
“Nona Livy.”
Livy segera membuka matanya ketika suara yang dia dengar sangat tidak asing. Alisnya saling bertaut ketika dia melihat Foster berdiri di sana dengan pakaian seorang pelayan. “Kenapa kau bisa masuk ke kamar ini? Bukankah kamarnya memiliki kunci?” tanya Livy bingung.
“Kebetulan aku memakai pakaian pelayan yang bertugas membersihkan kamar ini,” jawab Foster dengan santai. Tadi aku sempat melihat pria itu membawa anda kemari, jadi saya mengikutinya untuk berjaga-jaga. Saya tidak ingin ada yang celaka dalam misi kali ini.
“Bagaimana dengan Kak Zion dan Norah?”
“Mereka sudah ada di lokasi tempat Abio berada. Semoga saja mereka berhasil menemukan keberadaan Daisy,” jawab Foster apa adanya.
Livy kembali ingat dengan laptop yang ada di hadapannya. Wanita itu membuka laptopnya lagi dan mencari video yang memperlihatkan Daisy. Entah kenapa kali ini Livy mengalami masalah untuk melihatnya.
“Sepertinya seseorang tahu kalau aku telah meretas laptop ini,” ujar Livy tanpa memandang.
“Apa yang anda lakukan dengan laptop itu? Sebaiknya kita segera pergi dari kamar ini dan membantu yang lain,” ajak Foster. Dia kurang setuju dengan apa yang kini dilakukan oleh Livy. Baginya Livy hanya buang-buang waktu saja.
“Tadi aku melihat Daisy,” sahut Livy dengan kesepuluh jari yang masih sibuk di laptop.
“Daisy?” Foster langsung tertarik. Pria itu duduk di samping Livy dan memandang ke layar laptop. “Dimana Daisy? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”
“Entahlah. Tadi aku melihatnya dalam keadaan tidur. Di sebuah kamar. Saat aku ingin melacak lokasinya, kau datang. Kalau saja sejak awal aku tahu kalau kau yang akan datang, aku tidak akan mematikan laptopnya,” jawab Livy kesal.
Pintu terbuka dengan paksa. Dua pria berbadan besar seperti sumo berdiri di ambang pintu. Mereka masuk secara bergantian dengan satu balok kayu di tangan mereka.
__ADS_1
Livy dan Foster sama-sama kaget melihat dua pria berbadan gemuk dan besar itu. Livy yang gagal melacak keberadaan Daisy hanya bisa menelan kekecewaan. Wanita itu berdiri di samping Foster dan siap bertarung.
“Sepertinya kita sudah ketahuan,” ucap Livy pelan.
“Oke, saatnya bertarung. Satu lawan satu, bagaimana?” tawar Foster kepada Livy. Livy mengangguk dengan wajah sedikit ragu. Melihat lawannya saja sudah membuatnya merinding. Bukan karena dia tidak bisa bertarung. Tetapi, ukuran badannya tidak sampai setengahnya dari musuh. Mereka bahkan tingginya bisa sampai dua meter dengan berat badan di atas seratus kilo. Sungguh menakutkan sekali di tambah lagi wajah mereka yang sangar seperti ingin melahap Livy dan Foster hidup-hidup.
“Baiklah, bantu aku jika kau telah selesai,” sahut Livy. Wanita itu berjalan ke balkon dan mengambil botol yang tadi dibawa oleh Austin. Wanita itu memecahkan botolnya sebelum membawanya masuk ke dalam. Karena tidak menyimpan senjata apapun, Livy terpaksa menggunakan pecahan botol itu sebagai senjata. Berbeda dengan Foster yang berhasil menyimpan belatih di pinggangnya. Pria itu mengeluarkan belatihnya dan siap bertarung menggunakan sejata tajam tersebut.
“Kalian akan mati di tangan kami!” ucap salah satu musuh sebelum melangkah maju secara bersama-sama.
***
Di sisi lain, Abio telah tiba di depan pintu kamar yang mereka pikir itu adalah kamar tempat Daisy di kurung. Ketika pria itu ingin membuka pintu, tiba-tiba Austin dan Rula muncul di sana. Tidak hanya mereka berdua. Beberapa pria berbadan besar juga datang bersama dengan mereka. Pria-pria itu seperti menyepelekan Abio karena hanyay sendirian.
Abio mengukir senyuman. Melihat Austin berdiri di hadapannya membuatnya sedikit tenang. Setidaknya dia tidak lagi berduaan dengan Livy. Abio mengepal tangannya. Dia ingin segera masuk ke dalam karena ingin memastikan Daisy ada di dalam kamar itu atau tidak.
