Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 138


__ADS_3

Zion dan Austin masih belum sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Memang saat itu posisi duduk Norah dan Faith tertutup pagar yang tinggi. Dari restoran posisi mereka tidak terlihat dengan jelas. Setelah memesan kopi, Zion kembali memeriksa ponselnya. Berbeda dengan Austin yang saat ini terlihat kebingungan mencari topik pembahasan. Dia dihadapkan dengan kakak iparnya yang super duper dingin. Austin takut salah bicara hingga membuat hubungan mereka jadi renggang.


"Bagaimana dengan bisnismu? Apa semua lancar?" tanya Zion tanpa memandang. Walau pria itu kelihatan fokus dengan ponselnya, ternyata dia masih peduli dengan perasaan calon adik iparnya.


Austin tersenyum mendengar pertanyaan Zion. Itu menandakan Kalau pria itu peduli padanya. "Semua bisnis yang aku bangun berjalan dengan lancar. Aku dan Norah juga berencana untuk buka cabang di kota ini. Norah pernah bilang kalau dia ingin memiliki toko roti. Aku akan mengabulkan impiannya."


"Toko roti? Dia tidak pernah menceritakannya padaku." Zion meletakkan penghasilannya di atas meja.


"Mungkin dia tidak mau merepotkan kakaknya," jawab Austin. Entah kenapa pria itu merasa tidak tenang. Ia berulang kali memandang ke arah Taman berharap kekasihnya muncul.


"Apa kau merindukan Norah?" ledek Zion. Walaupun sedang bercanda tetap saja pria itu memasang ekspresi yang serius.


"Tadi aku sempat melihat pasukan Gold Dragon berlalu lalang. Kenapa sekarang mereka tidak terlihat lagi? Apa mereka juga bersembunyi seperti yang dilakukan oleh Norah?"


Zion juga memandang ke luar tamat. Seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Austin bahwa pasukan Hold Dragon tidak terlihat lagi. Hal itu juga membuat Zion menjadi khawatir.


"Apa kau masih mau meminum kopi ini?" tanya Zion sambil menunjuk kopi mereka yang belum di sentuh.


Austin menggeleng tidak setuju. "Sebaiknya kita cek keadaan mereka. Aku tahu kalau Norah bisa melindungi dirinya. Tapi, aku tidak mau sampai dia terluka."


Zion segera beranjak dari kursi. Baru berdiri dia sudah mendengar suara tembakan dari arah taman. Tidak hanya sekali. Berulang kali. Austin juga segera berdiri dengan wajah khawatir. Mata pria itu membulat. Dia memeriksa kembali senjata yang selalu ia bawa.


"Cepat!" ujar Zion. Mereka berdua segera berlari menuju ke arah pintu keluar. Karena terlalu panik, sampai-sampai mereka berdua mendorong siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Zion dan Austin terus berlari kencang. Mereka harus tiba di sana untuk memastikan wanita yang mereka cintai baik-baik saja.


Austin mengumpat dengan kasar ketika tanpa sengaja ia menabrak seorang pelayan yang sedang membawa kopi panas. Kopi itu tumpah di bajunya. Namun dia mengabaikan rasa panas itu begitu saja. kakinya kembali berlari sekencang mungkin mengejar Zion yang sudah ada di depan sana.


Zion tiba lebih dulu. Dia kaget melihat Norah dan pasukan Gold Dragon sudah bertarung habis-habisan melawan musuh yang tidak lain adalah anak buah Dominic.


Faith juga ada di sana. Wanita berdiri di dekat kursi dengan wajah ketakutan. Zion segera menghampirinya.


Austin yang baru saja tiba segera membantu Norah bertarung melawan anak buah Dominic. Pria itu menghajar orang kepercayaan Dominic dan meminta Norah untuk menyingkir.


"Kenapa kau tidak memanggilku?" protes Austin sambil memukul dan menangkis pukulan lawan yang ada di depan.

__ADS_1


"Kau juga tidak akan mendengar teriakanku!" sahut Norah tidak mau disalahkan. Wanita itu segera pergi mendekati Zion dan Faith. Meninggalkan Austin dan pasukan Gold Dragon yang masih belum menang dalam pertarungan.


"Dimana pria itu?" tanya Zion kepada Norah.


"Dia pergi. Aku tahu dia pasti sedang merencanakan sesuatu," sahut Faith. Wanita itu memandang Zion dengan wajah ketakutan. "Bisakah kita pergi dari sini?"


"Kita akan pergi nanti. Sekarang kau bersama Norah dulu. Aku harus membantu Austin." Zion segera pergi untuk membantu Austin.


"Kak, kakak baik-baik saja?" Norah memeriksa keadaan Faith.


