
Malam yang di nanti-nanti telah tiba. Setelah Daisy, Zion dan Abio dinyatakan sembuh total, Leona dan Jordan segera menyelenggarakan pesta untuk mempertemukan keluarga besar mereka. Semua orang di undang. Namun, memang beberapa tidak bisa hadir karena ada urusan penting yang tidak bisa untuk ditinggalkan. Walau sudah berumur dan memiliki cucu, para oma dan opa masih suka bercanda dan meledek satu sama lain. Namun memang suasananya tidak lengkap lagi. Seperti Daniel, Emelie, Tama dan Sonia sudah tidak ada di dunia ini. Mereka berempat harus pergi lebih dulu meninggalkan pasangan mereka dan bahkan seperti Sonia belum sempat melihat wajah cucunya sendiri saat itu.
Zeroun, Biao, Lukas dan Kenzo duduk di meja yang sama. Keempat pria yang pada masanya terlihat maskulin itu terlihat saling memandang satu sama lain. Satu tatapan yang penuh arti. Seperti ada rencana besar yang sedang mereka pikirkan. Padahal sebenarnya mereka tidak sedang merencanakan apapun. Melainkan sedang memikirkan kesehatan mereka masing-masing agar bisa tetap hidup untuk melihat cucu mereka tumbuh dan bahkan berkeluarga.
“Kapan kita latiha? Ngegym misalnya. Atau latihan menembak? Masa tuaku sangat membosankan. Kalau untuk menyetir mobil, pandangannya sudah tidak jauh lagi,” ujar Kenzo.
“Besok saja. Saya memiliki tempat gym di dekat sini,” sahut Lukas.
“Oke, kita berempat ya. Khusus Opa-opa. Aku tidak mau para wanita itu ikut,” sahut Kenzo. Biao hanya mengangguk setuju. Di masa tua seperti ini Sharin juga tidak cemburuan lagi. Dia yakin, Sharin pasti akan mengizinkannya pergi bersama Zeroun, Kenzo dan Lukas.
“Kenapa tidak di sini saja? Jordan memiliki ruangan khusus Gym di rumah ini,” ujar Zeroun. Kalau ada yang dekat untuk apa yang jauh.
“Zeroun, ini urusan pria. Kita juga harus menikmati masa tua kita. Tidak ada cucu apa lagi anak yang menemani. Bagaimana?” sahut Kenzo.
“Baiklah,” jawab Zeroun pasrah. Dia juga tidak keberatan jika harus keluar. Di tambah lagi sekarang dia sudah sendiri. Tidak akan ada yang memarahinya lagi.
Satu pelayan berdiri di pinggiran meja. Membuka tutup gabus botol anggur. Menuangkan sedikit demi sedikit anggur merah itu ke dalam gelas bertangkai. Kenzo yang lebih dulu mengambil gelas yang sudah terisi, menggoyang-goyangkan isinya sebelum mengangkat gelas itu di hadapan Zeroun.
“Kau tidak minum?” tanya Kenzo bingung.
“Aku sudah lupa bagaimana rasanya,” jawab Zeroun.
Kenzo tertawa. Dia memberikan gelas yang sudah terisi kepada Zeroun dan Biao. Berbeda dengan Lukas yang langsung saja meneguk minuman anggur itu ketika gelas kosong yang ada di hadapannya terisi.
“Rasanya sangat jauh berbeda. Entah karena lidahku yang sudah tua. Entah karena minuman ini sudah tidak original lagi!” protes Kenzo.Walau begitu, dia kembali menuangnya hingga gelas itu terisi. “Kenapa kita tidak bersulang?”
Zeroun mengambil gelas yang sudah terisi yang diberikan Kenzo kepadanya. Satu senyum kecil menghiasi wajahnya sebelum mengeluarkan kata.
“Apa kita sudah tua? Kapan kita akan mati?”
Biao dan Lukas di buat tersedak dengan pertanyaan Zeroun. Berbeda dengan Kenzo yang justru tertawa geli. “Besok!” sahutnya sebelum memajukan gelas tersebut. Biao dan Lukas segera mendekatkan gelas mereka. Zeroun mengangguk pelan sebelum melekatkan gelasnya juga. Mereka berempat cheers mengingat masa muda mereka ketika berkumpul sebelum melakukan pertarungan.
