Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 115


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Semua orang terlihat bahagia hari ini. Mereka akan merayakan ulang tahun Livy yang ke 27. Para tamu undangan diwajibkan memakai pakaian berwarna hitam. Sedangkan dekorasi pesta sendiri banyak terlihat warna merah dan juga hitam. Livy terlihat cantik dengan balutan gaun merah selutut yang dijahit secara khusus oleh desainer ternama.


Malam ini dialah ratunya. Semua orang yang datang membawa kado istimewa untuk Livy. Di atas meja, tumpukan kado sudah tinggi. Livy sendiri sempat kaget ketika mengetahui kado yang begitu banyak untuknya. Padahal tujuan utamanya mengadakan pesta hanya untuk bersenang-senang dan mengumpulkan para saudara. Jika tidak ada acara seperti ini, semua orang hanya akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Kak Livy, selamat ulang tahun." Esme memberikan sebuah kado kepada Livy. Wanita itu tersenyum bahagia melihat kakak angkatnya ulang tahun dan sudah sehat kembali.


"Terima kasih," jawab Livy. Tidak lupa dia memeluk adik angkatnya tersebut sambil tersenyum bahagia.


Saat itu, Livy masuk rumah sakit karena dia mengalami sakit gagal ginjal. Semua orang panik. Di tambah lagi tidak ada satu orangpun yang ginjalnya cocok dengan Livy. Termasuk kedua orang tuanya dan juga Oma dan opa yang ia miliki.


Leona memberanikan diri untuk meminta bantuan Esme. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menyelamatkan nyawa Livy saat itu. Ketika dilakukan tes, ginjal Esme cocok untuk Livy. Walau pada akhirnya Esme hanya memiliki satu ginjal, tetapi wanita itu rela. Itu sebagai bentuk wujud rasa bersalahnya terhadap keluarga besar Leona. Selain sebagai bentuk rasa bersalah, pengorbanan itu juga untuk membuat semua orang kembali percaya padanya kalau dia benar-benar sudah berubah.


Selesai operasi, Leona dan Katterine memberikan uang yang cukup banyak dan kebebasan untuk Esme. Mereka masih mentolerir kesalahan Esme saat itu. Namun, Esme justru tidak mau menerima semua uang yang diberikan. Wanita itu pergi meninggalkan kota dan kuliah di tempat lain. Seminggu setelahnya, Livy kembali bertemu dengan Esme. Mereka melihat kehidupan Esme yang ternyata sangat sulit. Di tambah lagi dia jadi mudah sakti karena hanya memiliki satu ginjal. Detik itu juga Livy memutuskan untuk menjadikan Esme adik angkat. Toh selama ini dia juga sangat ingin memiliki adik. Bersama Norah dan Daisy dia tidak terlalu dekat.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena memang Esme sudah berubah. Wanita itu sekarang menjadi jauh lebih baik. Dia sangat menyesal karena sudah pernah melukai keluarga Daisy.


Di samping itu, Daisy kembali fokus dengan kuliahnya. Setelah membaca surat yang dikirim Foster, wanita itu merasa tidak ada yang perlu ditangisi lagi. Daisy bertekad untuk menjadi wanita karir yang sukses agar dia tidak perlu membawa nama besar keluarganya untuk di terima di keluarga pria yang nanti dia cintai. Sama seperti Foster. Jika tidak sama dengan Foster, wanita itu lebih memilih untuk tidak menikah dengan siapapun.


Pertunangan Norah dan Austin sudah ditentukan tanggalnya. Saat ini mereka berdua juga sedang sibuk mempersiapkan segalanya. Di mulai dari gaun, cincin hingga tema pesta. Austin awalnya menolak untuk bertunangan. Pria itu ingin langsung menikah. Tetapi, karena Norah bersih keras untuk menunda pernikahan akhirnya Austin mau saja untuk bertunangan.


Di depan halaman rumah Livy, Abio dan keluarganya baru saja tiba. Terlihat Sharin dan juga Biao ikut dalam rombongan itu. Kwan dan Alana terlihat sangat romantis walau mereka sudah tidak muda lagi.


"Ma, aku harus berhasil. Aku tidak mau di tolak lagi," bisik Abio di samping Alana.


