
Matahari kembali muncul ke permukaan. Pagi itu setelah bangun tidur, Faith cepat-cepat mandi. Wanita itu sudah tidak sabar untuk melihat Zion. Meskipun dia tidak yakin kalau Zion sudah ada di kapal pagi ini. Tetapi besar harapan untuk bertemu dengan Zion.
"Awas saja kalau dia sampai berbohong."
Faith segera menyudahi mandinya. Wanita itu memilih gaun yang berwarna kuning muda. Ia terlihat cocok dengan gaun itu. Rambutnya sengaja di gerai. Faith berputar-putar di depan cermin sembari memperhatikan penampilannya pagi itu. "Apa gaun ini cocok ditubuhku? Kenapa aku jadi kelihatan gemuk?"
Sejak jatuh cinta Faith mulai memperhatikan penampilannya. Wanita itu tidak mau sampai Zion kecewa dan malu ketika berdiri di sampingnya.
"Sepertinya aku harus diet. Aku tidak mau di pesta pernikahan nanti tubuhku terlihat gemuk. Aku harus tampil sempurna di depan Kak Zion."
Saat sedang sibuk memperhatikan tubuhnya di depan cermin, tiba-tiba Faith mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Wanita itu segera menyisir rambutnya agar terlihat rapi sebelum berjalan menuju ke pintu. Sambil berjalan Faith memakai anting-anting di telinganya. Dia terlihat sangat kerepotan pagi itu.
"Iya, bentar," teriak Faith dari dalam. Dia menarik pintunya lalu mengernyitkan dahi melihat seorang pria yang kini berdiri membelakanginya. "Kak Zion?" tebak Faith ragu-ragu.
Pria itu langsung berputar. Betapa senangnya Faith ketika mengetahui kalau pria yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Zion. Karena terlalu senang, Faith segera memeluk Zion sambil bersorak gembira.
"Akhirnya Kak Zion kembali. Aku senang bisa melihat Kak Zion baik-baik saja." Faith terus saja memeluk Zion dengan begitu erat sampai-sampai wanita itu tidak sadar kalau kini ada Norah dan Austin yang memperhatikan mereka berdua.
"Apa kau sangat merindukanku sampai-sampai kau terlihat sangat senang ketika melihatku berdiri di sini." Zion mengusap lembut punggung Faith. Ada perasaan lega di hatinya ketika dia bisa menghirup aroma tubuh wanita yang dicintainya itu pagi ini.
"Yang aku tahu Kak Zion selalu menjalani misi yang berbahaya. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan Kak Zion. Aku tidak mau melihat Kak Zion terluka lagi." Tanpa sengaja Faith memiringkan kepalanya ke samping. Wanita itu menunduk malu ketika dia baru saja menyadari kalau ada Norah dan Austin yang sejak tadi melihat kelakuannya.
"Norah, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Faith. Bahkan wanita itu sudah menjaga jarak dengan Zion.
"Sejak Kak Faith memeluk Kak Zion," jawab Norah sambil tersenyum. "Tapi Kak Faith tidak perlu merasa malu karena hal itu sudah biasa terjadi. Jika sepasang kekasih sedang berbunga-bunga."
Zion menyipitkan kedua matanya. Dia tidak suka melihat Norah meledek wanita yang ia cintai sampai seperti itu. "Kenapa kau bisa berdiri di sana? Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menguping pembicaraan orang lain?" ketus Zion dengan wajah galaknya.
"Apa Kak Zion lupa kalau kamar kami ada di sini. Tadinya kami mau lewat tetapi kami tidak tega mengganggu kakak dan juga Kak Faith." Norah merangkul lengan Austin dan membawa pria itu jalan. "Permisi kak."
Zion dan Faith memberi jalan kepada sepasang suami istri itu. Mereka memandang Norah dan Austin sampai jauh sebelum saling memandang lagi. Ada senyum di wajah Faith dan juga Zion pagi itu.
"Ayo kita sarapan." Zion memberikan lengannya. Faith hanya mengangguk saja. Wanita itu segera merangkul lengan Zion dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke meja makan tempat merek seharusnya sarapan pagi.
...***...