“Kenapa anda hanya datang sendirian? Apa Gold Dragon tidak bisa masuk ke wilayah saya?” ledek Austin. Pria itu seperti tidak ada habis-habisnya untuk mencaci musuhnya. “Anda masuk ke rumah ini atas izin saya. Saya sudah tahu kalau anda pasti akan datang ke sini untuk menolong Daisy.”
Abio tidak mau menunggu lagi. Pria itu mendobrak pintu kamar agar bisa masuk ke dalam. Hanya sekali dorongan saja pintu itu sudah terbuka. Memang sangat mencurigakan. Seharusnya jika memang di dalam sana ada Daisy, kamar itu pasti tidak akan mudah di buka. Austin pasti memberi penjagaan yang lebih ketat di sana.
Seperti apa yang dipikirkan Abio sebelumnya. Daisy telah dipindahkan. Di dalam kamar itu terlihat tempat tidur kosong yang baru saja di tinggal pergi. Ada juga beberapa jarum suntik dan obat-obatan yang Abio sendiri tidak tahu fungsinya apa. Yang pasti, sekarang Daisy tidak ada di sini. Dia tidak mau sampai Zion dan Norah juga terjebak.
Austin masuk ke kamar dengan senjata api di tangannya. Pria itu ingin menembak Abio. Abio berputar dan tersenyum. Ini trik yang sangat mudah baginya. Tidak mungkin Austin bisa menang semudah itu.
__ADS_1
“Kamar ini memang dipersiapkan untuk kita berdua. Tidak ada yang bisa keluar dari sini sebelum salah satu dari kita ada yang mati!” ujar Austin. Pintu kamar tertutup setelah dia mengucapkan kalimat itu. Abio mengeluarkan senjata apinya. Beruntung tadi dia sempat bertemu dengan Foster hingga bisa memiliki senjata itu. Entah apa yang akan terjadi jika dia sampai tidak memegang senjata apapun saat ini.
Di depan kamar, Rula berdiri dengan wajah khawatir.. Wanita itu kaget ketika melihat dua orang bertopeng muncul di hadapannya. Seorang wanita dan pria. Satu hal yang membuat Rula terus mengumpat, ketika dia melihat penampilan dua bertopeng yang ada di hadapannyay sangat mirip dengan sosok yang sekarang dia cari.
“Kau Zion Zein?” tunjuk Rula tidak percaya.
“Kau salah orang! Wanita bodoh!” ketus Norah.
Rula ingin membuka pintu lagi dan menyampaikan kabar ini kepada Austin di dalam. Namun, dengan cepat Norah melempar belatih hingga mengenai tangan Rula dan membuatnya terluka. Pria berbadan besar yang ada di sana tidak bisa diam saja. Mereka segera menyerang Norah. Namun, Zion lebih dulu maju melindungi adiknya.
“Urusan wanita itu serahkan padaku kak,” pinta Norah. Ia ingin memberi pelajaran kepada Rula karena sudah berani mengusik ketenangan adiknya. Zion hanya mengangguk. Pria itu melayangkan pukulan demi pukulan kepada pria yang ada di hadapannya. Sedangkan Norah mengejar Rula yang saat itu berniat untuk kabur.
Zion memainkan belatihnya untuk menyayat kulit lawannya. Dia tahu kalau menggunakan senjata api bukan waktu yang tepat untuk saat itu. Suara tembakan hanya akan membuat musuh bermunculan semakin banyak. Sebisa mungkin dia akan mengalahkan musuhnya tanpa suara sampai pasukan Gold Dragon dan The Filast berhasil masuk ke dalam rumah ini.
Dia melihat ke arah Norah berlari dan mengkhawatirkan adiknya itu. Namun, di tempatnya sekarang berdiri juga tidak aman. Dia tidak bisa membantu Norah dan mengabaikan orang-orang yang kini mengincar nyawanya.
“Aku harus segera menolong Norah,” gumamnya sebelum menghajar satu persatu orang yang menyerangnya. Zion menggunakan trik bela diri yang selama ini di ajarkan Zeroun dan Jordan kepadanya. Setelah sekian lama berlatih baru kali ini dia menggunakan trik itu.
Di tempat lain, Norah berhenti ketika Rula juga berhenti. Wanita itu memutar tubuhnya dan siap menghajar Norah. Bagaimanapun juga, Rula termasuk wanita jagoan. Ia berlari karena ingin mencari lokasi yang pas untuk bertarung dengan Norah. Bukan karena dia takut sama Norah.
“Oke, sekarang aku ingin lihat. Siapa yang paling hebat di antara kita,” ujar Rula dengan penuh percaya diri. Norah berdiri dengan tangan dilipat. Wanita itu mengukir senyuman kecil melihat pasukan Gold Dragon telah berhasil masuk ke dalam rumah.
“Katakan selamat tinggal, wanita bodoh!” umpat Norah dengan wajah penuh kemenangan.
__ADS_1