"Abio, kau pasti di terima. Mama yakin," sahut Alana dengan penuh keyakinan. Dia menepuk pelan pundak putranya. "Kau harus semangat."


Ternyata tanpa sepengetahuan Livy, hari ini Abio berniat untuk melamar Livy di depan semua orang. Entah apa jawaban yang nanti diberikan oleh Livy. Yang pasti, Abio ingin hubungan ini jelas. Memiliki status yang pasti. Tidak di gantung seperti yang selama ini mereka jalani. Ketika Livy sakit, Abio juga selalu ada di dekat Livy. Pria itu memberi semangat kepada Livy sampai wanita itu benar-benar sehat.


"Abio, kenapa kau berhenti?" tanya opa Biao.


"Aku tidak bisa napas, Opa," sahut Abio.


"Kau sakit?" Alana terlihat panik.


"Itu hal yang biasa. Dia tidak bisa napas karena takut menghadapi kenyataan. Tenang saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Kwan. Pria itu berdiri di samping Abio dan merangkul putranya. "Kau pria. Kau harus siap menerima penolakan."


"Baik, pa. Tapi, aku harus apa kalau nanti di terima? Apa aku boleh mencium Livy?"

__ADS_1


"Jangan lakukan itu jika kau tidak mau di tembak oleh Oliver atau Lukas," sahut Biao. Dia sendiri pernah ada diposisi Oliver. Ketika dulu Kwan dan Alana masih pacaran. "Tidak ada ayah yang rela putrinya di sentuh oleh pria yang belum menjadi suaminya. Jangan buat malu keluarga kita!" ancam Biao.


"Kalau sudah menikah baru boleh kan Pa?" ledek Kwan. Namun, pria itu juga kembali membisu ketika mendapatkan tatapan menikam dari ayah mertuanya tersebut


"Ayo kita masuk. Kenapa harus ribut di sini." Sharin menatap tajam ke arah Biao. "Kita sudah tua. Jangan suka ikut campur dengan urusan cucu kita. Kau sendiri dulu juga-"


"Jangan diceritakan di sini. Cukup Alana dan Kwan saja yang tahu!" potong Biao cepat.


Alana dan Kwan tertawa kecil. Berbeda dengan Abio yang tidak bisa ikut tertawa karena terlalu gugup. Dia mengambil kotak cincin di dalam sakunya untuk memastikan kalau cincin itu sudah ia bawa. Bibirnya tersenyum. "Livy, aku harap kau memiliki perasaan yang sama denganku," gumamnya di dalam hati.


...***...


Pesta itu memang sangat mewah. Pertama kali tiba di depan pintu masuk saja para tamu undangan sudah diperiksa dengan ketat. Selain keluarga, tamu yang datang harus menunjukkan undangan.


Abio lagi-lagi tidak bisa mengatur napasnya dengan normal. Dia semakin gugup ketika sudah tiba di dalam rumah. Tatapan matanya mencari ke segala arah. Dia ingin melihat wanita yang ia cintai. Namun, entah dimana wanita itu. Dia tidak menemukannya di sana.


"Kau mencariku?"


Abio terperanjat kaget ketika Livy sudah ada di belakangnya. Pria itu menelan salivanya untuk menghilangkan rasa gugup yang kini dia rasakan.


"Kenapa kau di sini?" tanya Abio.


"Livy, apa kau salah minum obat?" Abio melirik Livy dengan tatapan penuh arti.


Livy tertawa geli. Dia mencubit lengan Abio. "Kau bisa saja."


"Sifatnya mencurigakan. Jika dia seperti ini aku semakin sulit untuk melamarnya nanti. Bisa-bisa dia bilang aku sedang bercanda," gumam Abio di dalam hati.


Katterine dan Lana tersenyum melihat Livy. Mereka memberikan ruang untuk Livy potong kue. Semua tamu undangan berkumpul untuk memeriahkan acara ulang tahun Livy.


"Hei, Tuan. Apa kau membawa sesuatu untukku?" bisik Livy. Abio mengeryitkan dahi mendengarnya.


"Apa maksudmu?" jawab Abio pelan.


Livy tidak mau menjawab lagi. Dia ikut bernyanyi dan meniup lilin. Abio memperhatikan Livy dengan saksama. Melihat Livy ceria seperti itu membuatnya ikut bahagia. Tidak ada wajah jutek seperti yang biasa dia terima. Livy terlihat seperti wanita manja yang selama ini diimpikan oleh Abio.