Semua orang sudah berkumpul di sana untuk sarapan. Karena hari ini hari terakhir mereka berkumpul, mereka memanfaatkan pertemuan di pagi ini dengan sebaik mungkin. Faith dan Zion yang baru saja tiba lagi-lagi menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kak, kita duduk dimana?" Faith tidak lagi menemukan kursi kosong di sana.
Zion juga mencari kursi yang bisa mereka duduki. Namun wajah pria itu menjadi frustasi ketika dia tidak menemukannya. Zion memandang pelayan restoran yang berdiri tidak jauh dari posisinya berada saat itu.
"Kenapa kau tidak menghitung orangnya sebelum ini? Sekarang kami duduk dimana?" protes Zion kesal.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Tetapi Nyonya Leona sudah berpesan agar anda dan Nona Faith duduk di sana." Pria itu menunjuk ke arah kursi yang memang sudah disediakan. Kursi itu bentuknya agak berbeda dengan yang lainnya. Hingga akhirnya mereka semua berpikir kalau Faith benar-benar wanita paling berarti di dalam kehidupan mereka semua.
"Kak Zion, kenapa kursinya harus berbentuk kayak gitu?" bisik Faith.
Leona memang sangat iseng pagi ini. Bisa-bisanya dia menyiapkan sepasang kursi berbentuk kursi kerajaan di depan sana. Seolah-olah pagi ini Zion dan Faithlah yang akan memimpin sarapan mereka.
"Aku tidak tahu. Ayo kita duduk di sana." Zion segera maju menuju ke kursi. Pria itu tidak mau berdiri terlalu lama. Sambil menggandeng Faith, pria itu berusaha menyapa orang-orang yang ia lewati.
Setelah duduk di kursi yang disiapkan, Zion melirik Leona yang kini memandangnya sambil tersenyum. Pria itu hanya bisa mendengus kesal melihat kelakuan ibu kandungnya.
"Kak, sekarang semua orang memandang kita," ucap Faith lagi. Wanita itu tidak berani untuk mengangkat kepalanya karena malu.
"Ada aku di sini. Kau tidak perlu khawatir." Zion memegang tangan Faith. Mereka berdua memulai sarapan pagi mereka. Begitupun dengan yang lainnya.
Setelah hampir setengah jam melahap sarapan pagi yang begitu lezat. Akhirnya semua orang menyudahi sarapan mereka dan mulai mengobrol. Leona segera beranjak dari kursinya. Sebelum bicara, dia sempat memandang Jordan dan juga Zean yang kini ada di dekatnya.
"Selamat pagi, semuanya. Saya senang karena pada akhirnya liburan sederhana ini bisa membuat bahagia semua orang. Saya senang karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang saya sayangi. Mungkin dari jumlah yang ada sekarang ini, jumlahnya sudah tidak sama dengan tahun kemarin. Tetapi, itu tidak mengurangi kekompakan kita.
Pagi ini saya ingin menyampaikan satu informasi penting. Putra saya, Zion. Dan Putri Zean yang bernama Faith akan segera menikah. Kami sengaja memberi tahu kabar baik ini agar semua keluarga yang ada di kapal ini bisa meluangkan waktunya lagi untuk kembali hadir di acara pernikahan Faith dan Zion nanti."
Leona memandang Zion. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca karena terlalu bahagia. "Mereka akan menikah dua minggu lagi."
Suara tepuk tangan terdengar begitu meriah. Zion dan Faith tersenyum bahagia melihatnya. Mereka saling berpegangan tangan sambil mengucap syukur di dalam hati.
Faith mengangguk. "Aku selalu siap untuk menjadi istri Kak Zion." Dia memandang lagi ke tamu undangan. Terutama ke arah ayah kandungnya, Zean. "Sayang sekali Kak Dominic tidak ada di sini. Jika Kak Dominic ada di sini mungkin kebahagiaanku terasa lengkap," gunan Faith di dalam hati.
"Zion, Faith. Kemarilah," pinta Leona.
