Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 220


__ADS_3

"Aku masih belum bisa percaya dengan Dominic 100% meskipun kata Kak Zion dia sudah berubah. Bagaimanapun juga Dominic yang kita kenal adalah pria yang sangat licik. Bagaimana kalau ini salah satu rencana yang sudah ia siapkan untuk menghancurkan keluarga kita? Dan Faith, sejak awal wanita itu sangat misterius. Tidak bisa dinilai sebagai wanita jahat tidak bisa juga dipuji sebagai wanita baik. Untuk kenyamanan bersama sebaiknya kita tetap waspada terhadap Dominic," ucap Austin dengan begitu serius. Pria itu memandang ke arah jalanan raya sebelum memandang wajah Norah lagi.


"Kau benar. Tidak seharusnya kita percaya dengan pasukan yang dikirim oleh Dominic. Tapi untuk saat ini sebaiknya kita biarkan saja mereka melakukan tugas yang diperintahkan oleh Dominic. Toh nanti jika mereka berniat jahat, akan ketahuan juga," ucap Norah dengan santai. Ia juga menikmati pemandangan yang ada di sana.


Tiba-tiba saja ada anak kecil berusia sekitar delapan tahun berlari menghampiri Nora,. Tanpa bicara anak kecil itu memeluk Norah lalu memanggil Norah dengan sebutan yang begitu mengejutkan.


"Mama. Mama ke mana saja? Kenapa Mama tidak menungguku?" ucap anak kecil itu sambil menangis.


Norah dan Austin sama-sama kaget. Bahkan karena tidak percaya Austin segera beranjak dari kursi yang ia duduki. "Siapa anak kecil ini? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan Mama? Bukankah kau masih perawan?" celetuk Austin.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu siapa anak kecil ini," jawab Norah. Dia berusaha melepas pelukan anak kecil itu tetapi anak kecil itu terus saja memanggilnya dengan sebutan Mama sambil menangis tersedu-sedu. Hingga akhirnya membuat Norah membiarkan anak kecil itu memeluknya.


"Hai anak kecil. Kami baru saja menikah. Bagaimana mungkin kami sudah memiliki anak sebesar ini? Sekarang katakan apa tujuanmu?" Norah berusaha lembut agar anak kecil itu tidak takut.


Austin memandang Norah dengan serius. Sayang, berhati-hatilah. Pastikan dia tidak membawa senjata berbahaya. Bagaimana kalau dia adalah komplotan musuh yang berniat untuk mencelakaimu?"


"Tolong saya. Mereka ingin menangkap Saya. Saya tidak mau disiksa. Saya mau pulang ke rumah," lirih anak kecil itu dengan suara yang sangat pelan. Namun Norah bisa mendengarnya dengan jelas.


Norah memperhatikan keadaan sekitar dengan seksama hingga akhirnya wanita itu menemukan segerombolan pria yang berjumlah sekitar lima orang. Preman itu kini berhenti di ujung jalan. Mereka memperhatikan Norah dan juga Austin. "Sepertinya apa yang dikatakan anak kecil ini benar kalau dia ingin di bawah pergi oleh gerombolan pria tersebut," gumam Norah di dalam hati.

__ADS_1


"Sayang ... mama sudah bilang jangan pergi jauh-jauh. Mama dan Papa juga mengkhawatirkanmu," ucap Norah sambil tersenyum manis. Austin semakin geleng-geleng kepala mendengarnya. Pria itu duduk lagi lalu memegang tangan Norah.


"Sayang, jangan bilang kalau kau memintaku untuk bulan madu di Jepang karena ingin bertemu dengan anakmu. Tunggu, ini anak siapa sebenarnya? Apa dia anak angkatmu atau kau hamil dan melahirkannya dengan cara dioperasi? Tapi Aku yakin kalau aku adalah pria pertamamu. Norah segera menutup mulut suaminya ketika mengoceh tidak jelas. "Papa, ayo kita kembali ke hotel. Anak kita sudah kedinginan," ucap Norah. Dia memandang dengan tatapan penuh dengan arti membuat Austin mengangguk setuju.


"Ayo Papa gendong ke mobil. Kita ke hotel sekarang juga. Sepertinya kau butuh banyak istirahat," ucap Austin. Pria itu segera membawa anak kecil itu menuju ke mobil. Dia juga menggandeng pinggang Norah.


"Apa semua baik-baik saja?"


"Tidak! Kita akan bicarakan semuanya di hotel," jawab Norah.

__ADS_1


__ADS_2