
"Queen Star?"
"Ya, Bos. Mereka menamai geng mereka dengan nama Queen Star," jawab pria yang kini duduk di hadapan Dominic.
Dominic meneguk minuman beralkohol didepannya hingga habis. Pria itu benar-benar stress saat ini karena lagi-lagi yang harus dihadapi adalah geng mafia. Jika sudah memutuskan untuk menguasai Las Vegas, sudah pasti geng mafia yang akan berhadapan dengannya ini bukan geng mafia biasa. Dominic kembali ingat akan kekalahannya waktu bertarung dengan Zion waktu itu. Bahkan sampai detik ini masih belum bisa ia lupakan. Tetapi sekarang justru ada geng mafia baru lagi yang mengusik ketenangannya.
"Lalu, wilayah mana saja yang sudah berhasil dia kuasai?" Dominic ingin tahu.
"Lima Kasino dan rumah Anda, Bos," jelas pria itu apa adanya.
"Jadi 5 Kasino kita sudah berada di bawah pimpinannya? Kenapa bisa semudah itu. Apa mereka tidak takut denganku lagi?" protes Dominic tidak terima. "Apa mereka tidak melakukan perlawanan saat pemimpin Queen Star ini menyerang mereka?"
"Bos, bukankah sebagian anggota yang kita miliki adalah orang-orang yang selalu kita bayar? Pemimpin Queen Star ini tidak perlu membayarnya karena siapa yang tidak patuh dengan perintahnya, maka dia tidak segan-segan untuk membunuhnya. Hal itu yang membuat pasukan kita lebih memilih untuk berada di bawah pimpinan Queen Star. Karena mereka sangat yakin kalau Anda pasti akan kalah jika bertarung dengan Big Boss Queen Star." Pria itu berusaha menjelaskan agar Dominic mengerti.
"Lalu apa yang harus kita lakukan agar kita bisa mempertahankan Las Vegas ini?" tanya Dominic lagi.
"Bos, anda tadi sudah mengirim 5 orang untuk menyelidikinya. Lalu mereka tertembak dan anda gagal mendapatkan informasi. Bukankah dari situ sudah jelas kalau tidak ada yang bisa kita lakukan lagi! Kemampuan mereka di atas rata-rata kemampuan kita."
"Kau salah. kita belum melakukan strategi yang sebenarnya. Dia tidak akan menang." Dominic terlihat sangat percaya diri meskipun ia sadar kalau kemampuan bertarungnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Queen Star.
"Bos, apa anda masih memiliki uang? Kita akan bayar pembunuh bayaran untuk melawan mereka. Bukankah dengan seperti itu akan menguntungkan bagi kita? Atau anda punya rencana lain?"
"Apa kau lupa kalau adikku Faith akan segera menikah dengan Zion yang tidak lain adalah pemimpin Gold Dragon. Jika aku meminta bantuan Zion untuk mengalahkan Queen Star ini, kita pasti akan menang. Zion juga tidak akan menolak karena dia pasti tidak mau aku mencabut restuku. Sebelum dia berhasil menikah dengan Faith, sepertinya aku masih bisa untuk memanfaatkannya menolongku."
Pria yang kini berada di depan Dominic mengangguk setuju. "Anda benar, Bos. Kenapa tidak kepikiran sejak tadi? Kalau begitu, sekarang juga cepat hubungi Tuan Zion. Katakan padanya kalau Anda membutuhkan bantuannya."
Dominic tidak langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Zion. Tiba-tiba saja ekspresi wajah pria itu menjadi ragu.
"Bos, apa lagi yang anda tunggu? Cepat hubungi Tuan Zion. Semakin cepat semakin baik," desak pria itu tidak sabar.
"Sekarang Zion adalah adik iparku. Itu berarti sebagai seorang kakak, aku tidak boleh menjebaknya. Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Zion, Faith pasti akan sedih. Aku tidak mau sampai Faith patah hati," jawab Dominic tidak bersemangat.
