
"Ini buruk. Sangat-sangat buruk! Kenapa Livy dan Abio harus mengalami kecelakaan? Mereka akan segera menikah. Belum lagi masalah ini di pegang langsung sama Opa Lukas dan Opa Zen. Aku bukan takut pria bernama Dominic itu celaka. Tetapi aku tidak mau sampai Kak Faith jelek di mata mama, Tante Katterine, Tante Alana dan yang lainnya. Ini pertama kalinya Kak Zion jatuh cinta. Dia bahkan belum berhasil meluluhkan hati Kak Faith. Eh, Uda datang aja masalah baru. Sekarang kita harus bagaimana? Bahkan mama dan papa juga melarang kita ikut campur karena kita akan menikah!"
Norah memandang wajah Austin yang kini ada di hadapannya. Pria itu membalas pertanyaan Norah dengan helaan napas panjang. Sepertinya pria itu juga tidak bisa menemukan solusi yang tepat untuk masalah ini. Sebenarnya dia juga senang jika tidak harus ikut campur. Namun, dia juga tidak mau sampai kakak iparnya gagal mendapatkan wanita yang dicintainya.
"Austin, aku bicara padamu!" ketus Norah mulai kesal.
Austin memegang tangan Norah dan mengusapnya dengan lembut. "Biarkan saja pria bernama Dominic itu mendapatkan balasan atas apa yang dia perbuat. Setelah pria itu kalah, baru kita pikirkan bagaimana caranya menyatukan Kak Zion dan Kak Faith. Jangan kita pikirkan dua masalah secara bersamaan. Karena itu hanya akan membuat kepala kita pusing. Setelah masalah yang satu selesai baru kita pikirkan solusi untuk masalah yang kedua. Yang penting untuk saat ini keluarga kita aman. Itu sudah lebih dari cukup."
"Kau selalu bicara seperti itu. Aman aman dan aman. Nyatanya apa yang aman?" Norah masih belum bisa tenang.
"Lalu apa yang ingin kau dengar dariku. Apa kau ingin aku mengajakmu untuk menyerang pria bernama Dominic itu di Las Vegas? Norah, Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak pernah takut mati. Aku siap bertarung dan melawan musuhku dalam kondisi apapun. Tapi tidak setelah aku memutuskan untuk menikah denganmu. Aku menyayangi nyawa ini dengan sepenuh hati. Aku tidak mau mati karena aku ingin hidup bahagia bersamamu. Pria itu pemimpin Las Vegas. Masih ada di ujungnya Las Vegas saja kita sudah diserang oleh bawahannya. Jika tidak menggunakan strategi yang pas, itu sama saja kita masuk ke lubang buaya. Beruntung kalau trik yang kita gunakan berhasil dan kita bisa keluar dengan selamat. Bagaimana kalau tidak? Bukankah itu sama saja mempertaruhkan pernikahan kita. Las Vegas tidak seluas pulau Mr. A. Las Vegas ini sebuah kota. Kau harus ingat, Norah. Luasnya bisa membuat pasukan Gold Dragon dan The Filast habis! Las Vegas surganya penjudi! Penggila ****. Kasino dan club berserak di sana. Bukan orang biasa yang datang ke Las Vegas. Sudah pasti berduit. Mereka juga ada di pihak Dominic. Aku yakin, pria secerdas Dominic tidak akan mungkin melakukan sesuatu sebelum mempertimbangkannya. Dia pasti sudah tahu resiko yang akan dia hadapi. Pria seperti dia pasti tahu kalau sekarang dia menghadapi Gold Dragon dan The Filast! Aku yakin itu. Karena dari riwayat yang aku baca. Dia memang secerdas itu. Bisnisnya sangat sukses dan dia memang di takuti tetapi juga dihormati. Salah trik bisa-bisa nama kita terseret jadi buronan. Bahkan kasus kematian Mr. A baru kemarin berhasil kita selesaikan di kantor polisi."
Norah diam sejenak karena memang semua yang dikatakan Austin benar. "Tapi tidak akan ada pernikahan sebelum Livy dan Abio kembali pulih. Bukankah rencananya pernikahan kita akan berlangsung di tempat dan waktu yang bersamaan?"
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak keberatan jika pernikahan kita ditunda. Menunggu sampai mereka sadar dan membaik itu juga tidak masalah. Yang aku permasalahkan sejak awal jangan lagi kita turun tangan untuk bertarung. Ini bukan pertarungan kecil. Ini pertarungan besar sayang. Nyawa resikonya."
"Austin, Apa secara tidak langsung kau ingin bilang kalau lebih baik Opa Zen dan Opa Lukas saja yang turun tangan karena mereka sudah tua dan nyawa mereka sudah tidak berharga?"
Austin mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya dia malas berdebat dengan Norah seperti ini karena pasti tidak akan ada titik temunya. "Baiklah. Anggap saja untuk pertanyaanmu yang ini aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi. Aku ini pria bodoh. Sekarang terserah kau saja. Aku akan ikut dengan apa rencanamu. Yang penting di mana kau melangkah di situ aku berdiri. Aku akan menjagamu dari bahaya apapun."
Melihat Austin memasang wajah frustasi seperti itu membuat Norah bungkam. Wanita itu memandang ke arah lain. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu solusi apa yang tepat. Tetapi membiarkan Opa Zen dan Opa Lukas turun tangan rasanya tidak mungkin. Mereka sudah sangat tua. Harusnya mereka di rumah istirahat. Norah tidak mau kehilangan Opa yang sangat dia sayangi itu. Tetapi meminta Zion Zein untuk turun tangan langsung hanya akan membuat Faith tidak dalam pengawasan lagi. Meskipun nanti mereka menyerang Las Vegas. Norah sangat yakin kalau Dominic pasti meminta bawahannya untuk mengambil kembali Faith dan membawanya pergi dari mereka. Norah takut tidak bisa menjaga Faith dengan baik. Ditambah lagi sekarang mereka juga ditugaskan untuk menjaga Livy dan Abio di rumah sakit. Belum lagi mereka harus menjaga Daisy yang kuliah di Universitas Yale.
"Sayang jangan terlalu dipikirkan nanti kau bisa sakit." Austin mengecup tangan Norah dan mengecupnya dengan lembut. "Bagaimana kalau kita pulang saja untuk istirahat. Seharian ini kau belum ada istirahat. Biar aku yang berada di rumah sakit dan menjaga Livy. Tapi harus aku yang mengantarmu pulang ke rumah. Karena jika kau sudah berada di rumah aku akan merasa jauh lebih tenang."
"Kau juga jangan lupa istirahat. Aku tidak mau kau sampai sakit."
Austin mengukir senyuman. "Baik, Tuan Putri."
__ADS_1
Norah mengukir senyuman juga. "Aku mencintaimu. Aku sudah tidak sabar untuk menikah denganmu. Aku ingin tidur bersamamu."
Austin menaikan satu alisnya. "Tidur denganku?"
"Hei, mesum! Maksudku tidur sambil memelukmu. Sebenarnya apa yang kau pikirkan."
"Tidur sambil buat anak."
"AUSTIN!" teriak Norah.
Austin tertawa lepas melihat ekspresi Norah. Pria itu rasanya benar-benar bahagia meskipun mereka dalam masalah besar. "Maafkan aku. Ayo kita pulang."
"Aku mau pamit sama mama dan papa," rengek Norah dengan wajah manja.
__ADS_1
"Hemm, ayo aku temani." Austin merangkul pinggang Norah dan membawanya menuju ke tempat semua orang berkumpul saat ini.