
Di waktu yang bersamaan tanpa sengaja Leona lewat. Wanita itu menahan langkah kakinya dan memandang Foster dan Daisy yang sedang berpelukan. Jordan yang juga ada di dekat Leona segera menarik wanita itu dan memaksanya untuk pergi. Dia tidak mau sampai istrinya membuat keributan lagi. Apalagi di bawah tamu undangan sudah berkumpul. Acara juga akan segera dimulai.
"Aku takut terjadi sesuatu kepada Daisy. Sejauh ini Foster memang bisa dipercaya. Tapi bukankah pria dan wanita tidak bisa selamanya disatukan jika mereka belum menikah. Aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi jika mereka sering-sering berduaan seperti itu. Masa depan Daisy masih panjang. Aku tidak mau dia meninggalkan mimpinya karena seorang pria."Leona terlihat sangat khawatir. Rasanya ingin sekali wanita itu menghampiri putrinya dan menyeretnya pergi.
"Sayang. Apa kau meragukanku sebagai seorang ayah? Tentu saja aku tidak akan membiarkan putriku disentuh sembarangan oleh pria. Kau tenang saja. Selama ini aku dan Zion sudah mengirimkan mata-mata yang selalu mendampingi Daisy dan melindungi Daisy di manapun ia berada. Aku memang tidak bisa berani jamin 100% kalau mata-mata yang kami tugaskan ini bisa melindungi Daisy selama 24 jam. Tetapi setidaknya dia bisa melindungi Daisy dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Leona penuh selidik.
"Sudah berulang kali aku ingin memberitahumu tapi kau tidak memiliki waktu untuk mendengarkannya. Baru ini aku bisa menyampaikannya lagi. Intinya aku tidak ingin membuatmu khawatir."
Leona memandang ke arah Daisy dan Foster sekali lagi. Kali ini wanita itu bisa lebih tenang ketika meninggalkan Daisy bersama dengan Foster. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke tangga yang akan menghubungkan mereka dengan lokasi resepsi yang ada di bawah.
"Tadi aku sempat melihatmu berbincang-bincang dengan orang tua Foster. Apa saja yang dikatakan oleh orang tua Foster kepadamu," tanya Jordan sambil melangkah.
"Mereka membahas soal pernikahan. Aku sudah katakan kepada mereka dalam waktu dekat Daisy tidak akan menikah dengan siapapun termasuk Foster. Karena setelah ini aku hanya ingin menikahkan Zion dengan wanita pilihanku. Aku tidak mau ada drama lain lagi. Aku hanya ingin anak-anakku hidup dengan bahagia bersama dengan orang yang tepat."
"Kau berniat untuk menjodohkan Zion? Apa Zion masih bersedia untuk menikah dengan wanita pilihanmu, Leona?" Jordan terlihat ragu.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dia siap atau tidak. Dia harus memegang janjinya." Leona merasa mantap kalau wanita pilihannya pasti akan bisa membuat Zion jatuh cinta.
"Tapi bagaimana jika hatinya sudah diisi oleh wanita lain? Bukankah itu akan membuat Zion kesulitan untuk mencintai wanita yang sudah kau siapkan nanti. Kemarin itu Zion bersedia untuk dijodohkan karena dia belum tahu kalau Faith akan menghubunginya. Bisa jadi setelah pulang dari Las Vegas nanti Zion berubah pikiran."
Leona menahan langkah kakinya lalu memandang ke arah Jordan. "Kita lihat saja nanti. Tidak ada gunanya kita berdebat karena mempermasalahkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Ayo sekarang kita segera turun dan merayakan pesta pernikahan anak kita." Leona menggandeng lengan suaminya. Meskipun apa yang dikatakan Jordan menjadi beban pikiran Leona saat ini. Tetapi wanita itu berusaha untuk menyembunyikannya.
...***...
Resepsi pernikahan itu berlangsung dengan penuh kegembiraan. Norah dan Livy yang menjadi ratu di malam itu terlihat sangat ceria. Setelah melewati pesta dansa kini akhirnya mereka dihadapkan pada acara puncak. Mereka akan menyaksikan bunga api yang akan meletus di tengah-tengah lautan. Hal ini sudah disiapkan matang-matang oleh Leona dan Katterine jauh-jauh di hari pernikahan. Mereka ingin pesta pernikahan anak mereka terlihat mewah namun tetap romantis.
