Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 164


__ADS_3

Foster menutup kartu di meja lalu menyodorkan uang terakhir yang ia miliki. Sudah beberapa kali bermain dan Foster kalah. Jika sekarang Foster sampai kalah lagi, maka dia tidak akan memiliki alasan untuk menahan Dominic di meja judi tersebut. Rasanya tidak mungkin jika dia mengambil uang lagi dan membuangnya begitu saja di arena judi. Setelah bangkrut dan memulai bisnisnya dari nol, Foster menghargai uang yang ia miliki. Sekecil apapun jumlahnya.


"Anda yakin ingin mempertaruhkan semua uang yang anda miliki, Tuan?" tanya Dominic dengan wajah tidak percaya.


"Uang saya banyak. Jika memang uang yang saya bawa harus habis sekarang, itu berarti cukup sampai di sini bersenang-senangnya, Tuan," jawab Foster dengan ekspresi yang begitu santai. Padahal di dalam hati dia terus saja mengumpat dirinya sendiri karena tidak berguna saat bermain dengan Dominic.


Dominic mengangguk. Pria itu juga meletakkan yang yang banyak di tengah meja. Ia terlihat percaya diri kalau kali ini pasti akan menang lagi. Begitu juga dengan semua orang yang kini menonton permainan mereka. Mereka terlihat mendukung Dominic dan memandang sebelah mata ke Foster.


"Oke, kita buka sama-sama," ucap Dominic. Bahkan pria itu sudah ingin memberi perintah kepada wanita yang ada di sampingnya untuk mengambil semua uang yang ada di meja.

__ADS_1


"Anda kalah, Tuan," ucap Foster dengan senyuman kemenangan di bibirnya. Pria itu membuka kartu terakhir yang ia miliki hingga membuat semua orang tercengang tidak percaya.


Dominic terlihat geram ketika melihat Foster menang dalam pertarungan kali ini. Bukan karena jumlah taruhannya saja yang besar. Tetapi ini soal harga diri. Dominic di pandang sebagai pria yang hebat dalam meja judi. Bagaimana mungkin dia dikalahkan oleh seseorang yang katanya tidak begitu ahli dalam berjudi.


"Anda mau main lagi, Tuan?" tawar Dominic. Pria itu seperti tidak ada capeknya.


Wanita yang bersama Foster terlihat sangat bahagia. Kini wanita itu memasukkan semua uang hasil kemenangan mereka ke dalam tas. Dia menyelipkan beberapa lembar dan menyimpannya di balik dada. Jelas saja Foster mengetahuinya. Namun, pria itu tidak terlalu peduli.


"Bisakah kita berpesta sejenak sebelum lanjut main lagi, Tuan? Saya bosan ada di meja ini," sahut Foster.

__ADS_1


Dominic mengangkat tangannya. Lalu seorang wanita seksi menghampiri Dominic dan menunduk hormat di depan pria itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Temani tamu saya. Berikan dia minuman terbaik yang ada di kasino kita," perintah Dominic kepada wanita itu.


"Saya sudah memiliki teman cerita, Tuan. Anda tidak perlu repot-repot mencarikan wanita untuk saya. Bagi saya, satu saja cukup." Foster memandang wanita yang ikut bersamanya lalu menarik wanita itu ke pangkuannya. "Bukankah begitu sayang?"


Wanita itu seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia mengecup bibir Foster hingga membuat Foster geram di dalam hati. Namun Foster tidak bisa menolak. Karena itu hanya akan membuat mereka ketahuan.

__ADS_1


"Baiklah. Mari kita pindah tempat, Tuan. Saya masih memiliki tempat yang bagus dan pastinya akan membuat anda nyaman," ajak Dominic. Dilihat dari sikapnya, pria itu tidak akan membiarkan Foster keluar dari kasino sambil membawa uang kemenangan tersebut.


__ADS_2