Zion dan Faith segera beranjak dari kursi yang mereka duduki. Sepasang kekasih itu tidak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan mereka di depan semua orang. "Zion, mama mau di depan semua orang kau bertunangan lagi. Waktu itu pertunangan kalian harus dilakukan di rumah sakit. Itu sangat tidak berkesan." Leona mengeluarkan sebuah kotak cincin dan memberikannya kepada Zion. "Pakaikan cincin ini. Lamar lagi Faith untuk menjadi istrimu."
Setelah memberikan cincin itu kepada Zion, Leona kembali ke kursinya. Sama seperti keluarga yang lainnya, kini wanita itu memandang ke arah Zion dan Faith dengan wajah berseri-seri. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat momen di mana putranya melamar Faith.
Zion memandang Faith lalu mengatur napasnya. Kini Zion sudah tidak peduli lagi dengan gengsi. Pria itu juga sama sekali tidak malu meskipun kini harus disaksikan oleh keluarga besarnya.
Tiba-tiba saja Zion berlutut di depan Faith. Satu kakinya ditekuk. Pria itu menghadap ke Faith sambil memperlihatkan cincin yang ada di dalam kotak berwarna biru tersebut.
Belum juga Zion berbicara, sudah membuat Faith tersentuh. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Dia terharu melihat pemandangan seperti ini. Dulu saat masih berusia 17-an tahun Faith sempat bermimpi kalau ada pria tampan yang rela melamarnya di depan keluarga besarnya tanpa rasa malu sedikitpun. Tetapi kini impiannya menjadi kenyataan. Zion bukan hanya sekedar mencintainya. Tetapi pria itu menjaga dan memperlakukannya layaknya seorang Ratu. Ini merupakan kebahagiaan yang tiada tara bagi Faith.
"Faith, aku tahu kalau aku bukan pria yang sempurna. Aku memiliki musuh di mana-mana. Mungkin saja nanti ke depannya hidupmu akan sangat melelahkan. Tapi percayalah padaku kalau aku pasti melindungimu dari orang-orang yang ingin menyakitimu.
Aku janji kalau air mata yang menetes di wajahmu nanti adalah air mataku kebahagiaan. Tidak pernah sekalipun aku izinkan kau untuk meneteskan air mata kekecewaan. Di depan keluarga besarku ini, aku berjanji untuk menyayangimu dan mencintaimu sepenuh hati.
Aku harap kau tidak lagi meragukan rasa yang ada di dalam hatiku ini. Faith, menikahlah denganku. Jadilah istriku. Kau akan jadi satu-satunya wanita yang akan menemaniku sampai tua nanti."
__ADS_1
Faith segera memberikan tangannya kepada Zion agar pria itu segera menyematkan cincin pertunangan yang sudah dipersiapkan. Meskipun cincin yang mereka jadikan cincin pertunangan di rumah sakit adalah cincin yang bagus tetapi kali ini cincin yang disiapkan oleh Leona jauh lebih spesial dan Faith sangat menyukainya.
"Aku mau menjadi istri Kak Zion. Aku janji akan selalu ada di sisi Kak Zion sampai Kak Zion tua nanti. Kita akan membina rumah tangga yang harmonis. Aku akan selalu mendukung Kak Zion. Apapun yang Kak Zion lakukan nanti," ucap Faith.
Setelah cincin tunangan itu tersemat indah di dalam jemarinya, Zion berdiri dan merangkul pinggang Faith. Mereka berdua sama-sama memandang ke depan untuk melihat senyum bahagia semua orang.
Terutama Opa Zen. Zion tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu karena dari posisinya berdiri ia bisa mengetahui kalau kini Opa kesayangannya itu sedang menangis. Namun Zion tidak tahu sebenarnya Opa Zen menangis karena terharu melihat pemandangan pertunangannya dengan Faith atau karena merindukan seseorang.
Dari arah meja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Opa Zen, terdapat Letty dan Elyna. Mereka satu meja dengan Oma Lana dan Opa Lukas.
Dari semua tamu undangan yang hadir, Elyna satu-satunya keluarga yang sangat tidak ramah. Ketika semua orang mengucapkan doa agar pernikahan Zion dan Faith nantinya berjalan lancar, Di saat itu justru Elyna memandang Zion dengan tatapan penuh kebencian. Dia kembali ingat kalau Zion lah yang sudah menggagalkan rencananya saat ingin menguasai Las Vegas kemarin. Bukannya menyesali perbuatannya justru Elyna tertantang untuk mengajak Zion berkelahi sekali lagi. Dia ingin tahu antara pemimpin Queen Star dan Gold Dragon, mana yang paling hebat.
