
"Abio, kau dari mana saja?" tanya Livy khawatir. "Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu lesu seperti ini." Livy menarik tangan suaminya dan membawanya untuk duduk di sofa bersama-sama.
"Aku baru saja berkunjung ke kamar Oma Shabira. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang setelah mendengar kabar kalau Oma Shabira baik-baik saja. Maafkan aku karena tidak berpamitan denganmu. Tadi aku ingin menunggumu sampai selesai mandi. Tapi karena kau terlalu lama, aku tidak sabar dan memutuskan untuk pergi saja. Toh aku pergi ke tempat yang tidak jauh dari sini. Jadi, aku tidak akan pergi terlalu lama." Abio berusaha untuk menyakinkan Livy agar tidak sampai salah paham.
"Aku sama sekali tidak masalah jika kau pergi untuk mengunjungi Oma Shabira. Aku juga senang ketika tahu kalau Oma Shabira baik-baik saja. Tetapi sekarang keadaan sedang tidak baik-baik saja. Kabarnya Tante Leona marah-marah dikamarnya. Sepertinya terjadi sesuatu di sana."
"Apa yang sudah menyebabkan Tante Leona marah-marah? Aku yakin pasti ada alasannya." Abio membenarkan posisi duduknya agar bisa melihat wajah Livy lebih jelas lagi.
"Aku juga tidak tahu pasti. Tadinya aku ingin bertanya sama Norah. Tetapi sejak tadi Norah tidak juga keluar dari kamarnya. Aku juga tidak melihat Kak Zion. Aku tidak ada melihat batang hidungnya. Pria itu menghilang. Dia entah pergi ke mana. Padahal jelas-jelas hari ini adalah hari penting adik kandungnya tapi sempat-sempatnya dia pergi."
"Tadi aku juga sempat mencari keberadaan Kak Zion. Apa benar dia pergi meninggalkan pulau?"
"Daripada terus menebak-nebak sebaiknya kita datang saja ke kamar Norah dan bertanya langsung. Kita harus cepat. Kita harus bisa mendapatkan informasi sebelum resepsi dimulai." Livy beranjak dari sofa dengan penuh antusias.
__ADS_1
Abio mengangguk setuju. "Baiklah. Ayo sekarang kita berangkat ke kamar Norah," ajak Abio. Pria itu menawarkan lengannya lalu mengajak Livy melangkah menuju ke kamar tempat Norah dan Austin berada.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di kamar Norah karena posisi kamar Norah hanya beberapa meter saja dari pintu kamar mereka. Para pelayan terlihat berlalu lalang dan memberi hormat. Mereka semua menjadi sibuk karena pesta pernikahan akan berlangsung sebentar lagi.
Belum sempat Livy memanggil Norah dan mengetuk pintunya, tiba-tiba pintu kamar itu sudah terbuka. Norah berdiri di ambang pintu dengan gaun hitam yang sangat mewah. Di belakang wanita itu ada Austin yang terlihat sudah rapi.
"Kak Livy? Apa yang Kak Livy lakukan di sini? Kenapa Kakak tidak bersiap-siap di ruangan Kakak?" Norah merasa kalau penampilan Livy belum cukup rapi. Meskipun mereka masih memiliki waktu untuk bersiap. Tetapi tidak seharusnya Livy jalan-jalan seperti sekarang.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Apa kau masih memiliki waktu untuk mengobrol denganku?" tanya Livy balik.
Norah membawa Livy dan Abio masuk ke dalam kamarnya. Padahal sudah jelas-jelas mereka ingin pergi menuju ke lokasi resepsi tetapi karena melihat Livy ada di sana, Norah memilih untuk mengobrol terlebih dahulu. "Silahkan duduk kak." Norah menunjuk sofa yang ada di depannya sebelum duduk berdampingan dengan Austin.
"Ini tentang Kak Zion," celetuk Livy tanpa mau banyak basa-basi. "Sebenarnya Kak Zion pergi ke mana? Aku mendapat kabar kalau Tante
__ADS_1
Leona marah besar ketika tahu kalau Kak Zion pergi meninggalkan pulau."
"Kak Zion berangkat ke Las Vegas. Dia tidak memberitahu siapapun selain Daisy. Daisy juga merahasiakan semua ini karena tidak mau acara pernikahan kita jadi kacau. Aku sendiri juga tidak tahu dari mana mama mendapatkan informasi ini karena Daisy tidak menceritakannya kepada Mama. Sekarang mama terlihat sedih ketika tahu kalau Kak Zion berangkat ke Las Vegas hanya untuk bertemu dengan Kak Faith. Mama tidak mau Kak Zion menjadi sakit hati dan kecewa. Mama sudah sangat membenci Kak Faith sejak kejadian waktu itu. Aku sendiri juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku tahu kalau Kak Zion sedang memperjuangkan wanita yang ia cintai. Sedangkan Mama tidak mau anaknya sakit hati lagi."
"Pilihan yang sangat sulit bagi Kak Zion. Aku berharap semoga masalah ini berakhir."
"Oh iya, bagaimana kabar Oma Shabira? Apa beliau baik-baik saja?" tanya Norah kepada Abio.
Abio menggangguk. " Oma Shabira sudah terlihat jauh lebih baik. Namun ia harus menggunakan kursi roda jika ingin bergabung dengan kita di lokasi resepsi pernikahan nanti," jawab Abio apa adanya.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya Aku harap semua orang yang hadir di pesta pernikahan kita ini semua dalam keadaan sehat. Aku tidak mau ada yang kurang apa lagi ada yang sampai jatuh sakit. Sebenarnya aku merasa sangat kecewa juga ketika tahu Kak Zion lebih mementingkan Kak Faith daripada pesta pernikahanku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku juga bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Kak Zion. Bukankah cinta memang terkadang membuat kita berubah menjadi bodoh? Sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih lagi," ujar Norah sambil memandang Austin. Pria itu lagi-lagi menggenggam tangan Norah dengan bibir tersenyum.
"Sebaiknya kita tidak perlu menyalahkan siapapun untuk saat ini. Kita doakan saja semoga Kak Zion baik-baik saja di sana dan bisa pulang dengan selamat. Jika pun dia pulang dengan membawa Faith, aku harap semua akan tetap baik-baik saja. Semoga Tante Leona mau menerima Faith apa adanya. Tidak mempermasalahkan perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka."
__ADS_1
"Ya, semoga saja seperti itu." Norah memandang ke arah lain. Meskipun dia berusaha tenang tetapi sebenarnya di dalam hatinya masih begitu kacau. "Aku tahu kalau saat ini Mama sangat kecewa kepada Kak Zion. Tapi apa yang bisa aku perbuat? kajian yang akan menikah kajianmu akan menjalani kehidupannya nanti. Bukan kami. Kami tidak bisa banyak mengaturnya," gumam Norah di dalam hati.