikan respon. Karena melihat kondisi Dominic yang sangat parah, akhirnya Zean memutuskan untuk membawa putranya itu ke rumah sakit. Dia ingin putranya segera ditangani oleh tim medis yang profesional.
...***...
Setibanya di rumah sakit, kedatangan Zean dan Dominic segera disambut oleh suster yang berjaga di depan pintu rumah sakit. Mereka segera membawa Dominic menuju ke ruang IGD.
"Dok, tolong selamatkan Putra saya. Luka di perutnya sepertinya sangat parah. Tolong lakukan apapun yang terbaik agar Putra saya segera sembuh!" pinta Zean kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.
"Kami pasti akan memberikan yang terbaik kepada pasien. Anda bisa menunggu putra Anda di sini dulu, Tuan." Dokter itu segera masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan.
Zean memandang ponselnya. Pria itu ragu antara menghubungi Faith atau tidak. "Faith baru saja pindah rumah. Aku tidak mau membuatnya khawatir." Zean kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu mengurungkan niatnya untuk menghubungi Faith agar Faith tidak khawatir.
Dari ujung lorong tiba-tiba Zean melihat Letty, Miller dan Elyna muncul di sana. Pria itu awalnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tetapi semakin dekat keberadaan Letty semakin nyata. Wanita itu terlihat khawatir.
"Bagaimana keadaan Dominic? Apa dia baik-baik saja?" tanya Letty dengan wajah yang tidak tenang.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa tahu kalau sekarang Dominic ada di rumah sakit?"