"Zion Zein! Dari namanya saja aku sudah muak melihatnya. Ternyata dia mau menikah dengan wanita itu. Bisa-bisanya dia mau menikah tapi masih sempat-sempatnya dia mau ngurusin masalah orang lain. Aku yakin jika semalam dia tidak datang ke Las Vegas, Mommy juga tidak akan mungkin datang," gumam Elyna di dalam hati.
Letty memperhatikan putrinya dengan seksama. Wanita itu tahu kalau kini putrinya sedang memikirkan sesuatu yang pastinya akan merugikan orang lain.
"Elyna, Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau terlihat tidak bersemangat pagi ini?" tanya Letty dengan senyum ramah. Hal itu membuat perhatian Lana dan Lukas tertuju kepada Elyna.
"Aku bosan ada di kapal Ini. Mommy pasti tahu kalau aku suka kebebasan. Aku tidak suka menghadiri acara keluarga seperti ini. Untuk apa coba?" sahut Elyna malas.
"Elyna, mulai dari sekarang kau harus bisa mengenali satu persatu keluargamu agar kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi. Oma tidak akan tinggal diam jika kau melakukan kesalahan sampai melukai keluargamu sendiri. Bagaimanapun juga kau adalah cucu yang Oma dan Opa sayangi. Jadi tolong jangan kecewakan Oma dan Opa," sahut Lana dengan wajah yang serius. Wanita tua itu berusaha untuk tegas terhadap cucunya.
"Jangan terlalu galak kepada cucuku karena itu hanya akan membuatnya takut," bela Lukas. "Elyna, jika kau bosan berada di tempat ini kau bisa pergi meninggalkannya kapanpun."
"Kenapa papa berkata seperti itu? Aku maunya Elyna ada di sini!" Letty terlihat tidak setuju.
"Benar, Opa?" tanya Elyna penuh semangat.
Lukas mengangguk pelan. "Tetapi Opa ingin kau melakukan satu hal."
"Apa Opa?" Elyna memasang wajah serius. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar syarat yang akan diucapkan oleh Lukas agar bisa pergi dari tempat itu sekarang juga.
"Menikahlah dengan pria pilihan kami. Opa akan memberi waktu kepadamu untuk bersenang-senang. Kami tidak akan melarangmu sama sekali. Tetapi ketika waktunya tiba, pulanglah ke rumah dan menikahlah dengan pria yang sudah kami pilih untuk menjadi suamimu."
"Opa menjodohkanku? Tapi untuk apa Opa? Jika hidup sendiri saja aku sudah bahagia untuk apa aku harus menikah? Bagaimana jika nanti Opa salah pilih dan pria itu hanya bisa menyakitiku saja."
"Elyna, Apa kau lupa kalau kau ini sudah dewasa dan usiamu sudah pantas untuk menikah? Mommy setuju dengan keputusan Opa kali ini. Kau boleh bersenang-senang di luar sana tetapi jika nanti kami berhasil menemukan pria yang cocok untuk menjadi suamimu kau harus pulang untuk menikah. Siap atau tidak siap kau harus pulang!" tegas Letty lagi.
Elyna mendengus kesal mendengarnya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini karena Elyna sadar diri kalau ia tidak akan mungkin menang melawan ibu kandung dan Opa Lukas. "Baiklah. Aku mau menikah dengan pria pilihan Mommy dan Opa," jawabnya malas.
Jawaban Elyna membuat Letty dan Lucas terlihat bersemangat. Begitupun dengan Lana. Kini mereka juga bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Leona, Jordan dan Zean sebagai orang tua.
"Terima kasih, sayang. Mama akan mencarikanmu suami yang sesuai dengan karaktermu. Agar nantinya kalian bisa bersatu untuk memimpin Queen Star menjadi geng mafia yang lebih baik lagi," ucap Letty penuh harap.
__ADS_1