
Daisy terlihat khawatir mendengar teriakkan Lukas. Dia segera merangkul lengan Zeroun untuk meminta perlindungan. Zeroun sendiri seperti sedang mengamati keadaan sekitar. Wajahnya kembali tenang ketika tahu kalau pasukan Gold Dragon telah siap siaga. Apapun bahaya yang datang, mereka sudah siap untuk menghadapinya.
"Opa, ada apa? Apa ada musuh yang mengikuti kita?" bisik Daisy. Ingin sekali dia segera mengajak Zeroun pergi untuk menjauhi bahaya.
"Kau masih belum mau keluar?" teriak Lukas lagi. Sepertinya pria itu tidak main-main dengan ancamannya. Dia melangkah maju untuk memeriksa sendiri. Ada senjata api di tangannya yang kapan saja bisa mengeluarkan peluru panas.
"Tuan, saya tidak mau cari masalah."
Foster keluar dari pohon sambil mengangkat kedua tangannya. Pria itu memandang Daisy sejenak sebelum memandang Lukas lagi. "Saya hanya ingin bertemu dengan Daisy, Tuan. Tolong ijinkan saya bicara dengan Daisy."
Daisy melebarkan kedua matanya melihat Foster muncul. Tanpa peduli, dia segera berlari mendekati Foster. Wanita itu ingin melindungi Foster dari Lukas.
__ADS_1
"Kenapa Kak Foster bisa ada di sini?"
"Daisy, maafkan aku. Sejak kejadian itu, aku terus mencarimu. Tetapi aku tidak berhasil menemukanmu. Tadi aku sempat melihatmu di lampu merah. Awalnya kau ragu. Ketika aku yakin kalau wanita di dalam mobil benar-benar kau. Aku mengikutimu sampai ke sini."
"Apa yang ingin kau katakan? Kau belum cukup menyakiti cucuku, anak muda?" ujar Zeroun. Pria itu masih waspada melihat Foster. Dia tidak mau kedatangan Foster membuat Daisy sakit hati lagi.
"Tuan, maafkan saya karena telah menyakiti Daisy. Beri saya waktu sedikit saja untuk bicara dengan Daisy. Saya ingin menjelaskan sesuatu padanya. Saya tidak akan memaksa Daisy untuk memaafkan saya. Tetapi, hati saya akan jauh lebih tenang jika saya sudah mengatakan semuanya." Foster terlihat bersungguh-sungguh. Hal itu membuat Zeroun ingin memberikan kesempatan kepada Foster.
"Baiklah. Jika Daisy kembali dalam keadaan menangis, kau harus menerim konsekuensinya!" ancam Zeroun. Dia memandang Daisy dan tersenyum. "Daisy, Opa berikan waktu 10 menit. Selesai atau tidak, kembali ke mobil."
Zeroun memandang Lukas dan mengajak pria itu untuk segera jalan ke mobil. Dia tahu kalau Lukas tidak suka melihat kemunculan Foster.
__ADS_1
"10 menit!" tegas Lukas lagi sebelum melangkah. Sepertinya kali ini Foster tidak di sambut baik oleh keluarga Daisy. Satu kekecewaan yang sudah dia buat telah membekas di hati semua orang hingga membuat rasa percaya terhadap Foster hilanglah sudah.
"Baik, Tuan," sahut Foster.
Foster menarik tangan Daisy. Namun dengan cepat Daisy melepas genggaman tangan Foster. "Aku bisa jalan sendiri," ketus Daisy sebelum melangkah ke arah pintu keluar.
Foster hanya bisa bersabar melihat kelakuan Daisy. Semua ini terjadi karena kesalahan yang sudah dia buat sendiri.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Bicara intinya saja karena Opa cuma memberimu sedikit waktu untuk bicara." Daisy bahkan tidak mau memandang wajah Foster langsung. Dia tidak mau kecewa lagi. Walau sebenarnya rasa cinta itu masih belum hilang.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Daisy."
__ADS_1
Daisy tertawa kecil mendengarnya. Seolah-olah perkataan Foster hanya lelucon saja. "Cinta?"
"Kedua orang tuaku tidak merestui hubungan kita. Mama mengancamku. Dia akan bunuh diri jika aku tidak menuruti permintaannya. Dia ingin hubungan kita berakhir. Maafkan aku Daisy. Aku bingung. Aku tidak bisa melukai kau dan juga mama."