
"Sejak kau berencana untuk bertarung dengan Kak Dominic!" ketus Faith sebelum memutar tubuhnya dan pergi. Sepertinya wanita itu sangat kesal ketika mendengar ide konyol yang direncanakan oleh Zion. "Bisa-bisanya dia memiliki pemikiran seperti itu," umpat Faith kesal.
"Faith, tunggu!" teriak Zion. "Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi!" Pria itu segera beranjak dari kursi yang ia duduki lalu berlari mengejar Faith. Sedangkan pasukan Gold Dragon yang sejak tadi menemaninya ia tinggalkan begitu saja.
"Bos, apa benar sekarang musuh kita sudah habis? Kelakuan Anda ini bisa menjadi kelemahan anda sendiri," gumam pria itu di dalam hati.
"Faith, tunggu!" Pada akhirnya Zion berhasil menangkap dan menahan tubuh Faith agar tidak berlari lagi. "Dengarkan dulu penjelasanku."
"Apa yang kau katakan tadi sama sekali bukan solusi! Ide itu justru akan membuat permusuhanmu dengan Kak Dominic semakin parah. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi." Faith lagi-lagi memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa marah jika sambil memandang wajah Zion.
"Iya aku tahu aku salah. Maafkan Aku." Zion melepas tangan Faith. Dia juga masih memiliki rasa segan hingga tidak sembarangan memegang tangan Faith.
"Sebenarnya Kak Dominic sudah merestui hubungan kita. Hanya saja dia masih ingin melihat keseriusanmu," ucap Faith lagi.
"Dari mana kau mengetahuinya?" Zion kurang percaya.
"Tadi saat Aku ingin masuk ke ruangan papa, Aku mendengar obrolan antara Kak Dominic dan juga Papa di sana. Terdengar jelas kalau Kak Dominic bertanya kapan kita menikah. Lalu Papa bilang kalau lebih cepat lebih baik. Kak Dominic saat itu tidak mau banyak protes lagi. Sepertinya dia sudah merestui hubungan kita. Bukankah jika dia masih belum setuju, dia seharusnya membantah perkataan
papa?"
Meskipun senang mendengarnya. Tapi tetap saja itu tidak bisa dijadikan pegangan yang kuat bagi Zion. Karena memang sejak pertama kali bertemu dengan Dominic, pria itu merupakan orang yang sangat misterius dan sifatnya sangat sulit untuk di tebak.
"Tiba-tiba saja aku memikirkan sebuah cara. Aku tidak tahu kau akan setuju atau tidak mendengar ideku ini."
Faith memiringkan kepalanya memandang Zion. "
"Ide apa lagi yang Kak Zion pikirkan?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita carikan saja Kak Dominic jodoh agar dia tidak lagi mengusik hubungan kita?"
"Itu memang ide yang bagus. Tetapi Kak Dominic pria yang sangat dingin. Sama seperti Kak Zion. Harus wanita yang benar-benar spesial yang bisa mengerti sifat aslinya. Aku saja ketika pertama kali bertemu dengan Kak Zion sempat menilai kalau Kak Zion ini adalah pria yang sombong dan tidak memiliki hati. Bukankah dari ekspresi wajahnya saja Kak Zion sudah terlihat seperti pria yang tidak ramah? Sama dengan Kak Dominic. Kalian sangat cocok menjadi kakak adik."
"Sepertinya aku tahu wanita mana yang cocok untuk Dominic. Aku akan menghubungi Mama dan menceritakan masalah ini ke mama. Kita berdoa sama-sama ya berharap wanita itu belum menemukan jodohnya. Agar kita bisa menjodohkannya dengan Dominic."
"Bagaimana kalau rencana ini gagal?" Faith terlihat takut.
"Tidak masalah. Yang penting kita sudah berjuang."
Zion segera memegang kedua tangan Faith lalu memandangnya. "Apapun yang terjadi, aku harap kau tetap seperti ini. Mendukungku!"
Faith hanya tersenyum malu-malu mendengar perkataan Zion. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku akan selalu mendukung Kak Zion karena aku tidak mau kehilangan Kak Zion," jawabnya yang hanya berani di dalam hati saja.
Daisy berputar-putar di depan cermin ketika mencoba baju baru yang dibelikan oleh Zion. Gaun berwarna putih itu memasang sangat pantas ditubuhnya. Nanti malam Daisy dan Foster berencana untuk makan malam. Wanita itu merasa senang karena dia tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan gaun yang akan ia kenakan nanti malam.
"Kak Zion memang selalu tahu apa yang aku butuhkan." Daisy mengambil ponselnya yang berdering. Wajahnya semakin berseri melihat Norah menghubunginya. "Halo, Kak."
"Daisy, apa kabar? Kau tidak pulang? Kakak sudah siapkan oleh-oleh untukmu," ucap Norah dari dalam telepon.
"Seminggu lagi aku baru bisa pulang kak. Aku senang mendengar kabar kalau bulan madu kakak dan juga Kak Austin berjalan lancar. Semoga saja aku segera memiliki keponakan yang menggemaskan." Daisy duduk di sofa. Rasanya tidak cukup sebentar jika mengobrol dengan Norah.
"Sudah. Namanya Harumi," jawab Norah penuh percaya diri.
"Secepat itu?" ucap Daisy dengan wajah tidak percaya. "Apa maksud kakak, ketika nanti kakak memiliki anak kakak akan memberinya nama Harumi?"
__ADS_1
"Tidak, Daisy. Harumi sudah ada di rumah. Kau harus bertemu dengannya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Sangat cocok denganmu."
Daisy semakin bingung. Dari apa yang dia tahu kakaknya baru saja menikah dan bulan madu. Bagaimana mungkin sudah memiliki anak?
"Kak, kakak sedang bercanda ya?"
"Maka dari itu, kau harus pulang agar bisa bertemu Harumi," ujar Norah lagi. Terdengar tawa Norah dikejahuan sana.
"Hemm, baiklah. Secepatnya aku akan meminta Kak Foster untuk mengantarkanku pulang. Awas saja kalau kakak mengerjai ku!" ancam Daisy.
"Ya, kakak tunggu."
Hening sejenak. Norah dan Daisy sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kak, aku kangen sama kakak."
"Kakak juga sangat merindukanmu. Nanti ketika kakak sudah pindah rumah, kita pasti akan saling merindukan. Kau harus sering-sering mengunjungi rumah kakak ya."
Daisy mengeryitkan dahi. "Kakak mau pindah kemana?"
"Kami akan tinggal di rumah GrandNa. Saat bulan madu semalam kami sempat menginap di rumah itu. Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri. Kakak merasa sangat nyaman hingga tidak rela meninggalkan rumah itu."
"Bukankah sejak kecil kakak sering ke rumah itu? Jelas saja kakak merasa nyaman berada di sana," sahut Daisy.
"Ya. Kau benar. Oh ya, nanti kakak telepon lagi. Kakak harus bermain dengan Harumi. Bye bye."
Daisy memandang ponselnya dengan mata menyipit. "Apa Harumi ini seorang manusia? Jangan-jangan seekor kucing."
__ADS_1