__ADS_1
“Biasanya ada Daniel yang akan mencairkan suasana. Jiwa humornya sangat besar. Sekarang, siapa yang mau dihandalkan?” ujar Kenzo sebelum meneguk minumannya sampai habis. “Di depanku ini hanya ada tiga pria kulkas yang cukup dingin,” sambungnya lagi.
“Anda sangat menggemaskan, Tuan Kenzo,” sahut Abio.
Lukas memandang ke arah Biao dengan wajah bingung. Itu bukan lelucon. Tapi pujian yang memalukan. Jangankan membuat Zeroun dan Kenzo tertawa. Lukas sendiri mendengarnya saja ingin muntah.
Tetapi, satu hal yang aneh. Zeroun dan Kenzo justru tertawa terpingal. Entah di sengaja atau tidak. Tetapi, mereka terlihat seperti menikmati lelucon yang baru saja dibuat oleh Biao. Lukas yang merasa tidak tertawa sendiri, mendapat tatapan tajam dari Zeroun. Hingga akhirnya pria itu terawa walau terpaksa.
“Opa riang sekali. Opa tidak mau ngajak-ngajak kami?” tanya Zion. Pria itu tidak datang sendirian. Ada Abio juga disampingnya. Mereka berdua duduk di kursi yang masih kosong dan ikut minum bersama Opa mereka. Kalau ayah mereka sudah tidak bisa diikuti. Kini Biao dan Jordan sedang menemani istri mereka. Sedangkan para Oma justru terlihat asyik berkumpul dengan para cucu mereka. Para Oma sudah tidak peduli lagi dengan suami mereka.
Zion dan Abio saling bersulang sebelum meneguk anggur berwarna merah yang ada di didalamnya. Sedangkan para Opa hanya diam mematung memperhatikan wajah dua pria itu secara bergantian.
“Bagaimana keadaanmu, Abio. Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?” tanya Zeroun khawatir. Walau sudah terlihat kuat, terkadang penyakit dalam juga sangat berbahaya.
“Sudah, Opa. Aku sudah merasa jauh lebih baik,” jawab Abio. Dia meneguk minumannya sebelum melirik Livy yang kini bersama dengan Norah, Daisy, GrandNa, Shabira dan Sharin. Pria itu tersenyum memuji kecantikan Livy sebelum menghabiskan minumannya.
“Dimana paman Aleo? Paman Aleo tidak datang?” tanya Zion sambil mencari-cari.
Zion hanya mengangguk pelan. Dia mengamati tamu undangan yang hadir. Semua memang berasal dari keluarga mereka sendiri. Namun, Zion sendiri tidak mengenal mereka. Bahkan tidak tahu kalau ternyata mereka saudaraan. Terkadang jumpa di jalan juga seperti tidak saling kenal. Prinsip Opa dan Oma mereka, sahabat adalah keluarga mereka. Itu yang membuat jumlah keluarga mereka tidak terhitung jumlahnya. Jika harus di ingat satu persatu hanya akan membuat Zion pusing. Berbeda dengan Abio yang terlihat tidak mau tahu. Pria itu tidak sedang menikmati pesta tetapi menikmati kecantikan Livy saja.
“Kak, ayo kita berdansa,” ajak Daisy. Wanita itu datang bersama dengan Livy. Ia ingin mengajak Zion untuk menemaninya berdansa. Daisy tidak memiliki pacar. Jika ada acara pesta seperti ini dia selalu memanggil Zion untuk menjadi pasangannya. “Opa juga ya?” ajak Daisy lagi sambil memandang opa-opanya yang duduk di kursi.
“Baiklah sayang,” jawab Zeroun.
Zion segera beranjak dari kursi dan memegang tangan Daisy. Abio juga ikut berdiri. Namun, ketika ia ingin mengajak Livy berdansa, tiba-tiba saja Livy menarik tangan Lukas.
“Maaf, Abio. Aku sudah memiliki pendamping,” ujarnya sebelum mengajak Lukas ke arena dansa.
Biao dan Kenzo tertawa. Mereka tidak menyangka kalau cucu mereka yang tampan dan selalu mereka banggakan itu bisa juga dicueki oleh seorang wanita.
“Kau mau berdansa dengan Opa, Abio?” tawar Kenzo.
__ADS_1
“TIDAK!” sahutnya kesal.
