
Daisy merapikan buku-buku yang berserak di meja. Wanita itu seperti sudah tidak sabar untuk pulang. Jam belajar telah selesai. Setelah memutuskan tinggal di rumah Opa Zen. Sejak saat itu juga Daisy di antar jemput oleh Zeroun. Hal itu menyebabkan Daisy digosipin di kalangan mahasiswi. Karena yang menjemput terlihat kaya dan sudah tua, pada akhirnya Daisy mendapatkan julukan simpanan sugar Daddy.
Selama ini Daisy yang mereka kenal adalah wanita miskin tidak berharga. Wajar saja kalau semua rekannya menilainya seperti itu. Barang-barang bermerk yang digunakan Daisy mereka pikir didapatkan dari hasil jual diri.
Daisy memandang temannya yang berbisik di ujung kelas. Dia menghela napas kasar sebelum melangkah pergi. Rasanya ingin sekali dia membuat semua orang tidak menggosipinya lagi. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Dia juga tidak mau orang-orang tahu kalau dia berasal dari keluarga berada. Seperti ini saja sudah lebih dari cukup baginya. Daisy lebih baik tidak memiliki teman daripada harus memiliki teman tetapi karena harta kekayaan yang ia miliki.
"Daisy, sugar Daddy mu sudah jemput tuh di depan!"
teriakan Lyn membuat Daisy mengalihkan pandangannya. Dia terlihat bahagia dan sudah tidak sabar untuk pulang. Namun, tiba-tiba saja Lyn menghalanginya.
"Apa kau sudah tidak bersama Kak Foster lagi? Aku dengar-dengar Kak Foster yang ngajak putus." Lyn tertawa. "Aku sudah tahu sejak awal kalau hubungan kalian tidak akan lama. Kau itu tidak pantas jadi pendamping Kak Foster. Cantik gak. Seksi apa lagi," ejek Lyn dengan tatapan menghina.
Daisy kali ini tidak bisa diam lagi. Dia tahu kalau tidak ada satu orangpun yang tahu kalau Foster memutuskannya. Ini pasti hanya tebakan Lyn saja. Selama beberapa hari ini, memang Foster dan Daisy tidak pernah terlihat bersama lagi. Jelas saja hal itu menimbulkan kecurigaan di pikiran semua orang.
"Setidaknya aku tidak perlu jual diri demi mendapatkan pria yang aku sukai! Permisi!" Daisy pergi begitu saja meninggalkan Lyn yang dalam keadaan emosi.
"Tidak pernah jual diri kau bilang? Lalu bagaimana dengan pria tua yang menunggumu di parkiran? Apa dia bukan sugar Daddy mu?"
Daisy menahan langkah kakinya. Dia memandang Lyn dan mengacungkan jari tengah. Hal itu membuat semua orang kaget. Daisy pergi begitu saja setelah puas membuat Lyn kesal.
"Daisy, awas kau!" umpat Lyn.
Daisy hanya senyum saja mendengar teriakan Lyn. Wanita itu melangkah lebih cepat lagi menuju ke parkiran.
Di parkiran, Zeroun sudah berdiri di depan mobil sambil memegang buket bunga yang indah. Pria itu terlihat rapi dan tampan. Ada kaca mata yang menutupi mata keriputnya. Di usianya yang sekarang, justru Zeroun terlihat semakin mempesona. Beberapa wanita bahkan dosen yang mengajar di Universitas Yale tertarik melihat penampilan Zeroun. Mereka berkhayal, betapa bahagianya menjadi Daisy yang kini hidup bergelimang harta.
"Daisy, ini bunga untukmu." Zeroun memberikan bunga itu sambil tersenyum.
"Terima kasih Opa." Daisy menerima bunga itu dan menghirup aromanya. Alisnya saling bertaut melihat banyak sekali wanita yang memperhatikannya saat ini.
"Ada apa?" tanya Zeroun bingung.
Tiba-tiba saja Daisy memiliki pemikiran untuk mengerjai semua orang yang ada di dekat sana. "Opa, aku ingin pesawat pribadi. Pesawatnya harus tertulis namaku," rengek Daisy. "Aku tidak mau cuma bunga." Daisy bahkan merangkul lengan Zeroun.
Zeroun mengeryitkan dahinya. "Kau mau pesawat?"
"Aku mau pilotnya tampan dan wangi. Pramugarinya juga cantik seperti model dan juga masih muda. Aku mau secepatnya Opa. Aku ingin jalan-jalan ke Eropa."
