Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 129


__ADS_3

Ketika bersama dengan orang yang kita cintai, waktu terasa cepat sekali berputar. Inginnya waktu berhenti agar kita bisa berlama-lama dengan orang yang kita cintai.


Inilah yang dirasakan oleh Daisy dan juga Foster. Waktu untuk mereka berpisah telah tiba. Daisy harus kembali pulang ke rumah bersama dengan Zeroun. Sedangkan Foster harus tetap berada di Ukraina.


Zeroun tidak mengizinkan Foster untuk pergi meninggalkan Ukraina. Pria itu berjanji kepada Foster untuk membantunya dalam bidang bisnis. Zeroun meminta Foster untuk kembali menemui Daisy setelah usahanya kembali bangkit. Walau awalnya terasa berat karena berpisah lagi tapi akhirnya mereka sama-sama siap. Foster bertekad akan kembali bangkit dan sukses sebelum jadwal libur kuliah berakhir .


Sambil memegang tas jinjing, Daisy memandang wajah Foster dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk Foster lagi seperti tadi. Tapi Jika terus-terusan seperti itu mereka akan terlambat. Opa Zen sudah ada di dalam pesawat. Sepertinya pria itu mulai bosan menunggu cucunya yang tidak kunjung datang.


"Apa lagi sekarang yang kau tunggu. Cepat masuk ke dalam pesawat. Opa Zen akan marah jika kau tetap berdiri disini," pinta Foster sambil tersenyum.


"Kau sendiri kenapa tidak pergi-pergi?" tanya Daisy gantian. Ia ingin terus mengulur waktu agar bisa bersama dengan Foster seperti ini.


"Aku ingin melihatmu berangkat. Setelah pesawat ini terbang aku baru bisa pergi," jawab Foster apa adanya.


"Baiklah. Terima kasih atas waktu singkat yang bahagia ini. Berjanjilah untuk memberikan kebahagiaan lebih indah dari kemarin setelah kita bertemu nanti."


Foster mengangguk. "Ya. Aku berjanji. Sekarang cepat masuk ke pesawat. Kau harus segera pergi. Kabari aku jika sudah sampai."


Daisy segera memutar tubuhnya dan naik ke tangga. Langkah kakinya sangat lambat seolah-olah kakinya itu sangat berat dibuat melangkah. Daisy menahan kakinya ketika sudah tiba di tengah tangga. Wanita itu berputar dan menatap wajah Foster yang masih berdiri di bawah.


Tiba-tiba saja Daisy turun lagi. Wanita itu berlari dan menghampiri Foster. Tanpa aba-aba dia memeluk Foster dan menangis. Bukan perpisahan sementara ini yang dia sedihkan dan ia takuti. Tetapi Daisy takut meninggalkan Foster sendirian di Ukraina. Ingin sekali Daisy menemani Foster selama pria itu merintis karirnya lagi.


"Jangan menangis. Jika seperti ini aku akan berat melepaskanmu," bujuk Foster sambil mengusap lembut punggung Daisy.


"Telepon aku. Jika kau tidak sibuk beri aku kabar melalui pesan singkat. Jangan pernah lupakan aku sesibuk apapun itu," ucap Daisy sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Tidak akan. Apapun yang aku kerjakan akan selalu ada namamu. Percayalah padaku." Foster mengusap wajah Daisy.


Daisy melepas pelukannya dan menatap wajah Foster. "Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu." Foster mengecup pucuk kepala Daisy dengan penuh cinta. Pria itu memejamkan mata dan menahan rasa sedih yang kini memenuhi dadanya.


"Daisy!" teriak Zeroun dari atas pesawat. Pria itu terpaksa keluar untuk menjemput cucunya yang tidak kunjung masuk. Dia memandang wajah Foster hingga akhirnya membuat Foster merasa bersalah.


"Cepat sana masuk. Kau sudah membuat Opa Zen marah," bisik Foster di telinga Daisy.


Daisy menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti. Rasanya dadanya sesak sekali. "Jika saja besok lusa Kak Norah tidak tunangan mungkin detik ini kita masih bisa bersama."