"Ya. Norah, bisakah kita menunggu mereka di mobil saja? Aku tidak mau sampai tertangkap." Faith memegang lengan Norah dengan tubuh gemetar. Hal itu membuat Norah tidak tega hingga akhirnya ia setuju untuk pergi ke mobil. Walau memang jarak mobil dengan posisi mereka sangat jauh.


"Faith!"


Langkah Norah dan Faith terhenti ketika mereka mendengar teriakan seorang wanita. Norah memegang senjata apinya untuk jaga-jaga. Sedangkan Faith terlihat kaget melihat orang yang ia kenali bisa muncul di sana.


"Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau ada di Las Vegas bersama Tuan Dominic?"


"Faith, tunggu!" Tetapi wanita itu tidak menyerah. Dia lagi-lagi berlari untuk mengejar sambil berteriak.


"Abaikan saja. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengobrol," bisik Norah kepada Faith.


Faith sendiri tidak memiliki pilihan selain menurut. Tiba-tiba sebuah jarum tertancap di leher jenjang Norah. Hal itu membuat Norah berhenti dan memandang Faith. Dia tahu seseorang ingin melukainya. Di detik sebelum Norah tidak sadarkan diri, wanita itu memandang Austin yang jaraknya cukup jauh.


"AUSTIN!" teriak Norah.


Faith memandang wanita yang ia kenal itu dengan takut-takut. Detik ini dia baru sadar kalau sekarang orang yang ia kenal telah berubah menjadi jahat. Semua sudah menjadi pengikut Dominic.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melukai Norah?"


"Aku hanya membuatnya tidak sadarkan diri. Dia akan baik-baik saja. Sekarang ayo ikut denganku." Wanita itu berusaha meraih tangan Faith. Tetapi dengan cepat Faith menjauh.

__ADS_1


Wanita itu mulai geram. Dia ingin melakukan tindakan yang sama seperti yang ia lakukan terhadap Norah.


Diketahuan, Austin telah mengangkat senjata apinya dengan tangan kiri. Melihat wanita yang ia cintai berbaring di atas rumput dalam keadaan tidak sadarkan diri membuatnya marah.


"Mati kau!" umpatnya sebelum melepas sebuah peluru ke arah wanita yang kini ada di hadapan Faith.


Percikan darah membuat wajah Faith kotor. Faith memejamkan mata sejenak ketika mendengar suara tembakan. Kedua matanya melebar melihat wanita yang kini berdiri di hadapannya tertembak. Darah segar mengalir dengan deras melalui kepala wanita itu.


Faith tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas. Dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Wanita itu jatuh terduduk di atas rerumputan. Dia trauma melihat semua kejadian ini. Dia tidak menyangka kalau akan menyaksikan kejadian yang mengerikan ini.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zion.


Austin juga ada di sana. Pria itu segera menggendong Norah. Dia merasa lega ketika tahu kekasihnya hanya pingsan saja.


"Aku baik-baik saja," ucap Faith dengan tubuh gemetar karena ketakutan.


Zion memandang Norah yang sudah ada di dalam gendongan Austin. "Apa Norah terluka?"


"Tidak! Sepertinya ini hanya pengaruh obat bius saja. Tetapi untuk memastikan dia baik-baik saja sebaiknya kita bawa ke dokter."


"Aku harus membawa Faith pergi dari sini. Tolong bawa Norah ke dokter dan jaga dia," pinta Zion.


Austin mengangguk. "Hati-hati di jalan. Segera beritahu aku jika mereka kembali menyerang."


Zion segera menarik Faith dan membawanya pergi dari sana.


Tidak jauh dari posisi mereka berada. Dominic memperhatikan mereka dari dalam mobil. Pria itu duduk dengan tenang mengamati satu persatu lawan yang akan ia hadapi. Tadi dia sempat senang ketika berhasil bertatap muka dengan Faith lagi. Wajahnya berubah sedih ketika Faith menolak mentah-mentah saat diajak untuk kembali pulang ke Las Vegas. Dominic menyerahkan masalah itu kepada anak buahnya. Tadinya dia pikir semua akan beres. Faith akan kembali pulang bersama dengannya malam ini. Tidak disangka justru hanya sebuah kekalahan yang ia dapat. Kini pria itu harus merasakan sakit hati ketika melihat wanita yang dicintainya bersama dengan pria lain.


"Bos, kita ikuti mereka?" tanya supir yang ada di depan.


"Jangan. Aku ingin kembali ke Las Vegas sekarang juga."


Supir itu sempat bingung mendengar perintah Dominic. Biasanya Dominic tidak pernah mau pulang dengan tangan kosong seperti ini. Tetapi dia juga tidak mau membantah perintah atasannya. Tanpa banyak kata lagi, supir itu melajukan mobilnya menuju ke bandara.

__ADS_1


"Zion Zein. Ternyata seperti itu wajah pemimpin Gold Dragon yang katanya paling disegani," gumam Dominic di dalam hati.


__ADS_2