Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 77


__ADS_3

Zeroun tidak memberikan respon apapun ketika Kenzo mengajaknya bicara. Padahal tadinya Kenzo merasa sangat percaya diri kalau dia bisa membuat Zeroun mengeluarkan suara. Sayangnya, usahanya harus gagal.


Sama seperti Shabira dan juga Leona. Mereka semua tidak ada yang berhasil membuat seorang Zeroun Zein kembali ceria. Minimal bicara. Pria itu hanya duduk diam seperti orang bisu dan lumpuh. Tidak melakukan gerakan apapun bahkan makan dan minum saja tidak.


"Jika dia terus seperti ini, mau tidak mau kita harus memasangkan infus di tangannya. Dia butuh energi. Darimana dia bisa mendapatkan energi itu jika tidak mau makan, tidak mau minum bahkan tidak mau bergerak." Kenzo memijat dahinya ketika rasa pusing menghujam kepalanya. Pria itu masih berusaha memikirkan cara agar Zeroun mau kembali seperti biasanya.


"Apapun yang terbaik. Kami setuju. Asalkan papa baik-baik saja," ucap Leona sedih. Dia memijat lembut lengan Zeroun dengan mata berkaca-kaca. "Pa, bangun Pa. Jangan seperti ini. Kami juga menjadi semakin berat melepas kepergian Mama Serena jika papa tidak mau bicara seperti ini. Tolong pa. Bangun."


Leona menundukkan kepalanya dan menangis di lengan Zeroun. Suara pintu terbuka. Katterine dan Oliver baru saja tiba di kediaman Zeroun. Ada banyak sekali masalah yang di buat oleh Livy hingga mereka tidak bisa segera berangkat ke rumah Zeroun ketika mendapat kabar. Walau mereka masih menyempatkan waktu untuk menghadiri pemakaman Serena. Tetapi mereka segera pulang hingga tidak tahu apa yang terjadi pada Zeroun.


"Daddy," lirih Katterine sedih. Dia segera berlari menghampiri Zeroun. Meninggalkan Oliver begitu saja.


Leona segera menyingkir. Dibantu dengan Jordan, wanita itu berdiri di dekat Shabira dan Kenzo. Kini hanya Katterine yang ada di dekat Zeroun. Semua orang yang ada di sana berharap kalau kedatangan Katterine bisa membuat Zeroun kembali bersemangat lagi.


"Dad, apa yang terjadi? Kenapa Daddy pucat sekali?" Katterine memandang ke arah Jordan. "Kak, apa yang sudah menyebabkan Daddy seperti ini? Apa Daddy salah makan? Apa Daddy keracunan. Kak, tolong jawab!"


"Katterine, papa Zeroun tidak mau bicara dengan siapapun setelah pemakaman mama Serena," sahut Leona. Dia tahu kalau suaminya itu tidak akan bisa menjawab.


"Pemakaman?" Katterine beranjak dari posisinya. "Kak Leona, apa maksudmu? Apa kau mau bilang kalau Daddy depresi karena kepergian mama Serena, gitu?"

__ADS_1


"Katterine, aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang terjadi ya seperti itu. Papa zero tidak mau bicara dengan siapapun setelah mama Serena meninggal."


"Kak, aku yakin kalau tidak -"


"Katterine, Zeroun sudah tua. Sepertinya dia belum siap kehilangan satu persatu sahabatnya. Dia merasa sendiri. Setelah Kak Emelie, Daniel dan sekarang Kak Seren. Sepertinya Daddy kalian takut kalau akan ada yang menyusul setelah ini. Bagaimanapun juga, kehidupan di dunia pasti akan berakhir. Cepat atau lambat. Dokter bilang, ini hanya depresi ringan. Masih bisa disembuhkan. Kau tidak perlu panik. Di usia kami yang sudah setua ini, memang pikiran seperti itu selalu saja menganggu."


