
Zion menyambut Austin dengan tendangan yang begitu kuat dan menyakitkan. Pria itu juga tidak melepas musuh yang ada di dekatnya. Satu persatu musuh yang ingin memukulnya ia hajar hingga tergeletak. Zion sangat dendam terhadap Austin. Dia berpikir kalau kekacauan yang terjadi di rumahnya disebabkan oleh Austin. Austin adalah dalang dari semuanya.
"Aku akan mengulur waktu. Aku harus bisa mencari cela agar aku tidak sampai melukai Zion Zein," gumam Austin di dalam hati. Berbeda dengan isi hati Zion. Kini pria itu berambisi untuk mencelakai bahkan merenggut nyawa Austin. Dia bahkan sempat berpikir kalau apa yang terjadi pada Norah juga ada hubungannya dengan Austin.
Zion mengepal kuat tangannya dan ingin mengincar perut Austin. Rasanya dia tidak puas jika belatih yang ada di genggaman tangannya belum mengoyak kulit perut Austin.
Austin yang sadar kalau Zion ingin melukai dirinya segera memegang tangan Zion dengan begitu kuat. Kali ini dia lagi-lagi di buat dilema. Diam saja bisa celaka. Melawan Zion akan masalah.
"Aku akan membunuhmu!" umpat Zion dengan tatapan penuh dendam. Ujung belatih itu sudah tertuju ke perut Austin. Hanya butuh dorongan yang kuat maka belatih itu berhasil mengoyak perut Austin.
__ADS_1
Austin masih menahan belatih itu dengan sekuat tenaga. Karena tidak memiliki cara lain, dia terpaksa menendang perut Zion dengan lutut kakinya. Merebut belatih itu. Tadinya Austin ingin melempar jauh belatih tersebut. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Zeroun muncul bersama dengan pasukan Gold Dragon.
Zion sendiri belum tahu kalau Zeroun dan Gold Dragon sudah datang. Dia terlalu berambisi menghabisi nyawa Austin hingga tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar.
Austin melihat ke arah Mr. A yang saat itu segera pergi setelah melihat Zeroun muncul bersama Gold Dragon. Kesempatan ini tentu tidak di sia-siakan Austin. Pria itu juga ingin segera kabur dari sana. Dia tidak mau sampai ada pertarungan antara dirinya dan Zion.
"Kau tidak akan bisa membunuhku," ujar Austin sebelum memberi sebuah tinju di wajah Zion. Di bantu pasukan The Bloods yang masih tersisa, mereka menghajar Zion hingga babak belur.
Zeroun mengarahkan senjata apinya dan menembak orang-orang yang mengerumuni cucunya. Karena terlalu fokus dengan keselamatan Zion, sampai-sampai Zeroun tidak tahu kalau Austin telah kabur dan menghilang di tengah kabut malam yang dingin.
__ADS_1
"Zion, apa kau baik-baik saja?" tanya Zeroun khawatir. Dia memeriksa tubuh Zion untuk memastikan pria itu baik-baik saja. Zion hanya menggeleng sambil memperhatikan keadaan sekitar. Dia mencari keberadaan Austin. Jika Opanya sudah di sana, rasanya dia semakin yakin kalau pasti akan menang melawan Austin. Sayangnya pria itu sudah tidak ada di sana.
"Sial! Kemana dia!" umpat Zion kesal ketika dia tidak berhasil menemukan Austin di sana.
"Siapa yang kau cari?"
Zeroun memandang ke arah tempat yang menjadi jalan Austin untuk kabur.
"Pria itu, Opa. Austin! Dia yang sudah menembak GrandNa," jawab Zion.
__ADS_1
Mendengar nama Grandna membuat Zeroun teringat kepada Serena. "Kita harus pergi dari sini. Aku yakin, pasukan Gold Dragon bisa mengatasinya."
Zeroun menarik tangan Zion. Walau pertarungan belum selesai, setidaknya sekarang dia sudah bersama Zion. Zeroun ingin segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Serena.