Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 135


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan? Kenapa sejak tadi kau diam saja?" tanya Austin kepada Norah. Sebelumnya Norah terlihat sangat ceria. Namun, semakin malam wanita itu terlihat murung. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Padahal seharusnya mereka memasang wajah ceria dan tertawa bahagia.


"Aku memikirkan Kak Zion. Dari semua tamu undangan yang datang hanya kak Zion yang terlihat tidak bersemangat. Aku tahu dia pasti memikirkan wanita itu," jawab Norah tanpa memandang. Tangannya masih merangkul lengan Austin. Tapi tatapan matanya hanya tertuju kepada Zion saja sejak tadi.


"Wanita?" Austin mengingat kembali nama wanita yang pernah diceritakan oleh Norah. "Faith?"


"Ya. Kak Faith. Sebenarnya sudah sejak kemarin aku penasaran dengannya. Ingin sekali aku segera bertemu dan mengobrol dengannya."


Austin mengusap lengan Norah dengan lembut. "Bukankah kau sendiri yang bilang. Kau akan segera menemuinya jika kita sudah bertunangan. Sekarang kita sudah tunangan. Lalu kapan kau akan pergi menemuinya?"


"Sebagai anak nomor dua, Aku merasa sangat pusing. Bukan hanya Kak Zion saja yang memiliki masalah dalam percintaan. Tapi Daisy juga. Tidak lama lagi Foster akan segera datang dan kembali kuliah di Universitas Yale. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Kak Zion ketika dia mengetahui kalau mereka telah pacaran kembali."


"Untuk sementara waktu kita masih memiliki kesempatan untuk membuat Kak Zion tidak sadar kalau Foster telah kembali," jawab Austin dengan santai.


Norah menggeleng tidak yakin. "Tidak mungkin. Mata-mata Kak Zion ada di mana-mana. Tidak ada cara untuk mengelabuhinya."


"Jika kita bisa membuat kak Zion sibuk dengan wanita bernama Faith itu, maka Daisy dan Foster akan aman. Seorang pria jika sudah ada wanita di dalam pikiran dan hatinya maka dia tidak akan peduli dengan hal lain lagi. dia hanya fokus pada satu wanitanya saja."


"Apa seperti itu yang kau rasakan ketika kau jatuh cinta padaku?"


Austin menyipitkan kedua matanya. "Aku dan kak Zion berbeda. Aku tidak memiliki adik perempuan. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya memikirkan keselamatan adik perempuanku. Ini hanya saran dariku saja. Berhasil atau tidaknya tergantung takdir."


"Baiklah, kita akan buat Kak Zion sibuk dengan Kak Faith untuk beberapa waktu ini. Tugasku adalah mengatur masalah yang berhubungan dengan kak Zion dan Kak Faith. Urusan Foster dan Daisy menjadi urusanmu bagaimana?"


"Baiklah, aku setuju. Tapi semua ini tidak gratis." Austin menaik turunkan alisnya.


Norah segera mencubit perut Austin karena geram. "Semakin ke sini kau semakin nakal. Apa kau juga jatuh miskin hingga meminta imbalan dariku? Apa pesta pertunangan ini telah menguras habis harta yang kau miliki?" Norah masih mencubit Austin hingga membuat pria itu kesakitan.

__ADS_1


"Ampun, Nona. Ampun. Aku hanya bercanda. Kalaupun aku meminta imbalan, aku tidak minta imbalan uang. Aku hanya butuh ciuman saja. Bagaimana? Satu tugas satu ciuman? 10 tugas 10 ciuman?"


"Austin, kenapa kau jadi pria mesum seperti ini?" Kali ini Norah tidak mencubit perut Austin lagi. Dia memukul lengan kekar pria itu.


Austin tertawa geli. Dia menarik Norah dan memeluknya. Mengecup pucuk kepala wanita itu dengan mesra. "Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Tanpa bayaran. Asalkan kau bahagia, maka aku juga akan bahagia. Aku lakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu." Austin semakin erat memeluk Norah. Norah mengukir senyum bahagia. Wanita itu memejamkan matanya karena merasa nyaman ada di dalam pelukan Austin.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu," jawab Austin. Pria itu mengusap lembut rambut Norah sambil memandang tamu undangan yang sudah mulai berkurang karena memang acara telah selesai.


"Tuan, maaf mengganggu." Paman Tano muncul di belakang Austin dan Norah sambil memberikan sebuah kartu. "Ini titipan dari Tuan Biao. Ini hadiah yang sudah beliau persiapkan untuk anda, Tuan."