"Setidaknya kita sudah bertemu. Kemarin-kemarin kita telah melewati hari-hari dengan penuh cinta.


Jadikan kebersamaan kita yang kemarin menjadi kekuatanmu untuk tetap mencintaiku. Doakan aku agar aku berhasil dalam perjuanganku."


Foster hanya tersenyum saja. Berulang kali kekasihnya mengucapkan kalimat seperti itu. Kali ini Daisy segera masuk ke dalam pesawat. Wanita itu tidak mau memandang ke belakang lagi karena tidak mau menangis melihat kekasihnya.


Zeroun memandang ke bawah untuk beberapa saat. Pria itu tersenyum sebelum masuk. Bersamaan dengan itu pintu pesawat ditutup. Foster menjauh agar tidak menghalangi lajunya pesawat. Pria itu bersandar di depan mobil yang dibelikan oleh Zeroun untuknya.


"Cinta kami selalu butuh pengorbanan. Aku berharap cinta kami berakhir dengan bahagia," ucap Foster di dam hati.


Pesawat terbang dengan sempurna. Persamaan dengan itu Foster masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan bandara. Dia ingin ke perusahaan dan rapat. Kali ini Foster merasakan yakin kalau dia akan bisa menjadi pria sukses tanpa bantuan kedua orang tuanya.


Di dalam pesawat Daisy menghapus air matanya dengan tisu. Dia masih belum bisa tenang. Perpisahan ini sungguh menyesakkan dada.

__ADS_1


Opa Zen yang ada di hadapan Daisy hanya bisa diam saja. Pria itu juga tahu bagaimana perasaan cucunya. Bagaimanapun juga dia pernah muda dan pernah mencintai.


"Dia akan menemuimu dalam keadaan yang lebih baik lagi. Untuk sekarang lebih baik semua orang berpikir kalau kalian belum pernah bertemu. Ini solusi yang Opa berikan untuk kebaikan kalian berdua."


"Ya, Opa. Terima kasih karena sudah mendukung hubungan kami. Terima kasih karena sudah membantu Foster untuk merintis karirnya," ucap Daisy.


"Setelah kita tiba di rumah jangan pernah menangis lagi. Itu hanya akan membuat semua orang yang ada di rumah curiga. Kau harus terlihat bahagia.


"Baik Opa." Daisy meneguk air mineral yang ada di depannya. Tiba-tiba saja wanita itu terlihat panik.


"Opa, gawat!"


"Gawat? Gawat kenapa?" tanya Zeroun bingung.


"Aku lupa untuk membeli oleh-oleh. Kak Norah pasti marah karena aku tidak membawa oleh-oleh. Aku tidak membeli baju sama sekali. Kak Norah ingin barang-barang dari Ukraina, Opa."


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Norah sudah mengetahui hubungan kalian? dia pasti bisa mengerti kenapa kau tidak sempat membeli oleh-oleh," jawab Zeroun dengan santai.


"Ya, Opa. Karena itu alasannya. Kak Norah sudah tahu hubungan kami. Lalu dia memintaku untuk membeli baju dan oleh-oleh yang banyak. Bagaimana ini Opa! Kita sudah di pesawat. Aku tidak mungkin berbelanja lagi. Opa bantu aku," rengek Daisy.


Zeroun lagi-lagi dibuat pusing oleh tingkah laku cucu perempuannya. Pria itu menghela nafas lalu mengangkat satu tangannya ke atas. Seorang pria datang menghampiri. Zeroun memandang pria itu.


"Belikan baju dan oleh-oleh yang banyak. Pastikan barang-barang itu sudah tiba di bandara saat kita tiba di bandara. Aku tidak mau tahu. Baju dan oleh-oleh itu harus barang yang dijual di Ukraina."


"Baik bos," jawab pria itu tanpa keberatan. Ia segera pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Zeroun.

__ADS_1


Daisy tersenyum bahagia. Dia beranjak dari kursi dan berlari untuk memeluk Opa Zen. "Terima kasih Opa. Opa memang yang terbaik. Aku sayang sama Opa."


"Opa juga sangat menyayangimu," jawab Zeroun sambil tersenyum bahagia.


__ADS_2