Shabira angkat bicara. Dia tidak mau sampai ada salah paham antara Leona dan juga Katterine. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara. Seharusnya bekerja sama untuk membuat Zeroun kembali bangkit. Bukan mempermasalahkan hal sepele seperti itu.


Katterine dan Leona sama-sama diam. Mereka tidak mau saling menyalahkan lagi. Jordan mendekati Katterine. Dia menepuk pundak wanita paruh baya itu dengan pelan.


"Kami harus pulang. Malam ini kau dan Oliver menginap di sini ya? Temani paman Kenzo dan juga Tante Sabrina."


Katterine mengangguk. "Baiklah." Dia memandang ke Zeroun lagi. Sedangkan Jordan segera membawa Leona pergi meninggalkan kamar itu. Mereka juga ingin menemui Zion untuk menanyakan kabar terbaru mengenai Norah.


Austin menyusun sendok dan garpu yang baru saja di cuci oleh Norah. Mereka tidak memiliki pelayan atau siapapun untuk membantu. Mereka di rumah itu sedang bersembunyi. Austin tidak mau mengambil resiko. Untuk saat ini, dia tidak mau percaya dengan siapapun selain Paman Tano. Semua orang yang selama ini bekerja di bawah pimpinannya bisa saja berkhianat dan bekerja sama dengan Mr. A jika sudah menyangkut soal uang.


"Oke, selesai." Norah mencuci tangannya sebelum mengeringkannya. Wanita itu tersenyum melihat Austin yang masih belum selesai menata sendok dan piring pada tempatnya. "Mau aku bantu?"


"Aku bisa melakukannya. Aku tidak mau terburu-buru karena tidak mau ada yang pecah," sahut Austin tanpa memandang.

__ADS_1


Norah melipat kedua tangannya dan bersandar di meja dapur. Wanita itu lagi-lagi tersenyum manis melihat wajah Austin.


"Jika aku bekerja sebagai seorang pelayan, mungkin aku sudah di pecat sejak tadi." Austin meletakkan piring yang terakhir. Pria itu memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Norah. "Aku tidak memiliki bakat di bidang bersih-bersih. Walau terlihat sepele, ternyata pekerjaan ini sangat melelahkan. Bahkan sangat membosankan," sambungnya lagi.


"Ya ... kau memang tidak pantas menjadi pelayan."


"Lalu, aku pantasnya jadi apa?" tanya Austin bingung.


"Jadi suamiku," sahut Norah dengan senyuman malu-malu.


Austin sangat syok mendengarnya. Pria itu tidak menyangka kalau Norah bisa mengatakan kalimat seperti itu. Ini kode keras kalau dia sudah di pilih Norah untuk menjadi suaminya. Austin merasa sangat bahagia. Tetapi, pria itu masih belum menemukan cara untuk berdamai dengan Zion.


"Kenapa kau diam saja? Kau tidak setuju?"


"Norah, aku akan melamarmu di depan keluargamu. Tetapi, mungkin perjalanan cinta kita tidak seindah yang kita bayangkan. Entah seperti apa batu yang harus kita lewati nanti. Apa kau mau bersabar? Walau tidak dalam waktu dekat, tetapi aku berani berjanji padamu. Kalau kita akan menikah."


Norah diam sejenak. Dia sendiri sempat bingung dengan apa yang baru saja dia katakan. Entah kenapa walaupun baru saja bertemu dan belum lama mengenal Austin, tetapi dia sudah mantap untuk menjadikan Austin suaminya.


"Baiklah. Aku akan sabar menunggumu."

__ADS_1


"Terima kasih, Norah." Austin menggenggam tangan Norah. "Sekarang ayo kita ke sana. Sepertinya langit malam santai cerah. Kita bisa ngobrol di taman itu sambil menunggu Paman Tano tiba."


Norah hanya mengangguk saja. "Semoga saja Paman Tano berhasil menemukan cara untuk membuat Kak Zion merestui hubungan kami," gumam Norah di dalam hati.


__ADS_2