"Baiklah. Opa akan belikan pesawat jika memang kau menginginkannya." Bagi Zeroun permintaan Daisy tidaklah berat. Sejak wanita itu lahir, belum pernah dia minta yang aneh-aneh. Harta juga gak di bawa mati. Zeroun dan Emelie memiliki gudang harta karun yang tidak ada habisnya.
"Biar tahu rasa kalian. Sebentar lagi juga beritanya sampai ke telinga Lyn," gumam Daisy di dalam hati. Dia segera mengajak Zeroun masuk ke dalam mobil karena ingin segera memberi tahu Zeroun kalau semua ini hanya bercanda saja.
__ADS_1
Daisy memandang keluar mobil sambil tersenyum bahagia. Bersamaan dengan itu, supir segera melajukan mobil.
"Apa yang kau lihat? Bagaimana dengan kuliahmu hari ini?" tanya Zeroun.
"Seperti biasa Opa. Sangat membosankan."
"Apa yang membuatmu bosan ketika kuliah?" Zeroun tidak pernah kuliah. Hal itu membuatnya ingin tahu sebenarnya apa saja yang dilakukan mahasiswa ketika sedang kuliah.
"Mereka pikir Aku Simpanan Opa," sahut Daisy dengan santai.
"Maksudnya?" Zeroun mengeryitkan dahinya dan terlihat bingung sekali.
"Ya. Mereka pikir aku memiliki sugar daddy dan sugar Daddy itu Opa," perjelas Daisy.
"Apa itu sugar daddy?"
"Opa tidak tahu apa itu sugar daddy?" tanya Daisy balik. Dia juga harus memastikan. Opa Zen nya itu benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.
"Bisakah kau jelasin sedikit agar opa mengerti?"
"Sugar Daddy itu Pria tua kata raya yang suka sekali membelanjakan barang-barang mewah untuk kekasih simpanannya."
"Mereka memandangmu sebagai wanita simpanan?" Wajah Zeroun terlihat tidak terima. "Siapa yang sudah berani bicara seperti itu? Katakan pada Opa."
"Bercanda? Tapi Opa bener-bener ingin membelikan sesuatu untukmu Daisy. Sampai detik ini Opa belum tahu apa yang bisa Opa wariskan kepada cucu-cucu Opa. Jika memang kau ingin pesawat maka akan Opa siapkan. Bukan hanya kau saja. Untuk Norah, Zion dan juga Livi nanti akan Opa tanyakan. Benda mewah apa yang sangat ingin mereka memiliki."
"Tapi pesawat harganya sangat mahal Opa. Aku bisa dimarah Mama nanti."
Sekarang Daisy terlihat sangat khawatir. Dia tidak mau sampai Leona dan Jordan memarahinya karena sudah meminta pesawat pribadi yang nilainya sangat fantastis.
"Mamamu tidak akan marah. Jika dia marah, suruh dia untuk temui Opa."
"Kak Zion dan Kak Norah juga pasti akan marah padaku." Daisy menunduk dengan wajah tidak bersemangat.
"Jangan pikirkan tentang mereka. Lebih baik mulai dari sekarang kau catat saja tempat-tempat mana yang ingin kau kunjungi ketika kau berlibur ke Eropa nanti. Secepatnya pesawat itu akan datang. Opa akan mengurus pesawat itu atas namamu."
"Aku sayang sama Opa." Daisy segera memeluk Zeroun sambil tersenyum bahagia. "Terima kasih Opa. Aku akan selalu berdoa agar Opa diberi umur yang panjang."
"Hanya kau harta berharga yang saat ini Opa miliki. Bahkan jika kau meminta nyawa Opa, Opa pun akan memberikannya dengan sukarela."
...***...
__ADS_1
Leona datang ke ruangan bawah tanah yang berada di markas Gold Dragon. Sudah beberapa hari ini Dia tidak memiliki waktu untuk datang ke markas putranya tersebut. Leona ingin menemui Esme. Dia tidak mau sampai Daisy tahu kalau Esme telah dikurung dan disiksa di ruang bawah tanah sejak wanita itu merencanakan penculikan Daisy. Dia tahu kalau putrinya sangat mudah kasihan pada orang lain. Rencananya akan gagal jika sampai Daisy membebaskan wanita itu agar kembali hidup dengan bebas.