"Bos, tapi ini demi Las Vegas. Anda akan kehilangan Las Vegas. Bukankah lebih baik anda kehilangan adik ipar daripada harus kehilangan Las Vegas? Las Vegas ini sudah menjadi bagian dari hidup anda." Pria yang ada di depan Dominic berusaha untuk memaksa Dominic agar segera menghubungi Zion dan meminta bantuan Gold Dragon.
Dominic menggeleng kepalanya tidak setuju. "Tidak, kau salah besar. Aku lebih baik kehilangan Las Vegas daripada harus kehilangan keluarga. Aku akan menghadapi pemimpin Queen Star dengan kemampuan yang aku miliki. Meskipun harus mati di tangan pemimpin Queen Star aku rela, yang penting aku sudah pernah berjuang untuk wilayah kekuasaanku. Aku bukan seorang pengecut yang bersembunyi dan lebih memilih untuk meminta bantuan orang lain. Sudah aku putuskan. Aku akan melakukannya sendiri. Terserah kau saja mau ikut atau tidak. Yang penting keputusanku ini sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat lagi!" Dominic beranjak dari kursi tersebut. "Malam ini aku ingin istirahat sampai pagi. Jangan ganggu aku dan jangan bangunkan aku," ucap Dominic lagi sebelum masuk ke dalam kamar. Pria yang menjadi tangan kanan Dominic itu hanya bisa menghela napas kasar di posisinya berada.
"Sebenarnya apa yang sudah merasuki Bos Dominic? Kenapa sekarang dia berubah menjadi pria baik seperti ini?" gumam pria itu di dalam hati.
...***...
__ADS_1
Pagi ini merupakan Pagi yang sangat sibuk bagi Elyna, Dominic dan juga Zion. Meskipun mereka bertiga berada di tempat yang berbeda, tetapi mereka memiliki pemikiran yang sama. Memenangkan sebuah pertarungan.
Sampai detik ini Zion sendiri masih belum tahu kalau Elyna lah yang akan menjadi musuhnya. Memang selama ini baik Zion maupun Elina tidak pernah bertemu. Hanya Livy yang mengetahui bagaimana wajah Elyna. Beberapa tahun yang lalu mereka pernah bertemu. Itu juga hanya sebentar saja.
Setelah selesai mandi, Elyna memutuskan untuk sarapan pagi. Dia merasa senang karena bisa beristirahat di dalam sebuah rumah mewah yang sama sekali tidak ia beli dengan uang pribadinya. Semua pengawal dan pelayan yang bekerja di rumah itu justru terlihat patuh atas perintah Elyna seolah-olah memang Elyna yang menjadi majikan mereka sejak dulu.
"Aku mau semua barang yang berhubungan dengan Dominic disingkirkan dari rumah ini," perintah Elyna sebelum duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Baik, Bos," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah tangan kanan Elyna sendiri sekaligus tangan kanan Letty. "Oh iya, satu lagi. Apa sampai detik ini kalian belum mendapat kabar tentang Dominic? Aku ingin tahu di mana dia bersembunyi setelah rumah pribadinya aku kuasai." Elyna meminum jus jeruk yang ada di meja sebelum memakan roti. Wanita itu merasa puas dengan hasil kerjanya. Meskipun awalnya harus bersusah payah, tetapi pada akhirnya ia bisa berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kami belum berhasil menemukan tempat persembunyian Dominic, Bos. Kita juga harus sabar. Bagaimanapun juga wilayah ini sempat menjadi wilayah kekuasaannya. Pasti dia sudah menyiapkan tempat persembunyian rahasia jika suatu saat ada musuh yang menyerang. Tapi saya yakin tidak lama lagi ia akan keluar dan menemui Anda. Dia tidak mungkin diam saja melihat kediamannya dihuni oleh orang lain." Wanita itu menuang air putih ke dalam gelas kosong yang ada di dekat Elyna.
Elyna mengangguk setuju sambil mengunyah makanannya. Wanita itu melirik ponselnya yang berdering. "Kenapa Mama lagi-lagi menghubungiku!"
Karena tidak mau berdebat dengan ibu kandungnya, Elyna segera menolak panggilan telepon tersebut dan langsung mematikan teleponnya. Elina beranjak dari kursi setelah ia rasa perutnya kenyang.
