
Zion dan Austin sudah dalam perjalanan menuju ke pulau. Entah benar atau tidak pulau yang mereka tuju, yang pasti mereka harus memeriksa pulau itu. Jika memang informasi dari wanita misterius itu palsu, Zion dan Austin telah siap menghadapi konsekuensinya.
Mereka berangkat dengan menggunakan 10 kapal kecil. Zion dan Austin berada di kapal yang sama. Nantinya ketika kapal sudah dekat dengan pulau, mereka akan menuju ke arah pintu masuk pulau. Sedangkan 9 kapal lainnya masuk melalui jalan lain. Mereka semua berpencar untuk mengelabui musuh. Hanya itu cara yang dipikirkan Zion untuk saat ini.
Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Angin bertiup dengan begitu dingin. Sesekali Zion memandang Austin yang berdiri di depan kapal memperhatikan lautan yang terbentang di depan.
"Pastikan arahnya yang sesuai. Tetap kabari tim yang lain agar tidak sampai salah arah," ucap Zion kepada anggotanya yang bertugas mengemudikan kapal. Pria itu segera pergi mendekati Austin setelah memberi perintah.
Austin yang tahu kalau Zion mendekatinya memilih untuk memutar tubuhnya. Dia mengambil kopi yang sudah hampir dingin.
"Sebaiknya jangan minum kopi sebelum makan. Tidak baik untuk kesehatan," ucap Zion memperingati.
Austin yang tadinya mau menyesap kopi tersebut mengurungkan niatnya. Ada senyum di bibirnya sebelum dia memilih untuk duduk di kursi yang ada di samping Zion.
"Perjalanan lima jam. Sepertinya kita akan tiba ketika langit sudah terang. Mereka bisa melihat kedatangan kita," ucap Austin. Pria itu mengambil ponselnya untuk memeriksa jaringan di sana. Wajahnya berubah kecewa ketika tidak menemukan satu titikpun jaringan.
"Apapun sambutan yang mereka berikan, kita pasti bisa mengalahkan mereka," jawab Zion penuh keyakinan. Dia belum tahu kalau sebenarnya orang yang akan ia hadapi adalah ratusan orang bersenjata.
"Aku memiliki satu pertanyaan." Austin memandang Zion dengan ekspresi yang serius. "Selain keluargamu, apa ada seseorang yang sekarang mengkhawatirkanmu?"
__ADS_1
Zion menaikan satu alisnya. "Seseorang?"
Austin menarik sudut bibirnya ke samping. "Seperti sahabat atau ...." Austin tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia tahu Zion bukan tipe pria yang suka bercanda.
"Tiba-tiba saja Zion ingat dengan Livy. Sejak wanita itu mengungkapkan perasaannya, hubungan mereka menjadi renggang. Tidak sedekat dulu. Padahal biasanya jika Zion menghadapi masalah, wanita itu pasti sudah membantunya tanpa diperintah. Sekarang bahkan dimana Livy berada saja Zion tidak tahu lagi.
"Kau memikirkan seseorang?" tebak Austin asal saja.
"Ya. Dia seorang wanita. Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang!" tegas Zion agar Austin tidak bertanya lebih jauh lagi. Austin hanya tertawa mendengarnya. "Baiklah. Aku juga tidak ingin tahu banyak tentang Zion Zein. Karena jika aku sampai tahu, aku akan mengerti dimana kelemahan seorang Zion Zein. Itu memudahkanku untuk mengalahkannya," ledek Austin dengan tawa kecil.
"Kelemahanku ada pada keluargaku. Kau tahu itu," sahut Zion. Dia mengambil teropong dan memeriksa keadaan di depan. "Hal itu yang membuatku tidak pernah mengizinkan adikku dekat dengan pria. Karena musuh bisa berwujud apa saja. Termasuk berwujud pria baik!"
"Tidak. Tapi jika kau merasa seperti itu, sepertinya ada yang salah dengan dirimu."
Austin memilih diam. Dia tidak mau bicara lagi dengan Zion Zein. Emosinya benar-benar di uji jika dia mengobrol dengan calon kakak iparnya tersebut.
Zion merasa suasana menjadi kaku ketika Austin tidak lagi merespon ucapannya. Tiba-tiba saja pria itu ingin tahu wanita pembawa informasi yang sejak semalam di bahas oleh Austin.
"Austin, selain Norah apa ada wanita lain yang dekat denganmu?"
__ADS_1
Austin mengeryitkan dahinya. Ini pertanyaan jebakan. Ya, tentu saja jebakan. Austin tidak tahu kalau sebenarnya Zion hanya ingin mengetahui informasi mengenai wanita misterius pembawa informasi.
"Wanita?" Austin pura-pura bertingkah seperti pria bodoh.
"Ya, wanita. Apa ada wanita yang sedang mengejar-ngejarmu? Tetapi kau tidak menyukainya?"
Austin kembali ingat dengan Rula. Tetapi Austin sedang tidak mau membahas tentang Rula saat ini. Dia hanya ingin fokus dengan Norah dan Norah. Tidak boleh ada nama wanita lain dipikirkan selain Norah kekasihnya.
"Tidak ada."
"Kau yakin?" Ekspresi Zion menunjukkan kalau pria itu tidak percaya dengan jawaban Austin.
"Tuan, kenapa anda suka sekali mencampuri urusan pribadi orang lain?"
"Kau duluan yang mulai," protes Zion tidak terima.
Austin menggeser posisi duduknya hingga dia menghadap ke arah Zion. "Tapi itu berbeda. Saya hanya ingin tahu ada atau tidak orang yang menangis jika anda tidak pulang dengan selamat!"
Zion juga membenarkan posisinya. "Aku hanya ingin tahu, sebenarnya siapa yang sudah memberi tahumu informasi semua ini?"
__ADS_1
Pasukan Gold Dragon yang juga ada di kapal itu hanya bisa saling memandang. Lama kelamaan mereka justru menjadi semakin yakin kalau Zion dan Austin memang di pertemukan sebagai kakak dan adik ipar. Mereka memiliki sifat yang sama. Bahkan tingkah laku yang hampir serupa.