Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 112


__ADS_3

"Apa ini?" Abio masih belum bisa tenang. Dengan penampilannya yang sekarang serta ratusan kotak yang ada di hadapannya. Dia semakin bingung.


"Ini makanan. Kita akan membaginya ke orang-orang yang membutuhkan makanan."


"Apa ada orang yang membutuhkan makanan?" Abio memijat dahinya. "Maksudku. Jaman sekarang, apa masih ada orang yang tidak makan?"


"Banyak. Selama ini kita terlalu asyik dan nyaman dengan kekayaan yang kita miliki hingga kita tidak sadar dengan penderitaan orang lain."


"Sejak kapan kau melakukan kegiatan seperti ini?" tanya Abio ingin tahu. "Ada berapa banyak orang yang akan kita temui? Apa tidak berbahaya? Bagaimana kalau ada musuh yang menyamar?"


"Tidak akan ada. Justru mereka akan mengenal kita sebagai malaikat penolong. Mereka tidak akan mungkin menyakiti kita. Bahkan berpikir untuk menyinggung perasaan kita saja tidak ada. Dengan penampilan seperti ini, mereka akan memandang kita sebagai orang yang sama dengan mereka."


"Bagaimana caranya agar kita bisa membawa semua kotak makanan ini? Jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin kita melangsir makanan ini hingga berulang kali. Apa pasukan The Filast juga ada di sini?"


"Tidak ada. Hanya kita berdua." Livy memandang ke depan. "Mereka akan datang menemui kita. Sebentarnya lagi. Lalu, mereka akan membantu kita untuk membawa makanan ini kepada orang yang membutuhkan."


Abio juga memandang ke depan. Dia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi langit akan gelap."


"Tenang saja. Semua akan baik-baik saja."


Livy tetap terlihat santai dan tenang. Berbeda dengan Abio yang secara diam-diam meminta sniper untuk menjaga mereka dari kejauhan.


Tidak menunggu terlalu lama, beberapa anak kecil berusia sekitar 10 tahun datang. Mereka terlihat sangat bahagia melihat Livy sudah ada di sana.


"Kakak!" teriak mereka semua dengan wajah yang girang.


"Kakak? Kau tidak semuda itu," ledek Abio.


"Anak kecil lebih jujur," sahut Livy kesal. "Diamlah. Jika kau masih mengatakan hal tidak penting, aku akan mengusirmu dari sini!"


Abio memilih diam dari pada di usir. Dia memperhatikan satu persatu wajah anak kecil yang kini ada di hadapannya. Walau anak kecil, tetapi dia tetap waspada. Jaman sekarang, anak kecil sering dimanfaatkan oknum-oknum tertentu."


"Kakak, mereka sudah menunggu di sana. Ayo kita pergi," ajak salah satu anak kecil. Dia membawa sepuluh bungkus makanan di tangannya. Lima di tangan kanan dan lima di tangan kiri. Begitu juga rekannya yang lain.

__ADS_1


Livy memandang Abio yang masih mematung di sana tanpa melakukan apapun. "Cepat bantu aku membawanya. Jangan cuma diam saja!" protes Livy.


"Baiklah," sahut Abio sedikit tidak bersemangat. Pria itu membawa bungkusan yang tersisa sambil mengikuti Livy dan anak-anak kecil yang ada di sana.


"Kakak, sudah lama kakak tidak datang. Aku pikir kakak sudah lupa sama kami."


"Kakak tidak mungkin lupa sama kalian semua."


"Kakak, apa pesan kami sudah kakak sampaikan sama bos kakak? Dia bilang apa?" tanya anak kecil lainnya.


"Dia bilang ... dia sangat senang bisa membantu kalian. Dia sama sekali tidak keberatan sudah memberi semua makanan ini kepada kalian. Di makan ya. Harus dihabiskan agar bos kakak tidak kecewa."


"Oke kak!"


"Siapa bos yang mereka maksud?" bisik Abio ingin tahu.


"Diamlah. Sekarang bukan saatnya untuk bertanya!" protes Livy dengan nada yang pelan agar anak-anak di depannya tidak dengar.