Wanita itu memandang lagi tangan bawahannya yang kini masih berdiri di sana dengan posisi siap siaga.
"Aku ingin jalan-jalan ke salah satu Kasino milikku. Aku ingin lihat, berapa pendapatan Kasino itu tadi malam."
"Baik, bos," ucap wanita itu sebelum menemani Elyna melangkah menuju ke arah pintu.
Setibanya di depan rumah Elyna mematung melihat Dominic sudah berdiri di sana dengan senjata api di tangannya. Meskipun pasukan yang mengawal pria itu hanya berjumlah 20 orang, tetapi Elyna tetap waspada. Karena dia tidak pernah menyepelekan sekecil apapun kemampuan lawannya.
Akan tetapi Elyna tidak mau seperti itu. Dia juga ingin melakukan pertarungan dengan Dominic untuk membuktikan kepada semua orang kalau memang dialah yang pantas untuk menjadi pemimpin di Las Vegas.
"Aku sangat kaget ketika mengetahui kalau musuhku kali ini seorang wanita. Aku akui kalau kau sangat cantik. Tapi sayang sifatmu sangat tamak sekali. Bisa-bisanya kau memiliki pemikiran untuk menguasai wilayah orang lain. Bagaimana jika hal itu terjadi pada dirimu sendiri?" sahut Dominic dengan emosi tertahan. Kini justru posisinya terbalik. Elyna yang berada di rumahnya sedangkan dia di luar seperti pengemis.
"Tentu saja aku akan melawan dan mengusir orang yang berniat untuk menguasai wilayahku," jawab Elyna tanpa beban.
"Ya, itu memang solusi yang bagus. Tetapi aku sadar kalau untuk melawanmu dengan pasukanku yang sedikit ini, aku tidak akan mungkin menang. Bagaimana kalau kita bertarung satu lawan satu? Yang menang berhak untuk menguasai Las Vegas!" tantang Dominic dengan penuh percaya diri.
Elyna tertawa kencang mendengar tantangan yang diucapkan oleh Dominic. Belum bertarung juga wanita itu sudah merasa percaya diri kalau dialah yang akan menang. "Anda yakin akan melawan saya?"
"Kenapa tidak? Saya dan Anda sama-sama manusia. Apa yang harus ditakutkan di sini? Saya akan berjuang dengan sekuat tenaga yang saya miliki untuk mengusir pemberontak seperti anda. Bukankah awalnya anda itu dikirim oleh salah satu saingan bisnis saya untuk membunuh saya? Saya rasa keputusan ini sama sekali tidak merugikan anda."
"Oke, baiklah. Di mana kita lakukan pertarungannya? Aku sudah tidak sabar untuk mengalahkanmu!" ucap Elyna menantang.
Tiba-tiba saja Dominic melangkah maju. Pria itu menunjuk rerumputan yang berada tidak jauh dari posisi mereka berdiri. "Di sana," ucap Dominic sambil menunjuk halaman yang dipenuhi oleh rerumputan.
__ADS_1
"Oke!" jawab Elyna. Tanpa mikir-mikir lagi, wanita itu segera melangkah ke sana tanpa membawa senjata satupun.
Dominic mengukir senyuman penuh arti. Ternyata sebelum memutuskan untuk datang dan menyerang Elyna, pria itu sudah menyiapkan sebuah rencana besar dan Dominic sendiri yakin kalau dia pasti menang.
Elyna mencari posisinya. Wanita itu memperhatikan lagi bangunan rumah mewah yang kini yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya. Meskipun belum bertarung tetap saja wanita itu merasa percaya diri dan merasa yakin kalau dia pasti akan menang.
"Dalam pertarungan ini syaratnya kita tidak boleh menggunakan senjata. Apa anda siap?" perjelas Dominic lagi.
"Ya, kau bisa lihat sendiri kalau aku tidak membawa senjata apapun saat ini." Elyna membuka kedua tangannya.
Dominic berdiri pada posisinya. Pria itu siap untuk bertarung. "Aku harus menang. Aku harus bisa menggiring wanita ini ke rumput jebakan itu," batinnya.
