Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 105


__ADS_3

"Oma, Daisy kangen Oma."


Sambil meneteskan air mata, Daisy menaburkan bunga di atas makam Emelie. Dia tidak datang sendirian. Zeroun dan Lukas juga menemaninya ke pemakaman. Siang yang cerah terasa mendung ketika Daisy merindukan Emelie dan ingin berkunjung ke makam Ratu Cambridge tersebut.


Lukas yang sangat khawatir. Zeroun baru saja sembuh. Pria itu tidak mau Zeroun drop lagi ketika mengunjungi makam Emelie.


"Bos, anda baik-baik saja?" bisik Lukas ketika Zeroun hanya diam saja sambil memandang ke arah Daisy.


"Lukas, jika nanti aku tiada. Aku hanya ingin di makamkan di samping makam Emelie. Apa kau bisa mengabulkan keinginanku?"


Lukas seperti tidak memiliki kekuatan untuk menjawab permintaan Zeroun. Jika Zeroun bisa hampir gila ketika kehilangan Emelie dan Serena, mungkin Lukas akan lebih parah dari dia jika sampai kehilangan Zeroun.


"Lukas, kenapa kau diam saja?"

__ADS_1


"Saya akan menjadikan lokasi ini tempat pemakaman kita bos," sahut Lukas tanpa memandang. "Di sebelah sana untuk saya dan Lana. Di sana untuk anak-anak dan cucu-cucu kita."


"Bahkan sudah mati saja kau tidak mau berjauhan dariku. Bukankah kau tinggal di Hongkong? Kenapa tidak di sana saja?" protes Zeroun.


"Saya tidak pernah siap kehilangan anda, Bos. Biarlah tetap seperti ini. Hidup bersama. Mati bersama. Di dunia ini, anda orang pertama yang membuat saya mengerti arti kehidupan."'


Lukas tidak melanjutkan kalimatnya ketika Daisy sudah berdiri. Pria itu memalingkan kepalanya dan segera menghapus air mata yang menetes.


"Dia tidak menangis. Opa Lukas hanya kemasukan debu," dusta Zeroun asal saja. Dia melangkah maju mendekati makam istrinya. Pria itu juga ingin menabur bunga di atas makam Emelie. Selama ini hampir setiap hari dia datang mengunjungi. Sejak kepergian Serena, baru hari ini Zeroun datang.


"Hai, apa kabar?" tanya Zeroun. Ia meletakkan setangkai mawar merah di makam sebelum berjongkok. "Apa kau senang melihatku seperti ini? Apa kau sedang tertawa ...." Zeroun memejamkan matanya untuk menahan air mata yang ingin menetes. "Baby?"


Daisy sempat tertawa kecil. Namun, wanita itu juga tidak bisa memendung air mata yang ingin menetes. "Opa, Opa jangan bicara seperti itu. Opa berdoa saja di dalam hati. Jangan mengatakan kalimat yang membuatku ingin menangis," protes Daisy.

__ADS_1


"Kau dengar? Bahkan Daisy sekarang sudah berani memarahiku. Sama sepertimu."Zeroun menunduk dalam. "Aku merindukanmu Emelie. Sangat sangat merindukanmu. Kapan ita bertemu?"


"Opa!" Daisy berlari mendekati Zeroun. Wanita itu berjongkok di samping Zeroun sebelum memeluknya. "Ada Daisy di sini. Jangan sedih lagi. Daisy janji akan jaga Opa dan menemani Opa. Daisy janji. Tapi sebagai bayarannya, Opa jangan pergi ya. Tetap di dunia ini bersama Daisy."


"Baiklah. Opa akan katakan kepada Oma untuk tidak menjemput Opa dalam waktu dekat," jawab Zeroun dengan santai.


"Janji?"


"Janji," jawab Zeroun lagi.


Lukas melipat kedua tangannya dan tersenyum. Pria itu memandang ke langit yang cerah. Alisnya saling bertaut ketika dia tahu kalau ada yang sedang mengamatinya secara diam-diam. Pria itu memegang senjata apinya dan segera mengarahkannya ke pohon yang menjadi tempat penyusup itu bersembunyi.


"Keluar atau aku akan memaksamu keluar!" ancam Lukas.

__ADS_1


__ADS_2