Anak-anak itu membawa Livy dan Abio menuju ke sebuah terowongan. Gelap dan sangat dingin. Abio mulai merasa khawatir. Sniper yang ia tugaskan untuk berjaga tidak akan bisa melihat posisi mereka dengan jelas. "Jika seperti ini keadaannya, kalau ada bahaya bagaimana caranya menghindar?" gumam Abio di dalam hati.


"Abio, cepat naik!" teriak Livy.


"Apa itu suara kereta api?" tanya Abio masih dengan posisi berdiri dan bingung.


"Cepat naik atau kau akan mati!" teriak Livy ketika kereta api semakin dekat. Abio segera berlari menuju ke tangga dan naik. Bersamaan dengan itu, kereta api melintas dengan begitu kencang. Bahkan getarannya membuat mereka ingin terpental. Ketika kereta api sudah melintas, anak-anak kecil itu kembali turun ke rel dan jalan ke depan. Begitu juga dengan Livy. Mereka semua terlihat sangat menikmati perjalanan berbahaya ini.


"Tunggu!" Abio memegang tangan Livy.


"Ada apa? Kita bisa ketinggalan."


"Kenapa kita harus lewat sini? Ini sangat berbahaya! Bagaimana kalau ada kereta api lewat lagi sedangkan kita berada di tengah-tengah?"


"Maka dari itu, bergeraklah lebih cepat. Jika tidak kita akan mati terlindas kereta api!" sahut Livy dengan santai. Wanita itu menghempaskan tangan Abio dan melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


Setelah beberapa puluh meter melangkah, akhirnya mereka tiba di tempat yang indah. Ya, pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah tersebut tidak ada kata lain yang bisa diucapkan Abio selain kata indah.


Rerumputan di pinggir sungai. Ada rumah-rumah kayu yang tersusun rapi di sana. Pohon buah dan juga taman bunga. Sungai yang ada di hadapan mereka melengkapi keindahan desa kecil itu.


"Tempat apa ini?"


"Surga anak-anak. Kau tidak akan mau pulang jika sudah ke sini. Tempatnya indah dan nyaman. Seperti kampung kurcaci bukan? Maka dari itu aku memberi nama tempat ini dengan nama desa kurcaci."


"Yang tinggal di sini semua anak-anak?"


"Ya. Aku membangun tempat ini agar anak-anak terlantar memiliki tempat tinggal. Jika kau ingin tahu, di terowongan tadi ada cctv yang terhubung dengan pasukan The Filast. Jika ada orang asing datang, pasukan The Filast akan segera turun tangan untuk melindungi anak-anak yang ada di sini."


"Darimana kau mendapatkan ide seperti ini?"


"Melihat anak-anak kedinginan setiap malam karena tidak memiliki tempat tinggal membuatku kepikiran untuk membuat desa kurcaci ini. Ayo kita ke sana."


Abio dan Livy mendekati anak-anak yang kini sedang mengambil makanan. Karena isinya bervariasi, anak-anak itu terlihat kebingungan harus memilih yang mana. Ada snack, buah dan juga roti. Beberapa bungkus berisi nasi yang bisa dijadikan makan malam mereka nanti.


"Kakak, kakak tidak makan?" tanya salah satu anak kecil. "Kakak, dia siapa?" Anak kecil itu menunjuk ke arah Abio.


"Dia teman kakak," jawab Livy sambil tersenyum.


"Apa dia pria yang pernah kakak ceritakan?"


Livy segera membungkam mulut anak kecil itu. Abio menyipitkan kedua matanya dan memandang curiga ke arah Livy.


"Pergilah. Kakak mau bicara dengannya."


"Baik, bos." Anak kecil itu pergi lagi. Dia bergabung dengan rekannya yang lain.


"Anak kecil selalu bicara jujur. Sekarang cepat katakan, apa saja yang sudah kau katakan kepada anak-anak kecil itu tentang aku? Apa kau bilang pada mereka kalau sebenarnya kau sangat menyukaiku?"


"Tidak!" sahut Livy malas. Dia segera menjauh dari Abio dan bergabung dengan anak-anak kecil tersebut. Sedangkan Abio memandang Livy sambil menopang wajahnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia merahasiakan sesuatu," gumam Abio di dalam hati.


__ADS_2