Esme Berteriak-teriak seperti orang gila di ruang bawah tanah. Dari kejauhan saja suaranya sudah terdengar dengan begitu jelas. Sesekali terdengar suara rintihan. Selain berteriak, wanita itu juga menangis sedih dan pilu. Seolah-olah dia menyesal dengan semua yang sudah dia lakukan.
"Apa itu suaranya." Leona mempercepat langkah kakinya.
"Benar Nyonya. Sejak masuk dan dikurung di ruang bawah tanah, wanita itu tidak berhenti teriak dan menangis. Tenaganya tidak ada habisnya. Padahal kami hanya memberinya makan dan minum sekali saja dalam sehari," jelas pria yang kini berada di samping Leona.
"Menyedihkan. Kalau saja dia berpikir dua kali sebelum berbuat, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah dia alami."
"Sesekali dia juga meneriaki nama kakak kandungnya."
"Siapa nama kakak kandungnya?" Leona melirik ke samping.
"Rula, nyonya. Dia adalah dalang dari penculikan Nona Daisy Beberapa bulan yang lalu."
Leona menyunggingkan senyuman tipis. "Ternyata mereka kakak dan adik sama-sama tidak memiliki hati. Tahunya mengusik kebahagiaan orang lain saja."
"Silahkan masuk, Nyonya." Pria itu membukakan pintu untuk jalan Leona.
Setibanya di dalam ruang penyiksaan, Esme terlihat sangat berantakan dan bauk sekali. Wanita itu tidak mandi selama berhari-hari. Dia juga tidak bisa merawat dirinya. Pakaian yang ia kenakan kotor karena terkena sisa makanan dan tumpahan air. Ada juga bercak darah kering dari luka yang ia terima di dahiny. Sebelum di seret ke ruang bawah tanah, Esme sempat dipukuli karena memberontak.
"Usianya masih sangat muda. Tapi sayang, pikirannya tidak sebaik yang dipikirkan. Dia tidak pantas hidup. Aku karena menghargainya sebagai sahabat putriku. Walau aku tidak tahu dia benar-benar tulus atau tidak melindungi putrinya selama ini. Tetapi setidaknya aku tidak membunuhnya. aku rasa keputusan untuk menyiksanya jauh lebih baik dari pada harus membiarkannya tewas karena tersiksa."
Mendengar suara Leona, membuat Esme mengangkat kepalanya dan memandang ke depan. Dia mengeryitkan dahinya. Wanita itu sama sekali tidak kenal dengan wanita yang kini berdiri di hadapannya. Bahkan sejenak ia mengira kalau kini dia sedang berhalusinasi.
"Kau yang bernama Esme?" Nada bicara Leona masih terdengar enak.
"Ya. Siapa anda?" tanya Esme balik.
"Aku Leona. Ibu kandung dari Daisy!"
Esme kaget bukan main. Sungguh di luar bayangannya. Selama ini dia berpikir kalau ibu kandung Daisy adalah wanita tua yang kuno. Tidak di sangka kalau ibu kandung Daisy sangat modern dan cantik. Bahkan dari Foster tubuhnya bisa diketahui kalau dia rajin olahraga.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau merasa bersalah karena sudah menjebak putriku?"
"Maaf, Nyonya. Saya sama sekali tidak merasa bersalah." Esme merasa yakin kalau keputusannya untuk menjebak Daisy adalah keputusan yang tepat.
"Oh ya?" Leona tertawa. "Aku tahu apa yang menyebabkanmu melakukan semua ini. Kau harus melihat sebuah rekaman yang berhasil kami dapatkan dari seseorang. Aku harap, setelah ini kau tidak menyesal karena merasa bersalah. Tetapi, bagaimanapun kau menyesal. Aku tetap tidak akan membebaskanmu dari tempat ini. Kau akan tetap terkurung di tempat ini sampai aku benar-benar siap melihatmu hidup dengan bebas."
Leona memberi kode kepada pria di sampingnya. Pria itu segera mengambil meja dan meletakkan sebuah laptop di atasnya. Laptop itu di aktifkan dan berputar lah sebuah video. Videonya memang kurang jelas karena minimnya cahaya saat itu. Namun, jika diperhatikan lebih jelas bisa diketahui apa yang sebenarnya sudah terjadi.
__ADS_1
Kedua mata Esme melebar melihat kakak kandungnya yang ada di dalam video tersebut. "Kakak?"