"Apa aku bermimpi? Kenapa semua terasa sangat mudah? Bahkan sikap Livy tampak berbeda," gumam Abio di dalam hati lagi.


"Potong kuenya. Potong kuenya!" Semua orang bersorak gembira ketika Livy potong kue. Livy mengukir senyum bahagia sambil memotong kuenya. Meletakkan potongan kue tart di piring. Di bantu oleh Katterine.

__ADS_1


"Potongan pertama berikan kepada pria yang kau cintai. Mama tidak akan marah," bisik Katterine.


Ternyata tanpa sepengetahuan Abio, Biao dan Kenzo sudah melamar Livy. Dan tentu saja keluarga besar Livy setuju. Mereka sendiri juga tahu kalau Livy mulai jatuh cinta sama Abio. Mereka ingin melihat mereka berdua segera bersatu. Itu yang membuat Biao meminta Abio untuk melamar Livy malam ini. Karena dia sudah sangat yakin kalau cucunya tidak akan di tolak.


Livy berputar dan memandang Abio. Wanita itu terlihat malu-malu memandang Abio. Abio lagi-lagi dibuat bingung.


"Ini kue untukmu. Kaulah orang terpenting di dalam hatiku," ucap Livy pelan. Dia malu hingga nada bicaranya sangat pelan.


Abio menerima kue tersebut dan menyendoknya. Pria itu menyuapi Livy. "Selamat ulang tahun. Semoga apa yang kau inginkan bisa segera kau dapatkan."


Livy memandang ke samping dengan wajah malu-malu. Dia membagi kue untuk orang-orang tersayang yang ia miliki.


Dari kejauhan, Daisy dan Norah tersenyum bahagia melihat Livy. Mereka juga baru pertama kali ini melihat sikap Livy yang seperti itu. Bahkan mereka sendiri merasa kalau wanita yang berdiri di sana bukan Livy.


"Kak, kenapa Kak Livy keliatan berbeda? Apa dia salah minum obat?" tanya Daisy.


"Entahlah. Akhir-akhir ini Kak Livy memang kelihatan berbeda. Dia jauh lebih ceria. Mungkin karena sekarang sudah ada Esme di sampingnya. Dia jadi memiliki teman cerita dan lebih terbuka."


"Esme sebenarnya baik. Kakaknya yang sudah membuatnya jahat," sahut Daisy.


"Ayo kita ke sana." Norah mengajak Daisy mendekati Livy. Mereka juga harus memberikan kado yang mereka bawa kepada dokter cantik tersebut.


Setelah acara potong kue, semua tamu dipersilahkan menyantap hidangan yang tersedia. Semua orang sibuk berkumpul di meja masing-masing. Livy memandang Abio yang sampai saat ini tidak juga menunjukkan tanda-tanda ingin melamar. Padahal sebenarnya Livy sudah tidak sabar untuk di lamar di depan semua orang. Wanita itu ingin memiliki ikatan yang jelas dengan Abio.


"Kak, selamat ulang tahun." Norah dan Daisy muncul. Abio memandang dua wanita itu sebenarnya memandang Livy lagi.


"Livy, aku ke sana dulu ya. Aku ingin menemui Kak Zion."


Livy terlihat kecewa. Wanita itu mengangguk saja tanpa menjawab. Karena ada Daisy dan juga Norah, dia tidak memperlihatkan rasa kesal yang kini ia rasakan.


"Kak, kenapa kakak ngelihat Kak Abio seperti itu? Apa ada yang salah dari Kak Abio? Apa dia membuat kakak kesal?" tanya Norah ingin tahu.


"Tidak ada. Aku ingin tidur. Mataku tiba-tiba saja ngantuk," ujar Livy. Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Norah dan Daisy. Hal itu membuat kakak beradik tersebut bingung.


"Kak, sebenarnya ada apa?" tanya Daisy bingung. Norah hanya menggeleng saja. Dia memandang Livy yang berjalan cepat menuju ke tangga.


"I love you Livy ...."


Livy menahan langkah kakinya ketika ingin naik ke tangga. Lampu dimatikan hingga hanya ada lampu sorot yang menerangi Livy seorang.

__ADS_1


"Abio?"


__ADS_2