Namun sebelum pertarungan itu dimulai, Zion dan pasukan Gold Dragon telah muncul di sana. Pria itu berlari untuk memastikan kakak iparnya baik-baik saja. Sedangkan Foster sudah berada di tempat lain. Pria itu memiliki tugasnya sendiri.
"Jika kau ingin bertarung, hadapi aku! Karena akulah lawan yang pantas untukmu!" ujar Zion sambil melangkah mendekat.
Dominic kaget bukan main melihat Zion ada di sana. Dia merasa sangat yakin kalau tidak ada menghubungi Zion tadi malam. Tiba-tiba saja Dominic kepikiran kalau anak buahnya itu yang sudah menghubungi Zion dan meminta pria itu untuk datang menolongnya.
"Zion, kenapa kau datang? Aku bisa menghadapi wanita ini sendirian. Aku tidak perlu bantuanmu," ucap Dominic. "Pergilah!" Sebenarnya pria itu tidak tega mengusir Zion dengan cara seperti ini. Tetapi ia tidak mau sampai Zion celaka.
Zion sama sekali tidak peduli dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Dominic. Pria itu memandang ke arah Elyna dengan tatapan yang begitu tajam. "Selama aku memimpin geng mafia, baru ini aku bertemu dengan pengecut seperti anda."
Elyna merasa geram mendengar hinaan yang terucap dari bibir Zion. Karena emosi wanita itu langsung saja menyerang Zion. Pertarungan tidak bisa dielakan lagi. Zion juga meladeni Elyna dan bertekad untuk mengalahkan wanita itu.
Dominic tidak mau buang-buang waktu. Bersama dengan pasukannya, ia segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang berharga di dalam sana.
Pasukan Gold Dragon dengan mudah mengetahui persembunyian pasukan Queen Star milik Elyna. Mereka pun melakukan pertarungan untuk mengalahkan satu sama lain. Suara tembakan terdengar di mana-mana.
Setelah tiba di kamar pribadi miliknya, Dominic langsung berlari menuju ke pintu rahasia yang sempat ia buat. Hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui pintu rahasia tersebut.
Dominic sempat tidak terima melihat kamar pribadinya ditiduri oleh Elyna. Ada banyak sekali barang wanita di dalam sana. Termasuk pakaian dalam yang tergeletak begitu saja di lantai. Hal itu membuat Dominic merasa jijik. Dia mengumpat berulang kali.
"Aku benar-benar akan menghukumnya. Aku tidak akan membiarkannya bebas!" ucap Dominic sebelum masuk ke dalam pintu rahasia. Pria itu menutup kembali pintu rahasianya agar tidak ada yang mengetahuinya.
Ternyata di dalam ruangan rahasia itu terdapat banyak sekali berlian yang disimpan oleh Dominic. Pria itu tersenyum bahagia melihat berlian yang selama ini ia kumpulkan belum disentuh oleh siapapun. "Meskipun aku harus pergi meninggalkan Las Vegas, tapi setidaknya aku bisa membawa harta berhargaku untuk keluar dari sini. Aku bisa membangun rumah mewah di tempat lain," ucap Dominic sebelum mengambil sebuah kantong dan memasukkan semua berlian itu ke dalam kantung tersebut.
Setelah memastikan tidak ada lagi berlian yang tersisa, Dominic segera keluar dari ruang rahasianya. Pria itu tahu kalau Zion pasti akan menang melawan Elyna. Namun Ia juga tidak mau membiarkan berliannya terkurung di dalam situ tanpa Tuan.
"S telah aku berhasil mengamankan berlian ini, aku akan membantu Zion untuk mengalahkan wanita itu lagi."
__ADS_1
Baru saja beberapa meter meninggalkan kamar, tiba-tiba seseorang melekatkan senjata apinya di pelipis Dominic. Wanita itu adalah tangan kanan Elyna. Dia tersenyum tipis memandang kantung yang kini dipegang oleh Dominic. Wanita itu tahu kalau isi di dalam kantong itu adalah benda yang sangat berharga.
"Serahkan benda itu kepadaku!"