Austin memandang Norah sejenak sebelum menerima kartu tersebut. Dia segera membukanya. Bersamaan dengan itu Paman Tano permisi pergi. Norah yang juga sangat penasaran memandang kartu itu tanpa berkedip.


Tiba-tiba saja Austin menahan gerakannya. Dia memandang Norah dengan senyuman penuh arti. "Nungguin ya?"


"Austin." Lagi-lagi wanita itu mencubit perut Austin.


"Jika nanti aku tiada. Aku ingin kau menjaga cucuku seperti kau menyayangi cucumu sendiri. Austin sudah seperti bagian dari hidupku. Aku yakin, dia akan mendekatkan diri dengan keluarga kalian. Bukankah keluargamu memiliki magnet yang membuat semua orang ingin menjalin silaturahmi dengan kalian? Biao. Tolong buka tanganmu ketika dia datang. Bantu dia memperbaiki diri jika kau bertemu dengannya dalam keadaan tidak baik. Jangan musuhi dia. Karena dia adalah aku."


Austin menutup surat itu lagi. Sekarang dia tahu kenapa Biao sangat menyayanginya. Ternyata sebelum tiada, Kakeknya sempat mengirimkan surat ini.


"Kita beruntung memiliki Opa yang baik bukan? Aku juga tidak mau sampai kehilangan Opa Zen. Dia yang terbaik." Austin mengangguk. Dia memeluk Norah sambil membayangkan wajah tua Mr. Paul sebelum memejamkan mata.


"Aku sayang Opa. Terima kasih Opa."


***

__ADS_1


Zion merasa kesepian meskipun kini dia berada di tengah keramaian. Ternyata Faith benar-benar berhasil mengusik hatinya. Sampai-sampai seorang Zion Zein yang dingin kini berubah menjadi pria hangat. Setiap detik Zion memikirkan Faith. Dia takut jika sampai Faith belum makan dan jatuh sakit. Dia takut jika sampai Faith kurang tidur. Dia ingin Faith merasa nyaman berada di rumah itu dan juga memikirkan dirinya. Ya, sampai detik ini Zion berpikir apa mungkin Faith juga melakukan apa yang dia lakukan?


"Faith, apa aku ke sana aja ya untuk memeriksa keadaannya di sana? Tapi, ini sudah malam. Bagaimana kalau dia sudah tidur dan kedatanganku hanya membuatnya terganggu?" Zion mengetuk-ngetuk meja yang ada di hadapannya. Abio yang juga ada di sana merasa tertarik untuk mengetahui apa yang memenuhi pikiran Zion.


"Apa Gold Dragon baik-baik saja?" tanya Abio untuk memecah suasana.


"Ya." Zion memandang Abio. Dia menuang minuman ke dalam dua gelas dan memberi Abio satu. "Bagaimana denganmu? Bisnis yang kau jalani berjalan lancar?"


"Hanya bisnis kecil." Abio meneguk minumannya.


"Itu bisnis yang besar. Pulau itu akan menjadi ladang harta karun jika kau sampai berhasil."


"Jika berhasil. Ada yang harus di garis bawahi. Jika berhasil. Bagaimana jika aku gagal?" Abio menyandarkan tubuhnya. "Aku butuh rekan bisnis. Livy tidak bisa dijadikan rekan bisnis. Jika ada dia, aku jadi gak fokus kerja." Abio tertawa kecil.


"Aku tidak suka dunia bisnis. Mungkin kau bisa mengajak Austin. Dia juga pembisnis."


"Dia juga baru belajar. Satu-satunya orang yang jago dalam bisnis adalah Foster!" Abio langsung terdiam karena dia baru saja menyebut nama Foster. "Maaf."


"Dia memiliki masalah denganku. Bukan denganmu. Kau tidak salah. Kau berhak memilih rekan bisnismu. Jangan jadikan aku sebagai penghalang." Zion juga meneguk minumannya sendiri. Dia memandang ke arah lain karena tidak mau bertatap muka dengan Abio lagi.


"Boleh aku bicara lagi?"


"Silahkan."


"Foster pria yang baik. Dia-"


"Aku tidak mau membahas tentang dia!" Zion menatap Abio dengan menikam. "Bicarakan hal lain. Jika tidak ada, aku ingin pergi sekarang."

__ADS_1


Abio mengangguk. "Silahkan."


Tanpa banyak bicara lagi Zion segera pergi meninggalkan Abio sendirian di sana. Abio menghela napas panjang sambil geleng-geleng kepala. "Dia memang sangat keras kepala."


__ADS_2