Zeroun hanya menggeleng-geleng saja melihat mereka. Pria itu terdiam melihat Serena yang duduk sendirian sambil menghapus air mata. Dia tahu, wanita itu merindukan Daniel. Si pria cerdas yang selalu ada disamping istrinya. Sebenarnya Zeroun juga merasakan hal yang sama. Namun, dia seorang pria. Dia tidak mungkin menangis seperti yang sekarang dilakukan oleh Serena.
Kenzo dan Biao memilih untuk mengajak pasangan mereka berdansa. Mereka juga ingin berdansa bersama cucu dan anak mereka. Sedangkan Abio mencari cara agar Lukas tidak berdansa dengan Livy lagi. Pria itu akan mengajak Lana untuk berdansa. Dengan begitu, Lukas pasti akan melepas Livy dan menyerahkannya kepada Abio.
Zeroun duduk di kursi yang ada di dekat kursi roda Serena. Wanita itu sudah tidak boleh banyak berjalan jadi lebih sering duduk dikursi roda. Sebenarnya dia masih bisa berdiri. Namun, karena sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Wanita itu jadi malas berjalan dan malas sembuh.
“Kau mau mengajakku berdansa, Zeroun Zein? Maaf, kakiku tidak bisa berjalan lagi,” ujar Serena kepada Zeroun. Dia memandang Zeroun dan tersenyum.
“Kau bukan tidak bisa berjalan Serena. Tetapi kau yang malas untuk berjalan. Dipikiranmu hanya ada kematian. Kau ingin segera menyusulnya,” sahut Zeroun.
“Aku merasa bersalah. Zeroun, bukankah aku yang jahat? Kenapa orang baik seperti dia yang harus pergi lebih dulu?”
“Mungkin agar kau bisa menguatkan Leona dan Aleo. Jika Daniel, dia tidak akan sanggup menemani Leona dan Aleo ketika menjalani liku-liku rumah tangga. Serena, apa kau lupa kalau aku juga sudah kehilangan Emelie? Jadi, jangan bersikap seolah kau sendiri yang tidak memiliki pasangan hidup di masa tua ini.”
Serena tertawa sambil menangis. Ia menghela napas panjang dan memandang Zeroun. “Kau masih bisa menopang tubuhku, Zeroun?”
“Kau berubah pikiran, Eh?” ledek Zeroun.
“Mari kita tunjukkan kepada semua orang, bagaimana dansa yang benar,” ajak Serena.
Zeroun beranjak dari kursinya. Dia mengulurkan tangannya. “Jika kau masih tidak sanggup untuk tersenyum dan berdiri, pandang aku sebagai Daniel. Aku rela melakukan apapun demi kebahagianmu, Serena.”
Serena tersentuh. Wanita itu berdiri dan menyambut uluran tangan Zeroun. Mereka berdua berjalan ke lantai dansa. Di sana sudah dipenuhi dengan semua pasangan yang sedang asyik berdansa.
Kedatangan Zeroun dan Serena menyita perhatian semua orang. Bukan marah justru mereka semua bersorak gembira. Mereka tidak sedang menjodohkan opa dan grandna mereka yang sudah tidak memiliki pasangan hidup lagi. Tetapi mereka mendukung cara Zeroun dan Serena untuk menikmati hidup. Di masa tua mereka yang seperti ini, sudah sepantasnya mereka bahagia. Tidak bersedih apa lagi sampai merindukan kematian.
Hanya Norah yang tidak ikut berdansa. Selain tidak suka berdansa, wanita itu juga tidak pandai berdansa. Dia bisa saja memilih Zion dan bergantian dengan Daisy. Namun, memang Norah tidak suka berdansa. Dia duduk di kursi sambil menikmati minuman favoritnya. Meminum cokelat panas ditemani cake favoritnya memang mem buat Norah menjadi bahagia. Sambil menikmati cakenya, Norah memperhatikan Zeroun dan Serena. Wanita itu menaikan kedua alisnya.
“Kalau dilihat-lihat, Opa Zen dan Grandna sangat cocok,” gumamnya di dalam hati. Wanita itu segera tersadar. “Mikir apa aku ini? Bisa-bisanya aku menjodohkan Opa dan Grandna,” sambung Norah sebelum memilih untuk menikmati suasana sambil memakan cake dan cokelat favoritnya.
__ADS_1