Tiba-tiba saja lampu mati total hingga akhirnya pulau itu gelap gulita. Tidak ada cahaya sedikitpun karena memang itu adalah salah satu bagian dari rencana Leona dan Katterine. Tamu undangan sempat panik. Namun setelah itu mereka semua kembali dibuat tercengang ketika melihat bunga api yang meletus dengan aneka bentuk dan warna.
Ternyata hal itu tidak hanya dipikirkan oleh Austin saja. Abio juga melakukan hal yang sama terhadap Livy. Sepasang pengantin baru itu terlihat sangat menikmati status baru mereka. Mereka berciuman dengan penuh cinta sampai pesta kembang api berakhir.
Opa Zen dan Opa Lukas yang juga menyaksikan pesta kembang api itu hanya bisa tersenyum bahagia. Pesta kembang api itu menjadi kode kalau pesta pernikahan akan segera berakhir. Waktunya bagi semua orang untuk istirahat. Para tamu undangan akan diantarkan pulang dengan kapal khusus. Besok pagi hanya akan tersisa keluarga inti saja di pulau tersebut. Sejak jauh-jauh hari mereka sudah memastikan kalau pulau itu akan aman dari serangan musuh. Malam ini mereka semua bisa tidur dengan nyenyak.
"Lukas! Ternyata kau di sini. Aku mencarimu kemana-mana._
__ADS_1
Tiba-tiba saja Oma Lana muncul di sana. Opa Zen hanya tersenyum saja mendengar suara Oma Lana. Pria itu bersikap pura-pura tidak tahu. Berbeda dengan Lukas yang saat itu terlihat panik ketika melihat Oma Lana berdiri di sana dan menatapnya dengan tatapan menahan amarah.
Ternyata tadinya Opa Lukas pamit kepada Oma Lana kalau dia hanya pergi sebentar saja. Tidak disangka pria itu bertemu dengan Opa Zen lalu lupa waktu. Hingga akhirnya Opa Lukas meninggalkan Oma Lama sampai berjam-jam. Jelas saja hal itu membuat Oma Lana marah.
"Semakin tua kau semakin menyebalkan." Tanpa segan-segan Oma Lana segera menarik kuping Opa Lukas. Dia masih belum sadar kalau Opa Zen juga ada di sana. Dia berpikir kalau suaminya duduk sendirian di pinggiran pantai karena memang saat itu masih gelap gulita.
"Sayang, tunggu dulu. Jangan tarik kupingku seperti ini nanti bisa lepas," bujuk Lukas sambil menahan rasa sakit di kupingnya.
"Kau menyebalkan!" Oma Lana melepaskan tangannya dari kuping Opa Lukas. Wanita itu melipat kedua tangannya lalu memandang ke arah bunga api yang masih menyala. "Aku ini sudah tua dan tidak menarik lagi. Tapi apakah kau tidak bisa-" Lana tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Lukas dengan cepat membungkam mulut wanita itu.
"Di sini ada Bos Zeroun. Bisakah kau untuk tidak menceritakan aib keluarga kita," bisik Lukas di telinga Lana.
Lana melebarkan kedua matanya lalu memandang ke samping. Samar-samar wanita itu melihat Zeroun duduk di sana. Hal itu membuat Lana menjadi malu. "Kenapa kau tidak bilang sejak awal?" protes Oma Lana gantian. "Sekarang cepat bawa aku pergi dari sini karena aku sudah sangat malu."
Opa Lukas tersenyum kecil melihat tingkah laku istrinya. Pria itu memandang ke arah Zeroun yang masih duduk santai sambil menikmati bunga api. "Bos, saya pamit dulu."
"Ya," jawab Zeroun singkat.
__ADS_1
Lukas menarik Oma Lana untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Zeroun masih tetap bertahan di sana. Entah sampai kapan pria itu duduk di tempat dingin tersebut. Ternyata tanpa diketahui oleh Opa Lukas, saat ini hati Zeroun Zein sedang rapuh. Tiba-tiba saja pria itu meneteskan air mata yang sangat jarang keluar dari kelopak matanya. Ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Shabira. Opa Zen merindukan semua orang yang sudah tiada di dunia ini. Di mulai dari Emelie, Serena hingga Daniel.
"Aku ingin bertemu kalian nanti malam. Datanglah padaku meskipun hanya di dalam mimpi," gumam Opa Zen di dalam hati.